Selasa, 26 September 2017

Ketika Kupang Minim Trek Joging


ilustrasi
KOTA Kupang kekurangan fasilitas trek joging. Ungkapan itu lugas disuarakan sejumlah warga ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kepada Pos Kupang pekan lalu.

Minimnya fasilitas joging trek memaksa sebagian warga Kota Kupang yang hobi olahraga ringan  memanfaatkan jalan-jalan umum atau halaman kantor. Misalnya  Jalan El Tari Kupang, halaman Kantor Kejaksaan Tinggi Kupang dan halaman kantor DPRD Provinsi  NTT.

Lokasi baru yang saat ini banyak diminati masyarakat untuk joging adalah jalan menuju Bandara El Tari Kupang, Jalan Adi Sucipto Penfui. Satu-satunya lokasi yang aman untuk joging adalah Taman Nostalgia. Namun, masih ada keluhan karena lokasi ini juga dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi,  kegiatan formal dan tempat jual jajanan ringan.

Pantauan di beberapa titik seperti Jalan El Tari Kupang, Jalan Adi Sucipto halaman kantor DPRD Provinsi NTT banyak sekali warga yang joging pada sore hari mulai pukul 15.00 hingga pukul 18.00 Wita. Kecuali di Jalan El Tari biasanya ramai pada pagi hari sekira pukul 05.00  hingga pukul 06.00 Wita.

Demokratisasi a la Valens Goa Doy


Valens G Doy
Oleh: Steve H Prabowo

Pengantar:

Victorawan "Itong" Sophiaan tiba-tiba menelepon saya. "Gua bosen tiap tahun Oom dikenang gitu-gitu aja. Oom kaya ginilah, Oom kaya gitulah. Kaga ada yang betul-betul gambarin Oom secara utuh, kecuali dia pekerja keras, dedikasi tinggi pada profesi, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, dia punya pemikiran, ide, visi, tentang Indonesia," kata Itong.

Betul juga. Valens Doy, yang dipanggil "Oom" itu lalu sekadar figur nostalgik. Sama seperti lagu-lagu oldies yang ditayangkan dalam Tembang Kenangan. Haul Valens Doy, setiap 3 Mei, cuma jadi ajang orang-orang tua berkumpul dan berbagi kenangan. Lalu bercerita tentang Si Oom pada adik-adiknya yang -kata Itong -tak bakal dapat apa-apa dari cerita nostalgia itu.

Potret Buram Pengelolaan Sampah Medis di Kupang


ilustrasi
PENGELOLAAN sampah medis di Kota Kupang menimbulkan kecemasan. Sebagian sampah medis dibuang begitu saja dalam semak-semak di tepi Jalan Jalur 40, Kelurahan Naioni, Kota Kupang.

Terlihat di sana bekas botol infus, botol kemasan obat cair, pembalut luka, popok dan sebagainya. Sampah medis yang idealnya dimusnahkan dengan cara-cara khusus pun masih ditemukan  di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Alak.

Informasi yang diperoleh dari sumber kompeten menguatkan indikasi bahwa sampah medis di kota ini memang belum dikelola secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku.

 "Kami sudah masuk dan pantau semua insinerator yang ada di rumah sakit di Kota Kupang dan beberapa kota lain di NTT. Kami temukan tidak ada satupun insinerator yang memenuhi syarat. Perusahaan yang dipakai untuk mengolah sampah pun tak memenuhi syarat. Setelah kami cek, ternyata semuanya tak memiliki izin operasi." Demikian diungkapkan sumber Pos Kupang pekan lalu.

Minggu, 24 September 2017

Orang-orang di Belakang Meja Pos Kupang Itu

Dion DB Putra
Kelompok Menulis di Koran - Ledalero (KMKL) dalam kiat-kiatnya melatih dan mengembangkan potensi menulis para anggotanya merencanakan kegiatan magang dan pelatihan saat liburan semester kedua. Sesuai rencana  magang dilakukan di tiga tempat. 

Kantor Redaksi Pos Kupang (PK), Flores Pos dan Penerbit Nusa Indah. KMK menunjuk dua orang anggotanya untuk masing-masing tempat.

Ve Nahak dan J.Loin menyinggahi dapur Harian Umum Pos Kupang. Berikut rekaman pengalaman Ve Nahak selama 10 hari (dari tanggal 7 s/d 17 Juli 2006) menjadi "wartawan tembak" di Kantor Redaksi Harian terkemuka di NTT itu.


Menepis mitos "dapur" sialan

Sebuah gedung berlantai dua dengan cat putih yang sudah mulai kusam oleh terik matahari kota Kupang. Perbaikan-perbaikan kecil di beberapa sudut kelihatan belum rampung. Gedung itu bekas sebuah ruko (rumah toko) milik seorang Tionghoa.

Rabu, 06 September 2017

Kutipan Sepakbola dari Dion DB Putra dan Sindhunata (1)

Ada apa dengan bola, mengapa dia menghipnotis dunia? Menghibur dan atau membuat orang menangis dalam waktu bersamaan, cuma beda tempat, warna kulit serta asal-usul. Percayalah bahwa tidak ada jawaban yang benar-benar tepat sampai hari ini (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Orang suka bola karena dia telanjang. Toh kenyataannya benda kecil seberat 16 ons itu memang tidak pakai apa-apa. Tak pakai baju, tanpa celana. Dia telanjang bulat (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang, 2010)

Karena telanjang, bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal di bumi hunian kita yaitu spontanitas,  kejujuran, tanpa basa-basi (Dion DB Putra, Bola itu Telanjang 2010)

Jumat, 01 September 2017

Kenangan Marilonga...

Stadion Marilonga Ende 2017
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

L' Histoire se Repete, kata orang Prancis. Sejarah hampir 18 tahun lalu di lapangan Stadion Marilonga terulang. Kesebelasan PSN Ngada berjumpa tuan rumah Perse Ende di grandfinal kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup. Era berbeda, generasi pemain tak lagi sama namun atmosfer rivalitas dua tim bertetangga tak berubah jua.

Duel PSN Ngada versus Perse Ende di Stadion Marilonga pada hari Selasa 7 Desember 1999, sungguh meremas jantung para penonton sejak Wasit Umar Wongso melakukan kick off. Lima gol tercipta dalam laga 2x25 menit. Final paling mendebarkan. PSN yang begitu perkasa kala itu harus mengakui keunggulan tim underdog Perse dalam kemasan skor super tipis 2-3. Perse yang dalam daftar pertemuan melawan PSN lebih banyak tiarap,. mengangkat tropi juara turnamen sepakbola paling bergengsi di bumi Flobamora.

Role Model Bernama Yabes

Yabes Roni
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

Timnas Indonesia gagal ke final cabang sepakbola SEA Games 2017  tapi permainan Garuda Muda  menjanjikan.

Evan Dimas dkk kalah 0-1 atas Malaysia, namun mereka kalah terhormat. Kepala tetap tegak,  mereka hanya kurang beruntung, sedikit kehilangan konsentrasi di menit-menit terakhir.

Tim asuhan pelatih Luis Milla Aspas ini punya masa depan bagus. PSSI mestinya perpanjang masa tugas Milla, hasil SEA Games  bukan satu-satunya indikator kinerjanya.

Dan, di antara skuat pasukan Garuda Muda yang aduhai menghibur itu ada Yabes Roni Malaifani, putra NTT kelahiran Alor. Yabes paling disorot sejak sebelum kick-off.

Kebutuhan Air Bersih

ilustrasi
DESA Noelbaki itu ibarat cuma selemparan batu dari Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Nasibnya ternyata setali tiga uang dalam urusan air bersih. Cuma Noelbaki sedikit punya catatan tambahan yakni sebagian warga di sana selama belasan tahun berakrabria dengan air rasa asin.

 Mereka mandi, cuci dan masak pakai air rasa asin. Bahkan sebagian dari mereka  nekat konsumsi air asin karena tak ada pilihan lain.

Kita simak kembali petikan wawancara berikut dari sejumlah warga Noelbaki. "Kami sekeluarga pakai air sumur bor rasa asin ini  sudah 13 tahun. Kami pakai untuk mandi, cuci pakaian, dan masak. Walaupun rasa asin kami tetap pakai untuk masak nasi.  Kami putar teh juga rasa manis asin, terpaksa minum saja," ujar Maria Fragno.

"Kalau kita orang dewasa mau minum air rasa asin tidak apa-apa. Tapi anak-anak ini yang kasihan. Waktu pertama kali kasih makan nasi ke anak-anak saya, mereka bilang mengapa nasi campur garam? Saya cuma bilang, ya karena air sumur rasa asin. Sekarang ini karena sudah kebiasaan, anak masa bodoh saja. Saya tidak tahu apakah nasi yang saya masak pakai air asin tidak pengaruh pada kesehatan,"  kata Manuela.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...