 |
| Valens Doy |
Oleh Radhar Panca Dahana
WAKTU yang merambang sesungguhnya tidak berjalan. Namun kita, manusialah, yang bergerak, membuat waktu seperti berlalu. Sesungguhnya waktu itu diam, tetap dan berdomisili. Melulu pikiran dan imajinasi yang berdaya gerak, kecepatan. Untuk perababan tercipta, kebudayaan terlaksana.
Ah, bagaimana konyol seperti kudapat? Tak lebih. Dari kebiasaan konyol, duduk bersepi di Stadion Utama Senayan Jakarta, bagian tepi. Kebiasaan remaja kencur yang dicurinya dari seorang lelaki kecil berbadan keras, berhati keras, berkepala keras, namun berjiwa lemas: Valens Gowa Doy
Mungkin bukan lelaki bermulut lebar (tidak besar) yang membuat remaja itu berpuluh tahun tenggelam dalam sensasi waktu. Namun wartawan kawakan asal Pulau Flores itulah yang pertama kali memperkenalkannya dengan stadion kebanggaan Soekarno. Analis olahraga itulah yang dilihatnya kerap duduk di tepi tiang gawang, atau bangku ujung penonton, memandang lapangan hijau yang nihil manusia.