PENANCAPAN paku oleh Atoin Amaf (orang tua) pada titik kiri peti jenazah Gasper Bana di Maslete-Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hampir selesai. Beberapa saat lagi peti jenazah diangkat untuk dibawa ke luar rumah dan selanjutnya menuju tempat pemakaman terakhir.
Sebelum jenazah dimakamkan pada 7 September 2015 itu, semua anggota keluarga inti berada di dalam rumah. Di dalam sana Atoin Amaf masih menghitung pakaian dan sarung adat yang diantar para pelayat atau rakyat sebagai pemberian terakhir dari keluarga dan masyarakat kepada Gasper Bana almarhum.
Pakaian dan sarung lalu disusun rapi rapi di kaki peti jenazah. Ada harta yang disimpan di dalam peti. Jumlah sarung di sisi kaki kiri dan kaki kanan jenazah Gasper Bana harus sama. Peti pun diangkat. Tak berselang lama tempurung kelapa dipecahkan. Suara tangis keluarga dan kerabat yang duduk mengelilingi peti jenazah sontak pecah di ruangan berukuran 5x6 meter persegi itu.
Minggu, 25 September 2016
Selasa, 20 September 2016
Jangan Halalkan Segala Cara
Kita bersyukur kontingen NTT berangkat ke PON Bandung dengan kekuatan yang lumayan besar. Melalui perjuangan berat sebanyak 76 atlet NTT dari 12 cabang olahraga (cabor) berhak tampil pada pesta olahraga tertinggi di Indonesia tersebut.
Dari 12 cabor itu, ada tiga cabang permainan atau perlombaan dan sembilan cabang pertandingan.
Tiga cabang perlombaan yakni atletik, berkuda dan binaraga. Sejak puluhan tahun lalu NTT sudah dikenal sebagai gudang atlet atletik. Cabang olahraga terukur ini biasanya menjadi lumbung medali bagi kontingen Flobamora. NTT juga mengandalkan cabang pertandingan seperti tinju, kempo, karate, pencak silat, taekwondo dan tarung derajat.
Tim WVI Kunjungi Pos Kupang
![]() |
| Tim WVI di Pos Kupang 29-8-2016 |
"Di bidang kesehatan, misalnya, masih banyak warga yang tidak memiliki MCK, dan anak-anak berani teriak minta diadakan diadakan MCK. Ini karena dalam musyawarah anak-anak kita libatkan. Lebih baik kita belajar dari anak," kata Romanus saat bersama tim WVI berkunjung ke Redaksi Pos Kupang, Senin (29/8/2016).
Janes: Terima Kasih Sudah Membantu
![]() |
| Panitia Jelajah Sepeda Kompas |
Hal ini disampaikan Ketua Panitia Jelajah Sepeda Flores -Timor, Janes Eudes Wawa saat acara syukuran di Kantor Harian Pagi Pos Kupang, Rabu (24/8/2016) malam.
Menurut Janes, Pos Kupang turut memberi kontribusi dalam event Jelajah Fores-Timor mulai dari Labuan Bajo-Atambua dan semua bisa berjalan lancar dan aman. "Tanpa bantuan teman- teman kami tidak bisa laksanakan kegiatan ini dengan lancar dan aman," kata Janes.
Diskusi Forum Media di Kupang
![]() |
| Suasana diskusi Forum Media 19 Sept 2016 |
Kepala BPK Perwakilan NTT, Dewi Ciantrini menyampaikan itu ketika membuka kegiatan dialog Forum Media tentang Permasalahan dan Harapan Dalam Pengelolaan Keuangan Desa di Kantor BPK Perwakilan NTT, Senin (19/9/2016).
Dialog yang dimoderator I Gede Putra Wijaya ini menghadirkan empat orang nara sumber yakni, Dosen UKAW Kupang Frits Fanggidae, Kepala Desa Manusak, Kupang Timur, Arthur Ximenes, Kepala LPP RRI Kupang, Enderiman Butar Butar dan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Pos Kupang, Dion DB Putra.
Film Karya Anak NTT Ikut Festival di Kazakhstan
| Salah satu adegan dalam film NOKAS |
Demikian siaran pers tim humas produksi film yang diterima Pos Kupang, Selasa (20/9/2016).
Film ini berkisah mengenai seorang pemuda yang bernama Nokas yang ingin menikahi kekasihnya, seorang gadis Timor bernama Ci. Tidak mudah menikahi gadis Timor. Pihak lelaki biasanya diminta untuk membayar mahar kepada orangtua dan saudara pihak perempuan. Jumlahnya tidak tentu, tetapi seringkali memberatkan.
Kita Beri Apresiasi untuk Polisi
Kisah pelariannya menarik nian. Selama kurang lebih tiga pekan menjadi buronan polisi, Januarius terus berpindah-pindah lokasi persembunyian di wilayah Kolbano, Boking di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) hingga ke wilayah Kabupaten Malaka. Dia bahkan sempat berniat masuk ke negara tetangga Timor Leste.
Potong Uang Makan PNS
Bupati Ayub Titu Eki menyadari kebijakan tersebut tidak populer. Langkah ini dengan terpaksa diambil guna mengantisipasi pemotongan DAU (Dana Alokasi Umum) senilai Rp 25,4 miliar oleh pemerintah pusat sebagai implikasi diterapkannya Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 125/PMK.07/2016.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selain Kabupaten Kupang, ada tiga kabupaten lainnya yang juga bernasib sama terkait pemotongan DAU yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat.
Mereka Lari dalam Kepanikan
![]() |
| ilustrasi |
Gelombang pasang itu menerjang rumah, menyapu sebagian besar isinya. Penghuni rumah lari pontang-pontang menyelamatkan diri ke rumah tetangga yang dianggap lebih aman. Sebanyak 11 rumah penduduk mengalami rusak berat. Barang yang rusak antara lain bangunan dapur, kamar tidur, WC, kamar mandi.
Kepala Desa Watutedang, Rovinus Reko menyebut peristiwa itu baru pertama kali terjadi. "Ini baru pertama kali gelombang merusak rumah penduduk. Warga memindahkan barang ke rumah tetangga yang agak jauh dari pesisir pantai. Bahkan ada yang bongkar atap rumahnya dari genteng. Mereka takut gelombang datang lagi dan rumah mereka roboh. Makanya bongkar genteng biar aman," kata Rovinus Reko.
Jumat, 02 September 2016
Pasar Seribu Tidak Seribu Lagi
Dulu tahun 1990-an, Pasar Seribu di Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah adalah tempat favorit orang berbelanja sayur dan buah-buahan.
DI KIOS petak ukuran 6 x 4 meter, Ny. Siti Ba'adiyah, duduk bersila di lantai beralaskan karpet plastik. Di depannya sebuah radio transistor yang sudah tua diletakkan begitu saja di lantai. Ada lagu sendu mendayu-dayu dari radio itu.
Sesekali wanita berjilbab ini melempar pandang ke arah Jalan Timor Raya. Kadang ia menjawab ramah sapaan orang yang melintas di depan bilik kiosnya yang nyaris roboh.
"Silakan duduk Pak," kata Ny. Siti Ba'adiyah, ketika Pos Kupang, yang bertandang ke bilik kiosnya, Sabtu (29/8/2015) siang.
Dua kursi plastik warna hijau kusam disatukan Ny. Siti, agar tidak patah saat diduduki tamu. Sebab umurnya sudah tua dan keropos. "Untuk mengusir sepi, saya coba dengar lagu-lagu tempo dulu yang diputar di radio. Apalagi setelah suami meninggal bulan April lalu. Dan anak-anak sudah pergi merantau ke Jawa dan Batam. Saya sendiri bersama seorang anak perempuan. Setiap hari cuma begini," ujar Ny. Siti, saat Pos Kupang menanyakan kabarnya.
DI KIOS petak ukuran 6 x 4 meter, Ny. Siti Ba'adiyah, duduk bersila di lantai beralaskan karpet plastik. Di depannya sebuah radio transistor yang sudah tua diletakkan begitu saja di lantai. Ada lagu sendu mendayu-dayu dari radio itu.
Sesekali wanita berjilbab ini melempar pandang ke arah Jalan Timor Raya. Kadang ia menjawab ramah sapaan orang yang melintas di depan bilik kiosnya yang nyaris roboh.
"Silakan duduk Pak," kata Ny. Siti Ba'adiyah, ketika Pos Kupang, yang bertandang ke bilik kiosnya, Sabtu (29/8/2015) siang.
Dua kursi plastik warna hijau kusam disatukan Ny. Siti, agar tidak patah saat diduduki tamu. Sebab umurnya sudah tua dan keropos. "Untuk mengusir sepi, saya coba dengar lagu-lagu tempo dulu yang diputar di radio. Apalagi setelah suami meninggal bulan April lalu. Dan anak-anak sudah pergi merantau ke Jawa dan Batam. Saya sendiri bersama seorang anak perempuan. Setiap hari cuma begini," ujar Ny. Siti, saat Pos Kupang menanyakan kabarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...







