Selasa, 30 Juni 2015

Uskup Donatus Berdampingan Dengan Uskup Longinus


Kubur Uskup Donatus
ENDE, PK – Dua uskup dimakamkan dalam posisi berdampingan di halaman kapela Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona. Jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD akan dimakamkan di samping makam Mgr. Longinus da Cunha, Pr hari ini. Misa pemakaman di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011) mulai pukul 08.00 Wita.

Vikjen Keuskupan Agung Ende (KAE), Rm. Cyrillus Lena, Pr, yang ditemui Pos Kupang di Sekretariat Keuskupan Agung Ende di Ndona, Kamis (1/12/2011), mengatakan usai misa akan dilanjutkan dengan prosesi perarakan peti jenazah Uskup Donatus dari Gereja Katedral Ende menuju lokasi penguburan di Ndona melalui rute, Jl. Katedral, Jl. Irian Jaya, Jl. Kelimutu, Jl. Gatot Subroto, Jl. Wolowona dan Ndona.

Permata Cinta Syuradikara Buat Uskup Donatus

Jenazah Uskup Don tiba di Katederal Ende 1 Des 2011
ENDE, PK – Keluarga besar SMAK Syuradikara-Ende mempersembahkan lagu Permata Cinta yang mengharukan ketika melepas jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD dari sekolah tersebut menuju Gereja Katedral Kritus Raja-Ende, Rabu (30/11/2011).

Lagu karya Ferdy Levi yang dinyanyikan siswa-siswi dan para guru SMAK Syuradikara menciptakan suasana hening, khusuk dan mengharu-biru. Beberapa orang menitikkan air mata duka mengenang jasa almarhum untuk sekolah unggulan di Propinsi NTT tersebut.

SMAK Syuradikara di Jl. Wirajaya- Ende merupakan satu-satunya tempat persinggahan saat jenazah Uskup Donatus Djagom (92) diantar ribuan umat Katolik serta umat bergama lainnya dari Kapela Istana Keukupan Agung Ende di Ndona menuju ke Gereja Katedral Ende, kemarin.

Uskup Donatus: Persembahan Termahal dari Keluarga


Enam Uskup yang Melepas Mgr. Donatus 2 Des 2011
ENDE, PK – Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr melukiskan Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom, SVD sebagai persembahan termahal dari keluarga untuk tugas perutusan gereja. Uskup Sensi juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga almarhum di Ranggu yang mengisi penggalan akhir masa pensiun Uskup Donatus dengan penuh kasih.

“Kepada keluarga dari Manggarai yang sempat hadir, atas nama umat Keuskupan Agung Ende saya ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih karena telah membersembahkan seorang Donatus, tokoh teladan dalam hal pemberian diri sampai mati. Terima kasih atas persembahan yang sangat mahal ini,” kata Uskup Sensi ketika memberi sambutan di akhir misa pemakaman Uskup Donatus di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011).

Selamat Jalan Mgr. Donatus Djagom, SVD


Mgr. Donatus Djagom, SVD
ENDE, PK – Uskup Emeritus, Mgr. Donatus Djagom, SVD, menghembuskan nafas terakhir di tempat perawatannya di Istana Keuskupan Ende, Selasa (29/11/2011) pukul 13.00 Wita. Mgr. Donatus meninggal dunia dalam usia 92 tahun. Selamat Jalan Uskup Donatus.

Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr, yang ditemui, mengatakan, Mgr. Donatus dijemput dari kampung halamannya di Ranggu, Manggarai sejak bulan April 2011 untuk menjalani perawatan karena faktor usia.

Ada rasa kehilangan yang dialami Mgr. Vincentius atas kematian seniornya ini. Dia tidak memiliki kesan khusus dengan Mgr. Donatus, namun dia merasa sangat kehilangan. “Mgr Donatus sangat berjasa khususnya untuk perkembangan gereja Katolik di Keuskupan Ende. Saat menjabat, keuskupan ini berkembang sangat pesat. Beliau amat berjasa bukan hanya karena paling lama menjadi uskup di sini, namun jasanya bagi perkembangan gereja di sini sangat besar,” ujar Mgr. Vincentius.

Mgr. Donatus Djagom Masih Semangat Bicara Sepakbola


Uskup Donatus (kiri) di Ndona, 25-11-2011
INGATAN Yang Mulia memang tidak sejernih dulu. Maklum faktor usia serta kondisi kesehatan yang agak menurun setahun terakhir. Untuk menyegarkan ingatannya, mudah saja resepnya. Ajak Yang Mulia bicara soal sepakbola. So pasti dia penuh semangat mengisahkan masa jayanya ketika studi di Belanda serta hobinya bermain bola guna menjaga kebugaran tubuh.

Tokoh yang sangat kuat ingatannya soal sepakbola itu adalah Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom, SVD. Tahun ini Yang Mulia berusia 93 tahun. “Tak menyangka.” Cuma kalimat itu yang diungkapkan Uskup Donatus Djagom kepada Pos Kupang yang menemuinya di Lembaga Pendidikan Remaja Biara Susteran CIJ di Kawasan Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona, Jumat (25/11/2011). Uskup Emeritus ketika itu didampingi Romo Efraim Pea, Pr.

Harga Rumah Kelapa Tembus Rp 1 Miliar


ilustrasi
Kelapa (cocos nucifera) merupakan tanaman tropis yang serbaguna mulai dari dari akar, batang, daun, buah, hingga pelepahnya.

DI bumi Nyiur Melambai ini sejak lama batang kelapa dimanfaatkan untuk perabotan rumah tangga. Misalnya meja, kursi, bingkai lukisan, dan lainnya. Selain itu, batang kelapa dipakai sebagai bahan dasar rumah.

Hal itu bisa kita  lihat di Balai Latihan Pendidikan Teknik SMK Kristen Tomohon. Batang kelapa yang awalnya tak berbentuk berhasil disulap menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomis  tinggi. Penanggungjawab Teknis Balai tersebut Julian Jhonly Mentang mengungkapkan harga rumah panggung dari bahan baku kelapa per unit bisa mencapai Rp 1 miliar.

Derita Petani Kelapa Sulut


Sulawesi Utara penghasil utama kelapa Indonesia
SUDAH jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib sebagian besar petani kelapa di Minahasa, Sulawesi Utara. Sudah lama petani kelapa di Bumi Nyiur Melambai ini kehilangan gairah menanam kelapa lantaran harga komodoti tersebut tidak kunjung membaik. Dari waktu ke waktu harga kelapa nyaris bertahan di level yang sama. Malah kecenderungannya terus menurun belakangan ini. Harga kelapa jauh di bawah komoditi lain bahkan dibandingkan dengan harga palawija sekalipun.

Selain gairah menanam melemah yang berakibat pada minimnya peremajaan, luas lahan perkebunan di kelapa di Sulawesi Utara (Sulut)  pun menyusut akibat alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan. Petani kelapa kian terdesak ke pinggir meskipun data statistik menunjukkan sampai detik ini kelapa dan produk turunannya masih nomor satu komoditas ekspor Sulut.

Pertanian Sulut Terabaikan


Kelapa andalan petani Sulawesi Utara
BANYAK sektor ekonomi potensial di Sulawesi Utara yang belum dikembangkan dengan baik. Misalnya sektor pertanian yang banyak memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi Sulut, masih terabaikan.

Demikian salah satu kesimpulan yang terangkum dalam focus group discussion bertajuk Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut, kerja sama Tribun Manado-Ilmu Sulut, disponsori Bank BNI dan didukung penuh Bank Indonesia Sulut, Rabu (8/8/2012), di Convention Center Hotel Novotel Manado.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Suhaedi mengatakan, selama ini sektor yang dominan adalah perdagangan, perhotelan dan restoran.

Ubah Dulu Mindset Orang Sulut


SULAWESI Utara (Sulut) adalah daerah dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi bahkan di atas rata-rata nasional memasuki triwulan kedua tahun ini. Dengan iklim investasi yang bagus membuat investor dari dalam dan luar berbondong-bondong melirik Sulut sebagai tempat berinvestasi.

Namun, yang menjadi pertanyaan, iklim yang bagus itu sudah dimanfaatkan dengan baik oleh putra daerah Sulut untuk melihatnya sebagai peluang usaha ataukah sebaliknya. Sejumlah poin menarik ini mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD)  yang digelar Harian Tribun Manado bekerjasama dengan Intelektual Muda Sulut (Ilmu)  di GKIC Novotel Manado, Rabu (8/8/2012).

 Diskusi yang disponsori Bank BNI dan didukung BI Sulut memilih tema Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut. Direktur International Busines Administration (IBA) Unsrat  Dr Peggy Mekel bertindak sebagai moderator dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut.

Eksistensi Etnis Tionghoa di Sulawesi Utara


Amelia Tungka (tengah) ikut diskusi pluralisme di Gran Puri 24-10-2012
Menjadi warga negara Indonesia membuktikan bahwa etnis Tionghoa sejajar dengan etnis lainnya termasuk dengan etnis di Sulawesi Utara.

SELAMA ini masyarakat cenderung beranggapan bahwa etnis Tionghoa mengeksklusifkan diri. Kenyataannya tidak demikian.

Begitulah yang terungkap dalam diskusi Pluralisme dan Multikulturalisme di Sulut yang digelar North Sulawesi Network (NSN), Tribun Manado dan Paguyuban Tionghoa Tumou Tou di  Hotel Gran Puri Manado, Rabu (24/10/2012). Diskusi seri pertama ini memilih judul:Sejarah dan Eksistensi Etnis Tionghoa di Sulut.

Orang Minahasa Mirip dengan Tionghoa


Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang
GUBERNUR Sulawesi Utara (Sulut)  Dr Sinyo Harry Sarundajang menegaskan,   kemajemukan masyarakat Indonesia terlebih di Sulawesi Utara harus diterima sebagai pemberian Tuhan. Justru dengan kemajemukan itu  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap kokoh hingga hari ini dan mendapat apresiasi dari dunia internasional sebagai negara ajaib.

"Sejarah bangsa ini telah membuktikan bahwa negara kita dibangun dari suku bangsa yang berbeda, etnis yang begitu banyak. Makanya Indonesia dikenal sebagai The Miracle Nation in The Modern World," ujar Sarundajang dalam Diskusi  Pluralisme dan Multikulturalisme di Sulut yang digelar North Sulawesi Network (NSN) dan Tribun Manado di Ruang Tarsius  Hotel Gran Puri Manado, Rabu (24/10/2012).

Semarak Pengucapan Syukur di Minahasa


Puncak  Acara Pengucapan Syukur di berbagai daerah di Sulut baru berlangsung Minggu (8/7/2012). Namun, kemeriahannya telah berdenyut sejak beberapa pekan lalu.

FAKTA
menarik terlihat di Kota Manado.  Sepekan menjelang perayaan pengucapan syukur di wilayah Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara, permintaan jasa service sepeda  motor meningkat drastis.Pantauan Tribun Manado di bengkel Ahass King Motor Malalayang, Jumat (6/7/2012),  pemilik sepeda motor ramai-ramai mendatangi bengkel resmi sepeda motor Honda ini.

 "Dalam sehari motor yang dibawa ke sini sampai 50 unit. Biasanya hanya 30 unit sehari," ujar Trisno Molle, kepala bengkel Ahass King Motor Malalayang. Menurut dia, hal itu sudah terjadi sejak sepekan terakhir.

Pesona Wanita Minahasa...


Gadis Minahasa  dalam tarian Tetengkoren (kompas)
SAMBIL menari, Wulan menyungging senyum manis dari bibirnya yang tipis. Ia dan dua orang temannya melompat lincah, bergairah di atas panggung dengan tangan menggengam bambu kecil. Wulan, sang penari, terus memukul bambu itu hingga tarian Tetengkoren berakhir selama 10 menit.

Tarian Tetengkoren sebagai tari kreasi baru muncul dekade 1990-an, dan merupakan imajinasi perempuan Minahasa zaman dulu. Tetengkoren dalam mitologi Minahasa adalah penanda sesuatu.

Memukul Tetengkoren dapat berarti mengajak bekerja bersama (mapalus), mengisyaratkan bencana, bahkan sebagai tanda berperang.

Thanksgiving Day ala Minahasa


Pedagang di Amurang jual bambu untuk masak nasi jahe
PULUHAN unit sepeda motor memenuhi pelataran bengkel Ahass King Motor Malalayang- Manado, Jumat 6 Juli 2012. Agak tak lazim memang. Biasanya cuma satu dua unit sepeda motor yang datang dan pergi setelah mendapat perawatan dari kru bengkel. Yang terlihat siang itu justru sebaliknya. Para pemilik sepeda motor harus antre sekian jam sampai mendapat giliran tunggangannya ditangani montir.

Bukan hanya Ahass yang padat. Bengkel sepeda motor lainnya pun sama dan sebangun. Demikian pula dengan bengkel mobil.  Warga Kota Manado serta daerah sekitarnya  sejak awal Juli ramai-ramai mendandani kendaraan mereka. Umumnya melakukan servis  ringan semisal ganti oli,  cuci karburator, saringan udara, setel rem dan mengganti lampu.

Tikus Pun Semakin Langka di Minahasa ...


Tikus bakar di Pasar Tomohon  (foto Danny Permana/Tribun)

BAGI sebagian besar orang Indonesia, tikus adalah binatang pengganggu. Bahkan hewan pengerat ini disebut sebagai biang penyebar penyakit. Kebanyakan orang pun enggan mengosumsi dagingnya.

Namun,  bagi warga Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,  anggapan tikus sebagai binatang yang kotor tidak berlaku karena binatang ini menjadi santapan yang nikmat apalagi saat perayaan pengucapan syukur yang berlangsung setahun sekali.

Pada momen pengucapan syukur (semacam perayaan Thanks Giving di Amerika Serikat)   mudah sekali  menemukan pedagang tikus di pasar-pasar tradisional di  daerah Minahasa.  Bukan hanya pedagang tikus, banyak juga pedagang yang menjajakan peret  (kelelawar ukuran besar). Pasar ekstrim paling terkenal ada di Tomohon.Di sana dijual segala jenis binatang yang tak lazim disantap seperti tikus, kelelawar, ular phyton, kera, kucing dan lainnya.

Om Guru Menabur Cinta di Tanah Gersang


Yohanes Lalang (foto Julianus Akoit)
HARI masih pagi. Tepat pukul 10.12 wita, saya sudah berdiri di depan pintu gerbang warna coklat tua. Tampak rumah besar bercat hijau muda berdiri megah di depan. Sebuah toko kelontong berada di samping kanan rumah induk tersebut. Pintunya terbuka.

Seorang wanita paruh baya, mempersilahkan masuk. Dari dalam rumah, seorang pria berkacamata minus bergegas menyambut seraya menjabat erat tangan saya.

"Maaf adik, cuma segini pondok saya," tukasnya merendah. Pria ini adalah Yohanes Lalang (52). Tapi lebih populer disapa dengan sebutan 'Om Guru' oleh para petani dan peternak di Kampung Oetete, Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Prosesi Pembangunan Sa'o Ria Woloara


ilustrasi
SEBAGAIMANA daerah lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau wilayah Indonesia umumnya yang memiliki kekayaan alam dan budaya, Kabupaten Ende juga memiliki khasanah serupa. Hal ini terlihat di Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu.

Pos Kupang mendapat kesempatan langka menyaksikan prosesi pembangunan rumah adat yang dalam bahasa daerah setempat disebut Sa'o Ria Woloara. Mosalaki (tetua adat)  Woloara, Don Watu menuturkan, rumah adat Woloara memiliki kesakralan serta nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh  masyarakat setempat atau dalam bahasa daerah disebut ana kalo fai walu.

Keberadaan Sa'o Ria saat ini sangat membutuhkan perhatian dari ana kalo fai walu karena dipandang sudah tidak layak lagi untuk ditempati dan menjadi tempat pertemuan mosalaki, atalaki, podoria dan seluruh warga suku.

Oleh karena itu, pada tanggal 30 Mei 2015 Mosalaki Pu'u Tanah Mau Gadho Woloara memanggil Atalaki to'o si'i kuni mbana (petugas mosalaki) dalam struktur adat tana Mau Gadho Woloara yang bertugas menyampaikan dan mengundang seluruh atalaki, podoria dan ana kalo fai walo untuk hadir pada tanggal yang telah ditentukan itu.

Enam Bendungan Raksasa di NTT


Bendungan Tilong di Kabupaten Kupang
KRISIS air bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah warta yang lumrah. Maklumlah kesulitan air merupakan sesuatu yang melekat erat dengan napas kehidupan masyarakat daerah ini, baik yang menghuni Pulau Timor, Sumba, Alor, Flores, Lembata,  Solor, Adonara, Sabu, Rote dan pulau-pulau lainnya.

Jangankan untuk kepentingan irigasi persawahan atau pembangkit tenaga listrik. Untuk kebutuhan sehari-hari seperti minum, mandi dan cuci pun, bagi sebagian besar rakyat NTT merupakan kemewahan. Sampai hari ini mereka masih menjerit kesulitan air. Hampir sepanjang tahun.

Menanti Penerus Oliva Sadi


Oliva Sadi
DI Lintasan Atletik, Oliva Sadi adalah sebuah nama yang bakal menjadi legenda. Dia akan masuk daftar srikandi terkemuka Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti jejak para pendahulunya seperti Wempy Foenay, Mathilda Fanggidae,  Mace Siahainenia dan Welmince Sonbay. Juga nama atlet legendaris NTT  semisal Theo Rodja, Ruben Ludji, Amos Kamesah, Eduardus Nabunome, Johny Asadoma, Hermensen Ballo dan lainnya.

Oliva Sadi kini masih bersinar. Dia menjadi atlet NTT pertama yang lolos ke PON XIX  tahun 2016 yang akan digelar di Bandung, Provinsi Jawa Barat. Oliva Sadi lolos setelah berhasil membukukan catatan waktu terbaik untuk melewati limit minimal PON XIX dalam Kejurnas Jateng Open 2015 di Surakarta, Jawa Tengah.

Sekelumit Kisah Perjuangan Ben Mboi


Ben Mboi
By Sirilus Belen

Setamat SD di Manggarai, Flores, Pak Ben Mboi merantau ke Kupang untuk melanjutkan ke SMP atas dorongan ayahnya seorang mantri kakus (WC). Maksudnya ingin menumpang di keluarga Manggarai, eh terdampar di rumah Om Bentanone, orang Timor asli.. Om dan Tanta Bentanone menerima bocah Ben tinggal di rumahnya dan bersekolah di SMP Negeri Airnona, satu-satunya SMP di Kota Kupang waktu itu.

Di situlah Ben bertemu dengan ayahku, Pak Anton Sinaama Belen sebagai guru Sejarah. Kata mamaku, kalau bapa dan mama bertandang ke rumah Om dan Tanta Bentanone, mereka lihat bocah Ben itu rajin tumbuk jagung untuk bikin jagung bose. Ben juga senang main bola kaki.

Ben Mboi, Pahlawan Kita Semua


Keluarga Ben Mboi (ist)
By Sirilus Belen

PAK Ferry Doringin, Pater Jaime Gomes, Pater Very Dau, Pak Ignas Iryanto, dan teman-teman.
Perkenankan menerima sekadar sharing kami dari acara pemakaman Pak Ben Mboi kemarin. Terima kasih.

Selamat jalan Pak Ben Mboi, Pahlawanku, Pahlawan Anda, Pahlawan Kita Semua.

Menurut saya, almarhum Pak Ben Mboi bukan semata manajer pemerintahan, tapi terutama pemimpin, leader masyarakat. Pak Ben Mboi bukan sekadar manusia religius beragama tapi terutama insan spiritual. Pemimpin masyarakat dengan bekal spiritualitas tanpa sekat ini mampu merangkul manusia dari agama apa pun, dari suku apa pun, dari bangsa apa pun.

Sang Mahaguru Kearifan Indonesia dari NTT

Ben Mboi
(Sebuah Noktah Putih yang Ia Torehkan di Hatiku)

Oleh Fary Dj Francis
Anggota DPR RI


TANGGAL 22 Juni yang lalu saya berada di Surabaya dalam rangka kunjungan kerja dan kembali ke Jakarta pada malam harinya. Baru saja tiba di rumah, sebuah pesan pendek dari Pak Esthon Foenay masuk ke handphone saya. "Telah dimuliakan Bapa di Sorga bapak Dr. Ben Mboi jam 00.30. Jenazah disemayamkan di Jalan Muhasyim VII Cilandak Jakarta Selatan. Jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata hariKamis. Mohon diteruskan ke seluruh wargaNTT+Tksh."

Saya menerima berita duka itu pukul 03:25 dini hari dan sejak detik itu tidak bisa tidur sama sekali hingga fajar pagi menjemput. Tiba-tiba saja wajah Pak Ben menjadi begitu nyata di hadapan saya. Senyum khasnya yang penuh wibawa berulang kali mampir dan pergi. Serak suaranya masih terdengar tegas dan mempesona di telinga.

Ben Mboi: Saya Telah Mencapai Point of No Return


Ben Mboi
"SAYA telah mencapai point of no return. Melihat ke belakang sekarang, saya memilih probabilitas hidup yang 40 persen itu," tulisnya dalam memoar Ben Mboi, Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja halaman 146.

Apa yang disampaikan Ben Mboi ini sebagai respon dari briefing terakhir dari Panglima Operasi Mandala Mayor Jenderal Soeharto di Pangkalan Udara Amahai, Pulau Seram, Maluku, tanggal 23 Juni 1962.

"Tugas kalian cukup berat. Saya perkirakan sekitar 60 persen dari kalian tidak akan kembali dan hanya 40 persen yang bisa selamat. Yang merasa ragu-ragu sekarang juga masih dapat mundur...." kata Mayjen Soeharto.

Kamis, 25 Juni 2015

Pemimpin Pejuang Itu Telah Tiada


Ben Mboi
Oleh Frans X Skera, Warga Kota Kupang

LANGIT mendung kelabu meliputi seluruh Nusa Tenggara Timur karena salah satu putera terbaiknya, mantan Gubernur periode 1978-1988 dr. Ben Mboi, telah dipanggil Tuhan, Selasa subuh, tanggal 23 Juni 2015 di Jakarta.

Ben Mboi tak pelak lagi adalah pemimpin pejuang Nusa Tenggara Timur karena dia adalah sosok pintar dan sukses yang diraihnya dengan cara susah dan miskin. Sejak sekolah rakyat, ia sudah bekerja keras merawat adik-adiknya. Selama 3,5 tahun belajar di Schakel School Ndao Ende diberi tugas membersihkan kakus dan got. Ketika belajar di Middlebare School (SMP) Airnona Kupang, tinggal di rumah keluarga Ben Tanone, dan karena kehabisan uang, Ben Tanone-lah yang membayar uang sekolah dan segala kebutuhan hidupnya sehingga selesai sekolah SMP bagian B.

Penderitaan dan perjuangannya terus berlanjut waktu belajar di SMA Santu Albertus Malang. Karena tidak mampu membayar uang sekolah, terpaksa harus bekerja sambil belajar, dan uang hasil kerja itulah yang dipakai untuk membayar biaya sekolah. Walaupun terus dirundung kesulitan, Ben Mboi tak pernah putus asa dan setelah tamat SMA malah nekat masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ben Mboi, Pemegang Bintang Sakti


Ben Mboi
KEPALA Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Marius Djelamu, mengatakan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, bersama para asisten akan berangkat ke Jakarta, Rabu (24/6/2015) mengikuti pemakaman Ben Mboi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta, Kamis (25/6/2015).
Djelamu mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT sudah bersurat kepada keluarga agar almarhum Brigjen TNI (Purn) Aloysius Benediktus Mboi dimakamkan di TMP Dharma Loka Kupang.

Namun, katanya, karena pertimbangan keluarga dan almarhum adalah salah satu pemegang bintang sakti dari Korps TNI sehingga harus dimakamkan di Jakarta. Karena tidak semua jenderal mendapatkan Bintang Sakti.

Ben Mboi Seorang Pekerja Keras


Ben Mboi saat pelantikan Nafsiah menjadi Menkes
* Fary Dj Francis (Ketua Komisi V DPR RI)

FARY mendampingi Ketua DPD Partai Gerindra, Prabowo Subianto melayat jenazah Ben Mboi di rumah duka. "Pak Prabowo tidak omong banyak waktu itu. Pak Prabowo hanya mengatakan, selamat jalan pahlawan. Terima kasih untuk pengabdian kepada bangsa dan negara," kata Fary, menirukan pernyataan Prabowo saat dihubungi dari Kupang melalui telepon. Fary mendampingi Prabowo sempat berbincang-bincang dengan istri Ben Mboi, Ny. Nafsiah Mboi. "Yang melayat sangat banyak. Pimpinan negara dan mantan pimpinan negara dari sipil dan militer banyak yang hadir. Ini merupakan penghormatan terakhir kita kepada pahlawan bukan hanya bagi NTT tapi pahlawan Indonesia," kata Fary.   (eko)


Ben Mboi: Tokoh yang Jujur dan Berani


Ben Mboi
SESEPUH masyarakat Sikka, Drs. Daniel Woda Pale mengaku orang paling beruntung masih sempat bersama dengan almarhum dr. Ben Mboi, di  hari-hari terakhir hidupnya sebelum dipanggil Tuhan, Selasa (23/6/2015).

"Saya jenguk dia minggu lalu (12 Juni 2015). Anak saya beritahu saya, Bapak, Bapak Ben Mboi masuk rumah sakit di Lantai II Kamar ICU Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Kami bertiga, istri dan anak saya jenguk. Saya kaget, ketika dia lihat saya, dia masih kenal saya," cerita Dan Pale, di kediamannya di Kota Maumere, Selasa (23/6/2015).

"Kami berbicara. Ada putra sulungnya, ada ibu Nafsiah Mboi. Saya kaget, aduh pak (Ben Mboi), Pak lebih gagah daripada waktu menjadi gubernur. Wajahnya halus, gemuk dan bercahaya. Saya pikir dia sangat sehat. Satu dua hari mungkin dia sudah pulang rumah. Tadi pagi saya mendapat berita dia meninggal, saya juga heran," tutur Dan Pale, mengenang pertemuan terakhir  dengan almarhum Ben Mboi, 12 Juni 2015  di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta.

Selamat Jalan Ben Mboi


Ben Mboi
WAINGAPU, PK--Mantan Bupati Sumba Timur, Drs. Lukas Kaborang, punya kenangan tersendiri terhadap figur dr. Aloysius Benediktus Mboi, MPH, yang lebih dikenal dengan nama Ben Mboi.  Lukas yang selama 10 tahun bersama Ben Mboi, ketika menjadi Gubernur NTT dua periode  tahun 1978-1988 mengatakan, Ben Mboi adalah seorang prajurit pekerja keras.

Pak Ben adalah seorang pamong praja handal. Tidak bisa diikuti siapa saja yang memimpin NTT.  Ben Mboi seorang pemimpin yang mau langsung lihat apa yang terjadi dan dialami masyarakat. Ada ucapannya yang terkenal: Apabila terjadi sesuatu di wilayah saudara, sehelai daun yang jatuh pun harus tahu. Maksudnya, hal sekecil apapun yang terjadi di wilayahnya harus diketahui seorang pemimpin.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...