| Valens Doy |
Oleh Steve H Prabowo
“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”
Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.
Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.
Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.
Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.



Oleh Jacobus Embu Lato
