Tampilkan postingan dengan label Mengenang Damyan Godho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Damyan Godho. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2020

Wanita itu Menyapanya Padre


Maxi Ebu Tho
"Dion, kau lagi buat apa?" Begitu sapaan khas Om Damyan Godho dari balik telepon (interkom).

"Lagi edit berita nih Om."

"Kau ke ruang saya sekarang! Ada sesuatu yang mau saya sampaikan," kata Om Damyan Godho, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang.

Dialog itu terjadi medio 1997 di kantor lama Pos Kupang, Jl. Kenari No.1 Kelurahan Naikoten 1 Kupang.  Cuma sejengkal dari pasar tradisional terbesar di Kota Kupang, Pasar Inpres Naikoten.

Sampai di ruang kerja Om Damy di lantai 1, beliau langsung memberikan kepada saya sepucuk surat undangan.

"Kau tugas ke Dili ya. Kau bisa menulis banyak artikel menarik," kata Si Om.

Senin, 10 Februari 2020

Damyan Godho, Firmus Wangge dan Uskup Petrus Turang


Damyan Godho
TANGGAL 27 Juli itu istimewa. Setidaknya bagi ketiga tokoh ini, Firmus Wora Wangge, Damyan Godho dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.

Nama pertama dan kedua telah berpulang ke haribaanNya. Berselang setahun saja.  Damyan Godho meninggal dunia 29 Januari 2019.  Dua belas purnama kemudian Firmus Wangge menyusul, 6 Februrari 2020.

Buat Om berdua yang terkasih, semoga bahagia di sisiNya. Amin.
Saya mengenang 27 Juli karena gara-gara tanggal itulah saya berintekrasi cukup intens  dengan mereka.

Itu dua dekade lalu, 23  tahun silam, tepatnya 27 Juli 1997. Setahun menjelang Soeharto lengser keprabon.

Saya masih wartawan muda.  Belum genap lima tahun berkiprah bersama Harian Pos Kupang  yang mulai terbit 1 Desember 1992.

Jumat, 18 Oktober 2019

Momen Indah di Hari Kamis


* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (2)
TIGA mobil beriring-iringan dari Maumere menuju Lekebai. Perjalanan ke kampung halaman Frans Seda itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Tidak ada suasana mencolok saat kami tiba di sana. Suasana biasa saja. 

Memang begitulah harapan Frans Seda dan Jakob Oetama. Kedua tokoh ini tidak membutuhkan penyambutan secara berlebihan. 

Toh kehadiran mereka di Lekebai adalah untuk berziarah ke makam orangtua Frans Seda serta bersilaturahmi dengan keluarga.

Turun dari mobil, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah yang berada dalam kompleks yang cukup luas. Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk banguan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun. Warisan itu masih terjaga dengan baik.

Kisah tentang Ulat Bulu

Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (1)

WAIARA, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai. Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan. Padahal yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda (79) dan Jakob Oetama (74) serta tamu penting lainnya dari Jakarta dan Kupang.

Buyar sudah kesan serius dari kedua tokoh tersebut. Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke Nusa Tenggara Timur (NTT), 26-30 Oktober 2005 merupakan ziarah pribadi. 

Kenangan di Lekebai


Di Lekebai, Sikka Flores 27 Oktober 2005
Waiara, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang berhiaskan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya.

Mereka yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda dan Jakob Oetama serta para petinggi Kelompok Kompas Gramedia (GKG) yaitu August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour.

Hadir pula pendiri sekaligus Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.

Selasa, 19 Februari 2019

Daftar Riwayat Hidup Damyan Godho

Damyan Godho
Nama lengkap           : Damyan Godho
Tempat tanggal lahir     : Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores,  25 Maret 1945
Nama ayah              : Lambertus Laga Nenu
Nama Ibu             : Klara Wona

Damyan Godho adalah putra kedua dari 9  bersaudara 

Saudara kandung
1. Getrudis
2. Sofia Uta
3. Fabianus Aga
4. Wens Mola
5. Lusia Fesa
6. Adel Tawa
7. Fransiskus
8. Yohanes Kasto Tue Nenu

Selasa, 05 Februari 2019

Selamat Jalan Om Damy Godho

Damyan Godho
"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat."

SETELAH disemayamkan semalam di Gereja St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua Kota Kupang, jenazah Damyan Godho kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa, Kamis (31/1/2019) siang. Upacara pemakaman diiringi hujan.

Istri Damyan Godho, Theodora Menodora Mandaru bersama tiga anaknya, Eleonora Ira, Berno Marselino dan Clara Fransisca mendampingi jenazah hingga kubur ditutup.

Acara pemakaman jenazah dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi. Meski hujan, kerabat kenalan mengikuti proses pemakaman sampai selesai yang ditandai dengan peletakan karangan bunga.

Uskup Agung Kupang Mengenang Damyan Godho

Damyan Godho
KUPANG, PK -Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mengenang kebersamaannya dengan tokoh pers NTT, Damyan Godho. Hal itu disampaikan Uskup Turang saat memimpin misa requiem di Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi,  Kolhua, Kota Kupang, Rabu (30/1/2019) malam.

"Sebagai seorang wartawan senior, pendiri harian Pos Kupang, Om Damy telah melahirkan banyak wartawan muda yang berkompeten. Di samping itu, sebagai seorang tokoh umat. Damyan Godho telah mewariskan kepada umat Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo," ucap Uskup Turang dalam khotbahnya.

"Setiap kali kita berkunjung ke Taman Ziarah Oebelo, kita bertemu dengan dia secara rohani. Itu yang dia berikan untuk pengembangan hidup iman supaya kita belajar," tambahnya.

Damyan Godho Legenda Pers NTT


Damyan Godho
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Pakar Komunikasi dari Unwira Kupang

Saya mengingat catatan Bapak Damyan Godho atau biasa disapa Om Dami  tentang SKH Pos Kupang yang didirikannya. Sang legenda pers ini mencatat bahwa dalam perjalanan ke Restoran Pantai Timor, Kupang, Senin sore 30 November 1992, tempat akan berlangsungnya Acara Peresmian POS KUPANG di benaknya penuh khayalan.

Dengan hati berbunga-bunga membayangkan koran yang akan diterbitkan perdana esok hari Selasa 1 Desember 1992: "Suatu hari nanti, POS KUPANG seperti KOMPAS beredar luas. Dibaca banyak orang, dipercaya dan disayangi...di halte-halte, di bawah tiang listrik, di pasar dan dimana-mana terlihat orang asyik membaca...setidaknya membawa koran di tangan". Koran itu adalah POS KUPANG yang telah menjadi kebutuhan.

NTT Kehilangan Tokoh Pers Inspiratif

Damyan Godho
KUPANG, PK - Tokoh pers Nusa Tenggara Timur (NTT), Damyan Godho wafat dalam usia 73 tahun 10 bulan. Pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit (RS) St. Carolus Borromeus Kupang, Selasa (29/1/2019) pukul 01.30 Wita.

Kepergian Damyan Godho untuk selama-lamanya, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, melainkan masyarakat NTT, lebih khususnya lagi kalangan dunia pers. Berbagai pihak merasa kehilangan sosok yang tegas, visioner, berhati lembut dan humoris ini.

Damyan Godho meninggalkan seorang istri, Theodora Mandaru-Godho dan tiga orang anak, Ira Godho, Ino Godho dan Rany Godho. Anak sulung, Romi Godho sudah lebih dahulu menghadap sang Khalik.

Jenazah Damyan Godho Disemayamkan di Gereja

Damyan Godho
SELAIN kerabat kenalan dan masyarakat umum, sejumlah tokoh melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka, Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua Kota Kupang, Selasa pagi hingga malam. Ada juga yang menyatakan duka cita dengan mengirim karangan bunga. Isak tangis dan deraian air mata silih berganti.

Beberapa pejabat pemerintah terpantau hadir melayat, di antaranya Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan dr. Herman Man serta Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno bersama istri. Dua mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay dan Yohanes Pake Pani serta Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr juga ikut melayat. Tak ketinggalan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi.

Uskup Turang tiba di rumah duka, Selasa (29/1/2019) pagi. Uskup Turang sempat berdiri di depan jenazah Damyan Godho, lalu memanjatkan doa.

Damyan Godho di Mata Mereka

Damyan Godho
PAK Damy Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. Kita sangat kehilangan sosok inspiratif. (yel)

- Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay -


Lahirkan Banyak Kader

MASYARAKAT NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT. Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karyanya dan semangatnya juga tetap menjadi panutan. (yel)

- Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H -


Sosok Visioner

PAK Damy Godho itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang. (kro)

-- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur -

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...