Tampilkan postingan dengan label Valens Doy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Valens Doy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2019

Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya


Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.

Selasa, 26 September 2017

Demokratisasi a la Valens Goa Doy


Valens G Doy
Oleh: Steve H Prabowo

Pengantar:

Victorawan "Itong" Sophiaan tiba-tiba menelepon saya. "Gua bosen tiap tahun Oom dikenang gitu-gitu aja. Oom kaya ginilah, Oom kaya gitulah. Kaga ada yang betul-betul gambarin Oom secara utuh, kecuali dia pekerja keras, dedikasi tinggi pada profesi, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, dia punya pemikiran, ide, visi, tentang Indonesia," kata Itong.

Betul juga. Valens Doy, yang dipanggil "Oom" itu lalu sekadar figur nostalgik. Sama seperti lagu-lagu oldies yang ditayangkan dalam Tembang Kenangan. Haul Valens Doy, setiap 3 Mei, cuma jadi ajang orang-orang tua berkumpul dan berbagi kenangan. Lalu bercerita tentang Si Oom pada adik-adiknya yang -kata Itong -tak bakal dapat apa-apa dari cerita nostalgia itu.

Sabtu, 25 April 2015

Rudolf Nggai: Pekerja Keras yang Rendah Hati


Rudolf Nggai (berdiri ketiga dari kanan) bersama kru Pos Kupang 1993
SYLVIA itu sebuah nama.  Nama favorit-legendaris  sekaligus tempat paling kerap dikunjungi  oleh siapa pun yang menyandang status mahasiswa di  Kota Kupang  pada  tahun 1980-an  hingga awal 1990-an. Ya, Sylvia merupakan langganan saya dan teman-teman mahasiswa masa itu untuk fotokopi bahan kuliah, jilid makalah atau skripsi, bikin undangan dan lain-lain yang berhubungan dengan kertas.

Senin, 20 April 2015

Tantangan dari Valens Doy

Valens Goa Doy

Oleh Achmad Subechi


PUASA sebentar lagi akan berakhir. Di bulan suci seperti ini saya teringat sebuah tantangan besar yang diberikan guru jurnalistik saya. Namanya Valens Doy. Dia mantan wartawan senior Harian Kompas. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002.

WAKTU itu mendekati Pemilu 2004, mantan KSAD sekaligus Menpen Jenderal R Hartono mendirikan sebuah partai bersama tokoh Golkar Ary Mardjono. Namanya Partai Karya Peduli Bangsa, berdiri 9 September 2002.

Om Valens -biasa saya memanggil dia-yang ketika itu ditunjuk menjadi konsultan Harian Surya meminta saya agar mengerahkan semua kekuatan (wartawan) di Biro Jakarta agar melakukan wawancara khusus dengan R Hartono. "Saya sediakan dua halaman dan wawancara dibuat tanya jawab. Besok sudah harus ada," pesan Om Valens.

Mengapa Xanana Nundur?

Oleh Valens Doy

 
BAGI 11 wartawan Indonesia yang mengunjungi Timor Lorosae awal Februari 2001, pengunduran diri Xanana "Kay Rala" Gusmao dari jabatan Ketua Dewan Nasional Timor Lorosae (DNTL)-semacam DPR Transisi sampai terbentuknya DPR hasil Pemilu 30 Agustus mendatang-sama sekali tidak mengejutkan. Apalagi pernyataannya untuk tidak akan mencalonkan diri menjadi presiden.

Tanggal 8 Februari 2001, di press room yang amat sederhana di kantornya di Dili, kepada 11 wartawan Indonesia yang disebutnya sebagai sahabat terdekat dan disambutnya dengan amat hangat itu, Xanana dengan sangat gamblang mengemukakan dua argumennya, mengapa ia harus segera mundur dari peran sebagai bintang utama di panggung politik Timor Lorosae.

Valens Doy dan Julius, Tokoh Visioner


Keluarga Valens Doy dan Julius Siyaranamual pose
bersama usai doa di Pos Kupang hari Sabtu 7 Juli 2005.


DUA orang tokoh pers nasional yang juga sesepuh Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Valens Goa Doy dan Julius Siyaranamual adalah tokoh visioner. Pemikiran kedua tokoh yang bersahabat karib tersebut selalu jauh ke depan, sehingga kadang sulit diterima mereka menyampaikan pandangang-pandangannya.

Demikian Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho dalam sambutannya pada acara syukuran 40 hari wafatnya kedua tokoh tersebut di halaman parkir Kantor SKH Pos Kupang di Jl. Kenari No. 1 Kupang, Sabtu (2/7/2005) malam.

Valens Tidak Dikubur Bersama Kata-katanya


Oleh Jacobus Embu Lato

VALENS Goa Doy tidak bisa dikubur bersama cinta, kata-kata dan karyanya. Sebagai substansi otonom, semua kompleksitas kekayaan cinta, kata-kata dan karyanya tetap hidup, tumbuh dalam hati keluarganya, rekan-rekannya dan mantan karyawannya.

Orang-orang sekitarnya dengan kapasitas, kualitas dan atensi serta konsistensi pribadinya akan membiarkannya hidup abadi. Xanana Gusmao, kini Presiden Timor Leste, yang pernah menjadikannya mediator ketika massa pendukungnya terlibat konflik dengan militer Indonesia bisa menjadikan cinta, kata dan karya Valens untuk membimbing dan mengembangkan masyarakat dan negaranya yang kini didikte hampir total oleh masyarakat internasional.

Rekan-rekan yang masih setia berkutat di media menjadikannya inspirasi untuk mengembangkan betapa kerasulan inklusif bisa meretas polarisasi eksklusif masyarakat Indonesia akibat menguatnya potensi tribalisme dalam kehidupan politik Indonesia kini.

Senin, 12 Januari 2015

Valens Doy Telah Tiada

Valens Doy
Kompas, 4 Mei 2005, halaman 1

KETIKA mendengar kabar bahwa Valens Goa Doy (61) meninggal dunia, Selasa (3/5/2005) pukul 22.15, beberapa orang di ruangan Redaksi Harian Kompas yang kenal dekat dengannya terenyak.Mantan Redaktur Desk Olahraga Kompas-yang berhasil membuat berita olahraga Kompas dipandang tinggi oleh masyarakat, khususnya masyarakat olahraga Indonesia-itu meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, karena sakit jantung.

Kabar meninggalnya Valens Doy sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan karena sejak hari Minggu lalu ia dirawat di ICCU RS Sanglah. Dokter yang merawatnya pun mengatakan, sakit jantung yang dideritanya sedemikian parahnya sehingga jantungnya nyaris tidak berfungsi. Harapan untuk hidup sangat tipis.

You Salah Melihat Kakinya

Oleh Dion DB Putra

SEKITAR lima menit saya tak sanggup berkata-kata ketika Om Marcel Weter Gobang, Wakil Pemimpin Umum Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang menginformasikan kabar duka ini. "Dion, Pak Valens Doy sudah tidak bersama kita lagi." "Dion, Om-mu sudah pergi," cuma itu kata- kata yang keluar dari mulut Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Pos Kupang dari balik telepon. Saat menelepon Om Damy berada di kamar Jenazah RS Sanglah-Denpasar. Om Valens meninggal dunia sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa (3/5/2005).

Ah, perasaan yang gundah-gulana sejak hari Minggu, 1 Mei 2005 menjadi kenyataan. Hari itu saya menerima pesan singkat (SMS) dari Alberth Djoko, mantan murid Om Valdo di Harian Surya Surabaya. "Mas Dion, Om Valens kena serangan jantung di Denpasar. Kata dokter tak ada harapan. Kita berdoa semoga Om cepat baikan lagi. Tolong teruskan kepada teman-teman..." Begitu pesan Albert.

Guru Jurnalistik Agung

DIA seorang guru jurnalistik yang brilian dan agung. Dia pemimpin yang mengenal dengan baik setiap anak buahnya. Begitulah seorang Valens Goa Doy di mata mereka yang pernah menjadi murid atau rekan kerjanya. Berikut kesan mereka tentang almarhum.


Agus Ismunarno (PU/Pemred Bangka Pos)

Bagi saya ia guru jurnalistik yang agung. Guru jurnalis kebangsaan yang mampu menciptakan aliran jurnalisme yang khas. Ia juga bapak yang baik, yang tahu kebutuhan anak, karyawannya. Ialah gembala yang baik di dunia jurnalis.



Alfred Lande (Redaktur Harian Surya, Surabaya)

SAYA sulit memberi komentar tentang sosok Om Valens. Terlalu banyak pesan dan kesan dari beliau yang amat berharga. Saya punya cita- cita untuk menulis buku tentang beliau. Salah satu pesan Om Valens yang belum saya lakukan adalah menulis laporan khusus soal Celah Timor di Harian Surya. Ini utang saya kepada beliau dan kepada warga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Febi Mahendra Putra (Wakil PU Tribun Batam)

Valdo memberi inspirasi mengenai jurnalisme terkini dan ke depan sehingga produk pers dapat ditangkap maknanya dengan mudah dan cepat. Selamat jalan Om Valdo.

Hans Ch Louk (Anggota KPUD NTT)
Kita kehilangan seorang guru jurnalistik terbaik. Saya bersyukur pernah bekerja dengan beliau ketika di Harian Surya dan Pos Kupang. Om Valens mendidik wartawan untuk total bekerja, ulet dan pantang menyerah. Dia seorang pemimpin yang bijaksana.

Paschalis Tho (Fotografer Pos Kupang)
Dia seorang yang murah hati. Suatu malam di tahun 1993, kami jalan- jalan dengan mobilnya di Kupang. Tidak jelas tujuanya, saya cuma diminta mengemudikan mobilnya hati-hati. Saat kembali ke kantor, ia menitipkan uang Rp 150.000,00 kepada saya. "Ostho uang ini bukan buat you. Kau serahkan untuk satpam dan sopir Pos Kupang". Saya sangat terkesan akan perhatiannya.

Hyeronimus Modo (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
Saya pernah mengikuti beliau ketika merintis koran Pos Maluku, Tifa Irian di Jayapura dan Suara Timor Timur tahun 1989-1993. Beliau seorang wartawan brilian. Pekerja ulet. Gagasan-gagasanya selalu baru. Om Valens sangat menghargai prestasi orang. Dia berani ambil dari kocek sendiri untuk memberi motivasi.

Benny Dasman (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
Om Valens gila kerja. Ketika bersama di Pos Kupang tahun 1992-1994, kami bisa rapat redaksi dan bisnis jam sepuluh malam bahkan jam 03.00 atau 04.00 dinihari. Beliau sangat marah terhadap wartawan yang kerjanya setengah hati. Kegilaannya dalam bekerja membuat Om Valens sering lupa menjaga kesehatannya.

Etty Turut (manajer PSDM Pos Kupang)
Om Valens adalah pemimpin yang mengenal setiap karyawan atau anak buahnya dengan baik. Bijaksana.

Yusran Pare (Pemred Metro Bandung)
Om Valens bukan sekadar kebanggaan orang Flores atau NTT. Dia wartawan besar negeri ini. Valens Doy adalah karunia bagi bangsa kita. Indonesia kehilangan seorang guru jurnalis yang luar biasa.

Paul Bola (wartawan-Kupang)
Om Valdo pemotivator ulung. Tak ada kata sulit, selalu ada solusi. Valdo ingatkan bahwa wartawan adalah manusia yang berkarya bagi peningkatan martabat manusia, bukan sekadar cari nafkah.

Yosni Herin (wartawan, Jakarta)
Pers nasional telah kehilangan seorang guru terbaik. Selamat jalan Om Valens Goa Doy, kami selalu kenang jasamu.

Viktus Murin (Redaktur Harian Proaksi-Jakarta)
Om Valens adalah motivator ulung, guru yang paripurna dan pemimpin yang ikhlas pada idealisme kehidupan.

Daniel B Ratu (wartawan Metro TV-Kupang)
Bagi kita wartawan muda, Om Valens memberikan motivasi terbaik. Bersama beliau kita selalu mendapat semangat baru. Kita kehilangan seorang guru jurnalistik.

Kecolongan adalah Dosa Besar Wartawan

Valens Doy

Oleh Ferry Jahang


OM Valens Doy di mata saya adalah seorang yang mampu melihat apa yang tidak dilihat seorang wartawan dan mampu mendeskripsikan implikasi dari suatu berita yang diangkat seorang wartawan. Pikiran-pikirannya tajam dan jauh ke depan.

Pada tanggal 12 Desember 1992 siang hari, sejumlah wartawan Pos Kupang berkumpul di bawah sebatang pohon Jati yang tumbuh di jalan Soeharto 53 Kupang (kantor lama). Udara panas adalah santapan sehari-hari bagi warga Kupang yang dikenal sebagai kota karang itu. Secara tiba-tiba, bumi Kupang bergoyang pelan. Sontak sejumlah teman di bagian bisnis berlarian keluar kantor seraya berujar "gempa.. gempa..!"
 

Spirit itu Bernama Valens Doy

Valens Doy

Oleh Viktus Murin*

KENANGAN
pada Valens Goa Doy adalah kenangan yang paripurna tentang sosok sejati seorang wartawan. Ia berziarah total pada panggilan hidupnya sebagai wartawan, menjalani salibnya sebagai wartawan hingga ke tapal batas hayatnya. Di suatu stasi atau perhentian jalan salibnya, ajal pun datang mengajaknya pulang, menemui Sang Sumber Kehidupan. Kini, ia telah beristirahat dalam keabadian, tempat di mana ia tidak dikejar-kejar deadline redaksi dan tugas-tugasnya sebagai 'bidan pers' terkemuka di Indonesia.

Memori tentang Valens Doy adalah memori yang tak terhapuskan dari bilik hati setiap muridnya, wartawan-wartawan yang ia lahirkan dari pola didikannya yang khas, yang sarat dengan kurikulum kehidupan. Bagi kebanyakan muridnya di dunia pers, sosok Valens Doy -- kami biasa memanggilnya Om Valens-- adalah guru pers yang mengabdi total pada idealisme kehidupan.

"Menyiksa Diri" Demi Idealisme

Valens Doy
Oleh Hans Ch Louk*

"COBA Anda jelaskan kepada pembaca bahwa tembok di depan kita ini berwarna putih meskipun di tengahnya ada titik berwarna hitam." Inilah satu-satunya pertanyaan sang Redaktur Pelaksana Harian Surya, terbitan Surabaya kepada saya. Pertanyaan yang sama sekali di luar perkiraan saya ketika menghadap dewan redaksi saat testing menjadi wartawan. Itu terjadi tiga hari setelah Harian Surya terbit dengan dukunangan tujuh puluhan wartawan yang telah direkrut beberapa bulan sebelum tanggal 10 November 1989.

Meskipun waktu itu saya sudah tujuh tahun berkarya sebagai wartawan Harian Suara Indonesia terbitan Malang (Jawa Timur), tetap saja keringat bercucuran dari kepala dan tembus membasahi kaos oblong dan terasa sampai di pinggang. Bagian punggung semakin lengket menempel pada sandaran kursi.

Elegi Bagi Valens Doy

Valens Doy
Oleh Hendry Ch Bangun
 
MENDAPAT berita kepergian Valens Goa Doy ke alam baka, yang segera saya ingat adalah tulisannya yang begitu manis, indah, mengesankan, namun tepat sasaran karena padat, penuh rincian, dan proporsional.

Saat ini hampir tidak mudah lagi menemukan tulisan seperti itu meski jumlah wartawan olahraga dan halaman olahraga di media cetak jauh lebih banyak ketimbang di masa dia berkarya. Saya sendiri tidak pernah menjadi anak buahnya langsung, sebab ketika masuk desk olahraga di akhir tahun 1984 dia sudah naik pangkat. Namun tulisan-tulisannya justru sudah mulai sering saya baca ketika masih duduk di bangku kuliah.

Ada dua sisi pribadi Valens. Belakangan dia lebih dikenal sebagai organisatoris, pengelola media, hal yang dia mulai dengan terjun dalam mempelopori pembentukan media di berbagai daerah di akhir 1980-an, menerbitkan aneka jenis media di Jakarta, sampai Indonesia Timur yang digelutinya sampai akhir hayatnya. Dia pernah diminta membantu membenahi Warta Kota di tahun 2001.

Valens, di Tepi Stadion Itu...

Valens Doy
 
Oleh Radhar Panca Dahana

WAKTU
yang merambang sesungguhnya tidak berjalan. Namun kita, manusialah, yang bergerak, membuat waktu seperti berlalu. Sesungguhnya waktu itu diam, tetap dan berdomisili. Melulu pikiran dan imajinasi yang berdaya gerak, kecepatan. Untuk perababan tercipta, kebudayaan terlaksana.

Ah, bagaimana konyol seperti kudapat? Tak lebih. Dari kebiasaan konyol, duduk bersepi di Stadion Utama Senayan Jakarta, bagian tepi. Kebiasaan remaja kencur yang dicurinya dari seorang lelaki kecil berbadan keras, berhati keras, berkepala keras, namun berjiwa lemas: Valens Gowa Doy

Mungkin bukan lelaki bermulut lebar (tidak besar) yang membuat remaja itu berpuluh tahun tenggelam dalam sensasi waktu. Namun wartawan kawakan asal Pulau Flores itulah yang pertama kali memperkenalkannya dengan stadion kebanggaan Soekarno. Analis olahraga itulah yang dilihatnya kerap duduk di tepi tiang gawang, atau bangku ujung penonton, memandang lapangan hijau yang nihil manusia.

Mengenang Valens Doy

Valens Doy
Secarik Rekomendasi yang Menggurat Riwayat

Oleh GERSON POYK

SEBUAH tulisan kenangan adalah alat pendidikan bagi pembaca terutama yang muda-muda. Kepergian wartawan Kompas, Valens Doi misalnya yang mendapat publisitas lumayan di media televisi maupun di koran, merupakan sugesti edukatif karena dipaparkan bagaimana kegiatan almarhum tak kenal waktu sebagai wartawan olahraga dan aktivitasnya mengembangkan koran-koran daerah dengan modal yang diperoleh dari Harian Kompas. Begitulah. Kenangan kecil ini barangkali ada gunanya buat pembaca.

Di tahun 1972, sekembalinya dari menikmati grant yang lumayan dari International Creative Writing Program di Universitas Iowa di AS, saya kembali ke Indonesia. Miskin keparat lagi seperti semula sejak saya keluar dari Sinar Harapan. Ketika jendela pesawat terbuka, saya berseru dalam hati, "Siap! Penderitaan dimulai lagi!"

Sang Maestro itu Telah Pergi

Valens Doy (foto Adrizon Zubir)

Oleh Yos Lema*

SMS yang muncul di puncak malam tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Waktu menunjukkan pukul 00:04 Wita. SMS itu dari Adhi Loudoe, rekan kerjaku di Venuz. Pesannya ringkas: "Selamat malam, beta mau kabarin bhw Om Valens Doy meninggal pkl 9 mlm tadi di Denpasar (jantung)".

Apa? Om Valens meninggal? Akibat serangan jantung? Kok bisa? Sejenak saya terdiam. Wajah Om Valens Doy hadir begitu saja dalam ingatan. Segala kenangan akan beliau mengalir tanpa bisa dibendung. Senyumnya - cara bicaranya - tawanya - lontaran kata-katanya begitu khas. Sompret lu, itu kata yang selalu diucapkan dengan wajah riang. Rasanya dia seperti berada di hadapan saya mengucapkan sepotong kata itu sambil tertawa renyah.

Tak terasa air mata pun menetes. Pipih saya basah. Saya berduka -- saya berluka. Saya lalu membuat tanda salib dan membisikkan sepotong doa dalam hati. "Tuhan, terimalah arwah Om Valens. Terimalah dia dalam kerajaanMu".

Om Valens dan Tapaleuk

Valens Doy (foto Adrizon Zubir)

Oleh Paul Bolla


SEJAK kepergian Om Valens Doy pada Selasa, 3 Mei 2005, banyak sudah yang ditulis oleh para bekas muridnya. Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang yang ikut didirikannya menyediakan ruang seluas-luasnya bagi para mantan murid untuk menyatakan apresiasi mereka tentang Om Valens. Saya hanya memberi komentar pendek untuk memenuhi permintaan Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang, setelah mendapat SMS dari Om Peter Rohi bahwa Om Valens sudah mendahului kita. Tak lama kemudian, Senin, 23 Mei 2005, satu lagi berita duka saya terima via SMS dari Paschalis Tho, fotografer Pos Kupang. Om Julius Siyaranamual telah menyusul Om Valens.

SMS ini saya teruskan ke Hans Louk, Yulius Lopo, Dany Ratu, dan Ana Djukana. Kedua sahabat kental Om Valens dan Om Julius sama-sama ikut mendirikan Pos Kupang bersama Om Damyan Godho. Saya menjadi bagian dari Pos Kupang sejak November 1992 hingga November 1999.

Api Doy menuju Gowa

Valens Doy


Valens "Kompas" Doy

"Tiarap!"
begitu satu kali lelaki bermata api itu bertegas
Akupun lari bergeras, melihat semua lebih keras
tengah 80-an, langit kelabu, dunia palsu
ribuan manusia dengan kerah tegak
tak cuma tiarap tapi merangkak dan kabur!
Lelaki bermata api, kini lenyap kembali
20 tahun tak kami bertemu
Setelah bibir tebalnya merangkum nasibku
sejak mula, sejak awal masakku, jurnalisme
bibir padat gairah itu tak peduli
remaja kurus, entah siapa, menguntit reputasinya
"tulis!"


In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...