Oleh Paul Bolla
SAAT menghadiri ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual di Kantor Surat Kabar Harian Pos Kupang kemarin (25 Mei 2005) siang, saya diminta oleh Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra, untuk membuat sebuah tulisan mengenai Om Julius.
"Pokoknya, katong tunggu tulisan To'o (begitu Dion biasa menyapa saya) untuk rubrik opini," pinta Dion. "Opini masih kosong ya," kata Dion kepada Tony Kleden, pengasuh halaman opini, agak bersekongkol. Dan, diiyakan oleh Tony.
"Masih wartawan to, pokoknya katong tunggu sebentar untuk edisi besok," ulang Dion dengan pemaksaan halus, saat ibadah selesai dan hendak berpisah sekitar pukul 14.15 Wita. Deadline tulisan tidak diberitahu. Hanya deadline "pokoknya".
Dalam waktu yang mepet, saya memenuhi permintaan eja asal Ende itu. Karena saya tahu, jika mendekati deadline dan tulisan yang diharapkan belum ada, pasti mereka akan stres. Dan dengan kecewa segera mengganti dengan tulisan lain. Nah, tulisan ini merupakan pengembangan dari apa yang sudah saya ungkapkan sebagian saat diminta memimpin ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual, kemarin.
Selasa, 19 Mei 2015
Antara Dendam dan Cinta
* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (1)
Oleh Maria Matildis Banda
PERJUANGAN mengalahkan dendam berjalan bersama kegigihan menaburkan cinta. Itulah dua hal yang paling meninggalkan kesan mendalam tentang Julius Reinhard Siyaranamual sebagai seorang sastrawan. Dalam kehidupan nyata cinta dan dendam ibarat mata uang. Katakanlah uang itu senilai lima puluh ribu rupiah. Manakah halaman depan dan mana pula halaman belakang? Apakah yang bergambar pengerek bendera siap menaikkan bendera, ataukah wajah tampan Wage Rudolf Soepratman. Mana pula yang lebih penting?
Kedua sisinya saling memunggung tetapi tak terpisahkan. Mungkin analogi ini kurang tepat untuk menunjukkan betapa dendam dan cinta memiliki kekuatan yang sulit dipahami. Apalagi jika dikaitkan dengan harga diri dan integritas seorang laki-laki Timor yang dibesarkan dalam tradisi Kristen yang amat kuat. Sudah dapat diduga mana yang dikalahkan, mana yang diutamakan, dan bagaimana dua hal ini membayangi detak-detik perjalanan waktu.
Oleh Maria Matildis Banda
PERJUANGAN mengalahkan dendam berjalan bersama kegigihan menaburkan cinta. Itulah dua hal yang paling meninggalkan kesan mendalam tentang Julius Reinhard Siyaranamual sebagai seorang sastrawan. Dalam kehidupan nyata cinta dan dendam ibarat mata uang. Katakanlah uang itu senilai lima puluh ribu rupiah. Manakah halaman depan dan mana pula halaman belakang? Apakah yang bergambar pengerek bendera siap menaikkan bendera, ataukah wajah tampan Wage Rudolf Soepratman. Mana pula yang lebih penting?
Kedua sisinya saling memunggung tetapi tak terpisahkan. Mungkin analogi ini kurang tepat untuk menunjukkan betapa dendam dan cinta memiliki kekuatan yang sulit dipahami. Apalagi jika dikaitkan dengan harga diri dan integritas seorang laki-laki Timor yang dibesarkan dalam tradisi Kristen yang amat kuat. Sudah dapat diduga mana yang dikalahkan, mana yang diutamakan, dan bagaimana dua hal ini membayangi detak-detik perjalanan waktu.
Kutu Buku yang Pandai Menulis
* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (2)
Oleh Maria Matildis Banda
BERITA meninggalnya Julius Syaranamual cukup mengejutkan Agustinus Beu Mude, mantan guru sastra Indonesia-nya di SMAK Syuradikara Ende. "Julius anak yang cerdas dan tahu berterima kasih," demikian spontanitas Pak Agus berbicara tentang Julius.
"Gampang diingat sebab beliau paling kecil, bercelana pendek sepanjang sekolah sampai tamat SMA, pintar, dan terutama kutu buku! Soal kutu buku Julius sama dengan Valens Goa Doi. Keduanya sekelas, dua orang yang sangat saya ingat," demikian Pak Agus.
Bukan hanya itu saja, setelah tamat SMAK Syuradikara, Julius Siyaranamual tetap diingat karena profesinya. Tidak hanya wartawan tetapi secara khusus sebagai penulis sastra. "Sulit mencari pengganti mereka."
Oleh Maria Matildis Banda
BERITA meninggalnya Julius Syaranamual cukup mengejutkan Agustinus Beu Mude, mantan guru sastra Indonesia-nya di SMAK Syuradikara Ende. "Julius anak yang cerdas dan tahu berterima kasih," demikian spontanitas Pak Agus berbicara tentang Julius.
"Gampang diingat sebab beliau paling kecil, bercelana pendek sepanjang sekolah sampai tamat SMA, pintar, dan terutama kutu buku! Soal kutu buku Julius sama dengan Valens Goa Doi. Keduanya sekelas, dua orang yang sangat saya ingat," demikian Pak Agus.
Bukan hanya itu saja, setelah tamat SMAK Syuradikara, Julius Siyaranamual tetap diingat karena profesinya. Tidak hanya wartawan tetapi secara khusus sebagai penulis sastra. "Sulit mencari pengganti mereka."
Manusia dan Belenggu Bahasa
* Mengenang Kakakku Julius Sijaranamual
Oleh Jacobus E. Lato
Manusia belum mengetahui apakah dia itu, namun melalui alienasi dari diri sendiri, ia dapat mengetahui apa yang pasti bukan merupakan dirinya dan karenanya ia tidak mau atau sekurang-kurangnya seharusnya ia tidak mau tetap tingggal dalam kepalsuan.
Kata-kata Ernest Block, filsuf Marxis kenamaan ini mengingatkan saya pada Julius Sijaranamual. Pada perspektif tertentu, karena kedekatan personal kami yang bersumberkan kekayaan normatif kebudayaan Sumba dan Flores, saya menempatkannya sebagai kakak, namun perspektif lain memposisikan kami sebagai dua lawan yang tak bisa dipertemukan. Tulisan ini dengan demikian mendeskripsikan keberjarakan dan ketidakmampuan manusiawi untuk saling memahami manusia dan kemanusiaan itu sendiri.
Sastrawan yang Asing di Kampung Sendiri
* Mengenang Julius R Siyaranmual
Oleh Even Edomeko*
ADAKAH sastrawan dari NTT? Maka seorang guru sastra SMP Seminari Yohanes XXIII Lela (1983) menjawab kepada penulis : Gerson Poyk dan Julius R Siyaranamual. Hanya begitu. Begitu saja! Lalu ia cepat-cepat membicarakan nama lain yang tertulis dalam buku pelajaran sastra terbitan Tiga Serangkai Solo.
Oleh Even Edomeko*
ADAKAH sastrawan dari NTT? Maka seorang guru sastra SMP Seminari Yohanes XXIII Lela (1983) menjawab kepada penulis : Gerson Poyk dan Julius R Siyaranamual. Hanya begitu. Begitu saja! Lalu ia cepat-cepat membicarakan nama lain yang tertulis dalam buku pelajaran sastra terbitan Tiga Serangkai Solo.
Siapakah Julius? Jawaban atas
pertanyaan ini baru penulis peroleh ketika "merusak kerapian"
perpustakaan SMA Seminari Yohanes Berchmans Mataloko (1985/1986),
langsung dari "mulut" Om Julius sendiri melalui kisah kepengarangannya
yang ia juduli Menolak Kebetulan, sebagaimana termuat dalam buku Pamusuk
Eneste (editor) : Proses Kreatif (Gramedia, Jakarta, 1983).
Dalam buku
ini, "Sastrawan leu-leu" itu bersaksi dan men-sharing-kan pengalamannya
tentang mengapa dan bagaimana saya mengarang, bersama dengan sepuluh
sastrawan senior seperti "ST Alisjahbana, Trisno Yuwono, Budi Darma, Nh.
Dini, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dll. Berkali-kali penulis
membacanya, dan setiap kali membaca, selalu saja berkibar perasaan
sangat bangga bahwa ternyata dari daerah bencana ini, dari propinsi
busung lapar ini, ada sastrawan ternama!
Sabtu, 16 Mei 2015
Selamat jalan Ba'i Jembatang!
(Mengenang 40 hari Bung Julius Siyaranamual)
Oleh : Aris Tanone*
"Bermula dari mula itu ada mulanya".
SEJAK menerima berita duka itu, lalu ada permintaan dari Bung Damyan Godho untuk menulis catatan singkat mengenang 40 harinya Bung Julius, kalimat di atas terus berputar di otak. Soalnya, kalimat itu membangkitkan kenangan akan Bung Lius. Bayangan tentang tawa dan wajah Bung Lius saat berusaha menjelaskan tentang pentingnya kalimat pembuka sebuah cerpen, seakan tertayang kembali dalam film layar hitam putih. Dari pembicaraan tentang tulisan Bung Julius yang mendapat penghargaan Zainal Zakse di Bandung, akhirnya membawa Bung Julius ke urusan kalimat pembuka sebuah cerpen.
Kalimat pendek seperti yang banyak dipakai dalam Alkitab, kata Bung Lius. Sayang, saya tidak bisa ingat persis lagi kalimat itu selain sepotong kalimat di atas; sedangkan waktu dan jarak tidak memungkinkan untuk mengecek lebih jauh apakah betul begitu bunyi kalimatnya.
SKH Pos Kupang dan GMIT
Oleh Paul Bolla
SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di
Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal
berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop
karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong
untuk menyuarakan 'suara kenabian.'
Adalah almarhum Julius Syaranamual
yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang,
dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat
sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara
Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran
yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.
Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga
dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil
menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr.
Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama,
bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan
dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat
perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan
sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.
Satrio Piningit
![]() |
| ilustrasi |
Memang sepanjang dasawarsa 1990-an, Indonesia mengalami masa paling berantakan. Bukan saja bencana alam, kita juga mengalami kehancuran ekonomi paling parah dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar menyusul meningkatnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang konon mencapai 80 persen. Kita juga mengalami disintegrasi paling menakutkan dengan puluhan rumah ibadah dibakar, penjarahan toko-toko dan pemerkosaan, pembunuhan ratusan orang yang dituduh dukun, perang antarsuku dan agama, dari Sumba sampai ke Ambon, dari Kalimatan sampai ke Sulawesi.
Hidup Bahagia Jakob Oetama
![]() |
| Jakob Oetama |
KALAU hidup dimulai dari umur
40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup
Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada
27 September minggu lalu.
Jarang ada berita wartawan
merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah
berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur,
terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di
medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.
Rasanya kini tinggal tiga
wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah.
Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun
dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers
daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.
Jakob Oetama Belajar dari Ojong
TAWARAN
itu tak ditanggapi serius oleh Jakob karena fokus menyelesaikan kuliah
di Fakultas Sosial dan Politik UGM. Pada April 1961, Ojong mengajak
Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan
Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.
Untuk menjalani hidup sebagai
wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti
Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar.
"Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis
dan Rosihan Anwar," katanya.
Di mata Jakob, Ojong kuat di
bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar
Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar
kuat dalam persoalan humaniora.
Majalah
Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari
Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra
Gunawan dan Kurnia Munaba.
Jakob Oetama Tak Mau Koran Jadi Corong Partai
![]() |
| Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011). |
KONDISI politik
di era 1965 ikut melatabelakangi lahirnya Harian Kompas yang
dikomandani duet Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong. Saat itu
koran-koran nonkomunis bertumbangan akibat diberedel pemerintah.
Suatu hari di bulan April 1965,
Menteri/Panglima TNI AD, Letjen Ahmad Yani menelepon koleganya di
kabinet, Menteri Perkebunan Frans Seda. Yani minta agar Frans Seda, saat
itu menjadi Ketua Partai Katolik, mendirikan koran .
Jenderal bintang tiga yang
kemudian menjadi Pahlawan Revolusi tersebut beralasan, hampir semua
partai politik memiliki media massa sebagai corong partai. Sebut saja
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempunyai Bintang Timur dan Warta
Bhakti.
Seda kemudian menemui Ignatius
Joseph (IJ) Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik, PK Ojong, dan Jakob
Oetomo, untuk membahas ide Ahmad Yani. "Ini pasti kemauan Tuhan," kenang
Frans Seda.
Bimbang Jadi Guru atau Wartawan
![]() |
| Jakob Oetama (kanan) di ruang redaksi Kompas tempo doeloe. Mesin ketik senjata utama {kompas.com} |
"Saya tidak tahu sebabnya. Sudah
lupa. Keluar begitu saja," ujar founding father Kompas Gramedia
tersebut. Yang dilakukan selanjutnya yaitu mencari kerja. Jadi apa?
"Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita
menjadi pastor," katanya.
Manusia dan Kemanusiaan Ala Jakob Oetama
![]() |
Buku Syukur Tiada Akhir Jakob Oetama {Tribunnews.Com}
|
DALAM berbagai
kesempatan Jakob Oetama menyampaikan prinsip-prinsip utama gaya
bermedia Kompas. Intinya adalah manusia dan kemanusiaan, cobaan dan
permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kekerdilannya.
"Manusia dan kemanusiaan senantiasa diusahakan menjadi nafas pemberitaan
dan komentar."
Konsep Indonesia mini yang
secara eksplisit digagas terutama untuk Kompas, dikembangkan bagi
unit-unit usaha lainnya dalam Kompas Gramedia. Dalam perjalanannya,
Kompas tetap eksis meski mengalami berbagai terpaan, pembatasan, dan
kendala, termasuk pemberedelan 21 Januari-5 Februari 1978.
Jakob Oetama Terima Ancaman Soeharto di Hari Pers
![]() |
Bintang Mahaputra Utama disematkan Presiden Soeharto tahun 1973 | Kompas.com
|
JAKOB Oetama,
pendiri Kompas Gramedia (KG), merayakan ulang tahun ke-80 pada 27
September 2011. Selain syukuran di Bentara Budaya Jakarta, peringatan
ulang tahun Chairman KG tersebut juga ditandai peluncuran buku berjudul
Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama, disusun ST Sularto,
wartawan senior Kompas. Berikut petikan buku setebal 659 halaman itu.
MALAM menjelang 5 Februari 1978,
Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong tengah berdiskusi membahas
tawaran pemerintah Soeharto. Tawaran itu terkait pelarangan terbit
Harian Kompas, bersama 12 koran dan majalah lainnya, sejak 12 Januari
1978.
Kompas boleh terbit kembali asal
menandatangani pernyataan tertulis, berisi permintaan maaf sekaligus
berjanji tidak akan memuat tulisan yang menyinggung penguasa. "Jakob,
jangan minta maaf. Mati dibunuh hari ini, nanti tahun depan, sama saja,"
ujar PK Ojong seperti ditirukan Jakob Oetama.
Mengembangkan Indonesia Kecil
Oleh Jakob Oetama
Pendiri Kompas Gramedia
KETIKA Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok usaha Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai "lembaga yang organik sekaligus yang organis."
Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia (KG) dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata-Gramedia: grafika media-terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.
Khasiat Jitu Batu Penis Raksasa
![]() |
| Batu Penis di Liangbua Manggarai, Flores |
KEBERADAAN batu kemaluan (penis stone) di Liang Bua, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai belum setenar Liang Bua, gua tempat ditemukan sembilan tulang-belulang Manusia Flores atau Homo Floresiensis. Homo Floresiensis yang dijuluki hobbit adalah nama yang diberikan pakar antropologi dan tim gabungan Australia-Indonesia terhadap spesies dari genus homo yang punya tubuh dan volume otak kecil.
Menurut serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu), individu sisa tulang itu diberi kode LB1-LB9. Postur tubuh paling tinggi sepinggang manusia moderen sekitar 100 cm. Pos Kupang sudah empat kali mengunjungi gua yang terkenal ke sentero jagat pasca penemuan Homo Floresiensis tanggal 6 September 2003.
Yoseph Yakin Miliki Gen Homo Floresiensis
| Viktor Darung |
Warga yang menempati Kampung Rampasasa di Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii dan Kampung Akel di Desa Bere, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai masih menunggu pengumuman hasil pemeriksaan DNA tersebut.
Yoseph Anca (47), warga Akel, dan Viktor Darung (70), asal Rampasasa mengakui bentuk fisiknya berbeda dari warga umumnya. Mereka yakin neneknya berasal dari Homo Floresiensis yang hidup dan tinggal di Liangbua ribuan tahun silam.
Tulang Homo Floresiensis ditemukan dalam penggalian di Liang Bua pada 6 September 2003 oleh tim arkeologi Indonesia dan Australia. Sebuah tulang masih utuh berjenis kelamin perempuan setinggi 115 cm, sedangkan tulang lain
terpisah-pisah diduga dimakan binatang buas. "Saya yakin 80 persen, gen Manusia Flores ada dalam diri saya dan bapak saya. Tinggi badan saya 132 cm, tak beda jauh dengan tinggi badan almahrum ayah (Yohanes Dak) 125 cm," beber Yoseph kepada Pos Kupang, Sabtu (9/52015) di halaman rumahnya di Akel.
Selasa, 05 Mei 2015
Susilowati Koopman Selamatkan Bumi dari Sampah
![]() |
| Susilowati Koopman |
"Pada zaman modern sekarang ini, banyak orang mengapresiasikan cintanya lewat kado. Pada saat bersamaan, dunia ini penuh dengan sampah. Lalu siapa yang kelola? Saya pun mau menjadi pemulung dan mengabdikan cintaku pada sampah," kata Ibu Susilowati di kantor pusat Bank Sampah Flores di Pantai Paris, Maumere, Rabu (29/4/2015).
Langganan:
Postingan (Atom)
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...











