Kamis, 21 Mei 2020

Mengenal EP da Gomez: Menutup Lembaran Terakhir


EP da Gomez
Oleh Jannes Eudes Wawa

Senin, 18 Mei 2020 siang kita dikejutkan berita duka berpulangnya EP da Gomez, politisi kawakan di Sikka.

Berita duka ini seolah menyapu segala  hingar bingar di jagat media sosial di kalangan orang Maumere terkait wabah virus corona (Covid) 19 yang menulari 21 warga Kabupaten Sikka. Langit Sikka pun mendung mengantar kepergiannya.

Hidup EP da Gomez begitu melekat dengan buku. Dia sangat maniak membaca buku.

Dia bukan hanya mengetahui isinya, tetapi menghafal dengan pasti nama pengarang, serta warna kulit buku tersebut. Termasuk posisinya dalam rak perpustakaan pribadinya.

Pernah suatu ketika seorang teman diminta EP da Gomez untuk mengambil buku judul tertentu di rumahnya di Maumere.

Ketika Orang Lain Masih Berbisik


EP da Gomez
Dion, coba kau baca dulu yang saya tulis itu kah. Menurut saya perlu segera dimuat karena masalahnya sedang aktual.

Itu katanya suatu ketika di awal 2000-an ketika masih aktif menulis artikel di Harian Pos Kupang.

Hampir tiap pekan dia kirim artikel untuk rubrik Opini Harian Pos Kupang.

Tema tulisannya sangat kaya perspektif,  umumnya mengenai masalah sosial politik, pemerintahan, pembangunan. Sesekali menyentil masalah ekonomi.

Kalau Pos Kupang agak lama tak menerbitkan  artikelnya,   dia pasti bertanya ke jajaran redaksi.  Saya termasuk yang kerap menerima telepon darinya.

Jumat, 08 Mei 2020

Bukan Salah Bunda Mengandung


ilustrasi
NEGERI tercinta sungguh tak pernah kehilangan selera humor.

Hanya beberapa jam setelah pemerintah memberlakukan kebijakan #Dirumahsaja awal Maret 2020, muncul aneka meme lucu-lucuan.

Beredar luas di jagat media sosial (medsos).

Satu di antaranya berbunyi “Corona negatif istri positif.”

Awalnya sekadar guyon. Tapi hari-hari ini kok kesannya menjurus serius nih.

Sungguh. Boleh jadi ada korelasi tegas antara pandemi Covid-19 dengan melonjaknya kehamilan tak diinginkan atau tak terduga.

Tiga hari lalu viral di medsos tayangan berita Tribunews.com mengenai meningkatnya kehamilan di Tasikmalaya Jawa Barat selama pandemi Covid-19.

Sirnanya Spontanitas Permainan Ajaib


ilustrasi
SEPAK bola adalah permainan ajaib.

Tapi si ajaib itu mungkin tak akan sama lagi bobotnya dalam waktu dekat karena pudarnya spontanitas gara-gara teror virus corona atau Covid-19.

Bola mungkin dimainkan dengan lebih hati-hati.

Bayangan buruknya kira-kira begini.

Dikau akan melihat manusia bermasker di lapangan hijau yang disiplin menjaga jarak.

Sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengan rekan atau lawan.

Lebih utamakan kepiawaian individu meliuk-liuk bersama bola.

Corona dan Lockdwon Pun Jatuh Cinta


ilustrasi
KELAK, kira-kira 22 hingga 25 tahun dari sekarang, Corona dan Lockdown saling jatuh cinta lalu sepakat mengikat janji suci perkawinan.

Orangtua mereka pun mengirim undangan resepsi kepada keluarga, kerabat, kolega dan mitra. Mungkin termasuk tuan dan puan.

Isinya demikian.

Mohon kehadiran bapak/ibu pada resepsi pernikahan anak, cucu terkasih kami, Maria Josepha Corona dengan Joseph Alexander Lockdown di Ballroom hotel A pada tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian mulai jam sekian.

Dua puluh lima tahun mungkin terlalu lama.

Boleh jadi setahun atau dua tahun dari hari ini, puan mendapat undangan merayakan hari ulang tahun Bryant Covid, Marshanda Sanitizer, Pascal Masker, Michael Swab, Kiki Amalia Rapid atau Ricardo Joao Disinfektan.

Sepak Bola Mati Gaya

ilustrasi
CORONA semoga lekas berlalu. Makin lama wabah bergulir bikin sepak bola sungguh mati gaya.

Sekarang pun sebagian sudah sekarat bahkan memilih langkah tandas: menghentikan kompetisi musim 2019-2020. Duh!

Kabar murung berembus dari daratan Eropa dan Latin Amerika, dua sumbu utama sepak bola dunia.

Sampai 30 April 2020, empat negara sudah memastikan tidak lagi menggulirkan kompetisi musim ini.

Liga Belgia (Jupiter Pro League), Liga Belanda (Eredivisie), Liga Argentina (Superliga Argentina) dan Liga Prancis ( Ligue 1).

Prahara Mudik atau Pulang Kampung


ilustrasi
CORONAVIRUS Disease 2019 alias Covid-19 ikut mengguncang jagat perbahasaan.

Corona memperkaya bahasa Indonesia. Tapi serentak jua merendahkan martabatnya.

Kok bisa?

Gara-gara virus yang menyerang pernapasan ini, cara dan gaya kita berbahasa Indonesia yang memang doyan bikin singkatan dan akronim, kini menambah lagi koleksinya.

Sekarang keponakanku yang masih di bangku Sekolah Dasar (SD) pun sudah hafal apa itu ADP, ODP, PDP, OTG dan sebagainya.

ODP (Orang Dalam Pantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), OTG (Orang Tanpa Gejala), APD (Alat Pelindung Diri).

Bumi Hening Memulihkan Diri


ilustrasi
Ketika Bumi rapuh dan letih

Semesta mengutus Covid

Saat Bumi sesak napas karena polusi

Diare akut lantaran sampah

Langit menurunkan Corona



Tatkala Bumi bising berisik

Merintih terkuras habis isi perutnya

Cakrawala menebarkan sampar

Agar Bumi berselimut sunyi

Boleh hening memulihkan diri

Mereken Rupiah Marhaen


ilustrasi
ADA secuil kisah menarik dari Bangli, daerah sejuk subur sumber air melimpah bagi Bali.

Di sana pemerintah kabupaten mengalokasikan dana Rp 33 miliar untuk penanganan Covid-19.

Lumayan besar.

Maklum Bangli sejauh ini mencatat jumlah orang terjangkit virus corona nomor dua terbanyak di Pulau Dewata setelah Kota Denpasar.

Pemerintah mutlak memberi perhatian sungguh-sungguh.

Namun, sampai tanggal 15 April 2020, dari dana yang disiapkan sebesar Rp 33 miliar tersebut baru dicairkan Rp 600 juta. Cuma nol koma nol sekian persen.

Cilik amat. Apa pasal?

Anomali Paman Sam dan Elang Super Afrika

ilustrasi
AMERIKA Serikat (AS) hampir punya segalanya. Tak seorang pun meragukan kedigdayaannya.

Tapi negeri itu pula yang kini menempati puncak klasemen kematian yang direnggut Covid-19.

Sampai kemarin setidaknya ada 639.664 orang di negeri berjulukan Paman Sam tersebut yang terinfeksi virus corona dan 34.552 orang meninggal dunia.

Pada hari Rabu 15 April 2020, Johns Hopkins University , seperti dilansir AFP, menyebut angka 2.569 kematian dalam waktu 24 jam.

Angka ini merupakan rekor baru jumlah kematian tertinggi dalam sehari di seluruh dunia.

Terbayang betapa repotnya mengurus pemakaman jenazah sebanyak itu. Memakamkan satu orang saja sudah mengurai air mata duka.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...