Senin, 12 April 2021
Profil Umbu Landu Paranggi
Saya, Umbu, dan Puisi
![]() |
| Umbu Landu Paranggi |
Oleh Wayan Sunarta
Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan.
Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.
Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar.
Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.
Umbu, Berpuisilah dari Ruang Sunyi

Umbu Landu Paranggi
Jenazah penyair Umbu Landu Paranggi diupacarai Kuru kudu untuk mengantarkan ke peristirahatan sementara di Bali.
Upacara kuru kudu dihadiri oleh pihak keluarga, pengurus Flobamora Bali, sastrawan dan budayawan yang juga murid-murid Umbu Landu Paranggi (ULP), acara berlangsung khidmat, di Taman Makam Mumbul, Nusa Dua, Badung, Bali, Senin 12 April 2021.
“Pak Umbu, berpuisilah dari ruang sunyi, karena aksara itu adalah aksara yang hidup yang bisa mempengaruhi dunia ini,” kata Umbu Rihimeha Anggung Praing, menantu Umbu Landu Paranggi saat menutup sambutannya dalam acara kuru kudu untuk ULP.
Kuru kudu merupakan sebuah upacara untuk peristirahatan sementara sebelum nantinya jenazah dikirim ke tanah kelahirannya, Sumba
“Ini merupakan tempat peristirahatan sementara, dan berarti Pak Umbu masih ada di sekitar kita, belum mengendarai kuda putih, kuda merah untuk sampai ke surga,” kata Rihimeha.
Penyair Umbu Landu Paranggi Berpulang

Umbu Landu Paranggi
Penyair di Bali sebagian besar lahir dari tangan Umbu Landu Paranggi. Mereka terasah dengan gemblengan Presiden Malioboro ini.
Penyair Umbu Landu Paranggi meninggal di RS Bali Mandara, Denpasar, Selasa 6 April 2021.
Dengan kepergian sosok guru, dunia sastra pun berduka. Kenanganan akan kebaikan dan keramahan Umbu pun melekat di hati sastrawan Warih Wisatsana.
“Bukan hanya dalam puisi, Umbu mengajak seseorang untuk menghayati kehidupan. Saat hujan beliau mengajak kita, ayo basah-basahan agar kuyup hidupmu, sehingga kamu bisa memiliki daya haru terhadap suatu momentum,” kata Warih.
Warih mengaku berkenalan dengan Umbu tahun 1984, saat ia masih menjadi seorang wartawan muda.
Saat itu, Umbu memegang 2 halaman lembar kebudayaan di harian Bali Post. Dia membuka ruang kepada siapapun untuk menulis di halaman tersebut.
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...

