Rabu, 28 Januari 2015

Pesan dari Om Herman Darmo (3)

Jualan koran pada HUT Tribun Manado
SAYA tidak berlama-lama untuk santai. Ya, memang kehadiran saya di Manado adalah untuk bekerja bukan pelesiran. Tanggal 7 Maret 2012 datanglah mas Febby Mahendra Putra bersama Om Herman Darmo dan mas Sentrijanto ke Manado. Seperti biasa pertemuan maraton pun berlangsung di ibukota bumi Nyiur Melambai ini. Pertemuan di bisnis maupun di redaksi.

Lalu sampailah saatnya pengumuman dari Om Herman tentang perubahan komposisi di jajaran redaksi Tribun Manado. Sejak bertemu Om Herman di kantor Persda Jakarta bulan Februari 2012 saya sudah diberitahu kalau mas Ribut akan menggantikan posisi Richard Nainggolan sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Manado. 

Mess Kairagi (2)

Natal Bersama 2013
TAK lama berada di kantor, saya diantar ke mess yang letaknya persis di samping kantor, berdampingan dengan ruang percetakan. Rupanya kedatangan saya sudah menjadi rahasia umum  sehingga kamar di mess sudah dibersihkan office boy.

Mess itu terdiri dari empat kamar tidur. Saya mendapat kamar paling besar. Kamar ini sebelumnya pernah ditempati Pemimpin Perusahaan (PP)  Harian  Tribun Manado mulai  dari Triyoba Nataria, Agus Cama, Wakil PP Wakit dan PP yang sekarang Fahmi Setiadi.

Mas Ribut dari Harian  Banjarmasin Post yang sudah lebih dulu tiba di Manado pada bulan November 2011 menempati kamar ukuran lebih kecil, dekat dengan gudang dan kamar mandi. Berbeda dengan tiga kamar tidur lainnya, kamar yang saya tempati mempunyai kamar mandi di dalam. Ruangannya pun luas sekali.

Manado Saya Datang (1)

Saya bersama mas Ribut, Yusran, Taufik Miharga dan Mas Yadi (2013)
BUMI Kawanua baru saja bersimbah hujan  ketika ban pesawat Lion Air jenis Boeing 737  menyentuh landasan pacu Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado hari itu, 6 Maret 2012 sekitar pukul 11.50 Wita.  Pesawat Lion Air yang take off dari Bandara Internasional Juanda Surabaya mendarat mulus di Samrat  meskipun saat melakukan manuver dari arah Pulau Manado Tua dan Bunaken sedikit mengalami goncangan.

Saya bergegas turun menuju gedung terminal bandara melalui terowongan belalai panjang. Jalan bersama para penumpang lainnya termasuk sekelompok perempuan muda dengan gaya fashion menarik mata yang sama-sama naik dari Surabaya.

Selasa, 20 Januari 2015

"Kembali" ke Kupang


bildad11.jpg

IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

 

Buku Kiriman Dion

“KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Hukum Adat Suku Lise

Dion DB Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

SUKU
Lise memiliki seperangkat hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun. Perkembangan zaman, intevensi agama (Gereja Katolik) ikut melunturkan hokum dat tersebut apalagi dengan praktik hukum kolonial dan hukum positif  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI. Beberapa hukum adat Suku Lise yang masih dikenal antara lain:

1.    Wale Pela

Hukum berupa sanksi atau denda terhadap seseorang yang terbukti berzinah atau istilah pop selingkuh. Zinah dalam pengertian masayarakat Lise sama dengan zinah yang dikenal umum. Artinya seseorang (baik pria maupun wanita) melanggar norma kesusilaan. Yang dikenai wale atau denda dalam kasus zinah adalah pria, sedangkan wanita mendapat sanksi secara moral. 

Mbete Woda Jatuh Cinta

Dion Dosi Bata Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

MBETE Woda adalah anak dari Woda Rasi. Dari tokoh inilah kemudian beranak-pihak warga suku Lise Nggonderia dan Lise Kurulande. Mbete Woda dikenal sebagai pemuda tampan dan suka bertualang seperti ayahnya Woda Rasi. Kisah cinta unik dengan seorang gadis asal daerah Bu (sekitar Desa Bu Utara, Kecamatan Paga Kabupaten Sikka sekarang).

Gadis itu berlesung pipi, rambut hitam panjang lurus bak mayang terurai. Matanya lentik, kulit kuning langsat, hidung mancung, betis laksana padi yang hamil. Pembawaannya ramah. Sambe boleh dikata merupakan kembang di kampungnya dan menjadi incaran banyak perjaka. Kecantikan Sambe suah terkenal luas di kampong sekitar.

Syahdan, menurut cerita turun-temurun, Mbete Woda yang suka bertualang itu pada suatu hati tiba di kampung Nona Sambe. Kebetulan saat itu ada pesta syukuran di kampung itu. Mbete rupanya sudah mendengar cerita tentang kecantikan Sambe bahkan diam-diam dia pun sudah melihat kecantikan gadis itu. Makanya saat ke kampong gadis ini,  Mbete membawa serta wea ngawu (perhiasan dari emas) yang diisi dalam periuk tanah.

Woda Rasi Wika Tana

Dion DB Putra, cucu Rasi Leu
Oleh Dion Dosi Bata Putra

WODA Rasi adalah putra bungsu Rasi Leu, generasi keempat sejak kedatangan dari Malaka.  Rasi Leu  memiliki enam orang anak yaitu Pati, Mboti, Mali,Ngeo. Bao dan Woda. Jika kelima saudaranya yang lain menetap di Wolowaru Wawo (rumah adatnya masih tegak berdiri sampai sekarang), Woda Rasi lebih suka bertualang ke arah utara dan  timur. 

Masa hidupnya lebih lama di hutan rimba, baik untuk berkebun, mengiris tuak atau berburu. Karena jarang pulang ke rumah,  termasuk bila ada acara besar keluarga, Woda Rasi selalu mendapat bagian bupa `muku sa wunu, au salaru."

Woda Rasi pada masa  itu dikenal sebagai pemberani dan berkali-kali menaklukkan suku lainnya di Lio Timur, Kabupaten Ende  sekarang ini. Salah satu kisah kepahlawan Woda Rasi adalah saat dia "wika"" (merebut atau mendapatkan tanah Waru Jeja). Lokasi tanah itu kini di wilayah Desa Detupera dan sekitarnya.

Selasa, 13 Januari 2015

Sejarah Pers di Nusa Tenggara Timur

KALAU kita membolak-balik buku-buku sejarah pers nasional, mulai dari zaman kolonial sampai era Orde Baru, nyaris tidak disinggung tentang pers Nusa Tenggara Timur. Yang ada hanya sejarah pers di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan di Maluku (Ternate).

Dari ketiadaan informasi ini, orang bisa saja berkesimpulan bahwa tidak ada pers di NTT pada masa itu. Tidak terlalu salah kesimpulan itu. Tetapi, coba kita sedikit memperluas penelitian kita. Artinya, tidak hanya berpusat pada dokumen-dokumen atau buku-buku yang diterbitkan oleh negara atau lembaga swasta nasional.

Cobalah menelusuri sejarah perkembangan gereja di wilayah ini. Mengejutkan, gereja yang sudah masuk ke wilayah ini sejak masa kolonial memiliki dokumentasi yang lengkap mengenai berbagai hal yang terjadi, termasuk kehidupan pers di daerah ini.

Senin, 12 Januari 2015

Valens Doy Telah Tiada

Valens Doy
Kompas, 4 Mei 2005, halaman 1

KETIKA mendengar kabar bahwa Valens Goa Doy (61) meninggal dunia, Selasa (3/5/2005) pukul 22.15, beberapa orang di ruangan Redaksi Harian Kompas yang kenal dekat dengannya terenyak.Mantan Redaktur Desk Olahraga Kompas-yang berhasil membuat berita olahraga Kompas dipandang tinggi oleh masyarakat, khususnya masyarakat olahraga Indonesia-itu meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, karena sakit jantung.

Kabar meninggalnya Valens Doy sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan karena sejak hari Minggu lalu ia dirawat di ICCU RS Sanglah. Dokter yang merawatnya pun mengatakan, sakit jantung yang dideritanya sedemikian parahnya sehingga jantungnya nyaris tidak berfungsi. Harapan untuk hidup sangat tipis.

You Salah Melihat Kakinya

Oleh Dion DB Putra

SEKITAR lima menit saya tak sanggup berkata-kata ketika Om Marcel Weter Gobang, Wakil Pemimpin Umum Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang menginformasikan kabar duka ini. "Dion, Pak Valens Doy sudah tidak bersama kita lagi." "Dion, Om-mu sudah pergi," cuma itu kata- kata yang keluar dari mulut Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Pos Kupang dari balik telepon. Saat menelepon Om Damy berada di kamar Jenazah RS Sanglah-Denpasar. Om Valens meninggal dunia sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa (3/5/2005).

Ah, perasaan yang gundah-gulana sejak hari Minggu, 1 Mei 2005 menjadi kenyataan. Hari itu saya menerima pesan singkat (SMS) dari Alberth Djoko, mantan murid Om Valdo di Harian Surya Surabaya. "Mas Dion, Om Valens kena serangan jantung di Denpasar. Kata dokter tak ada harapan. Kita berdoa semoga Om cepat baikan lagi. Tolong teruskan kepada teman-teman..." Begitu pesan Albert.

Guru Jurnalistik Agung

DIA seorang guru jurnalistik yang brilian dan agung. Dia pemimpin yang mengenal dengan baik setiap anak buahnya. Begitulah seorang Valens Goa Doy di mata mereka yang pernah menjadi murid atau rekan kerjanya. Berikut kesan mereka tentang almarhum.


Agus Ismunarno (PU/Pemred Bangka Pos)

Bagi saya ia guru jurnalistik yang agung. Guru jurnalis kebangsaan yang mampu menciptakan aliran jurnalisme yang khas. Ia juga bapak yang baik, yang tahu kebutuhan anak, karyawannya. Ialah gembala yang baik di dunia jurnalis.



Alfred Lande (Redaktur Harian Surya, Surabaya)

SAYA sulit memberi komentar tentang sosok Om Valens. Terlalu banyak pesan dan kesan dari beliau yang amat berharga. Saya punya cita- cita untuk menulis buku tentang beliau. Salah satu pesan Om Valens yang belum saya lakukan adalah menulis laporan khusus soal Celah Timor di Harian Surya. Ini utang saya kepada beliau dan kepada warga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Febi Mahendra Putra (Wakil PU Tribun Batam)

Valdo memberi inspirasi mengenai jurnalisme terkini dan ke depan sehingga produk pers dapat ditangkap maknanya dengan mudah dan cepat. Selamat jalan Om Valdo.

Hans Ch Louk (Anggota KPUD NTT)
Kita kehilangan seorang guru jurnalistik terbaik. Saya bersyukur pernah bekerja dengan beliau ketika di Harian Surya dan Pos Kupang. Om Valens mendidik wartawan untuk total bekerja, ulet dan pantang menyerah. Dia seorang pemimpin yang bijaksana.

Paschalis Tho (Fotografer Pos Kupang)
Dia seorang yang murah hati. Suatu malam di tahun 1993, kami jalan- jalan dengan mobilnya di Kupang. Tidak jelas tujuanya, saya cuma diminta mengemudikan mobilnya hati-hati. Saat kembali ke kantor, ia menitipkan uang Rp 150.000,00 kepada saya. "Ostho uang ini bukan buat you. Kau serahkan untuk satpam dan sopir Pos Kupang". Saya sangat terkesan akan perhatiannya.

Hyeronimus Modo (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
Saya pernah mengikuti beliau ketika merintis koran Pos Maluku, Tifa Irian di Jayapura dan Suara Timor Timur tahun 1989-1993. Beliau seorang wartawan brilian. Pekerja ulet. Gagasan-gagasanya selalu baru. Om Valens sangat menghargai prestasi orang. Dia berani ambil dari kocek sendiri untuk memberi motivasi.

Benny Dasman (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
Om Valens gila kerja. Ketika bersama di Pos Kupang tahun 1992-1994, kami bisa rapat redaksi dan bisnis jam sepuluh malam bahkan jam 03.00 atau 04.00 dinihari. Beliau sangat marah terhadap wartawan yang kerjanya setengah hati. Kegilaannya dalam bekerja membuat Om Valens sering lupa menjaga kesehatannya.

Etty Turut (manajer PSDM Pos Kupang)
Om Valens adalah pemimpin yang mengenal setiap karyawan atau anak buahnya dengan baik. Bijaksana.

Yusran Pare (Pemred Metro Bandung)
Om Valens bukan sekadar kebanggaan orang Flores atau NTT. Dia wartawan besar negeri ini. Valens Doy adalah karunia bagi bangsa kita. Indonesia kehilangan seorang guru jurnalis yang luar biasa.

Paul Bola (wartawan-Kupang)
Om Valdo pemotivator ulung. Tak ada kata sulit, selalu ada solusi. Valdo ingatkan bahwa wartawan adalah manusia yang berkarya bagi peningkatan martabat manusia, bukan sekadar cari nafkah.

Yosni Herin (wartawan, Jakarta)
Pers nasional telah kehilangan seorang guru terbaik. Selamat jalan Om Valens Goa Doy, kami selalu kenang jasamu.

Viktus Murin (Redaktur Harian Proaksi-Jakarta)
Om Valens adalah motivator ulung, guru yang paripurna dan pemimpin yang ikhlas pada idealisme kehidupan.

Daniel B Ratu (wartawan Metro TV-Kupang)
Bagi kita wartawan muda, Om Valens memberikan motivasi terbaik. Bersama beliau kita selalu mendapat semangat baru. Kita kehilangan seorang guru jurnalistik.

Kecolongan adalah Dosa Besar Wartawan

Valens Doy

Oleh Ferry Jahang


OM Valens Doy di mata saya adalah seorang yang mampu melihat apa yang tidak dilihat seorang wartawan dan mampu mendeskripsikan implikasi dari suatu berita yang diangkat seorang wartawan. Pikiran-pikirannya tajam dan jauh ke depan.

Pada tanggal 12 Desember 1992 siang hari, sejumlah wartawan Pos Kupang berkumpul di bawah sebatang pohon Jati yang tumbuh di jalan Soeharto 53 Kupang (kantor lama). Udara panas adalah santapan sehari-hari bagi warga Kupang yang dikenal sebagai kota karang itu. Secara tiba-tiba, bumi Kupang bergoyang pelan. Sontak sejumlah teman di bagian bisnis berlarian keluar kantor seraya berujar "gempa.. gempa..!"
 

Spirit itu Bernama Valens Doy

Valens Doy

Oleh Viktus Murin*

KENANGAN
pada Valens Goa Doy adalah kenangan yang paripurna tentang sosok sejati seorang wartawan. Ia berziarah total pada panggilan hidupnya sebagai wartawan, menjalani salibnya sebagai wartawan hingga ke tapal batas hayatnya. Di suatu stasi atau perhentian jalan salibnya, ajal pun datang mengajaknya pulang, menemui Sang Sumber Kehidupan. Kini, ia telah beristirahat dalam keabadian, tempat di mana ia tidak dikejar-kejar deadline redaksi dan tugas-tugasnya sebagai 'bidan pers' terkemuka di Indonesia.

Memori tentang Valens Doy adalah memori yang tak terhapuskan dari bilik hati setiap muridnya, wartawan-wartawan yang ia lahirkan dari pola didikannya yang khas, yang sarat dengan kurikulum kehidupan. Bagi kebanyakan muridnya di dunia pers, sosok Valens Doy -- kami biasa memanggilnya Om Valens-- adalah guru pers yang mengabdi total pada idealisme kehidupan.

"Menyiksa Diri" Demi Idealisme

Valens Doy
Oleh Hans Ch Louk*

"COBA Anda jelaskan kepada pembaca bahwa tembok di depan kita ini berwarna putih meskipun di tengahnya ada titik berwarna hitam." Inilah satu-satunya pertanyaan sang Redaktur Pelaksana Harian Surya, terbitan Surabaya kepada saya. Pertanyaan yang sama sekali di luar perkiraan saya ketika menghadap dewan redaksi saat testing menjadi wartawan. Itu terjadi tiga hari setelah Harian Surya terbit dengan dukunangan tujuh puluhan wartawan yang telah direkrut beberapa bulan sebelum tanggal 10 November 1989.

Meskipun waktu itu saya sudah tujuh tahun berkarya sebagai wartawan Harian Suara Indonesia terbitan Malang (Jawa Timur), tetap saja keringat bercucuran dari kepala dan tembus membasahi kaos oblong dan terasa sampai di pinggang. Bagian punggung semakin lengket menempel pada sandaran kursi.

Elegi Bagi Valens Doy

Valens Doy
Oleh Hendry Ch Bangun
 
MENDAPAT berita kepergian Valens Goa Doy ke alam baka, yang segera saya ingat adalah tulisannya yang begitu manis, indah, mengesankan, namun tepat sasaran karena padat, penuh rincian, dan proporsional.

Saat ini hampir tidak mudah lagi menemukan tulisan seperti itu meski jumlah wartawan olahraga dan halaman olahraga di media cetak jauh lebih banyak ketimbang di masa dia berkarya. Saya sendiri tidak pernah menjadi anak buahnya langsung, sebab ketika masuk desk olahraga di akhir tahun 1984 dia sudah naik pangkat. Namun tulisan-tulisannya justru sudah mulai sering saya baca ketika masih duduk di bangku kuliah.

Ada dua sisi pribadi Valens. Belakangan dia lebih dikenal sebagai organisatoris, pengelola media, hal yang dia mulai dengan terjun dalam mempelopori pembentukan media di berbagai daerah di akhir 1980-an, menerbitkan aneka jenis media di Jakarta, sampai Indonesia Timur yang digelutinya sampai akhir hayatnya. Dia pernah diminta membantu membenahi Warta Kota di tahun 2001.

Valens, di Tepi Stadion Itu...

Valens Doy
 
Oleh Radhar Panca Dahana

WAKTU
yang merambang sesungguhnya tidak berjalan. Namun kita, manusialah, yang bergerak, membuat waktu seperti berlalu. Sesungguhnya waktu itu diam, tetap dan berdomisili. Melulu pikiran dan imajinasi yang berdaya gerak, kecepatan. Untuk perababan tercipta, kebudayaan terlaksana.

Ah, bagaimana konyol seperti kudapat? Tak lebih. Dari kebiasaan konyol, duduk bersepi di Stadion Utama Senayan Jakarta, bagian tepi. Kebiasaan remaja kencur yang dicurinya dari seorang lelaki kecil berbadan keras, berhati keras, berkepala keras, namun berjiwa lemas: Valens Gowa Doy

Mungkin bukan lelaki bermulut lebar (tidak besar) yang membuat remaja itu berpuluh tahun tenggelam dalam sensasi waktu. Namun wartawan kawakan asal Pulau Flores itulah yang pertama kali memperkenalkannya dengan stadion kebanggaan Soekarno. Analis olahraga itulah yang dilihatnya kerap duduk di tepi tiang gawang, atau bangku ujung penonton, memandang lapangan hijau yang nihil manusia.

Mengenang Valens Doy

Valens Doy
Secarik Rekomendasi yang Menggurat Riwayat

Oleh GERSON POYK

SEBUAH tulisan kenangan adalah alat pendidikan bagi pembaca terutama yang muda-muda. Kepergian wartawan Kompas, Valens Doi misalnya yang mendapat publisitas lumayan di media televisi maupun di koran, merupakan sugesti edukatif karena dipaparkan bagaimana kegiatan almarhum tak kenal waktu sebagai wartawan olahraga dan aktivitasnya mengembangkan koran-koran daerah dengan modal yang diperoleh dari Harian Kompas. Begitulah. Kenangan kecil ini barangkali ada gunanya buat pembaca.

Di tahun 1972, sekembalinya dari menikmati grant yang lumayan dari International Creative Writing Program di Universitas Iowa di AS, saya kembali ke Indonesia. Miskin keparat lagi seperti semula sejak saya keluar dari Sinar Harapan. Ketika jendela pesawat terbuka, saya berseru dalam hati, "Siap! Penderitaan dimulai lagi!"

Sang Maestro itu Telah Pergi

Valens Doy (foto Adrizon Zubir)

Oleh Yos Lema*

SMS yang muncul di puncak malam tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Waktu menunjukkan pukul 00:04 Wita. SMS itu dari Adhi Loudoe, rekan kerjaku di Venuz. Pesannya ringkas: "Selamat malam, beta mau kabarin bhw Om Valens Doy meninggal pkl 9 mlm tadi di Denpasar (jantung)".

Apa? Om Valens meninggal? Akibat serangan jantung? Kok bisa? Sejenak saya terdiam. Wajah Om Valens Doy hadir begitu saja dalam ingatan. Segala kenangan akan beliau mengalir tanpa bisa dibendung. Senyumnya - cara bicaranya - tawanya - lontaran kata-katanya begitu khas. Sompret lu, itu kata yang selalu diucapkan dengan wajah riang. Rasanya dia seperti berada di hadapan saya mengucapkan sepotong kata itu sambil tertawa renyah.

Tak terasa air mata pun menetes. Pipih saya basah. Saya berduka -- saya berluka. Saya lalu membuat tanda salib dan membisikkan sepotong doa dalam hati. "Tuhan, terimalah arwah Om Valens. Terimalah dia dalam kerajaanMu".

Om Valens dan Tapaleuk

Valens Doy (foto Adrizon Zubir)

Oleh Paul Bolla


SEJAK kepergian Om Valens Doy pada Selasa, 3 Mei 2005, banyak sudah yang ditulis oleh para bekas muridnya. Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang yang ikut didirikannya menyediakan ruang seluas-luasnya bagi para mantan murid untuk menyatakan apresiasi mereka tentang Om Valens. Saya hanya memberi komentar pendek untuk memenuhi permintaan Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang, setelah mendapat SMS dari Om Peter Rohi bahwa Om Valens sudah mendahului kita. Tak lama kemudian, Senin, 23 Mei 2005, satu lagi berita duka saya terima via SMS dari Paschalis Tho, fotografer Pos Kupang. Om Julius Siyaranamual telah menyusul Om Valens.

SMS ini saya teruskan ke Hans Louk, Yulius Lopo, Dany Ratu, dan Ana Djukana. Kedua sahabat kental Om Valens dan Om Julius sama-sama ikut mendirikan Pos Kupang bersama Om Damyan Godho. Saya menjadi bagian dari Pos Kupang sejak November 1992 hingga November 1999.

Api Doy menuju Gowa

Valens Doy


Valens "Kompas" Doy

"Tiarap!"
begitu satu kali lelaki bermata api itu bertegas
Akupun lari bergeras, melihat semua lebih keras
tengah 80-an, langit kelabu, dunia palsu
ribuan manusia dengan kerah tegak
tak cuma tiarap tapi merangkak dan kabur!
Lelaki bermata api, kini lenyap kembali
20 tahun tak kami bertemu
Setelah bibir tebalnya merangkum nasibku
sejak mula, sejak awal masakku, jurnalisme
bibir padat gairah itu tak peduli
remaja kurus, entah siapa, menguntit reputasinya
"tulis!"


Terpikat Indahnya Cahaya Kunang-Kunang


Kunang-Kunang edisi Oktober 2011
TIGA Tahun setelah membangun Penerbit Nusa Indah tahun 1970, Pater Alex Beding, SVD merasa belum puas karena buku pada masa itu belum menjadi kebutuhan masyarakat Flores dan Lembata. Harga buku pun relatif mahal sehingga tidak mudah dijangkau berbagai lapisan masyarakat.

Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan-rekannya dan terutama mendapat persetujuan dari pimpinan SVD Regio Flores, Alex Beding merintis terbitnya media massa cetak yang akan memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Tentang penerbitan pers ini Alex Beding menulis kenangan berikut sebagaimana dikutip Steph Tupeng Witin dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Ledalero 2011, hal 35-36).

“Dengan buku kami belum melayani kebutuhan lebih banyak orang. Buku belum menjadi kebutuhan dan juga terlalu mahal. Maka saya mengajukan gagasan untuk penerbitan pers. Sudah lebih dari 10 tahun majalah Bentara berhenti. Kami mulai ramai berdiskusi dan memutuskan untuk menerbitkan majalah umum DIAN. Untuk majalah anak-anak KUNANG-KUNANG kami mendapat Sr. Emanuel Gunanto OSU yang dengan senang hati mau menjadi pemimpinnya. Suster Ema, begitu nama akrabnya, sangat berhasil bersama dengan pembantu-pembantunya.”

Membangun Nusa Indah dari Kantor Sederhana


Penerbit Nusa Indah di Jl. El Tari Ende, Flores
SELAMA kurang lebih sebelas tahun (1959-1970) mengabdi di Seminari Menengah St Yohanes Berchmans di Todabelu, Mataloko Ngada, Pater Alexander Antonius Beding, SVD menempati sejumlah posisi penting di lembaga pendidikan calon imam tersebut. Alex Beding tercatat menjabat Direktur Studi Seminari Menengah (1961-1962), Rektor Seminari Mataloko (1962-1965) dan Prefek Seminari Menengah Mataloko/SMA Todabelu (1966-1970).

Selama di seminari ini, Alex Beding menunjukkan kecintaannya yang mendalam terhadap bahasa dan budaya. Seperti ditulis Steph Tupeng Witin, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Ledalero 2011, hal 32), kecintaan pada bahasa dan budaya tersebut menjadi basis bagi Alex Beding untuk terlibat dalam bidang pers dan perbukuan selama puluhan tahun.

Dari Mataloko ke Ende Membangun Nusa Indah


Seminari Mataloko
SETELAH menyesaikan studinya di Seminari Matoloko, Ngada, Alex Beding melanjutkan ke novisiat Ledalero. Alex Beding melukiskan pengalamannya tersebut sangat menakjubkan karena berlangsung dalam suasana perang saat itu.

Berikut catatan Alex Beding seperti dikutip Steph Tupeng Witin, SVD dalam buku Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD (Ledalero 2011, hal 24).

“Pada tahun 1943, kami menjalani novisiat tahun pertama di Ledalero. Waktu itu dalam keadaan perang dan serdadu-serdadu Jepang menduduki juga seminari tinggi. Karena semua pater-profesor berkebangsaan Belanda diinternir, maka para frater mahasiswa filsafat dan teologi dipindahkan ke Mataloko. Di ‘Rumah Tinggi’ kuliah-kuliah dilanjutkan dengan bantuan para imam yang ada.

Dia Menjala di Lautan Lain ...


Alex Beding (tengah) dan Steph Witin (kanan):  intan imamat
ALAM yang garang tidak menyurutkan upaya penyebaran Injil Kristus di Lamalera. Inilah poin penting yang digarisbawahi P Steph Tupeng Witin, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Penerbit Ledalero, 2011, halaman 18).
Alam Lamaralera begitu kering dan gersang. Namun, kehidupan tak pernah memudar di sana. Justru di atas kenyataan seperti itulah harapan hidup diletakkan dan iman berkembang dengan subur.
Pater Alex Beding, SVD sendiri dalam buku “Bapa Bernhard Bode, SVD Pastor Pulau Lembata (Nusa Indah, 2010) menggambarkan Lamalera dan Lembata sebagai medan misi yang sulit.

Intan Imamatnya jadi Mahkota Bagi Lembata


Alex Beding
Pengantar Redaksi
Tahun 2011 yang baru lewat umat Katolik Lembata merayakan yubileum 125 tahun masuknya agama Katolik di pulau itu. Tahun yang sama tepatnya tanggal 23 Oktober 2011, Lembata juga merayakan 60 tahun imamat Pater Alex Beding, SVD, imam sulung dari pulau tersebut.

Mengenang pesta intan imamat Pater Alex, Penerbit Ledalero menerbitkan buku “Bersyukur dan Berharap” dengan editor Steph Tupeng Witin, SVD. Dalam buku setebal 183 halaman tersebut, karya dan pengabdian Pater Alex Beding, SVD yang merayakan HUT ke-88 tanggal 23 Januari 2012 digelar elegan dan utuh.

Alex Beding, Imam Sulung Lembata dan Tokoh Pers NTT

Menyambut Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari 2012, kami memandang perlu menukilkan sebagian isi buku tersebut untuk pembaca FloresStar. Alex Beding tidak sekadar imam Katolik yang setia melayani umatnya. Dia adalah tokoh perintis yang membudayakan tradisi membaca bagi masyarakat Flores-Lembata dan NTT umumnya lewat buku dan media massa. Dia merupakan tokoh peradaban daerah ini yang patut dikenang dan diteladani.


LAMALERA 23 Oktober 2011. Deretan tena laja (bangsal-bangsal perahu) di pinggir pantai Desa Lamalera mematung dalam hening. Anak-anak tanpa baju berkejaran di atas hamparan pasir. Tulang-tulang ikan paus tegak di beberapa sudut. Bau amis ikan menjadi ucapan selamat datang kepada siapa pun yang memasuki haribaan Desa Lamalera.

Masih Menulis Buku di Usia 88 Tahun


Alex Beding di BSA Larantuka, 30 Jan 2012
BIARA Santo Arnoldus Janssen (BSA) Larantuka terletak dekat Gereja Katedral di kota Reinha itu. Di depannya berdiri STMK Bina Karya Larantuka yang diasuh oleh Serikat Sabda Allah (SVD). Dari tempat ini siapa pun dapat menikmati kesibukan Kota Larantuka.
Deru mesin kapal motor yang meninggalkan Pelabuhan Larantuka terdengar jelas. Di depan sana, Pulau Solor dan sebagian Adonara terlihat kokoh dipermainkan lautan biru nan tenang.
Di biara yang asri itulah Pater Alex Beding, SVD kini menjalani hari-hari tuanya. Usianya genap 88 tahun pada tanggal 13 Januari 2012. Ia masih setia membaca dan menulis. Refleksi-refleksinya senantiasa setia mengisi lembaran sejarah. Di antara deretan huruf-huruf ia meninggalkan pesan yang akan setia berbicara dalam konteks apapun. Bisa dinikmati dan memberi manfaat untuk generasi yang akan lahir kemudian.

Rina Kagumi Suara Emas Dion Idol


Rina Kagumi Suara Emas  Dion Idol
Dion Idol di Tribun Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kehadiran jebolan Indonesian Idol, Dion, sangat dinanti-nanti oleh fans dan pengunjung pameran pariwisata Kemilau Sulawesi 2013, Sabtu (28/9/2013).  Dion membawakan empat lagu.  Pertama Dion membawakan lagu I Love You Bibeh yang dipopulerkan grup band The Changcuters.

Dalam kesempatannya tampil di panggung, Dion mengaku sangat terpukau melihat cewek-cewek Manado yang cantik-cantik. Ia juga mengatakan, dengan gelaran pameran pariwisata Kemilau Sulawesi 2013, ia bisa mengetahui tempat-tempat wisata yang ada di Sulawesi.

Jumat, 09 Januari 2015

Dion Idol Berkunjung ke Tribun Manado

Dion Idol di Tribun Manado Sabtu 28-9-2013
KEHADIRAN jebolan Indonesian Idol, Dion, sangat dinanti-nanti oleh fans dan pengunjung pameran pariwisata Kemilau Sulawesi 2013, Sabtu (28/9/2013).  Dion membawakan empat lagu.
Pertama Dion membawakan lagu I Love You Bibeh yang dipopulerkan grup band The Changcuters.

Dalam kesempatannya tampil di panggung, Dion mengaku sangat terpukau melihat cewek-cewek Manado yang cantik-cantik. Ia juga mengatakan, dengan gelaran pameran pariwisata Kemilau Sulawesi 2013, ia bisa mengetahui tempat-tempat wisata yang ada di Sulawesi.

Ini Visi Misi Jokowi sebagai Capres

Jokowi di Tribun Manado 10 Mei 2014
TRIBUNMANADO.CO.ID - Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo selalu mengelak jika ditanya soal visi misinya kalau terpilih sebagai presiden RI. Ia hanya sempat mengungkapkan, salah satu program besarnya yaitu revolusi mental. Lainnya, Jokowi memilih untuk menyimpan rapat visi misinya dan berjanji akan menyampaikannya pada waktu yang tepat.

Saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Selasa (13/5/2014), di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta itu secara gamblang memaparkan apa yang akan dilakukannya jika menjadi orang nomor satu di republik ini.

Berikut sejumlah program yang dipaparkan Jokowi sebagai visi misinya:

Foto Badai Tribun Manado Raih Medali IPMA


Saya terima medali IPMA Tribun Manado di Bengkulu 8-2-2014
BENGKULU, TRIBUN- Malam anugerah Indonesia Print Media Award 2014 yang digelar di Hotel Santika Bengkulu, Sabtu (8/2/2014) malam menobatkan front page design foto badai Tribun Manado edisi 8 Januari 2013 sebagai pemenang Bronze.

Tahun sebelumnya, di event yang rutin digelar SPS Indonesia ini, Tribun Manado meraih satu Gold dan satu Silver. Saat itu pelaksaan malam anugerah di Hotel Aryaduta Manado.

Berdiskusi dengan Jokowi di Kairagi


Berdiskusi di Kantor Tribun Manado 10 Mei 2014 (foto emerson)
DALAM rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis,  Kairagi, Manado,  Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15 wita.

Kedatangan Jokowi,  sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta ini disambut Pemimpin Perusahaan (PP) Tribun Manado, Fahmi Setiadi, Manager Produksi, Dion DB Putra dan Wakil Koordinator Liputan, Aswin D Lumintang.

Jokowi bersama rombongan langsung diantar ke ruang rapat Tribun Manado yang terletak di Lantai I kantor tersebut. Menariknya, begitu Fahmi Setiadi mempersilakan Jokowi untuk duduk di kursi paling depan yang biasa dipakai pimpinan saat rapat redaksi, namun oleh Jokowi ditolak dan memilih duduk di kursi yang biasa menjadi tempat duduk peserta rapat.

Jokowi Sebut Revolusi Mental


Jokowi di kantor Harian Tribun Manado 10 Mei 2014 (foto emerson@TM)
Satu di antara agenda utama kedatangan  Ir Joko Widodo, Capres PDI Perjuangan ke Sulawesi Utara adalah menemui tokoh agama di daerah ini dan berbicara tentang kerukunan dan pentingnya perdamaian.

Hal ini menjadi satu diantara agenda penting lainnya yang menjadi perbincangan antara Jokowi sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta  ini dengan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Pdt HWB Sumakul STh dan Sekretaris Sinode GMIM, Pdt Hendry Runtuwene yang tampak kompak menggunakan kemeja putih lengan panjang.
Dialog informal ini berlangsung di ruang rapat BPMS GMIM. Saat pertemuan Jokowi pun memuji GMIM yang ikut memberi andil besar dalam menciptakan kerukunan di Sulut.

Diplomasi Frans Seda

Oleh Pieter P Gero


Tidak ada yang keliru saat Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Frans Seda agar lebih baik beristirahat. Maklum, Frans Seda saat itu sudah berusia 81 tahun. Beliau juga sudah duduk di kursi roda pula. Namun, keinginan Frans Seda yang disampaikan kepada Wapres Kalla untuk membantu menyelesaikan utang Indonesia di Dana Moneter Internasional atau IMF itu adalah bagian dari semangat diplomasi yang kuat dan andal dalam diri Frans Seda.

Pria bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda ini mencatat sukses dalam misi diplomasi yang diembannya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pria sederhana kelahiran Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, ini mengisahkan misi diplomasinya menghindari perang pembebasan Irian Jaya yang kini dikenal dengan Papua.

Miu Ta'u Mata!


Oleh Dion DB Putra

WAIARA, 29 Oktober 2005. Fajar baru menyingsing. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah siraman matahari pagi, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana di Pantai Waiara pagi itu. Tergelak oleh beragam kisah yang meluncur dari mulut Drs. Frans Seda. Orang tua itu tak henti- hentinya mempromosikan keindahan alam bawah laut di perairan Waiara serta alam Flores umumnya.Tiga pimpinan teras kelompok KompasGramedia, St. Sularto, Wandi S Brata dan Petrus Waworuntu menyimak dengan riang.

Pengukuhan Ria Bewa di Mula Watu


Pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mula Watu Ende  26 Juli 2014. (foto PK)
Dari kiri: Ignatius Dosi Woda. Daniel Bheto Dedo dan Mikael Wangge (foto PK)
HARI  Jumat (25/7/2014) malam, suasana di Kampung Mulawatu, Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende berbeda dari hari-hari biasanya. Jika pada hari biasa suasana kampung terasa lengang dan hanya terdengar  suara-suara alam, seperti kicauan  burung,  gemercik air di Kali Mbilu maupun aroma kopi arabika serta tanaman buah kakao yang menghijau di hamparan tanah warisan leluhur, maka kali ini suasananya sontak berbeda.

Struktur Organisasi Adat Lise

Oleh Dion Dosi Bata Putra


SEJAK zaman nenek moyang kami Ata Lise, struktur organisasi itu sudah terbentuk dengan fungsi, peranan, tanggung jawab, wewenang serta pembagian tugas (job description) masing-masing.

Posisi tertinggi  adalah Mosalaki Pu'u Lise Tana Telu. Dialah pemimpin untuk seluruh anak cucu Mbete Woda atau Woda Rasi. Simbol pemersatu juga hadir dalam diri Mosalaki Puu Lise Tana Telu. Terbukti untuk suatu upacara adat di wilayah Lise Tana Telu, pernyataan atau pengumuman pertama datang dari Mosalaki Puu.  Misalnya pesta Po'o Fata Mari (poo terbesar), yang menentukan waktunya adalah Mosalaki Puu. Penentuan waktu itu dilaksanakan para aji ana (kelurga besar Lise).

 Po'o adalah perayaan yang digelar pada bulan September atau Oktober saban tahun di Fatamari, sebuah tempat yang teduh di bibir sungai Lowo Ria tak jauh dari kampung Mulawatu. (Makna perayaan ini akan saya kisahkan di artikel tersendiri).

Woda Rasi, Tokoh Kebanggaan Ata Lise

Oleh Dion Dosi Bata Putra

Dion Dosi Bata Putra
KAMI anak cucunya di Suku Lise (Lio - Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur)  sangat akrab dengan nama tokoh ini. Di masa kecil, ketika bangun pagi sambil memanggang diri di perapian guna mengusir dingin, orang-orang tua selalu menceritakan tentang sosok Woda Rasi. Juga dalam berbagai acara kalau sedang kumpul banyak orang. Woda Rasi menjadi buah bibir dan bahan cerita tutur turun temurun.

Menurut ayahku Thomas Bata tokoh ini patut dicatat khusus dalam sejarah orang Lise, siapa pun Anda. Dialah yang memiliki dan menguasai lahan tanah persekutuan sangat luas di wilayah Lise.

Warga Kecamatan Lio Timur dan Kota Baru  dan sebagian Wolowaru adalah anak cucu Woda Rasi atau kerap juga disebut Woda Kumi Merah. Disebut demikian karena Putra Bungsu Rasi Leu tersebut  kumisnya berwarna kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Siapa Leluhur Ata Lise?


Peta Kabupaten Ende, Flores, NTT
NENEK  moyang atau leluhur kami orang Lise diyakini bukan warga asli Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka datang jauh dari luar pulau Flores lalu tinggal menetap dalam komunitas sendiri. Dalam perjalanan waktu terjadi kawin-mawin dengan warga lokal.  Leluhur orang Lise diyakini adalah etnis Melayu (Malaka).

Generasi pertama  orang Lise diperkirakan tiba di Flores Tengah (wilayah Kabupaten  Ende) sekitar abad ke-7 dan ke-8 bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Cerita lisan turun-temurun dari leluhur kami  menyebutkan, nenek moyang orang  Lise datang Malaka. Mereka datang menggunakan perahu tradisional dan membuang sauh di Pantai Wewaria, dekat Ropa, ibukota kecamatan  Wewaria, Kabupaten Ende saat ini.

Aku Ata Lise


Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.


DENGAN bangga saya selalu mengucapkan kata-kata ini. Aku ata Lise (Saya orang Lise atau  berasal dari Suku Lise). Begitulah setiap kali jawabanku bilamana ditanya tentang asal-usul.

Saya tidak pernah malu mengatakannya atau pura-pura tak peduli dengan pertanyaan semacam itu mengingat kehidupan ini sesuatu yang terberi (given). Toh saya dan juga orang-orang Lise lainnya tak pernah meminta lahir sebagai ata Lise bukan?

Kau pasti bertanya-tanya, Lise itu di mana? Baiklah saya beri sedikit penjelasan. Lise  merupakan salah satu sub etnis  Lio-Ende yang secara  geografis menempati wilayah timur dan sebagian kawasan tengah Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Wake Laki Lise Tana Telu (4)

Lise Tana Telu di tengah derap pembangunan


Keseluruhan kebudayaan adalah sebuah ruang lingkup dan tidak terbatas pada aspek-aspek ideational saja. Konsep sentral dari kebudayaan adalah adat-istiadat, yaitu pola prilaku tradisional yang reguler. Gluckman mengakui betapa pentingnya peranan adat-istiadat dalam mengatur perilaku manusia.

Pikiran ilmiah yang diformulasikan Gluckman ke dalam teori-teorinya ini sesungguhnya diangkat dari apa dijalankan masyarakat adat yang berpikir sederhana soal yang lebih luas dari ide-ide dan peranan adat yang mengatur kehidupan mereka.

Masyarakat adat Lise Tana Telu mewujudkan keyakinan mereka tentang pentingnya tradisi adat, dalam pelantikan pucuk pimpinan tradisional, mosalaki pu'u. Kesadaran ini muncul secara komunal melalui mosalaki dengan satu keyakinan bahwa paran dan fungsi mosalaki pu'u terutama menjadi roh penggerak bagi segenap aktivitas sosial budaya.

Wake Laki Lise Tana Telu (3)

Korban adalah sebuah nilai hidup


Merumuskan sebuah teori masyarakat budaya Lise Tana Telu dapat dimulai dari tradisi yang berkembang dan masih bertahan hingga saat ini. Para antropolog memiliki logika ilmu sendiri untuk merumuskan dengan realitas masyarakat.

Namun masyarakat juga memiliki logika tersendiri yang hadir secara turun-temurun. Realitas yang ada dalam masyarakat Lise Tana Telu bukan realitas teoritis melainkan realitas yang hadir secara riil, di tengah jatuh bangunnya masyarakat lokal (petani) mempertahankan hidup dan berusaha hidup layak dari sisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam kondisi sosial budaya yang amat kompleks bersama lembaga adat, tradisi, dan masyarakat adat mempertahankan jati diri, masyarakat adat Lise Tana Telu menghadirkan kembali jati dirinya.

Pengakuan inilah yang mungkin juga melampaui analisis tokoh-tokoh antropolog dan sosiolog yang berusaha berbicara obyektif tentang kehidupan sebuah kelompok etnis, namun tidak dapat mengatakan semuanya.

Wake Laki Lise Tana Telu (2)

Daniel Bheto Dedo mosalaki pu'u Lise Tana Telu

Eksistensi mosalaki pu'u tetap dijunjung tinggi. Hal ini terlihat jelas dalam upacara pelantikan atau penobatan Daniel Bheto Dedo sebagai mosalaki pu'u. Segenap anggota masyarakat persekutuan Lise Tana Telu menjadi saksi upacara yang disebut Nggubhu luka. 


Kehadiran ria bewa, mosalaki, bogehage, ana halo, fai walu di Ratenggoji menyatakan dengan jelas keberadaan Lise Tana Telu. Kedua ria bewa yang hadir adalah Bapak Salomon Woda (ria bewa Lise Tana Telu dari Wololele A) Bapak Yosef Ngati Mbete (ria bewa Lise Tana Telu dari Mulawatu). 

Keberadaan mereka dilengkapi dengan 1) Yohanes Tani mosalaki hebesani dari Watuneso Lio Timur, 2) Paulus Pera mosalaki ine ame dari Fata Ndopo Lise Kuru Lande Kota Baru, 3) Mboti Pati mosalaki ana li'e du'a Embu Wulu Puru Mulu dari Wololele B Kecamatan Wolowaru, 4) Rowa Mali mosalaki dari Bela Nggo Lise Lowo Boro, 

Desa Lika Naka Kecamatan Wolowaru, 5) mosalaki langga lengo dari Wololele B Wolowaru (tidak datang). Ditambah dengan mosalaki pu'u, dari seluruh Lise Tana Telu, terdapat enam mosa laki -satu di antaranya mosalaki pu'u- dan dua mosalaki riabewa. Segenap mosalaki dan ria bewa mengikuti dengan penuh perhatian rangkaian upacara pengukuhan mosalaki pu'u. Bagaimana rangkaian upacara serta makna dari tiap-tiap bagian upacara?

Wake Laki Lise Tana Telu (1)

TANGGAL 3-10 Oktober 2004 dilangsungkan serangkaian peristiwa budaya yang sangat langka di sebuah dusun terpencil, Ratengoji, Desa Tani Woda, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Ende. 
Di sana masyarakat adat Lise Tana Telu menyelenggarakan "Nggubhu Luka" upacara Pelantikan "Raja Baru" Daniel Bheto Dedo, Mosalaki Pu'u Lise Tana Telu, setelah lebih dari lima puluh tahun tanpa upacara sejenis. 

Dimanakah Lise Tana Telu? Ratenggoji? Apa, siapa, dan, bagaimana pemimpin tertinggi masyarakat adat setempat dilantik dengan upacara nggubhu luka? Apa latar belakang upacara, tujuan, dan rencana ke depan? Bagaimana partisipasi pemerintah dan masyarakat setempat terhadap suksesnya upacara dimaksud? Pos Kupang menulisnya untuk Anda.

 
Lise Tana Telu Berpusat di Ratenggoji
 
 Lise Tana Telu atau tiga wilayah Lise adalah persekutuan masyarakat adat Lise dengan satu orang pemimpin tertinggi disebut mosalaki pu'u. Wilayah adat Lise Tana Telu sangat luas, meliputi Kecamatan Kota Baru, dan sebagian Kecamatan Lio Timur, sebagian Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Watuneso. Keberadaan wilayah adat ini sudah berlangsung turun temurun. Dalam bahasa setempat disebut ulu soe endo mbawe - eko take tola ndale - artinya kepala di Pantai Endo Mbawe (Kota Baru) - ekor di Lia Tola (Watuneso).

Ria Bewa, Pesta Adat yang "Terhenti" 29 Tahun


ilustrasi
DESA yang akrab dengan kesunyian, kabut, dan dinginnya malam itu, pada pertengahan September hingga 8 Oktober 2006 tampak sibuk dan ramai. Saat itu ada pesta besar, yakni pesta pengukuhan pemangku adat tertinggi. Ritual adat digelar di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pesta besar yang digelar di desa ini terkait dengan pengukuhan Ria Bewa (pemangku adat tertinggi) Lise Tana Telu atau wilayah tanah tiga Wololele A. Wilayah tanah persekutuan adat Lise Tana Telu saat ini meliputi tiga kecamatan (dari 17 kecamatan).

Tiga kecamatan itu adalah Lio Timur (dulu dikenal Lise Nggonderia), Kotabaru (Lise Kuru Lande), dan Wolowaru (sebagian, dulu Lise Lowo Bora). Wilayah Lise Tana Telu terakhir berpenduduk sekitar 45.000 jiwa. Adapun Ria Bewa (artinya besar panjang) yang dikukuhkan di penghujung tahun ini adalah Michael Tani Wangge (53).

Pangan dan Hukum SPITZ


Oleh Tony Kleden

SALAH satu bencana kelaparan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1846 - 1850 di Irlandia. Ladang kentang yang merupakan makanan pokok warga gagal panen akibat hama. Kejadian itu jelas merupakan bencana alam. Tetapi kematian sekitar 2 juta orang akibat kelaparan itu jelas bukan sekadar bencana alam.
Selama bencana kelaparan itu, sebenarnya ada cukup makanan untuk memberi makan dua kali jumlah penduduk yang berjumlah 8 juta orang. Tetapi ekspor besar-besaran bahan makanan mulai dari gandum, oat, barley (jenis gandum yang dipakai untuk membuat bir), ternak, telur dan mentega berlangsung terus. Gandum dan barley dianggap sebagai hasil bumi perdagangan dan hanya ditanam untuk ekspor. Petani Irlandia tidak pernah memakannya karena mereka hanya bekerja untuk tuan tanah.

"Sakramen Penghibur" Bernama Bola


Bola itu Telanjang karya Dion DB Putra
Oleh Tony Kleden

TUTUP mata sejenak. Bayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak ada permainan yang dikelola dengan mengikuti regulasi yang menyata dalam berbagai cabang olahraga. Aksi-aksi kekerasan akan menjadi pemandangan rutin setiap hari, setiap saat. Perkelahian, tawuran, saling bunuh menjadi bagian dari riwayat sejarah manusia.
Aksi kekerasan itu muncul dipicu oleh naluri melawan atau rivalitas yang menyatu dengan daging manusia. Rivalitas itu, boleh dibilang, sudah menjadi hakikat yang asali pada setiap manusia, siapa pun dia.
Perang antarkampung di Alor, di Sumba Barat, di Manggarai atau di Adonara, tawuran antarsekolah di Maumere, baku ro'i antara dua cewek di Kota Kupang memperebutkan seorang cowok, jika diamati sebetulnya merupakan ekspresi dari rivalitas itu.

Tiga Syarat Kembalikan Kejayaan Bahari

Cucu Ibu Sud dan Didik Heru Purnomo
JAKARTA, FS - Bangsa Indonesia harus segera mengubah mindset dan cara pandang atas lautnya jika ingin mengembalikan kejayaan bahari nusantara. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi bangsa Indonesia.

Demikian inti pesan buku “TAHUN 1511 – Limaratus Tahun Kemudian” yang ditulis Laksdya TNI Didik Heru Purnomo (Kalakhar Bakorkamla RI) bersama 30 wartawan seluruh Indonesia. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu diluncurkan di Jakarta, Rabu (21/12/2012).

Di Laut Kita Tak Berdaya


cover
INDONESIA adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jarak diagonal antara Sabang ke Merauke adalah sama dengan jarak London ke Istambul. Sebelum tahun 1511, Indonesia yang dulu dinamakan Nusantara sangat dikenal dengan kekuatan lautnya dan sangat disegani oleh negara tetangga bahkan China. Pada saat itu, perairan selat Malaka dan laut wilayah Timur Asia dikuasai oleh Nusantara. Kehebatan pelaut Indonesia sudah ada sejak abad kedua, ketika pelaut Indonesia mengarungi laut lepas hingga Madagaskar, Afrika.

Namun sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, praktis kekuasaan Nusantara atas lautnya hilang. Kejatuhan Malaka diawali dengan ditemukannya jalur rempah-rempah oleh Ludovico Di Varthema, petualang dari Bologna - Italia yang menjejakan kaki pertama kali di Ternate pada 1506 saat Sultan Bayanullah memerintah (1500 -1521). Kekuasaan Nusantara atas lautnya semakin tak mungkin direbut kembali setelah tewasnya Dipati Unus dari Demak tewas dalam penyerangan ke Malaka pada 1521.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...