Selasa, 19 Mei 2015

Selamat jalan Ama Tobo

Oleh Paul Bolla

SAAT menghadiri ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual di Kantor Surat Kabar Harian Pos Kupang kemarin (25 Mei 2005) siang, saya diminta oleh Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra, untuk membuat sebuah tulisan mengenai Om Julius.

"Pokoknya, katong tunggu tulisan To'o (begitu Dion biasa menyapa saya) untuk rubrik opini," pinta Dion. "Opini masih kosong ya," kata Dion kepada Tony Kleden, pengasuh halaman opini, agak bersekongkol. Dan, diiyakan oleh Tony.

"Masih wartawan to, pokoknya katong tunggu sebentar untuk edisi besok," ulang Dion dengan pemaksaan halus, saat ibadah selesai dan hendak berpisah sekitar pukul 14.15 Wita. Deadline tulisan tidak diberitahu. Hanya deadline "pokoknya".

Dalam waktu yang mepet, saya memenuhi permintaan eja asal Ende itu. Karena saya tahu, jika mendekati deadline dan tulisan yang diharapkan belum ada, pasti mereka akan stres. Dan dengan kecewa segera mengganti dengan tulisan lain. Nah, tulisan ini merupakan pengembangan dari apa yang sudah saya ungkapkan sebagian saat diminta memimpin ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual, kemarin.

Antara Dendam dan Cinta

* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (1)

Oleh Maria Matildis Banda

PERJUANGAN mengalahkan dendam berjalan bersama kegigihan menaburkan cinta. Itulah dua hal yang paling meninggalkan kesan mendalam tentang Julius Reinhard Siyaranamual sebagai seorang sastrawan. Dalam kehidupan nyata cinta dan dendam ibarat mata uang. Katakanlah uang itu senilai lima puluh ribu rupiah. Manakah halaman depan dan mana pula halaman belakang? Apakah yang bergambar pengerek bendera siap menaikkan bendera, ataukah wajah tampan Wage Rudolf Soepratman. Mana pula yang lebih penting?

Kedua sisinya saling memunggung tetapi tak terpisahkan. Mungkin analogi ini kurang tepat untuk menunjukkan betapa dendam dan cinta memiliki kekuatan yang sulit dipahami. Apalagi jika dikaitkan dengan harga diri dan integritas seorang laki-laki Timor yang dibesarkan dalam tradisi Kristen yang amat kuat. Sudah dapat diduga mana yang dikalahkan, mana yang diutamakan, dan bagaimana dua hal ini membayangi detak-detik perjalanan waktu.

Kutu Buku yang Pandai Menulis

* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (2)

Oleh Maria Matildis Banda

BERITA meninggalnya Julius Syaranamual cukup mengejutkan Agustinus Beu Mude, mantan guru sastra Indonesia-nya di SMAK Syuradikara Ende. "Julius anak yang cerdas dan tahu berterima kasih," demikian spontanitas Pak Agus berbicara tentang Julius.

"Gampang diingat sebab beliau paling kecil, bercelana pendek sepanjang sekolah sampai tamat SMA, pintar, dan terutama kutu buku! Soal kutu buku Julius sama dengan Valens Goa Doi. Keduanya sekelas, dua orang yang sangat saya ingat," demikian Pak Agus.

Bukan hanya itu saja, setelah tamat SMAK Syuradikara, Julius Siyaranamual tetap diingat karena profesinya. Tidak hanya wartawan tetapi secara khusus sebagai penulis sastra. "Sulit mencari pengganti mereka."

Manusia dan Belenggu Bahasa

* Mengenang Kakakku Julius Sijaranamual


Oleh Jacobus E. Lato

Manusia belum mengetahui apakah dia itu, namun melalui alienasi dari diri sendiri, ia dapat mengetahui apa yang pasti bukan merupakan dirinya dan karenanya ia tidak mau atau sekurang-kurangnya seharusnya ia tidak mau tetap tingggal dalam kepalsuan.

Kata-kata Ernest Block, filsuf Marxis kenamaan ini mengingatkan saya pada Julius Sijaranamual. Pada perspektif tertentu, karena kedekatan personal kami yang bersumberkan kekayaan normatif kebudayaan Sumba dan Flores, saya menempatkannya sebagai kakak, namun perspektif lain memposisikan kami sebagai dua lawan yang tak bisa dipertemukan. Tulisan ini dengan demikian mendeskripsikan keberjarakan dan ketidakmampuan manusiawi untuk saling memahami manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Sastrawan yang Asing di Kampung Sendiri

* Mengenang Julius R Siyaranmual
Oleh Even Edomeko*

ADAKAH sastrawan dari NTT? Maka seorang guru sastra SMP Seminari Yohanes XXIII Lela (1983) menjawab kepada penulis : Gerson Poyk dan Julius R Siyaranamual. Hanya begitu. Begitu saja! Lalu ia cepat-cepat membicarakan nama lain yang tertulis dalam buku pelajaran sastra terbitan Tiga Serangkai Solo.
 
Siapakah Julius? Jawaban atas pertanyaan ini baru penulis peroleh ketika "merusak kerapian" perpustakaan SMA Seminari Yohanes Berchmans Mataloko (1985/1986), langsung dari "mulut" Om Julius sendiri melalui kisah kepengarangannya yang ia juduli Menolak Kebetulan, sebagaimana termuat dalam buku Pamusuk Eneste (editor) : Proses Kreatif (Gramedia, Jakarta, 1983). 
 
Dalam buku ini, "Sastrawan leu-leu" itu bersaksi dan men-sharing-kan pengalamannya tentang mengapa dan bagaimana saya mengarang, bersama dengan sepuluh sastrawan senior seperti "ST Alisjahbana, Trisno Yuwono, Budi Darma, Nh. Dini, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dll. Berkali-kali penulis membacanya, dan setiap kali membaca, selalu saja berkibar perasaan sangat bangga bahwa ternyata dari daerah bencana ini, dari propinsi busung lapar ini, ada sastrawan ternama!

Sabtu, 16 Mei 2015

Selamat jalan Ba'i Jembatang!

(Mengenang 40 hari Bung Julius Siyaranamual)


Oleh : Aris Tanone*

"Bermula dari mula itu ada mulanya".
SEJAK menerima berita duka itu, lalu ada permintaan dari Bung Damyan Godho untuk menulis catatan singkat mengenang 40 harinya Bung Julius, kalimat di atas terus berputar di otak. Soalnya, kalimat itu membangkitkan kenangan akan Bung Lius. Bayangan tentang tawa dan wajah Bung Lius saat berusaha menjelaskan tentang pentingnya kalimat pembuka sebuah cerpen, seakan tertayang kembali dalam film layar hitam putih. Dari pembicaraan tentang tulisan Bung Julius yang mendapat penghargaan Zainal Zakse di Bandung, akhirnya membawa Bung Julius ke urusan kalimat pembuka sebuah cerpen.

Kalimat pendek seperti yang banyak dipakai dalam Alkitab, kata Bung Lius. Sayang, saya tidak bisa ingat persis lagi kalimat itu selain sepotong kalimat di atas; sedangkan waktu dan jarak tidak memungkinkan untuk mengecek lebih jauh apakah betul begitu bunyi kalimatnya.

SKH Pos Kupang dan GMIT

Oleh Paul Bolla


SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong untuk menyuarakan 'suara kenabian.' 
Adalah almarhum Julius Syaranamual yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.
Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr. Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama, bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.

Satrio Piningit


ilustrasi
SUATU hari di bulan Juli atau Agustus 1999, di Kediri berkumpul tokoh-tokoh paranormal Indonesia yagn secara khusus membahas pemimpin masa depan Indonesia - Satrio Piningit atau satria yang Dipingit-yang sudah ditunggu-tunggu semenjak lama, sesuai dengan ramalan Joyoboyo, yang kalau tak salah dari awal milenium kedua. Tokoh messianik ini sebenarnya sudah bermunculan terbuka sejak akhir tahun 1990 oleh Permadi, yang meramalkan munculnya Sang Satrio Piningit sesudah nada gonjang-ganjing masa penuh kekacauan dan malapetaka

    Memang sepanjang dasawarsa 1990-an, Indonesia mengalami masa paling berantakan. Bukan saja bencana alam, kita juga mengalami kehancuran ekonomi paling parah dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar menyusul meningkatnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang konon mencapai 80 persen. Kita juga mengalami disintegrasi paling menakutkan dengan puluhan rumah ibadah dibakar, penjarahan toko-toko dan pemerkosaan, pembunuhan ratusan orang yang dituduh dukun, perang antarsuku dan agama, dari Sumba sampai ke Ambon, dari Kalimatan sampai ke Sulawesi.

Hidup Bahagia Jakob Oetama

Jakob Oetama
Oleh Dahlan Iskan


KALAU hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.

Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.

Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah. Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.

Jakob Oetama Belajar dari Ojong

TAWARAN itu tak ditanggapi serius oleh Jakob karena fokus menyelesaikan kuliah di Fakultas Sosial dan Politik UGM. Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.

Untuk menjalani hidup sebagai wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. "Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar," katanya.

Di mata Jakob, Ojong kuat di bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar kuat dalam persoalan humaniora.
Majalah Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Jakob Oetama Tak Mau Koran Jadi Corong Partai

Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011).
KONDISI politik di era 1965 ikut melatabelakangi lahirnya Harian Kompas yang dikomandani duet Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong. Saat itu koran-koran nonkomunis bertumbangan akibat diberedel pemerintah.

Suatu hari di bulan April 1965, Menteri/Panglima TNI AD, Letjen Ahmad Yani menelepon koleganya di kabinet, Menteri Perkebunan Frans Seda. Yani minta agar Frans Seda, saat itu menjadi Ketua Partai Katolik, mendirikan koran .

Jenderal bintang tiga yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi tersebut beralasan, hampir semua partai politik memiliki media massa sebagai corong partai. Sebut saja Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempunyai Bintang Timur dan Warta Bhakti.

Seda kemudian menemui Ignatius Joseph (IJ) Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik, PK Ojong, dan Jakob Oetomo, untuk membahas ide Ahmad Yani. "Ini pasti kemauan Tuhan," kenang Frans Seda.

Bimbang Jadi Guru atau Wartawan

Jakob Oetama (kanan) di ruang redaksi Kompas tempo doeloe. Mesin ketik senjata utama {kompas.com}
TAK pernah terlintas sebelumnya Jakob Oetama bakal menjadi wartawan dan mengelola media massa yang kemudian menjadi terkemuka. Bermula dari keputusan untuk keluar dari seminari (sekolah calon pastor) tinggi di Kota Baru, Yogyakarta, yang baru tiga bulan dijalani.

"Saya tidak tahu sebabnya. Sudah lupa. Keluar begitu saja," ujar founding father Kompas Gramedia tersebut. Yang dilakukan selanjutnya yaitu mencari kerja. Jadi apa? "Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita menjadi pastor," katanya.

Manusia dan Kemanusiaan Ala Jakob Oetama

Buku Syukur Tiada Akhir Jakob Oetama {Tribunnews.Com}
DALAM berbagai kesempatan Jakob Oetama menyampaikan prinsip-prinsip utama gaya bermedia Kompas. Intinya adalah manusia dan kemanusiaan, cobaan dan permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kekerdilannya. "Manusia dan kemanusiaan senantiasa diusahakan menjadi nafas pemberitaan dan komentar."

Konsep Indonesia mini yang secara eksplisit digagas terutama untuk Kompas, dikembangkan bagi unit-unit usaha lainnya dalam Kompas Gramedia. Dalam perjalanannya, Kompas tetap eksis meski mengalami berbagai terpaan, pembatasan, dan kendala, termasuk pemberedelan 21 Januari-5 Februari 1978.

Jakob Oetama Terima Ancaman Soeharto di Hari Pers


Bintang Mahaputra Utama disematkan Presiden  Soeharto  tahun 1973 | Kompas.com
JAKOB Oetama, pendiri Kompas Gramedia (KG), merayakan ulang tahun ke-80 pada 27 September 2011. Selain syukuran di Bentara Budaya Jakarta, peringatan ulang tahun Chairman KG tersebut juga ditandai peluncuran buku berjudul Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama, disusun ST Sularto, wartawan senior Kompas. Berikut petikan buku setebal 659 halaman itu.

MALAM menjelang 5 Februari 1978, Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong tengah berdiskusi membahas tawaran pemerintah Soeharto. Tawaran itu terkait pelarangan terbit Harian Kompas, bersama 12 koran dan majalah lainnya, sejak 12 Januari 1978.

Kompas boleh terbit kembali asal menandatangani pernyataan tertulis, berisi permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan memuat tulisan yang menyinggung penguasa. "Jakob, jangan minta maaf. Mati dibunuh hari ini, nanti tahun depan, sama saja," ujar PK Ojong seperti ditirukan Jakob Oetama.

Mengembangkan Indonesia Kecil

Oleh Jakob Oetama
 

Pendiri Kompas Gramedia

KETIKA Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok usaha Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai "lembaga yang organik sekaligus yang organis."

Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia (KG) dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata-Gramedia: grafika media-terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.

Khasiat Jitu Batu Penis Raksasa


Batu Penis di Liangbua Manggarai, Flores
Batu penis raksasa di Liang Bua, Manggarai sudah banyak menolong  pasangan suami istri yang sulit mendapatkan momongan.

KEBERADAAN batu kemaluan (penis stone) di Liang Bua, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai belum setenar Liang Bua, gua tempat ditemukan sembilan tulang-belulang Manusia Flores atau Homo Floresiensis. Homo Floresiensis yang dijuluki hobbit  adalah nama yang diberikan pakar antropologi dan tim gabungan Australia-Indonesia terhadap spesies dari genus homo yang punya tubuh dan volume otak kecil.

Menurut serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu), individu sisa tulang itu diberi kode LB1-LB9. Postur tubuh paling tinggi sepinggang manusia moderen sekitar 100 cm. Pos Kupang  sudah empat kali mengunjungi gua yang terkenal ke sentero jagat pasca penemuan Homo Floresiensis tanggal 6 September 2003.

Yoseph Yakin Miliki Gen Homo Floresiensis

Viktor Darung
RUTENG, PK -- Beberapa tahun silam, dokter dari Amerika Serikat melakukan pemeriksaan darah dan DNA terhadap segelintir warga yang diduga keturunan  manusia Flores (homo floresiensis).

Warga  yang menempati Kampung Rampasasa di Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii dan Kampung Akel  di Desa Bere, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai masih menunggu pengumuman hasil pemeriksaan DNA tersebut.

Yoseph Anca (47), warga  Akel, dan Viktor Darung (70), asal Rampasasa mengakui  bentuk fisiknya  berbeda dari warga umumnya. Mereka  yakin neneknya  berasal dari  Homo Floresiensis yang hidup dan tinggal di Liangbua ribuan tahun silam.

Tulang  Homo Floresiensis ditemukan dalam penggalian di Liang Bua pada 6 September 2003 oleh tim arkeologi Indonesia dan Australia. Sebuah tulang masih utuh berjenis kelamin perempuan setinggi 115 cm, sedangkan tulang lain
terpisah-pisah diduga dimakan binatang buas.  "Saya yakin 80 persen, gen Manusia  Flores ada dalam diri saya dan bapak saya. Tinggi badan saya 132 cm,  tak beda jauh  dengan tinggi badan almahrum ayah (Yohanes Dak) 125 cm," beber Yoseph kepada Pos Kupang, Sabtu (9/52015) di  halaman rumahnya  di Akel.

Selasa, 05 Mei 2015

Susilowati Koopman Selamatkan Bumi dari Sampah

Susilowati Koopman
POS KUPANG.COM - Mengolah sampah menciptakan bumi baru bagi generasi mendatang. Demikian ide besar Ibu Susilowati Koopman di balik pendirian Bank Sampah Flores di Kota Maumere Kabupaten Sikka, 14 Februari 2014 lalu, bertepatan dengan Hari Valentine.

"Pada zaman modern sekarang ini, banyak orang mengapresiasikan cintanya lewat kado. Pada saat bersamaan, dunia ini penuh dengan sampah. Lalu siapa yang kelola? Saya pun mau menjadi pemulung dan mengabdikan cintaku pada sampah," kata Ibu Susilowati di kantor pusat Bank Sampah Flores di Pantai Paris, Maumere, Rabu (29/4/2015).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...