SEMBAB menghiasai wajah Nanda. Di tengah renai hujan, dia menatap
nanar ke arah alat berat yang sedang menghancurkan dinding gedung yang
roboh. Di dalam reruntuhan beton itu, kemungkinan besar Fitria (14),
anaknya, terperangkap.
Nanda duduk tak jauh dari reruntuhan bangunan bimbingan belajar GAMA.
Gedung di Jalan Proklamasi Padang itu merupakan salah satu dari ratusan
bangunan yang runtuh ketika gempa 7,6 Skala Richter (SR) melanda Padang,
Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009) lalu. Di dalam reruntuhan selain
Fitria, juga terdapat puluhan murid yang terperangkap.
Tidak banyak yang bisa dilakukan orangtua seperti Nanda, selain duduk
memandangi mesin pelubang beton dan puluhan petugas yang berusaha
menyingkirkan puing reruntuhan demi menemukan korban. Ada harapan,
meski terasa mustahil, melihat Fitria ditemukan dalam keadaan hidup.
Sampai hari keempat pasca gempa, Nanda mulai pasrah. Dari 100 orang yang
terperangkap di gedung GAMA, baru 50 korban tewas yang dievakuasi.
Sisanya masih tertimbun reruntuhan. Nasib yang sama menimpa 200 orang di
Hotel Ambacang, 30 orang di Pasar Raya dan 300 lainnya di Gunung Tigo,
Padang Pariaman.