![]() |
| John Dami Mukese |
Pengamat Sosial Budaya, tinggal di Kupang
TAK kuingat hari persis. Tahun pun kulupa. Tetapi, hari itu telah petang. Majalah Horison tiba di kostku di Wisma Antarnusa, Klebengan, Yogyakarta. Saya mahasiswa pelanggan setia majalah sastra itu. Saya membaca halaman demi halaman. Sebelum malam datang melarut, puisi pun dibaca.
Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian. Saya mencermati. Yang dirasakan, semacam sebuah kepergian, keindahan, drama, tetapi ceria dalam derita. Derita para petani Flores, derita para orang tepi yang senantiasa dahaga pada surga perhatian.


