Kamis, 19 Februari 2015

Kekayaan Kain Tenun Nusa Tenggara Timur


Tenun Ikat NTT
INDONESIA memiliki banyak kekayaan budaya dalam bentuk kain tradisional. Setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai jenis kain yang indah, seperti songket, batik, tenun, dan lain sebagainya. Salah satu provinsi yang dikenal memiliki kain tenun dengan motif yang begitu kaya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

NTT memiliki 20 kabupaten dan satu kota yang dihuni oleh 15 suku atau etnis tertentu, dengan adat dan kebudayaan masing-masing.

"Masing-masing suku ini memiliki kreasi kain tenun mereka sendiri sesuai dengan adat, budaya, dan kesenian mereka. Ini terlihat dari corak hias atau motif tenunannya," ungkap Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) NTT, Lusia Leburaya, menjelang show Musa by Musa Widyatmodjo "The Flobamora Indone(she)aku" di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (23/5/2012) lalu.

Desa Doka, Rumah Tenunan Kain Pejuang Flores



Warga Desa Doka memainkan tarian penyambutan selamat datang.
DARI Maumere, kota di tepi utara Pulau Flores yang terpisah hanya 20 kilometer saja dari tepi selatannya, perjalanan di atas kendaraan roda empat menuju Desa Doka menyajikan pemandangan celah bukit menghijau sangat menawan. Perjalanan penuh kelokan harus ditempuh menyusuri jalan menaiki bukit yang menjadi ranah pepohonan seperti petai cina, kakao, kopra, kemiri, dan jambu mete.

Kondisi jalan antara utara dan selatan di Kabupaten Sikka yang dikenal sebagai Kabupaten Seribu Nyiur terhitung baik sekali. Akan tetapi,karena lebar jalan yang sempit dan berkelok maka laju kendaraan tidak bisa berkecepatan lebih dari 40 km per jam. Angkutan umum berwarna oranye bermuatan karung penuh sesak di atasnya sesekali melaju di atas jalanan sempit dari Maumere ke arah Desa Doka.

Keindahan Motif Tenun Nusa Tenggara Timur


KECINTAAN Musa Widyatmodjo pada budaya Indonesia membuat desainer ini selalu fokus pada eksplorasi kain-kain khas Indonesia. Setelah mengeluarkan koleksi The (Ine) Kelimutu beberapa bulan lalu, dalam ajang Jakarta Fashion and Food Festival kali ini ia mengeluarkan koleksi terbarunya, The Flobamora Indone(she)aku.

"Koleksi ini banyak bercerita tentang berbagai keindahan dan kekayaan motif kain tenun dari Nusa Tenggara Timur," ungkap Musa menjelang show-nya di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (23/5/2012) lalu. Dalam koleksinya kali ini Musa banyak menggunakan kain-kain dari "Flobamora", yang tak lain singkatan dari pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur, yaitu Flores, Sumba, Timor, dan Alor.

Epang Gawang Alfonsa

Alfonsa (kiri).
DI  tengah berkurangnya minat kalangan muda Flores untuk giat mencintai tenun, kehadiran dan kiprah Alfonsa Raga Horeng membawa optimis tersendiri. Setidaknya melalui karyanya-karyanya di bidang tenun, telah membuka mata generasi muda tentang kehadiran tenun sebagai seni warisan leluhur yang bernilai tinggi.

Alfonsa Raga Horeng kini memang sudah dikenal publik. Seiring pengenalan orang terhadap tenun ikat Flores, nama Alfonsa Raga Horeng pun ikut serta mendunia. Melalui kecintaan akan tenun sebagai warisan budaya, dan kesabaran untuk memintal berbagai pengetahuan tentang tenun dari tanah Flores, membuatnya pantas diundang dalam berbagai workshop dan menghadiri ivent budaya  bertaraf nasional maupun internasional.

Tenun Ikat di Tangan Dorce Lussi


Oleh Frans Sarong

Menyebut Nusa Tenggara Timur, bagi sebagian orang, yang terbayang adalah kemiskinan dan kekeringan. Padahal, di Kota Kupang, misalnya, ada sentra tenun Ina Ndao yang bisa dibanggakan. Koleksi kain tenun di sini berasal dari sejumlah kabupaten di NTT. Omzetnya Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan.

Keberadaan Ina Ndao tak bisa dipisahkan dari perjuangan Dorce Lussi. Perempuan kelahiran Pulau Ndao, Rote Ndao, ini seperti perempuan setempat pada umumnya, punya keahlian menenun kain. Bedanya, dia tak sekadar menenun untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sekaligus berusaha mengembangkannya dengan melibatkan banyak perempuan lain.

Penghasilan dari penjualan tenun ikat buatan keluarganya itu sebagian ditabung. Dari uang itulah dia membeli tanah seluas 400 meter persegi, yang kemudian bertambah menjadi 1.000 meter persegi. Di atas tanah itulah ia membangun Ina Ndao, ruang pamer sekaligus toko dan bengkel tempat sekitar 20 perempuan perajin menenun. Di tempat ini pula Dorce dan keluarga tinggal.

Tenun NTT Bukan Tenunan Biasa

Menenun
Kerajinan tenun Nusa Tenggara Timur merupakan aset budaya luar biasa. Selain beragam motifnya, proses pembuatannya pun tak sembarangan, yaitu melalui proses ritual (doa sakral). Kain tenun NTT bukan sekadar kain biasa, melainkan juga memiliki jiwa.

Ketika melewati kampung tua As Manulea di Kecamatan Sasita Mean, Kabupaten Belu, NTT, misalnya, tim Kompas bertemu dengan para perajin yang membuat kain tenun dari benang yang mereka pintal sendiri.

Pada era 1990-an, kegiatan memintal masih terlihat di mana-mana, terutama saat para wanita pergi-pulang dari pasar. Sambil berjalan kaki, dengan junjungan di kepala, mereka memintal benang dari kapas. Kini, kegiatan memintal benang seperti itu sudah langka ditemui di NTT karena tergusur benang industri.

Semangat Perempuan Flores Menenun Songke

 
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR - Tenun Songke Manggarai Raya bermotif mata manuk.


  Seiring perkembangan promosi pariwisata Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang sangat pesat membawa dampak positif bagi masyarakat. Walaupun tidak semua. Pulau Flores yang terkenal dengan binatang Komodo dan sudah menggelar puncak Sail Komodo pada September 2013 lalu ikut memberikan andil dalam membangkitkan kembali keunikan-keunikan budaya Manggarai Raya. Salah satunya adalah tenun Songke.

Tenun songke merupakan kain khas adat orang Manggarai Raya yang diwariskan leluhur mereka. Berpuluh tahun yang lalu, secara tradisional leluhur orang Manggarai yang mungkin dimulai dari Kampung Todo menenun kain songke dari bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan modern dan Indonesia memasuki zaman orde baru membawa perubahan yang sangat drastis.

Selasa, 17 Februari 2015

Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur

Oleh Tony Kleden
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

UNTUK apa  menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?

Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih  suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya,  banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.

Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand  (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas  yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.

Investasi di NTT Tumbuh Pesat Setelah HPN 2011

Oleh Laurensius Molan
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala LKBN ANTARA Biro Kupang

PESONA Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 agaknya masih melekat dalam ingatan setiap insan pers, masyarakat dan pemerintahan daerah setempat. Mengapa? Aura HPN 2011 saat itu, tidak hanya sekadar menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  untuk membuka acara tersebut, tetapi kepala negara malah mengikutsertakan pula hampir sebagian besar menterinya serta para pengusaha papan atas untuk melihat dari dekat sosok NTT lewat HPN tersebut.

Kepala negara tidak hanya sekadar berkantor di Kupang selama tiga hari untuk mengendalikan pemerintahan dari atas wadas tanah karang, tetapi melakukan pula napak tilas dengan melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua sejauh sekitar 400 kilometer, untuk mengenang masa mudanya sebagai prajurit TNI-AD ketika menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB), pasukan organik milik Kodam IX/Udayana.

Wajah Kupang Berubah Secara Signifikan

Buku yang diluncurkan saat HPN 2015 di Batam
(Catatan mengenang HPN 2011)

Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wartawan Harian Pos Kupang


SAYA menghabiskan waktu hampir enam jam saat pulang dari Manado ke Kupang hari itu,  Selasa 18 Desember 2012 atau dua hari sebelum Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-54. Kabut tipis  dan renai gerimis menyelimuti Bandara Sam Ratulangi tatkala pesawat Lion Air  take off sekitar pukul 06.10 Wita menuju Surabaya dengan transit selama 25  menit di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Penerbangan Surabaya-Kupang berlangsung lebih nyaman lantaran cuaca siang itu lumayan cerah.  Bumi Kupang baru saja bermandikan hujan ketika Lion Air mendarat tak seberapa  mulus di run way Bandara El Tari sekitar pukul 14.50 Wita. Saya pulang untuk kesekian kalinya ke kota ini. Pulang untuk libur bersama keluarga setelah hari-hari menjalani penugasan di Harian Tribun Manado, salah satu Koran daerah  Grup Kompas Gramedia, kolega Harian Umum Pos Kupang.

Sabtu, 14 Februari 2015

Paolus Nong Susar: Lahir dan Besar di Jalan

Dion menyerahkan buku kepada Paolus, Senin 9 Februari 2015
MAUMERE, PK- Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus  Nong Susar, meluncurkan buku biografi "PNS (Paolus Nong Susar) Lahir dan Besar di Jalan." Peluncuran buku ini dilakukan di Aula Hotel Benggoan III, Maumere, Senin (9/2/2014).

Buku ini berisi kisah perjuangan dan pergulatan hidup PNS  sejak lahir hingga puncak perjuangan mencapai posisinya kini sebagai wakil bupati Sikka. Tidak banyak orang yang tahu tantangan, perjuangan dan pergulatan hidup PNS. Melalui bukunya itu, dia membagikan pengalaman dan perjuangan, menjadi inspirasi kepada masyarakat kecil di Sikka dalam perjuangan hidup.

Selasa, 03 Februari 2015

Sekali Lagi tentang DeMAM

ilustrasi
DALAM kurun waktu enam hingga tujuh tahun terakhir, masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akrab dengan Anggur Merah. Tentu bukan anggur berwarna merah dalam arti sesungguhnya. Anggur Merah yang akrab di telinga rakyat Flobamora itu merupakan  akronim dari Anggaran untuk Rakyat Meraih Sejahtera yang menjadi ikon pemerintahan Gubernur Drs. Frans Lebu Raya.

Frans Lebu Raya,  baik pada periode kepemimpinan yang pertama berpasangan dengan Wakil Gubernur, Ir. Esthon L Foenay, M.Si maupun kini dengan Wakil Gubernur Drs. Benny Alexander Litelnoni, SH, M.Si tetap mempertahankan Anggur Merah tersebut. Semangat Anggur Merah adalah mewujudkan anggaran pembangunan yang lebih besar porsinya pada kepentingan rakyat. Dengan kata lain belanja publik idealnya lebih besar daripada belanja aparatur.

Hidup Bersama Banjir dan Longsor

SAMPAI pekan kedua bulan Januari 2015 tercatat 12 kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT) yang melaporkan adanya bencana alam. Bencana yang dilaporkan antara lain banjir, tanah longsor, gelombang pasang dan angin kencang dengan korban jiwa sebanyak tujuh orang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (14/1/2015),  Pelaksana Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT, Tini Thadeus menyebutkan, 12 kabupaten yang telah melaporkan mengalami bencana yakni  Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Sikka, Ngada, Lembata, Manggarai Timur (Matim), Manggarai Barat (Mabar), Rote Ndao, Sumba Timur (Sumtim) dan Kota Kupang. 

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...