Tampilkan postingan dengan label Frans Seda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Frans Seda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2019

Biar Saya yang Bawa


* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (4)
BIARA Pertapaan (Trappist) Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim). Itulah tujuan ziarah kami hari Sabtu (29/10). Hari itu rombongan terbagi dua. Karena suatu urusan, Jakob Oetama lebih dahulu ke Denpasar bersama Rikard Bagun, Julius Pour dan August Parengkuan dan bermalam di Pulau Dewata itu.

Sedangkan Frans Seda berziarah ke Lamanabi bersama St. Sularto, Petrus Waroruntu dan Wandi S Brata. Belakangan, Petrus Waworuntu memilih berziarah ke kota Reinha Larantuka dengan mobil. Sejak Jumat (28/10) malam, kami sudah diingatkan Manajer Flores Sao Resort (FSR), Heribertus Ajo bahwa perjalanan ke Tanjung Bunga dengan kapal berkapasitas 8-10 orang itu mulai pukul 06.00 Wita. "Jangan lupa besok bangun pagi-pagi ya," katanya malam itu.

Momen Indah di Hari Kamis


* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (2)
TIGA mobil beriring-iringan dari Maumere menuju Lekebai. Perjalanan ke kampung halaman Frans Seda itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Tidak ada suasana mencolok saat kami tiba di sana. Suasana biasa saja. 

Memang begitulah harapan Frans Seda dan Jakob Oetama. Kedua tokoh ini tidak membutuhkan penyambutan secara berlebihan. 

Toh kehadiran mereka di Lekebai adalah untuk berziarah ke makam orangtua Frans Seda serta bersilaturahmi dengan keluarga.

Turun dari mobil, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah yang berada dalam kompleks yang cukup luas. Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk banguan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun. Warisan itu masih terjaga dengan baik.

Jumat, 09 Januari 2015

Diplomasi Frans Seda

Oleh Pieter P Gero


Tidak ada yang keliru saat Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Frans Seda agar lebih baik beristirahat. Maklum, Frans Seda saat itu sudah berusia 81 tahun. Beliau juga sudah duduk di kursi roda pula. Namun, keinginan Frans Seda yang disampaikan kepada Wapres Kalla untuk membantu menyelesaikan utang Indonesia di Dana Moneter Internasional atau IMF itu adalah bagian dari semangat diplomasi yang kuat dan andal dalam diri Frans Seda.

Pria bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda ini mencatat sukses dalam misi diplomasi yang diembannya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pria sederhana kelahiran Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, ini mengisahkan misi diplomasinya menghindari perang pembebasan Irian Jaya yang kini dikenal dengan Papua.

Miu Ta'u Mata!


Oleh Dion DB Putra

WAIARA, 29 Oktober 2005. Fajar baru menyingsing. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah siraman matahari pagi, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana di Pantai Waiara pagi itu. Tergelak oleh beragam kisah yang meluncur dari mulut Drs. Frans Seda. Orang tua itu tak henti- hentinya mempromosikan keindahan alam bawah laut di perairan Waiara serta alam Flores umumnya.Tiga pimpinan teras kelompok KompasGramedia, St. Sularto, Wandi S Brata dan Petrus Waworuntu menyimak dengan riang.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...