Tampilkan postingan dengan label Aku Ata Lise. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Ata Lise. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2025

Selamat jalan Ka'e Daniel Bheto Dedo

Daniel Bheto Dedo

Keluarga besar suku Lise berdukacita. Mosalaki yang berkedudukan di Kampung Ratenggoji, Desa Taniwoda, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende berpulang.

Ka'e (kakak) Daniel Bheto Dedo meninggal dunia dengan tenang di rumahnya pada Minggu dini hari 16 Maret 2025.

Keluarga besar Tani Woda, Dosi Woda dan Senda Woda berduka. Nie, demikian sapaan Kakak Daniel meninggal dunia dalam usia lebih dari 80 tahun.

Daniel berpulang menyusul adik laki-lakinya Gerardus Baba yang berpulang pada tahun 2022.

Selamat jalan Kakak Daniel Bheto Dedo. Bahagia kekal di sisiNya.

Selasa, 20 Januari 2015

Hukum Adat Suku Lise

Dion DB Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

SUKU
Lise memiliki seperangkat hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun. Perkembangan zaman, intevensi agama (Gereja Katolik) ikut melunturkan hokum dat tersebut apalagi dengan praktik hukum kolonial dan hukum positif  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI. Beberapa hukum adat Suku Lise yang masih dikenal antara lain:

1.    Wale Pela

Hukum berupa sanksi atau denda terhadap seseorang yang terbukti berzinah atau istilah pop selingkuh. Zinah dalam pengertian masayarakat Lise sama dengan zinah yang dikenal umum. Artinya seseorang (baik pria maupun wanita) melanggar norma kesusilaan. Yang dikenai wale atau denda dalam kasus zinah adalah pria, sedangkan wanita mendapat sanksi secara moral. 

Mbete Woda Jatuh Cinta

Dion Dosi Bata Putra
Oleh Dion Dosi Bata Putra

MBETE Woda adalah anak dari Woda Rasi. Dari tokoh inilah kemudian beranak-pihak warga suku Lise Nggonderia dan Lise Kurulande. Mbete Woda dikenal sebagai pemuda tampan dan suka bertualang seperti ayahnya Woda Rasi. Kisah cinta unik dengan seorang gadis asal daerah Bu (sekitar Desa Bu Utara, Kecamatan Paga Kabupaten Sikka sekarang).

Gadis itu berlesung pipi, rambut hitam panjang lurus bak mayang terurai. Matanya lentik, kulit kuning langsat, hidung mancung, betis laksana padi yang hamil. Pembawaannya ramah. Sambe boleh dikata merupakan kembang di kampungnya dan menjadi incaran banyak perjaka. Kecantikan Sambe suah terkenal luas di kampong sekitar.

Syahdan, menurut cerita turun-temurun, Mbete Woda yang suka bertualang itu pada suatu hati tiba di kampung Nona Sambe. Kebetulan saat itu ada pesta syukuran di kampung itu. Mbete rupanya sudah mendengar cerita tentang kecantikan Sambe bahkan diam-diam dia pun sudah melihat kecantikan gadis itu. Makanya saat ke kampong gadis ini,  Mbete membawa serta wea ngawu (perhiasan dari emas) yang diisi dalam periuk tanah.

Woda Rasi Wika Tana

Dion DB Putra, cucu Rasi Leu
Oleh Dion Dosi Bata Putra

WODA Rasi adalah putra bungsu Rasi Leu, generasi keempat sejak kedatangan dari Malaka.  Rasi Leu  memiliki enam orang anak yaitu Pati, Mboti, Mali,Ngeo. Bao dan Woda. Jika kelima saudaranya yang lain menetap di Wolowaru Wawo (rumah adatnya masih tegak berdiri sampai sekarang), Woda Rasi lebih suka bertualang ke arah utara dan  timur. 

Masa hidupnya lebih lama di hutan rimba, baik untuk berkebun, mengiris tuak atau berburu. Karena jarang pulang ke rumah,  termasuk bila ada acara besar keluarga, Woda Rasi selalu mendapat bagian bupa `muku sa wunu, au salaru."

Woda Rasi pada masa  itu dikenal sebagai pemberani dan berkali-kali menaklukkan suku lainnya di Lio Timur, Kabupaten Ende  sekarang ini. Salah satu kisah kepahlawan Woda Rasi adalah saat dia "wika"" (merebut atau mendapatkan tanah Waru Jeja). Lokasi tanah itu kini di wilayah Desa Detupera dan sekitarnya.

Jumat, 09 Januari 2015

Pengukuhan Ria Bewa di Mula Watu


Pengukuhan Ria Bewa di Kampung Mula Watu Ende  26 Juli 2014. (foto PK)
Dari kiri: Ignatius Dosi Woda. Daniel Bheto Dedo dan Mikael Wangge (foto PK)
HARI  Jumat (25/7/2014) malam, suasana di Kampung Mulawatu, Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende berbeda dari hari-hari biasanya. Jika pada hari biasa suasana kampung terasa lengang dan hanya terdengar  suara-suara alam, seperti kicauan  burung,  gemercik air di Kali Mbilu maupun aroma kopi arabika serta tanaman buah kakao yang menghijau di hamparan tanah warisan leluhur, maka kali ini suasananya sontak berbeda.

Struktur Organisasi Adat Lise

Oleh Dion Dosi Bata Putra


SEJAK zaman nenek moyang kami Ata Lise, struktur organisasi itu sudah terbentuk dengan fungsi, peranan, tanggung jawab, wewenang serta pembagian tugas (job description) masing-masing.

Posisi tertinggi  adalah Mosalaki Pu'u Lise Tana Telu. Dialah pemimpin untuk seluruh anak cucu Mbete Woda atau Woda Rasi. Simbol pemersatu juga hadir dalam diri Mosalaki Puu Lise Tana Telu. Terbukti untuk suatu upacara adat di wilayah Lise Tana Telu, pernyataan atau pengumuman pertama datang dari Mosalaki Puu.  Misalnya pesta Po'o Fata Mari (poo terbesar), yang menentukan waktunya adalah Mosalaki Puu. Penentuan waktu itu dilaksanakan para aji ana (kelurga besar Lise).

 Po'o adalah perayaan yang digelar pada bulan September atau Oktober saban tahun di Fatamari, sebuah tempat yang teduh di bibir sungai Lowo Ria tak jauh dari kampung Mulawatu. (Makna perayaan ini akan saya kisahkan di artikel tersendiri).

Woda Rasi, Tokoh Kebanggaan Ata Lise

Oleh Dion Dosi Bata Putra

Dion Dosi Bata Putra
KAMI anak cucunya di Suku Lise (Lio - Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur)  sangat akrab dengan nama tokoh ini. Di masa kecil, ketika bangun pagi sambil memanggang diri di perapian guna mengusir dingin, orang-orang tua selalu menceritakan tentang sosok Woda Rasi. Juga dalam berbagai acara kalau sedang kumpul banyak orang. Woda Rasi menjadi buah bibir dan bahan cerita tutur turun temurun.

Menurut ayahku Thomas Bata tokoh ini patut dicatat khusus dalam sejarah orang Lise, siapa pun Anda. Dialah yang memiliki dan menguasai lahan tanah persekutuan sangat luas di wilayah Lise.

Warga Kecamatan Lio Timur dan Kota Baru  dan sebagian Wolowaru adalah anak cucu Woda Rasi atau kerap juga disebut Woda Kumi Merah. Disebut demikian karena Putra Bungsu Rasi Leu tersebut  kumisnya berwarna kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Siapa Leluhur Ata Lise?


Peta Kabupaten Ende, Flores, NTT
NENEK  moyang atau leluhur kami orang Lise diyakini bukan warga asli Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka datang jauh dari luar pulau Flores lalu tinggal menetap dalam komunitas sendiri. Dalam perjalanan waktu terjadi kawin-mawin dengan warga lokal.  Leluhur orang Lise diyakini adalah etnis Melayu (Malaka).

Generasi pertama  orang Lise diperkirakan tiba di Flores Tengah (wilayah Kabupaten  Ende) sekitar abad ke-7 dan ke-8 bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Cerita lisan turun-temurun dari leluhur kami  menyebutkan, nenek moyang orang  Lise datang Malaka. Mereka datang menggunakan perahu tradisional dan membuang sauh di Pantai Wewaria, dekat Ropa, ibukota kecamatan  Wewaria, Kabupaten Ende saat ini.

Aku Ata Lise


Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.


DENGAN bangga saya selalu mengucapkan kata-kata ini. Aku ata Lise (Saya orang Lise atau  berasal dari Suku Lise). Begitulah setiap kali jawabanku bilamana ditanya tentang asal-usul.

Saya tidak pernah malu mengatakannya atau pura-pura tak peduli dengan pertanyaan semacam itu mengingat kehidupan ini sesuatu yang terberi (given). Toh saya dan juga orang-orang Lise lainnya tak pernah meminta lahir sebagai ata Lise bukan?

Kau pasti bertanya-tanya, Lise itu di mana? Baiklah saya beri sedikit penjelasan. Lise  merupakan salah satu sub etnis  Lio-Ende yang secara  geografis menempati wilayah timur dan sebagian kawasan tengah Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Wake Laki Lise Tana Telu (4)

Lise Tana Telu di tengah derap pembangunan


Keseluruhan kebudayaan adalah sebuah ruang lingkup dan tidak terbatas pada aspek-aspek ideational saja. Konsep sentral dari kebudayaan adalah adat-istiadat, yaitu pola prilaku tradisional yang reguler. Gluckman mengakui betapa pentingnya peranan adat-istiadat dalam mengatur perilaku manusia.

Pikiran ilmiah yang diformulasikan Gluckman ke dalam teori-teorinya ini sesungguhnya diangkat dari apa dijalankan masyarakat adat yang berpikir sederhana soal yang lebih luas dari ide-ide dan peranan adat yang mengatur kehidupan mereka.

Masyarakat adat Lise Tana Telu mewujudkan keyakinan mereka tentang pentingnya tradisi adat, dalam pelantikan pucuk pimpinan tradisional, mosalaki pu'u. Kesadaran ini muncul secara komunal melalui mosalaki dengan satu keyakinan bahwa paran dan fungsi mosalaki pu'u terutama menjadi roh penggerak bagi segenap aktivitas sosial budaya.

Wake Laki Lise Tana Telu (3)

Korban adalah sebuah nilai hidup


Merumuskan sebuah teori masyarakat budaya Lise Tana Telu dapat dimulai dari tradisi yang berkembang dan masih bertahan hingga saat ini. Para antropolog memiliki logika ilmu sendiri untuk merumuskan dengan realitas masyarakat.

Namun masyarakat juga memiliki logika tersendiri yang hadir secara turun-temurun. Realitas yang ada dalam masyarakat Lise Tana Telu bukan realitas teoritis melainkan realitas yang hadir secara riil, di tengah jatuh bangunnya masyarakat lokal (petani) mempertahankan hidup dan berusaha hidup layak dari sisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam kondisi sosial budaya yang amat kompleks bersama lembaga adat, tradisi, dan masyarakat adat mempertahankan jati diri, masyarakat adat Lise Tana Telu menghadirkan kembali jati dirinya.

Pengakuan inilah yang mungkin juga melampaui analisis tokoh-tokoh antropolog dan sosiolog yang berusaha berbicara obyektif tentang kehidupan sebuah kelompok etnis, namun tidak dapat mengatakan semuanya.

Wake Laki Lise Tana Telu (2)

Daniel Bheto Dedo mosalaki pu'u Lise Tana Telu

Eksistensi mosalaki pu'u tetap dijunjung tinggi. Hal ini terlihat jelas dalam upacara pelantikan atau penobatan Daniel Bheto Dedo sebagai mosalaki pu'u. Segenap anggota masyarakat persekutuan Lise Tana Telu menjadi saksi upacara yang disebut Nggubhu luka. 


Kehadiran ria bewa, mosalaki, bogehage, ana halo, fai walu di Ratenggoji menyatakan dengan jelas keberadaan Lise Tana Telu. Kedua ria bewa yang hadir adalah Bapak Salomon Woda (ria bewa Lise Tana Telu dari Wololele A) Bapak Yosef Ngati Mbete (ria bewa Lise Tana Telu dari Mulawatu). 

Keberadaan mereka dilengkapi dengan 1) Yohanes Tani mosalaki hebesani dari Watuneso Lio Timur, 2) Paulus Pera mosalaki ine ame dari Fata Ndopo Lise Kuru Lande Kota Baru, 3) Mboti Pati mosalaki ana li'e du'a Embu Wulu Puru Mulu dari Wololele B Kecamatan Wolowaru, 4) Rowa Mali mosalaki dari Bela Nggo Lise Lowo Boro, 

Desa Lika Naka Kecamatan Wolowaru, 5) mosalaki langga lengo dari Wololele B Wolowaru (tidak datang). Ditambah dengan mosalaki pu'u, dari seluruh Lise Tana Telu, terdapat enam mosa laki -satu di antaranya mosalaki pu'u- dan dua mosalaki riabewa. Segenap mosalaki dan ria bewa mengikuti dengan penuh perhatian rangkaian upacara pengukuhan mosalaki pu'u. Bagaimana rangkaian upacara serta makna dari tiap-tiap bagian upacara?

Wake Laki Lise Tana Telu (1)

TANGGAL 3-10 Oktober 2004 dilangsungkan serangkaian peristiwa budaya yang sangat langka di sebuah dusun terpencil, Ratengoji, Desa Tani Woda, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Ende. 
Di sana masyarakat adat Lise Tana Telu menyelenggarakan "Nggubhu Luka" upacara Pelantikan "Raja Baru" Daniel Bheto Dedo, Mosalaki Pu'u Lise Tana Telu, setelah lebih dari lima puluh tahun tanpa upacara sejenis. 

Dimanakah Lise Tana Telu? Ratenggoji? Apa, siapa, dan, bagaimana pemimpin tertinggi masyarakat adat setempat dilantik dengan upacara nggubhu luka? Apa latar belakang upacara, tujuan, dan rencana ke depan? Bagaimana partisipasi pemerintah dan masyarakat setempat terhadap suksesnya upacara dimaksud? Pos Kupang menulisnya untuk Anda.

 
Lise Tana Telu Berpusat di Ratenggoji
 
 Lise Tana Telu atau tiga wilayah Lise adalah persekutuan masyarakat adat Lise dengan satu orang pemimpin tertinggi disebut mosalaki pu'u. Wilayah adat Lise Tana Telu sangat luas, meliputi Kecamatan Kota Baru, dan sebagian Kecamatan Lio Timur, sebagian Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Watuneso. Keberadaan wilayah adat ini sudah berlangsung turun temurun. Dalam bahasa setempat disebut ulu soe endo mbawe - eko take tola ndale - artinya kepala di Pantai Endo Mbawe (Kota Baru) - ekor di Lia Tola (Watuneso).

Ria Bewa, Pesta Adat yang "Terhenti" 29 Tahun


ilustrasi
DESA yang akrab dengan kesunyian, kabut, dan dinginnya malam itu, pada pertengahan September hingga 8 Oktober 2006 tampak sibuk dan ramai. Saat itu ada pesta besar, yakni pesta pengukuhan pemangku adat tertinggi. Ritual adat digelar di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pesta besar yang digelar di desa ini terkait dengan pengukuhan Ria Bewa (pemangku adat tertinggi) Lise Tana Telu atau wilayah tanah tiga Wololele A. Wilayah tanah persekutuan adat Lise Tana Telu saat ini meliputi tiga kecamatan (dari 17 kecamatan).

Tiga kecamatan itu adalah Lio Timur (dulu dikenal Lise Nggonderia), Kotabaru (Lise Kuru Lande), dan Wolowaru (sebagian, dulu Lise Lowo Bora). Wilayah Lise Tana Telu terakhir berpenduduk sekitar 45.000 jiwa. Adapun Ria Bewa (artinya besar panjang) yang dikukuhkan di penghujung tahun ini adalah Michael Tani Wangge (53).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...