Tampilkan postingan dengan label Tribun Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tribun Bali. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2024

Pamit


ilustrasi

 Kata itu sontak riuh di bulan September 2024.   Sejumlah rekan kerja di Tribun Network pamit.

Pamit karena tidak lagi menjadi bagian dari tim kerja  jaringan media di bawah naungan Kompas Gramedia.

Empat orang yang pamit di bulan kesembilan tahun 2024.  Saya mengenal baik keempatnya yaitu Mas Taufik Zuhdi atau akrab disapa Mas Tof, Mas Hasyim Ashari, Mbak Marina Napitupulu dan terakhir Kander Turnip.

Mas Tof terakhir bertugas di Jakarta. Dia sejatinya karyawan Harian Surya Surabaya. Sempat menjadi Pemimpin Perusahaan di sana.  

Mas Hasyim Ashari terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Harian Tribun Batam. Marina Napitupulu terakhir Manajer Bisnis sejumlah unit Tribun Network di wilayah Papua.

Senin, 04 September 2023

Purnabakti

Saya dan Mas Surnarko di Mataram, 4 Sept 2023
Pada suatu titik waktu saya pernah selevel dengan mereka. Selevel dalam hal tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi unit media naungan Tribun Network-Kompas Gramedia.

Medio 2023 satu per satu mereka mengucapkan sayonara kepada Tribun Network karena sudah tiba saatnya untuk purnabakti.

Meski pensiun sebagai karyawan adalah hukum natur tetap saja saya merasa agak terkejut. Kaget bahwa saya pun tidak akan lama lagi menyandang NIK alias nomor induk karyawan Tribun Network- Kompas Gramedia.

Sampai bulan September 2023, empat saudaraku pensiun.  Paling awal pamit dari Grup WA Pemimpin Redaksi adalah Mbak Wenny Ramdiastuti. 

Mbak Wenny terakhir menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel-Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan.

Jumat, 30 Oktober 2020

Ketika Duri-duri Tak Lagi Terasa

Elcid Li dan Fima Inabuy (kanan)

PRAKTIK cerdas mengesankan di tengah amukan pandemi Covid-19 datang dari tenggara Indonesia.

Tepatnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tetangga terdekat Bali.

Daerah itu sudah memiliki Laboratorium Biomolekuler untuk tes massal Covid-19.

Kalau sekadar bangun lab sih biasa. Yang luar biasa adalah NTT membangun lab pertama di Indonesia atas inisiatif masyarakat.

Mereka sukses merajut kerja kolaborasi apik dengan pemerintah daerah.

Kehadiran laboratorium tersebut memungkinkan tes massal Covid-19 gratis bagi masyarakat. Sebuah inovasi yang membanggakan.

Menyamar Sebagai Keluarga Nabunome

Edu Nabunome

Pesan klasik para guru jurnalistik saya, Valens Goa Doy, Damyan Godho, Julius R Siyaranamual, Marcel Weter Gobang sama dan sebangun. Jurnalis harus panjang akal.

Nah gara-gara keistimewaan atlet Indonesia kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, saya mempratikkan pesan para guruku tersebut.

Akal saya panjanglebarkan demi menembus ketatnya barikade petugas keamanan di Century Park Hotel Jakarta.

Pagi itu pada medio Oktober ceria 1997.

Wajahku yang semringah berubah kecut melihat seramnya sekuriti mengawal Century Park, hotel atlet peserta SEA Games.

Kalau Kursi Kosong Bisa Omong


ilustrasi

URUSAN kosong dan kekosongan lagi naik daun di buana ini.

Di mana-mana. Di meja presenter, di taman bunga, gedung bioskop, rumah ibadah pun di stadion olahraga.

Kekosongan sedang mendapatkan momentum spesial agar manusia tidak gosong tergerus virus Covid-19.

Kekosongan juga melanda jagat politik bernama pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan berlangsung 9 Desember 2020.

Jumlah kotak kosong meningkat pesat dibandingkan musim Pilkada sebelumnya. Makin gemuk pula pasangan calon tunggal pada Pilkada 2020.

Senyumlah Semanis Madu


 TRIBUN-BALI.COM -- Permintaan madu 

meningkat pesat selama pandemi Covid-19.

Madu hutan Timor, Flores, Maros, Aceh, Papua dan lain-lain laris manis.

Berita mengenai tingginya permintaan berjejer panjang. Kalau kurang yakin, silakan tuan dan puan gogling alias cari di Google. Sekarang.

Di lapak Tokopedia, misalnya, penjualan madu meningkat dua setengah kali lipat dibandingkan sebelum pandemi merebak di Indonesia sejak awal tahun 2020.

Ya, virus corona membuat madu yang manis itu semakin manis dan laris diburu banyak orang.

Kamis, 24 September 2020

Tembakan Ungkit Sonaldo

 

Son Heung-min

Korea Selatan tidak hanya drama televisi (drakor) bertema cinta yang mengharubiru rasa.

Korea pun tak sebatas menebarkan demam K-pop (Korean Pop), jenis musik populer yang menembus tapal negara sejak lama.

Korea sedari dulu selalu melahirkan bintang di lapangan sepak bola.

Pekan kedua Premier League musim 2020-2001 kembali menjulangkan nama Korea di Liga Inggris.

Son Heung-min mengemas caturgol untuk Tottenham Hotspur (Spurs) yang bikin sang manajer Jose Mourinho
tersenyum simpul.

Pada laga perdana 13 September 2020 Tottenham keok 0-1 melawan Everton.

Teman Tapi Lawan

Dominic Thiem

Petenis Austria Dominic Thiem mendapat hadiah ulang tahun terindah. Tepat pada hari jadinya ke-27 dia meraih gelar Grand Slam US Open atau Amerika Serikat Terbuka.

Setelah tiga kali gagal di final Grand Slam, pada usahanya yang keempat, Thiem mampu mewujudkannya. Proficiat!

Menariknya lawan Dominic Thie kalahkan di final US Open pada 13 September 2020 adalah sahabatnya Alexander Zverev asal Jerman.

Teman tapi lawan sampai seorang di antaranya menyerah namun tidak menghilangkan tali persahabatan. Pada akhir laga mereka berangkulan. Begitulah indahnya sportivitas.

Thiem sudah ketinggalan dua set. Secara mengagumkan dia bangkit dari keterpurukan, tampil konsisten dan pada set terakhir menang tipis lewat tie-break.

Jumat, 17 Juli 2020

Klopp Memang Klop dan Top


Juergen Klopp (ist)
URUSAN klop dan top hari-hari ini hanya dipunyai satu nama.

Juergen Klopp. Seng (tidak) ada yang lain. Dia top. Tertinggi, teratas.

Berada di puncak prestasi dan kesohoran sepak bola.

Itu terjadi karena dia memang klop. Tidak kurang dan tidak lebih. Cocok.

Sesuai harapan Liverpool.

Setelah menanti 30 tahun akhirnya trofi Premier League (PL) alias Liga Inggris mendarat lagi di Anfield Juni 2020.

Melengkapi koleksi trofi Liga Champions Eropa yang The Reds raih tahun sebelumnya.

Klopp sungguh klop. Tapi jangan tuan lihat semata atas hasil hari ini.

Sepucuk Surat buat Shin Tae-yong


Shin Tae-yong
ORANG Indonesia doyan drama Korea alias drakor.

Bahkan sekarang ada stasiun televisi menempatkan drakor sebagai program hiburan utama.

Ada drakor sesi pagi, sesi siang dan drakor malam. Ratingnya memang tinggi sih.

Kisah romantisme ala Korea yang kadang mengurai air mata rupanya mendapat pasar spesial di Indonesia.

Di luar layar kaca itu, ada “drama” lain pula yang sedang menyedot perhatian publik negeri ini. Sama-sama berwarna Korea.

Drama di panggung sepak bola.

Minggu, 14 Juni 2020

Sang Gadis yang Mengenal Batas

Angela Merkel (ist)
Mengenal batas. Batas kemampuan diri manusia.

Ada saatnya bertakhta, ada waktunya pamit dari hiruk pikuk tepuk dan sorak.

Konsistensi sikap itu terdengar dari Jerman.

Negeri yang pertama kali berani mulai menjalani hidup normal baru melalui sepak bola sebagai pintu masuknya.

Sang pemimpin yang dicintai rakyatnya, Angela Merkel mengatakan, akan tetap pada keputusannya yaitu mengakhiri masa jabatan sebagai Kanselir Jerman periode ini.

Angela Merkel tidak akan maju lagi untuk periode kelima.


Saatnya menyerahkan estafet kepemimpinan kepada yang lebih muda kendati secara konstitusi kesempatan baginya masih terbuka.

Bendera Setengah Tiang di Anfield

Andrea Casula sangat ceria hari itu. Dia akan menyaksikan langsung laga tim kesayangannya Juventus berusaha meraih gelar juara Liga Champions Eropa.

Namun, kegembiraan si bocah begitu lekas berlalu.

Tiba-tiba tubuh mungilnya terjepit di antara para penonton yang bergerak mundur menuju tembok pembatas.

Sepuluh menit berselang tembok renta tak sanggup menahan beban ribuan orang.

Ambruk berderai. Andrea Casula terhempas di antara jerit tangis kepanikan. Terinjak-injak kaki. Pun tertimpa material bangunan. Bocah berusia 10 tahun itu berpulang.

Tangis ibunya menyayat. Mata berlinang.

Karena Ibu yang Memutuskan


ilustrasi
Ternyata  semuanya baik-baik saja.

Dua pekan sudah Bundesliga bergulir dengan hasil sesuai harapan seorang ibu yang mengambil keputusan bersejarah.

Pertandingan berjalan lancar. Para penggemar si kulit bundar menikmati lagi liukan dan goyangan seniman lapangan hijau menciptakan gol-gol indah.

Kendati tanpa penonton seorang pun di dalam stadion, sepak bola tak kehilangan pesonanya melalui layar kaca virtual.

Paling menggembirakan hati berputarnya roda kompetisi sepak bola level tertinggi di Jerman tidak melahirkan klaster baru Covid-19.

Itu berarti pelatih, pemain dan segenap perangkat pertandingan disiplin menjalankan protokol kesehatan yang telah dipatok bersama.

Membaca Keengganan Gubernur Koster


Wayan Koster
Wacana yang mulai menggelinding hari-hari ini adalah berdamai dengan Covid-19.

Beradaptasi dengan karakter si virus yang belum ada vaksin dan obatnya.

Lain kata, mari merajut hidup normal baru.

New normal, bisik anak milenial.

Meski tak terkatakan secara tandas, dorongan itu berembus.

Lumayan kuat menerpa wajah Pulau Dewata yang banyak mendapat sanjungan dalam hal menangani pandemi Covid-19.

Sebut misalnya partisipasi desa adat yang luar biasa sebagai garda terdepan memberi edukasi dan rasa aman kepada masyarakat.

Sehat Tapi Palsu di Gilimanuk

ilustrasi
GILIMANUK itu sebuah nama besar di Pulau Dewata.

Kesohorannya setara dengan Bandara Internasional Ngurah Rai. Bahkan jauh lebih tenar ketimbang Kuta, Sanur atau Ubud.

Kalau tuan masuk Bali pilihan favorit ya Gilimanuk atau Bandara Ngurah Rai. Selebihnya baru Pelabuhan Benoa dan Padang Bai.

Saban hari ribuan orang menginjakkan kakinya di Gilimanuk. Mereka datang dan pergi.

Bergerak ke Barat atau ke Timur, menuju Pulau Jawa atau sebaliknya.

Gilimanuk terkenal karena di sanalah letak pelabuhan kapal feri yang menghubungkan Bali dan Jawa, pulau dengan populasi tertambun di negeri ini.

Pelabuhan sibuk itu persisnya berada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

16 Mei dan Hidup Normal ala Covid-19

ilustrasi
ENTAH mengapa saya begitu merindukan tanggal itu, 16 Mei 2020.

Ini bukan tanggal lahirku.

Hari itu adalah momen mendebarkan kala Bundesliga bergulir lagi setelah vakum dua bulan lebih karena Covid-19.

Soal sepak bola, pesona Jerman memang tak pernah pudar.


Bukan semata karena sejak remaja saya memuja klub langganan juara Bayern Munich serta mengagumi kompetisinya yang jauh dari hingar bingar, gosip dan nyinyir semisal Liga Inggris dan Spanyol.

Bukan! Ini tentang keberanian mulai berdamai dengan virus yang sudah menginfeksi lebih dari 4 juta jiwa dan membunuh hampir 300 ribu orang di seluruh dunia.

Jumat, 08 Mei 2020

Bukan Salah Bunda Mengandung


ilustrasi
NEGERI tercinta sungguh tak pernah kehilangan selera humor.

Hanya beberapa jam setelah pemerintah memberlakukan kebijakan #Dirumahsaja awal Maret 2020, muncul aneka meme lucu-lucuan.

Beredar luas di jagat media sosial (medsos).

Satu di antaranya berbunyi “Corona negatif istri positif.”

Awalnya sekadar guyon. Tapi hari-hari ini kok kesannya menjurus serius nih.

Sungguh. Boleh jadi ada korelasi tegas antara pandemi Covid-19 dengan melonjaknya kehamilan tak diinginkan atau tak terduga.

Tiga hari lalu viral di medsos tayangan berita Tribunews.com mengenai meningkatnya kehamilan di Tasikmalaya Jawa Barat selama pandemi Covid-19.

Sirnanya Spontanitas Permainan Ajaib


ilustrasi
SEPAK bola adalah permainan ajaib.

Tapi si ajaib itu mungkin tak akan sama lagi bobotnya dalam waktu dekat karena pudarnya spontanitas gara-gara teror virus corona atau Covid-19.

Bola mungkin dimainkan dengan lebih hati-hati.

Bayangan buruknya kira-kira begini.

Dikau akan melihat manusia bermasker di lapangan hijau yang disiplin menjaga jarak.

Sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan rekan atau lawan.

Lebih utamakan kepiawaian individu meliuk-liuk bersama bola.

Corona dan Lockdwon Pun Jatuh Cinta


ilustrasi
KELAK, kira-kira 22 hingga 25 tahun dari sekarang, Corona dan Lockdown saling jatuh cinta lalu sepakat mengikat janji suci perkawinan.

Orangtua mereka pun mengirim undangan resepsi kepada keluarga, kerabat, kolega dan mitra. Mungkin termasuk tuan dan puan.

Isinya demikian.

Mohon kehadiran bapak/ibu pada resepsi pernikahan anak, cucu terkasih kami, Maria Josepha Corona dengan Joseph Alexander Lockdown di Ballroom hotel A pada tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian mulai jam sekian.

Dua puluh lima tahun mungkin terlalu lama.

Boleh jadi setahun atau dua tahun dari hari ini, puan mendapat undangan merayakan hari ulang tahun Bryant Covid, Marshanda Sanitizer, Pascal Masker, Michael Swab, Kiki Amalia Rapid atau Ricardo Joao Disinfektan.

Sepak Bola Mati Gaya

ilustrasi
CORONA semoga lekas berlalu. Makin lama wabah bergulir bikin sepak bola sungguh mati gaya.

Sekarang pun sebagian sudah sekarat bahkan memilih langkah tandas: menghentikan kompetisi musim 2019-2020. Duh!

Kabar murung berembus dari daratan Eropa dan Latin Amerika, dua sumbu utama sepak bola dunia.

Sampai 30 April 2020, empat negara sudah memastikan tidak lagi menggulirkan kompetisi musim ini.

Liga Belgia (Jupiter Pro League), Liga Belanda (Eredivisie), Liga Argentina (Superliga Argentina) dan Liga Prancis ( Ligue 1).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...