Senin, 30 September 2019

Elegi Buat Badil


Rudy Badil (kiri/CNN.Indonesia)
Oleh Albert Kuhon

+ Adiknya Badil ya?

- Bukan. Kenapa?

+ Tampangnya mirip.

Pertanyaan serupa muncul lagi dari seorang perempuan yang baru datang di lantai III RS Hermina Depok, dekat ruang ICU, Selasa 8 Juli 2019 sore.

Tidak lama kemudian datang seorang lelaki yang usianya sekitar 60 tahun dan menanyakan ha yang sama kepadsaya. Jawaban saya tetap sama: “Bukan.”

Saya memang bukan siapa-siapanya Badil. Saya cuma merasa dekat dengannya, seperti sejumlah teman-temannya yang lain.

Obituari Aristides Katoppo

Aristides Katoppo (wowkeren.com)
Oleh Albert Kuhon


+ Masak you gak bisa dapat sih?

- Nanti dicarikan

+ Kan sudah 25 tahun. Pasti sudah di-declassified. Coba you cari Marshal Green, bekas Dubes Amerika yang pernah tugas di Jakarta tahun 1965an.

- Oke

Begitu kira-kira percakapan singkat saya dengan Aristides Katoppo, yang akrab disapa Tides di akhir tahun 1990. Waktu itu saya Kepala Biro Harian Suara Pembaruan di Washington DC.

Wartawan senior Aristides Katoppo, bukan petinggi di redaksi. Tapi suaranya tetap berpengaruh. Percakapan itu diakhiri dengan komentar agak sinis: “Masak Albert Kuhon gak bisa dapat sih?”

Kami berbincang singkat tentang dokumen rahasia yang dibuat oleh pihak Kedubes Amerika Serikat di Indonesia menghenai Peristiwa G30S.

Minggu, 29 September 2019

Thomas Bata dan Kuda Putihnya


ilustrasi
Setiap kali melihat kuda rinduku pada kampung menyeruak hebat. Ya kuda selalu memanggil kembali memori manis masa kecil di Wolonio, Mulawatu, Detupera, Lowo Tuli, Lowo Ria hingga Watuneso.

Nama-nama yang kusebut itu ada  di wilayah Lio Timur, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tempat di mana saya menghabiskan masa kecil.

Ayahku Thomas Bata (1931-2002) adalah pria Lise  (Lio) penggemar kuda sejati. Kesayangannya adalah kuda jantan warna putih. Dia merawat dengan baik kudanya. Dimandikan rutin. Beri asupan makanan bergizi.

Ayahku punya koleksi pelana. Dia pesan khusus pelana di bengkel misi, samping gereja Katedral Ende. Pelana terbaik. Empuk dudukannya, tali kekang elegan dan alas kaki mirip koboy Amerika. Tak lupa dia memakai topi koboy. Saya menduga Thomas Bapa terinspirasi film-film Amerika.

Selasa, 24 September 2019

Pria Berjins Biru Itu


Jakarta 18 Septermber 2019
PANGGILAN suara tak terjawab itu tercatat di ponselku pada pukul 17.40 Wita hari Kamis 19 September 2019.  Saya buru-buru mengirim pesan WA singkat, “Siap, Selamat Sore Om” diakhiri emotion minta maaf karena tidak sempat merespons langsung panggilan telepon tadi.

Dua menit kemudian beliau mengirim pesan balasan lewat WA.  Saya tersenyum  membaca isinya. “Oh, Terima kasih banyak Om” jawabku. Hanya begitu. Mau menambahkan lagi, tapi saya kok seolah kehilangan kata-kata. Yah sudah, Om Herman pasti memahami, kataku membatin!

Beri surprise. Begitulah gaya khas Om Herman Darmo.  Perhatiannya tak pernah surut kepada kami anak buahnya.  Bukan semata soal materi, tapi sentuhan kasih kemanusiaan itu yang tak ternilai.

Bagi saya beliau itu tidak sekadar  seorang pemimpin dalam garis hirarkis pekerjaan dan perusahaan yang kaku.  Beliau adalah juga orang tua, guru dan pendidik yang membimbing dan mengayomi.


Kamis, 19 September 2019

Mengenal Batas

ilustrasi
Waktu kadang terasa beranjak amat lekas. Di Palmerah Barat Jakarta 17-18 September 2019,  saya disadarkan lagi tentang batas. Batas waktu seseorang berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan atau instansi.

Perasaanku mengharu biru. Kaka Yusran Pare, sang guru itu sejatinya telah pensiun setahun yang lalu. Namun, dia dikontrak lagi dalam batas waktu tertentu (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu-PKWT). Eh perjanjian itu pun tak lama lagi akan selesai.

Mas Febby Mahendra Putra mengungkapkan itu tatkala kami jalan-jalan ke Istana Kepresidenan seusai sidang hari kedua Ombudsman 18 September 2019. Masa kerja Kaka Yusran berakhir bulan Desember 2019.


Tribun Meniti Buih Perubahan


Palmerah, 18 September 2019
Tak mudah memang meniti buih perubahan zaman. Namun, Tribun takkan mundur. Kami akan terus mendayung perahu besar ini mengarungi gelombang bahkan badai sekalipun.

Ikhtiar kecil melalui Tim Ombudsman sudah bergerak sejak 8 Mei 2019. Kurang lebih 20 telaahan dan rekomendasi yang kami berikan kepada pimpinan unit hingga pimpinan tertinggi.

Respons baik.  Semua bergerak menuju Tribun nomor satu, tidak hanya pengunjung, tapi yang tak kalah penting kualitas kontennya.

Konten yang taat dan tertib berbahasa, taat hukum dan etika, akurasi fakta dan data, tidak berselera rendah dan ramah terhadap SARA.

Sidang Ombudsman Tribun bersama petinggi Tribun di Palmerah Jakarta, 17-18 September2019 menyusun agenda aksi konkret demi membenahi mutu konten sekaligus memperkokoh komitmen dan sikap kerja profesional.

Senin, 16 September 2019

Masa Kecil di Sumedang

Saya dan Kaka Yusran Pare, Mei 2019
Saya kembali ke Jakarta 16 September 2019. Kali ini terbang dari Pulau Dewata. Entah untuk yang keberapa  kalinya ke Jakarta. Saya lupa mencatat meski ingat dalam setahun minimal sekali. Ya kota ini lokasi kantor pusat tempat saya mengabdi sekaligus mencari sesuap nasi 27 tahun terakhir (1992-2019).

Saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar Grup Kompas Gramedia (KG).  Saya datang lebih awal sehari sebelum mengikuti raker Ombudsman Tribun tanggal 17-18 September 2019.

Ini raker pertama sejak lembaga ini dikukuhkan di Jakarta 8 Mei 2019 oleh Vice CEO KG Media, Sentrijanto dihadiri Herman Damo (komisaris), Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, C Budiarto,  dan para petinggi Tribun lainnya.

Jumat, 13 September 2019

Peran dan Tugas Kardinal dalam Gereja Katolik


Paus Fransiskus dan para kardinal
 Paus Fransiskus pada akhir Agustus 2019 memilih Mgr Ignatius Suharyo sebagai kardinal Indonesia. Suharyo adalah kardinal ketiga Indonesia.

Kardinal pertama adalah Mgr Justinus Darmojuwono yang dilantik pada 1967 di sela pengabdiannya sebagai Uskup Agung Semarang periode 1963 sampai 1981.

Kardinal kedua adalah Mgr Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada 1994 saat menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Pada tahun 1996 Mgr Julius diminta menggembalakan Keuskupan Agung Jakarta menggantikan Mgr Leo Soekoto. Mgr Julius mundur dari Jakarta karena alasan kesehatan pada 2010.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...