Tampilkan postingan dengan label Thomas Bata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thomas Bata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2019

Thomas Bata dan Kuda Putihnya


ilustrasi
Setiap kali melihat kuda rinduku pada kampung menyeruak hebat. Ya kuda selalu memanggil kembali memori manis masa kecil di Wolonio, Mulawatu, Detupera, Lowo Tuli, Lowo Ria hingga Watuneso.

Nama-nama yang kusebut itu ada  di wilayah Lio Timur, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tempat di mana saya menghabiskan masa kecil.

Ayahku Thomas Bata (1931-2002) adalah pria Lise  (Lio) penggemar kuda sejati. Kesayangannya adalah kuda jantan warna putih. Dia merawat dengan baik kudanya. Dimandikan rutin. Beri asupan makanan bergizi.

Ayahku punya koleksi pelana. Dia pesan khusus pelana di bengkel misi, samping gereja Katedral Ende. Pelana terbaik. Empuk dudukannya, tali kekang elegan dan alas kaki mirip koboy Amerika. Tak lupa dia memakai topi koboy. Saya menduga Thomas Bapa terinspirasi film-film Amerika.

Sabtu, 27 Desember 2014

Thomas Bata: Ayahku dan Guru Jurnalistikku

Thomas Bata (2000)
1. Ayahku punya  nama yang simpel,  Thomas Bata. Dia lahir di Ratenggoji pada 6 Januari tahun 1933. Ratenggoji itu so pasti tidak ada dalam peta Pulau Flores. Dia cuma kampung kecil di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia saat ini.

2. Konon, ayahku lahir di pondok kebun orangtuanya Yosef Dede Dosi dan Maria Badhe Wangge. Sejatinya pasangan Dede dan Badhe tinggal di Wolonio, kampung kecil yang jaraknya belasan km di selatan Ratenggoji.

3. Ayahku Thomas Bata adalah putra bungsu dari istri kedua Dede Dosi. Dia anak kembar. Semuanya pria. Kembarannya lebih dulu dipanggil Sang Pencipta saat usia remaja. Total anak Dede Dosi 18 orang dari dua istri. Istri pertama namanya Polu Sawa.

Jumat, 17 Februari 2012

Ayahku, Guru Jurnalistikku

Thomas Bata dan Theresia Masi
HARI Rabu 8 Februari 2012. Jarum jam menunjukkan pukul 10.10 WIB.   Saya berada di Jambi. Di aula hotel Abadi Grand mengikuti acara Konvensi Nasional Media Massa, salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2012. Pada diskusi sesi pertama tiba-tiba terlintas bayangan sang ayah, Thomas Bata. Sekelebat bayangannya seolah mengingatkan saya bahwa hari itu beliau genap 10 tahun meninggal dunia.

Thomas Bata menuju keheningan abadi sepuluh tahun lalu di rumah sakit umum Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dua hari sebelumnya ketika saya merayakan ekaristi kudus hari Minggu di Gereja Fransiskus Asisi BTN Kolhua Kupang, saya, isteri dan anak-anak telah mempersembahkan satu itensi khusus demi keselamatan jiwa Thomas Bata.

Di Kota Jambi yang sedang adem karena hujan semusim, saya pun merayakan 20 tahun menjalani profesi sebagai wartawan. Waktu sungguh bergulir begitu lepas. Lekas. Tak terasa sudah bertahan selama itu... Padahal rasanya baru kemarin saya menggeluti medan pengabdian melalui profesi ini. Masih terngiang suara protes sang ayah yang santun lewat seuntai tanya.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...