Tampilkan postingan dengan label Febby Mahendra Putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Febby Mahendra Putra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2019

Pria Berjins Biru Itu


Jakarta 18 Septermber 2019
PANGGILAN suara tak terjawab itu tercatat di ponselku pada pukul 17.40 Wita hari Kamis 19 September 2019.  Saya buru-buru mengirim pesan WA singkat, “Siap, Selamat Sore Om” diakhiri emotion minta maaf karena tidak sempat merespons langsung panggilan telepon tadi.

Dua menit kemudian beliau mengirim pesan balasan lewat WA.  Saya tersenyum  membaca isinya. “Oh, Terima kasih banyak Om” jawabku. Hanya begitu. Mau menambahkan lagi, tapi saya kok seolah kehilangan kata-kata. Yah sudah, Om Herman pasti memahami, kataku membatin!

Beri surprise. Begitulah gaya khas Om Herman Darmo.  Perhatiannya tak pernah surut kepada kami anak buahnya.  Bukan semata soal materi, tapi sentuhan kasih kemanusiaan itu yang tak ternilai.

Bagi saya beliau itu tidak sekadar  seorang pemimpin dalam garis hirarkis pekerjaan dan perusahaan yang kaku.  Beliau adalah juga orang tua, guru dan pendidik yang membimbing dan mengayomi.


Kamis, 19 September 2019

Mengenal Batas

ilustrasi
Waktu kadang terasa beranjak amat lekas. Di Palmerah Barat Jakarta 17-18 September 2019,  saya disadarkan lagi tentang batas. Batas waktu seseorang berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan atau instansi.

Perasaanku mengharu biru. Kaka Yusran Pare, sang guru itu sejatinya telah pensiun setahun yang lalu. Namun, dia dikontrak lagi dalam batas waktu tertentu (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu-PKWT). Eh perjanjian itu pun tak lama lagi akan selesai.

Mas Febby Mahendra Putra mengungkapkan itu tatkala kami jalan-jalan ke Istana Kepresidenan seusai sidang hari kedua Ombudsman 18 September 2019. Masa kerja Kaka Yusran berakhir bulan Desember 2019.


Tribun Meniti Buih Perubahan


Palmerah, 18 September 2019
Tak mudah memang meniti buih perubahan zaman. Namun, Tribun takkan mundur. Kami akan terus mendayung perahu besar ini mengarungi gelombang bahkan badai sekalipun.

Ikhtiar kecil melalui Tim Ombudsman sudah bergerak sejak 8 Mei 2019. Kurang lebih 20 telaahan dan rekomendasi yang kami berikan kepada pimpinan unit hingga pimpinan tertinggi.

Respons baik.  Semua bergerak menuju Tribun nomor satu, tidak hanya pengunjung, tapi yang tak kalah penting kualitas kontennya.

Konten yang taat dan tertib berbahasa, taat hukum dan etika, akurasi fakta dan data, tidak berselera rendah dan ramah terhadap SARA.

Sidang Ombudsman Tribun bersama petinggi Tribun di Palmerah Jakarta, 17-18 September2019 menyusun agenda aksi konkret demi membenahi mutu konten sekaligus memperkokoh komitmen dan sikap kerja profesional.

Senin, 16 September 2019

Masa Kecil di Sumedang

Saya dan Kaka Yusran Pare, Mei 2019
Saya kembali ke Jakarta 16 September 2019. Kali ini terbang dari Pulau Dewata. Entah untuk yang keberapa  kalinya ke Jakarta. Saya lupa mencatat meski ingat dalam setahun minimal sekali. Ya kota ini lokasi kantor pusat tempat saya mengabdi sekaligus mencari sesuap nasi 27 tahun terakhir (1992-2019).

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar Grup Kompas Gramedia (KG).  Saya datang lebih awal sehari sebelum mengikuti raker Ombudsman Tribun tanggal 17-18 September 2019.

Ini raker pertama sejak lembaga ini dikukuhkan di Jakarta 8 Mei 2019 oleh Vice CEO KG Media, Sentrijanto dihadiri Herman Damo (komisaris), Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, C Budiarto,  dan para petinggi Tribun lainnya.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...