Kamis, 27 November 2014

Cuti SMS



ANAK SoE kena batunya saat hari raya Natal 2009 yang lalu. Gara-gara urusan di Kupang yang tidak bisa dia tinggalkan, Anak SoE tidak sempat bersilaturahmi dengan orangtua angkatnya di SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Padahal dia mendapat hak libur Natal selama empat hari.
"Saya akhirnya memilih kirim ucapan Natal via SMS saja kepada orangtua angkat yang membesarkan dan menyekolahkan saya sampai sarjana. SMS itu malah jadi bumerang. Bapa dan Mama angkat tidak kasi muka. Telepon dan SMS tidak dijawab. Belakangan baru saya tahu mereka marah besar karena waktu Natal, saya tidak ke sana bersama istri dan anak," kata Anak SoE.

PER(a)S



PENAMPILAN lima sekawan, Kamson, Sandi, Dimas, Harjunero dan Kusuma sungguh meyakinkan. Cara berbusana, potongan rambut serta cara mereka bicara tidak secuil pun memancing rasa curiga. Apalagi lawan bicara lima sekawan yang berkeliling ke mana-mana dengan mobil itu adalah para pemilik kios yang pendidikannya pas-pasan saja.
Kepada pemilik kios yang menjual pupuk bersubsidi, Kamson Cs memperkenalkan diri dengan santun sebagai tim pengawas pupuk yang anggotanya terdiri dari polisi, pengawas pupuk, wartawan serta penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Menghadapi tim lengkap ini para pemilik kios melayani mereka dengan baik.
Lima sekawan menanyakan omset penjualan pupuk kepada petani, respons dari para petani serta kendala yang dihadapi pemilik kios dalam memasarkan pupuk. Pemilik kios dengan senang hati memberikan jawaban.

Pembiaran


BERITA itu mungkin tak terlalu penting bagi orang-orang penting yang sedang fokuskan perhatian serta energi menghadapi pemilihan umum kepala daerah di sejumlah tempat di beranda Flobamora. Boleh jadi kabar itu tak menarik bagi mereka yang sedang terpukau oleh sinetron politik Bank Century yang saban hari menghiasi layar televisi.
Di Kabupaten Sikka, manajemen RSUD TC Hillers Maumere kewalahan melayani pasien suspek DBD (demam berdarah) dan penyakit lainnya yang masuk ke rumah sakit itu. Jumlah pasien sudah melebihi kapasitas rumah sakit. Tempat tidur tak lagi cukup bagi pasien tetapi mereka mau bertahan untuk mendapatkan perawatan.

Horor



DI Muara Tanjung Barat, Jakarta Selatan tiga ratus perempuan rela sesak berdesak demi muara perbaikan nasib. Mereka kehilangan sebagian kebebasannya. Tak bebas pergi ke mana-mana bahkan sekadar belanja lipstik dan bedak. Empat bulan menanti. Muara kepastian itu tak pernah datang. Mereka meratap!

"Horor" kembali menimpa calon tenaga kerja wanita (TKW) kita. Sebanyak 300 orang TKW asal Nusa Tenggara Timur (NTT) "terkurung" selama empat bulan di tempat penampungan PT Mitra Makmur Jaya Abadi (MMJA) di Jl. Muara Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Perusahaan pengerah tenaga kerja tersebut telah memberikan pelatihan keterampilan. Namun, perusahaan belum bisa memastikan jadwal keberangkatan ke negara tujuan karena terkendala urusan birokrasi berbelit-belit.

Copas



POSISINYA tidak mencolok mata. Tidak eye catching menurut terminologi media. Agak tersudut di pojok halaman terujung. Sekilas lihat bisa terlewatkan. Jika tak cermat gagal jumpa. Kalimatnya singkat, padat dan jelas. Isinya kurang lebih demikian. "Konsultasi skripsi dijamin tuntas sepekan. Jl. Duren III Gg Rona No. 2. Hub Dimas 081335667xxx. Tarif nego."

Skripsi tuntas dalam sepekan. Waw? Iklan baris itu beta temukan di sebuah koran harian yang bermarkas di salah satu kota pelajar di Pulau Jawa. Setelah ditengok ternyata tidak cuma satu iklan. Masih ada beberapa yang menawarkan jasa sejenis. Bukan cuma skripsi. Mereka bahkan menawarkan bantuan untuk tesis. Wuih!

Thomas



"JADI begitu bapa mama. Kami ke sana naik pesawat Boeing yang besar sekali. Kami ada lima belas orang termasuk Bapa Ketua Dewan dan Pak Kadis. Acara kami di sana berjalan lancar tanpa kendala." Pria bersafari dan memakai kaca mata minus itu bicara dengan nada bariton meyakinkan di balai desa.
Pendengarnya adalah orang kampung, sebagian besar dari mereka, baik pria maupun wanita memakai kain dan sandal jepit. Umumnya berbibir merah akibat siraman rutin limbah sirih pinang. Orang kampung tampak angguk-anggukkan kepala. Spontan memompakan semangat bicara bagi pria bersafari tadi.

Kampung



MALAM itu di beranda rumah tua warisan leluhur, kutatap bulan di langit bening. Semilir dingin bayu dari selatan menebarkan aroma gunung. Sungguh melonggarkan rongga dada. Bulan sedang meluluhkan seluruh raganya ke bumi, menerangi halaman rumah berdinding bambu. Sunyi!
Ketenteraman memang terasa di sini. Di kampung terpencil ini. Alangkah damai. Tapi kurasakan secuil kehilangan. Dulu saat purnama tersenyum, anak-anak bermain petak umpet. Perawan dan perjaka bersenandung di pojok kampung. Pantun berbalas pantun. Syahdu merindu. Ada nada syukur dan puji. Kepasrahan kepada sang Dia. Juga syair cinta monyet.

Museum



HARI menjelang remang di Marienplatz, jantung Kota Munich. Batin telah lama bergumam, pulanglah ke hotel sekarang! Hampir seharian menikmati kejayaan negeri orang. Tapi kaki tak hendak beranjak. Sontak teringat pesan seseorang menjelang keberangkatan ke Jerman. Jangan lupa lihat museumnya!
Sekali lagi kutengok peta di tangan. Oh.. Marienplatz memang pantas disebut jantung ibukota Bavaria. Tempat interaksi sosial penduduk kota dan manusia berbeda benua. Lokasi paling ideal untuk sekadar kongkow, mejeng atau jalan jalan sore. Inilah pusat keramaian Munich, kota metropolis terbesar ketiga di Jerman. Inilah city center Munich sejak tahun 1158.

Pajak



SETELAH Petrus, bangsa Merah Putih yang suka membuat akronim kini melambungkan Markus. Di zaman Soeharto penembak misterius disapa Petrus. Sekarang di zaman Reformasi, makelar kasus dipanggil Markus. Dulu Markus kini Petrus. Tapi yang lebih menjulang sepekan ini pastilah Gayus. Gayus Pajak!
Ya, nama Gayus Tambunan sungguh mencoreng institusi pajak yang bulan Maret ini getol mengimbau bahkan berkali-kali mengingatkan seluruh rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat sesuai UU untuk bayar pajak agar menyerahkan SPT Tahunan. Deadline tinggal dua hari. Ingat dua hari lagi, 31 Maret 2010.
Dari pemberitaan media massa, tuan dan puan pastilah sudah tahu secuil duduk perkara kasus Gayus Tambunan. Pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak itu telah melarikan diri ke luar negeri (Singapura) setelah mendapat vonis bebas dari Pengadilan Negeri Tangerang.

Brengsek



BCA- Transfer BERHASIL 31/03 18:50:38. No Urut 0400. Rp 100,000,000,- Ref 1221008899. Berita: Titipan dari Gayus Tambunan, Jangan boros-boros Ya! Isi pesan singkat berantai dari seorang teman itu sungguh membuatku terbahak.
Gayus Tambunan yang namanya menjulang dalam dua pekan terakhir rupanya telah menginspirasi beberapa orang untuk mengekspresikan kegundahan mereka sebagai anak "bangsa juara korupsi" ini secara jenaka. Boleh jadi tuan dan puan pernah menerima pesan singkat atau SMS serupa.
Ya, siapa tak kenal Gayus Tambunan? Dia pegawai negeri golongan III A, masa kerja kurang dari sepuluh tahun. Punya rumah mewah dan uang di sejumlah rekening sekitar Rp 28 miliar. Pegawai pajak itu sempat jalan-jalan ke Singapura bersama keluarga saat kasusnya mengemuka dan kini menjalani proses hukum di Jakarta berkaitan dengan kasus dugaan penggelapan pajak dan makelar kasus.

Selasa, 25 November 2014

Negara



PUKULAN bertubi-tubi, tendangan berkali-kali serta hantaman batu kayu, parang dan belati entah dari siapa membuat Ahmad Tajudin (26) sesak napas. Hanya dalam hitungan detik Tajudin mati bersimbah darah. Sekujur tubuhnya penuh bilur-bilur luka. Peti kemas menggunung di Tanjung Priok menjadi saksi bisu, Tajudin mati ketika menjalankan tugas atas nama negara.
Hari itu Rabu 14 April 2010, Aida Afriyanti (23) kehilangan sang kekasih. Tajudin dan Aida sudah pesan cincin kawin. Rencana mereka naik pelaminan tepat tanggal 10-10-10 (2010) remuk berderai. "Itu semua tinggal kenangan," kata Aida sambil terisak saat mengantar jenazah kekasihnya menuju liang lahat. Aida-Tajudin sungguh mengalami tragedi kasih tak sampai karena kematian.

Kupangku

SEORANG kawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kota Kupang beberapa waktu lalu sempat merepotkan beta. Setelah tiga hari berada di ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini dia percaya diri untuk jalan-jalan sendiri dengan sepeda motor. "Bung, ternyata kotamu tidak seberapa luas. Kupang ini sama dengan kota kecamatan di Pulau Jawa," kata Joko, nama kawanku itu.
Wuih...Joko anggap remeh betul kota terbesar di Flobamora. Beta mau protes tapi niat itu kuurungkan karena khawatir dia tersinggung. Tiga jam kemudian tiba-tiba telepon genggamku berdering. Telepon dari Joko. Waktu pukul 20.23 Wita. "Bung, saya tidak tahu berada di daerah mana nih. Tolong kasih petunjuk dulu, saya mau pulang ke Kolhua," katanya dari balik telepon. Beta terbahak. Su rasa!
Mau tahu mengapa dia tersesat? Setelah puas pelesiran sepanjang pantai Kota Kupang mulai dari kawasan kota lama sampai Lasiana, Joko pulang ke perumahan Kolhua. Tiba di kawasan Maulafa perjalanannya terganggu karena jalan ditutup warga di sana yang sedang menggelar suatu acara. Dia diarahkan melewati jalan alternatif. Karena belum hafal jalur jalan, dia berputar-putar saja di kawasan Maulafa-Tofa. Setengah jam berlalu dia mulai cemas lalu menelepon beta.

Ruwaida



DI ruang pemeriksaan kesehatan pasangan suami itu tidak bertegur sapa. Mereka seolah orang asing satu sama lain. Istri membuang muka ketika berpapasan dengan suami. Demikian pula sebaliknya. Pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) telah menempatkan mereka dalam posisi berseberangan. Mereka berperang!
Peristiwa unik ini terjadi di RS Aloei Saboe, Kota Gorontalo 15 April 2010. Pasangan suami istri itu adalah Ruwaida Mile dan Ismet Mile. Keduanya merupakan Calon Bupati Kabupaten Bone Bolango, Propinsi Gorontalo dari partai berbeda. Ruwaida yang menjabat Ketua Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) maju berpasangan dengan bupati Haris Hadju. Sedangkan Ismet yang menjabat Ketua Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) menggandeng Ibrahim Dau.

Ase



DALAM perjalanan di tengah renai hujan Maumere-Ende akhir pekan lalu, wartawan Pos Kupang, Aris Ninu mampir di Ase. Dua bangunan di sana rupanya menggugah dahaga jurnalistiknya.
Sejenak Aris tertegun memandang Kapela St. Martinus warisan mendiang Pastor Thedorus Visser, SVD (terakhir Pastor Paroki Watuneso) yang berdiri kokoh di Ase. Di samping kapela tergolek gedung sekolah reot. Sekolah Dasar Katolik (SDK) Ase. Usianya lebih dari 50 tahun!
Letak sekolah ini sangat strategis. Persis di tepi jalan trans utama Flores, jalur Maumere-Ende. Hanya sekitar satu setengah kilometer dari gerbang perbatasan antara Kabupaten Ende dan Sikka serta cuma 2 km dari Kantor Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende yang berdiri anggun di ujung lapangan Ae Petu.

Akan



MARI sejenak bermain-main dengan angka. Angka pemilu kada musim 2010 di beranda Flobamora. Enam kabupaten, 44 paket. Sebanyak 88 orang pria dan wanita dewasa bertarung merebut 12 kursi! Kursi bupati dan wakil bupati.
Luar biasa pemilu kada 2010 di Nusa Tenggara Timur. Dibandingkan pilkada langsung musim lalu jumlah pasangan calon yang maju tahun ini merupakan rekor baru. Semakin banyak saja orang kita yang merasa layak dan pantas menjadi kepala wilayah. Membanggakan. Nikmat kuasa memang tiada duanya.
Sebanyak-banyaknya paket calon tak ada yang mampu menandingi rekor Kabupaten Manggarai yang memanggungkan sembilan pasangan calon. Sumba Barat, Manggarai Barat dan Ngada tak kalah gemuk, masing-masing dengan delapan paket calon. Sumba Timur dan Flores Timur relatif ramping, cuma lima dan enam paket saja. Jumlah 44 paket di atas belum termasuk Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Sabu Raijua yang belum begitu jelas batang hidung para kandidat yang siap maju ke medan laga pemilu kada.

Rongo



HADIAH terindah pada Hari Kebangkitan Nasional yang sunyi sepi tahun ini ternyata sebuah kandang. Kandang wawi, manu dan rongo. Sebelum tuan dan puan bingung, baiklah beta jelaskan dulu kata asing itu. Wawi, manu dan rongo adalah salah satu bahasa daerah Flobamora yang artinya, babi, ayam dan kambing!
Di Maumere-Flores seorang istri terpaksa tidur di kandang babi karena tak tahan terhadap siksaan fisik suaminya. Di Pamekasan, Madura satu keluarga beranggotakan lima orang tinggal berhimpitan di bekas kandang ayam berukuran 3x4 meter persegi. Dan, di Tangerang, persis di depan hidung Istana Presiden RI, nenek Ida (72) menghabiskan masa tua di dalam kandang kambing.

Rossi



ANDAIKATA Sensus Penduduk 2010 ikut mencacah jumlah pendekar mabuk, beta bisa pastikan jumlahnya telah bertambah dibandingkan keadaan sepuluh tahun lalu. Betapa tidak. Saban hari semakin kerap saja pendekar mabuk mati di jalanan atau mati di rumah sakit setelah beberapa saat merasa mual, muntah, mata kabur dan pingsan.
Pekan lalu enam orang muda di Bali tewas mengenaskan setelah pesta minuman keras (miras) oplosan. Enam korban itu berasal dari berbagai tempat di Bali seperti Badung, Tabanan dan Denpasar. Mengutip laporan Kompas (26/5/2010), keenam korban itu adalah I Nyoman Sapta (27), I Nyoman Budhiarta (25), Anton (25), Risky Gandarika (18), Made Sudarsana (30) dan Aan Sudarta (45). Para korban rata-rata berusia produktif.

Susana



SUSANA Nome telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tak mau makan dan minum sejak rumahnya dibongkar paksa Satpol PP Kota Kupang dengan alasan pembangunan RSU Kota Kupang 11 Mei 2010. Bak disambar petir di siang bolong, rumah yang ditempati sejak 1990 rata dengan tanah tak tersisa apapun. Karena alasan "pembangunan" rakyat jadi korban. Selamat jalan Mama Susana.
Demikian pesan singkat (SMS) yang masuk ke ponselku pekan lalu. SMS dari sejumlah teman di Kota Kupang. SMS berantai ini mungkin juga masuk ke ponsel tuan dan puan. Terkejut? Ya pastilah. Tidak dinyana, penggusuran rumah di Pasir Panjang awal Mei 2010 menyisakan kisah pilu tentang Susana.
Nenek Susana (83) meninggal dunia hari Kamis 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.00 Wita di dalam tenda yang dijadikan rumah di lokasi bekas penggusuran. Beberapa saat kemudian jenazah Susana baru dibawa ke rumah Sius Tabun di RT 10b RW 04, Kelurahan Oepura, Kota Kupang.

Bolakada


MUMPUNG lagi demam kejuaraan sepakbola Piala Dunia 2010, maka izinkan beta hari ini menyapa tuan dan puan dalam bahasa bola saja. Toh bahasa bola itu bahasa makhluk bumi. Bahasa yang mudah dimengerti oleh umat manusia sejagat.
Kalau di Afrika Selatan demam bola baru saja dimulai sejak tiga hari lalu, kita yang menghuni beranda rumah Nusa Tenggara Timur sudah lama mengalami demam. Namanya demam pemilu kada yang bergulir sejak awal tahun hingga babak final 3 Juni 2010. Maklum kompetisinya berlangsung sangat seru.
Sudah menjadi rahasia umum dari enam partai final pemilu kada Flobamora musim ini baru lima partai yang terselenggara. Satu partai final tertunda gara-gara pemain, wasit, asisten wasit dan pengawas pertandingan `bakulipat' sendiri sehingga terjadi kericuhan. Partai final di ujung timur Flores sana tertunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Ya sudah. Tunggu saja ending-nya seperti apa!

Angka 17



DALAM sepuluh bulan 17 orang tewas di lubang mangan. Apakah ini sekadar angka tak bermakna? Begitu isi pesan pendek yang beta terima akhir pekan lalu dari seorang teman. Beta tersentak. Pesan itu menikam kesadaran.
Sungguh mati, beta mungkin sama dengan tuan dan puan yang selama ini menganggap kematian di lubang mangan sebagai peristiwa biasa. Pesan pendek itu menggugat sikap kebanyakan kita yang melihat angka sekadar angka. Tanpa usaha memahami sesuatu yang lebih penting di balik angka-angka tertentu.
Sahabatku itu mengirim pesan setelah dia membaca berita tentang kematian tiga warga Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di lubang mangan 15 Juni 2010. Para korban adalah warga Desa Bakitolas, TTU, yaitu Oktovianus Sasi (38), Feliks Teti (40) dan Marsel Lafu (52). Ketiganya tertimbun tanah longsor saat menggali mangan pada kedalaman tujuh meter.

Uruguay



KETIKA menonton siaran langsung laga pembukaan Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko 11 Juni 2010 yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berkata demikian. "China juga tidak masuk (Piala Dunia 2010), bukan?" Pernyataan presiden itu bukan tanpa makna.
Bagi tuan dan puan yang menggemari cabang olahraga sepakbola atau peduli terhadap olahraga umumnya, pernyataan ini merupakan gurauan paling serius tentang sepakbola Indonesia yang belum mampu membentuk tim bergengsi dari negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa.
Gurauan itu melahirkan pertanyaan menarik, tepatkah membanding-bandingkan jumlah penduduk dengan prestasi sepakbola sebuah negara? Mari kita bandingkan dengan Uruguay, negara pertama yang lolos ke perempatfinal Piala Dunia 2010.

Gelap



TUAN dan puan kiranya masih ingat film serial Baywatch yang ditayangkan salah satu stasiun televisi Indonesia beberapa tahun silam. Serial ini pertama kali diluncurkan tahun 1989 dan tayang secara mingguan di stasiun televisi NBC. Di luar dugaan film yang diilhami dari cerita Greg Bonnan itu sangat populer dan bertahan selama sepuluh tahun lebih. Bahkan Baywatch -- termasuk spin-off berjudul Baywatch Night ditayangkan di lebih dari 140 negara termasuk Indonesia.
Pada tahun 2001 tayangan serial Baywatch dihentikan setelah jumlah penonton di Amerika Serikat (AS) menurun hingga 1,9 juta per minggu. Namun, pada tahun 2006 kisahnya kembali diangkat ke layar lebar. Tidak tanggung-tanggung. Untuk membuat kisah yang lebih seru dan menarik produser menunjuk Steven Spielberg sebagai sutradara.

Guru Tomi



GURU Tomi kesal sekali. Pada bulan April 1979 itu untuk kesekian kalinya dia mendapatkan jatah beras kotor penuh butir-butir pasir hitam dan debu gudang Dolog. Sesuai jumlah anggota keluarga yang diakui negara kala itu, selain gaji sebagai PNS, Guru Tomi dapat jatah beras 50 kg per bulan.
Setelah dibersihkan dengan telaten oleh istri, anak dan para keponakannya, beras bersih yang bisa dikonsumsi keluarga Guru Tomi sekitar 35 kg. Sisanya pasir dan debu. Guru Tomi tak lupa meminta sang istri menyimpan beras kotor sekitar 2 kg. "Pokoknya mama simpan saja di tempat aman, jauh dari jangkauan anak-anak," jawab Guru Tomi saat istrinya bertanya untuk apa simpan beras kotor itu.
Tomi, seorang guru SD di pedalaman Lio Kabupaten Ende, Flores, NTT yang punya kebiasaan membuat catatan harian lalu menulis demikian. "Tahun 1979 ini sudah tiga kali kami guru-guru di kampung dapat beras kotor yang hanya cocok untuk ayam. Tahun lalu empat bulan kami terima beras kotor, yaitu bulan Maret, Juni, Agustus dan September. Guru-guru tidak boleh diam saja. Bupati harus tahu!"

Palsu



Paul kesal dan sewot. Sebab gara-gara sakit perut itu dia kehilangan konsentrasi mengikuti pelatihan yang sangat penting di Kota Pahlawan Surabaya. Paul coba mencari tahu musababnya. Dia menduga kemungkinan makanan atau minuman yang disiapkan hotel tempat pelatihan berlangsung kurang higienis sehingga ususnya menjerit. Tapi dugaan itu mendadak sirna karena peserta lain tidak mengalami serangan serupa. Apalagi agak mustahil hotel kelas bintang tiga menyajikan makanan yang membuat tamu sakit perut. Kalaupun ada tentu sangat langka terjadi. Hotel berbintang sangat menjaga kualitas pelayanan mereka.

Matahari



TUGAS paling berat bagi kami sekarang adalah mencari matahari. Tutur seorang petani asal Mangulewa, Kabupaten Ngada, NTT medio pekan lalu. Mencari matahari, ah mana mungkin? Bukankah matahari tak perlu dicari karena salah satu tanda kemahakuasaan Tuhan itu selalu datang secara alamiah setiap hari hingga kita mengenal siang dan malam?
Tapi begitulah yang sedang terjadi di sejumlah tempat di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan ini termasuk di wilayah Mangulewa. Hampir sepanjang tahun 2010 matahari merupakan kemewahan bagi petani Mangulewa, Mataloko dan sekitarnya. Meskipun dataran tinggi di Ngada itu selalu berkabut tetapi pada bulan Juni, Juli hingga Oktober biasanya selalu diterangi sinar matahari yang cukup. "Nah tahun ini hanya ada hujan sepanjang waktu. Jadi repot sekali," kata Gerardus, nama petani tersebut.

Pong



SPIDERMAN tua beraksi di Senayan. Dia gesit merayap tanpa sepengetahuan petugas keamanan. Di atas kura-kura raksasa bernama Gedung Nusantara, Spiderman menulis tiga kata: Jujur, Adil, Tegas. Mereka Yang Terhormat (Yth) terkejut dan marah! Tuan dan puan pasti sudah tahu apa yang hendak beta ceritakan. Beta sekadar merangkai ulang aksi aktor senior Pong Hardjatmo yang menghebohkan Indonesia, Jumat 30 Juli 2010.
Hari Jumat itu sekitar pukul 11.00 WIB gedung Nusantara yang atapnya mirip kura- kura lengang. Pria berusia 68 tahun ini menuju atap tanpa hambatan. Luput dari perhatian petugas keamaan gedung DPR/MPR RI. Sesampai di atap dia membuat coretan dengan cat pilox warna merah tiga kata di atas. Para fotograferlah yang pertama kali melihat aksi Pong. Mereka pun mengabadikan aksinya. Jreet...jrett... jrett! Setelah tahu kecolongan, petugas keamanan buru-buru menurunkan Pong dari atap dan meminta keterangan. Pong bahkan sempat diamankan dan diperiksa di pos polisi Kompleks Parlemen Senayan.

Amnesia


SEORANG teman dari Manado, Sulawesi Utara bercerita tentang pemilu kada yang baru saja berlangsung di daerah nyiur melambai itu. Menurut dia, praktik bagi-bagi duit untuk meraih dukungan suara rakyat tersaji secara telanjang.
Acara menebar uang bahkan diperagakan sejumlah kandidat tanpa risih di depan rumah ibadah -- memanfaatkan kerumuman massa yang sedang menunaikan ritual keagamaan mereka. "Seorang calon konon menghabiskan sekitar tiga miliar rupiah untuk proyek bagi-bagi uang itu," kata kawan yang berprofesi sebagai jurnalis.

Merdeka



MERDEKA! Tak terasa usia negara tercinta bertambah satu tahun lagi. Kali ini kita merayakan hari ulang tahun ke-65 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selamat ulang tahun tanah tumpah darah. Semoga bahagia selalu dan panjang usia.
Tuan dan puan bahagia sebagai orang Indonesia? Silakan jawab sendiri. He-he-he. Beta sendiri bahagia untuk dua alasan. Pertama, bahagia lahir di sebuah kampung udik di Pulau Flores. Flores itu bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dan, NTT merupakan bagian dari NKRI. Jadi, kalau beta pegang kartu tanda penduduk (KTP) atau pasport berlogo burung Garuda itu sah dan diakui dunia internasional.

Barbar


SELASA, 6 Juli 2010. Dua bom molotov meledak di Kantor Majalah Tempo di Jalan Proklamasi No. 72 Menteng- Jakarta Pusat. Bom dilempar dua orang tak dikenal sekitar pukul 02.40 WIB. Bom meledak tepat di kaca depan kantor Tempo. Bom dilempar dari jarak sekitar 10 meter.
Satpam melihat dua orang mengendarai sepeda motor bebek, pakai jaket gelap dan menutup wajah dengan helm. Tidak ada korban jiwa, namun pelemparan bom itu merupakan teror terhadap pers. Bom itu meledak hanya beberapa hari setelah Majalah Tempo menurunkan liputan utama tentang Rekening Gendut milik sejumlah perwira polisi. Sampai detik ini polisi belum mengungkap siapa pelempar bom. Zero progress. Tidak ada perkembangan sama sekali!

Falungku


MESTINYA kita lebih lama dijajah Jepang daripada Belanda. Tiga ratus lima puluh tahun dijajah Belanda bangsa kita hanya dibuai dan dimanja-manja. Jepang mendidik pakai falungku (pukulan) dan sepak tulang kering. Nah itu baru cocok membentuk mental tempe macam bangsa kita. Wow!
Begitu kalimat pembuka seorang kawan saat diskusi sekenanya saja sambil makan jagung bakar di trotoar El Tari-Kupang tentang makna kemerdekaan RI baru-baru ini. Teman berpembawaan nyentrik itu melanjutkan, "Seandainya Jepang menjajah kita lebih dari 25 tahun, saya sangka mereka akan mewariskan etos kerja sekuat baja. Dengan etos kerja seperti itu Indonesia akan lebih cepat maju. Tidak terpuruk rapuh seperti sekarang."

Suanggi

"OBAT yang dokter kasih tempo hari saya sudah minum semua. Tapi sudah dua bulan ini saya tidak sembuh-sembuh juga. Saya sudah bilang, saya ini tidak sakit apa-apa. Saya kena suanggi, dokter! Jadi, jangan kasih saya obat lagi."
Dokter muda itu sesaat bingung harus menjawab apa. Pasien pria paruh baya yang duduk di depannya mati-matian berdalih bahwa dia tidak sakit. Dia batuk berkepanjangan sampai rongga dada terasa mau pecah semata akibat suanggi dari tetangganya di kampung. Tetangganya itu iri hati atas keberhasilannya dalam berkebun dan beternak.
Setelah mendengar keluhan pasiennya, Rita, dokter PTT yang baru bertugas kurang dari enam bulan di sebuah Puskemas di pedalaman Pulau Flores itu berusaha memberi penjelasan yang masuk akal.

Berangkat

EMPAT anggota Dewan yang Terhormat (Yth) asyik bercengkerama di tengah hiruk-pikuk antrean penumpang yang check in di terminal I B Bandara Soekarno Hatta-Jakarta pagi itu. Sambil menunggu giliran check in mereka bercerita tentang jatah perjalanan mereka sebagai wakil rakyat.
"Saya masih punya enam jadwal perjalanan tahun ini. Saya pakai baru tiga," kata seseorang di antara mereka. Nada suaranya cukup keras sehingga orang lain di sekitarnya mendengar termasuk beta yang pagi itu masih agak mengantuk.

Calo

"SORRY berat ka'e, saya lagi ada masalah. Nanti kutelepon balik ya. Saya baru saja tampar orang di terminal!" Tit...tit...tit... Tak ada lagi nada sambung. Telepon seluler mendadak putus. Jawaban sepotong via telepon dari sepupuku itu membuat beta penasaran.
Gawat! Ini anak cari masalah lagi. Mengapa tampar orang di terminal? Mengapa kebiasaannya suka bakupukul di kampung dulu belum hilang jua. Jangan-jangan dia sudah dikeroyok massa. Jangan jangan sekarang dia terkapar mandi darah di salah satu rumah sakit di Jakarta, Bogor atau Bandung? Kalau benar demikian, kasihan istri dan anaknya yang masih balita.

Bosan!

SATU kali WO, dua kali mogok, hampir saban hari protes dan ribut terhadap keputusan wasit. Penonton bawa batu ke dalam stadion. Jika tidak puas mereka bakulempar. Bersimbah darah! Polisi dan Pol PP menonton atau amankan penonton?
Demikian sekilas info tentang kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup 2010 yang hari-hari ini masih bergulir di Kota Kupang. Bagi tuan dan puan penonton setia di Stadion Oepoi, Stadion Merdeka atau Lasitarda-Kupang sekilas info ini tergolong basi karena apa yang beta sebutkan di atas sudah tuan dan puan saksikan sejak kejuaraan ini bergulir.
"Bosan! Mulai besok saya tidak nonton lagi. Kalau begini terus kapan sepakbola NTT bisa maju?" kata seorang penggemar bola saat melihat 'keributan' dalam laga Persena Nagekeo melawan Persesba Sumba Barat di Stadion Oepoi, 23 September 2010.

Uablaban


"Oslan teabenat kiunnan baefnen
On nanat kaisam tokom, em hat nao ha taim kiu bafe'
Kiubaef'a nok unsam masi'at minna kah, masit islaut fin
Me han nes nanit, le' mitman kiubaefina sina `loemkina"

APA makna kalimat di atas? Mohon maaf, beta pun tidak tahu. Soalnya bukan bahasa ibuku. Itu bahasa ibu Prisco Virgo, penutur asli bahasa daerah Timor yang baru saja meluncurkan buku berjudul UBI. Singkatan dari Uablaban Bahasa Ibuku. Edisi terbatas buku ini terbit bulan Agustus 2010.
Coba tuan dan puan simak sekali lagi empat kalimat di atas. Lihat kata yang dicetak tebal. Pada kalimat baris pertama ada kata kiunnan dan baefnen. Pada kalimat baris kedua, dua kata itu berubah jadi kiu bafe'. Pada kalimat baris ketiga, dua kata itu malah bersatu menjadi kiubaef'a. Dan, pada kalimat baris keempat, dua kata yang sama berubah lagi menjadi kiubaefina.

HPN Kupang

"DATANGLAH ke kampung kami. Anda akan menghirup wangi cendana. Melihat biawak komodo, indahnya Danau Tri Warna Kelimutu dan menikmati syahdunya musik sasando. Datang dan lihatlah daerah kami. Tanpa Nusa Tenggara Timur (NTT), tak ada Indonesia!"
Kata-kata pembuka dari Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun disambut aplaus panjang para tokoh pers nasional yang memenuhi Ballroom Hotel Atlet Century Park, Senayan-Jakarta, Selasa malam 28 September 2010. Malam itu Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar acara halal bi halal dengan tema Silaturahmi Masyarakat Pers. Selain bersilaturahim agenda yang dibahas yaitu persiapan penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011 di Kupang, Ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Copiapo

PADANG gurun Atacama yang sunyi mendadak gemerlap. Dusun Copiapo sontak menjadi pusat perhatian dunia. Sekitar 5.000 orang, termasuk 2.000-an jurnalis dari berbagai negeri menyerbu Copiapo. Mereka melaporkan kisah kemanusiaan paling heroik abad ini dengan bintang utama bernama Sebastian Pinera!
Chile menginspirasi dunia! Begitu judul besar dalam buku sejarah umat manusia yang ditulis dengan tintas emas pada 13 Oktober 2010. Inspirasi itu niscaya akan bertahan lama. Menjadi sumber referensi bagi spirit pro kehidupan. Bahwa nyawa manusia sungguh tak ternilai harganya. Tidak bisa ditakar atau ditukar dengan uang, kekuasaan atau ukuran apapun yang dikenal manusia.

Dikte

INDONESIA adalah negeri seribu sumpah. Tapi hanya tiga sumpah yang paling terkenal. Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda dan Sumpah Jabatan. Sumpah Palapa menyatukan Nusantara. Sumpah Pemuda melahirkan Indonesia Raya. Sumpah Jabatan? Lucu, orang dewasa masih mau didikte seperti murid TK!
Eitt...jangan marah dulu kawan. Mari kita bedah satu persatu. Jika tuan membuka kembali buku sejarah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang berawal dari sumpah. Tahun 1336 Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Sumpah itu diucapkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit tahun 1258 Saka atau 1336 Masehi.

Gerakan Sadar Tsunami


MULUTMU harimaumu. Begitu kata pepatah. Mulut salah seorang pemimpin formal negeri ini seolah memuntahkan "lahar panas" bagi Indonesia yang sedang bermuram durja akibat banjir Wasior, tsunami Mentawai dan erupsi Merapi.
Hari Rabu 27 Oktober 2010 atau dua hari pasca tsunami di Kepulauan Mentawai, Ketua DPR RI, Marzuki Alie mengatakan, bencana alam seperti tsunami merupakan risiko warga yang tinggal di pulau seperti Mentawai. Jika tidak ingin menghadapi risiko itu, sebaiknya pindah. "Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah," kata Marzuki enteng.
Kalau menuruti cara berpikir Marzuki, maka puluhan juta jiwa penduduk Indonesia yang kini mendiami ribuan pulau kecil di seantero Nusantara harus pindah demi terhindar dari tsunami. Pindah ke mana? Ke Pulau Jawa yang sesak berdesak, ke Kalimantan yang menggundul, Sulawesi dan Sumatera yang langganan banjir atau Papua yang kekayaan alamnya terus dikuras dan diperas? Apakah perpindahan itu otomatis menyelesaikan masalah? Cara berpikir pemimpin lembaga terhormat di ini negeri sungguh menggampangkan persoalan.

Judi


SEPULUH tahun mereka hidup bersama sebagai suami istri dengan dua orang anak. Lima tahun pertama, mereka sungguh menikmati kebahagiaan. Prahara datang di tahun ketujuh. Tahun kesepuluh, pernikahan mereka bubar gara-gara judi!
"Semula dia hanya iseng bermain judi kartu dengan teman-temannya di saat senggang. Waktu itu saya anggap wajar saja. Lama-kelamaan dia ketagihan. Uang gaji bulanan tak pernah saya terima dalam jumlah utuh. Ada saja alasannya. Saya masih bersabar, termasuk saat dia diam-diam menjual perhiasan saya. Tapi sewaktu dia menjual mobil dan rumah kami bahkan cincin pernikahan untuk modal berjudi, saya kira pernikahan kami telah berakhir. Biarlah kami hidup sendiri-sendiri. Dua anak ikut bersama saya."

Senin, 24 November 2014

Mengawal Program Jokowi-JK

Jokowi dan Ahok (ist)
PEMERINTAHAN baru di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi)  dan Wakil Presiden Jusuf Kalla langsung menggulirkan beberapa program pro rakyat yang oleh beberapa kalangan dilukiskan sebagai Tiga Kartu Sakti Jokowi.

Pertama, Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera. Itu merupakan. bantuan tunai dalam bentuk simpanan bagi masyarakat kurang mampu melalui layanan keuangan digital (LKD) dan simpanan giro pos yang diakses menggunakan kartu keluarga sejahtera (KKS). Kartu HP (sim card) untuk layanan keuangan digital.

Kedua, Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kartu ini sebagai penanda dan digunakan untuk mengakses keberlanjutan pendidikan sampai jenjang SMA/SMK/MA dan memperoleh bantuan tunai untuk kebutuhan personal pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Ketiga, Kartu Indonesia Sehat yakni pemberian jaminan kesehatan melalui BPJS kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.

Rabu, 19 November 2014

Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa


cover depan
PERS selama ini telah membuktikan dirinya sebagai pencatat perjalanan sejarah dan peradaban manusia. Pers Indonesia pun demikian dan pada setiap zaman masyarakat selalu menuntut pers sebagai penyulam dan penyambung kepentingannya.

Untuk keempat kalinya, komunitas pers Indonesia yang bergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menerbitkan buku. Buku tersebut diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Jambi yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 Februari 2012.

Buku setebal 216 halaman yang berisi catatan wartawan anggota PWI terhadap beragam isu aktual di daerah tersebut diberi judul: Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa. Buku tersebut termasuk dalam 22 judul buku karya wartawan dan tokoh pers nasional yang peluncurannya ditandai dengan penyerahan secara simbolis kepada Presiden SBY oleh Ketua Umum PWI Pusat, Margiono di Jambi 9 Februari 2012.

Pangan dan Hukum SPITZ


Oleh Tony Kleden

SALAH satu bencana kelaparan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1846 - 1850 di Irlandia. Ladang kentang yang merupakan makanan pokok warga gagal panen akibat hama. Kejadian itu jelas merupakan bencana alam. Tetapi kematian sekitar 2 juta orang akibat kelaparan itu jelas bukan sekadar bencana alam.
Selama bencana kelaparan itu, sebenarnya ada cukup makanan untuk memberi makan dua kali jumlah penduduk yang berjumlah 8 juta orang. Tetapi ekspor besar-besaran bahan makanan mulai dari gandum, oat, barley (jenis gandum yang dipakai untuk membuat bir), ternak, telur dan mentega berlangsung terus. Gandum dan barley dianggap sebagai hasil bumi perdagangan dan hanya ditanam untuk ekspor. Petani Irlandia tidak pernah memakannya karena mereka hanya bekerja untuk tuan tanah.


Sampai sekarang, di negara-negara berkembang pun para petani masih juga belum beruntung nasibnya. Sungguh sangat ironis, para petani yang adalah penghasil pangan manusia adalah kelompok pertama yang menderita kelaparan. Tentu banyak sebab dan alasan mengapa kaum petani dalam sejarahnya selalu berada pada posisi kurang beruntung, meski -- sekali lagi-- mereka adalah produsen pangan dunia. Kelaparan, gizi buruk, gizi kurang, nyatanya, lebih banyak menimpa para petani.

Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan




Judul                  : Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan
Penulis               : Dion DB Putra
Penyunting        : Usman Yatim
Desain Cover    : Apat Supriyono
ISBN                 :  978-602-7936-16-4
Cetakan I          :  Tahun 2014
Penerbit             :  RMBOOKS Jakarta Bekerjasama dengan Panitia HPN 2014 dan Pengurus PWI Pusat
Peluncuran      : Bengkulu, 9 Februari 2014.


Membincangkan Politik Tanpa Harus Berkerut Dahi

Oleh  Dr Usman Yatim *

Pemilihan raya, pemilihan umum untuk legislatif, presiden dan wakil presiden kembali segera digelar. Hingga kini memasuki tahun politik, tahun pesta demokrasi. Hingar bingar politik 2014 akan lebih menggema dibandingkan 2009. Pertarungan berlangsung antara calon lama dan baru untuk wakil rakyat serta orang baru untuk presiden dan wapres. Bagaimanakah kira-kira keramaian politik pemilu kali ini?

"Tanpa duit, tak ada pintu. Tanpa uang, tak mungkin "jual diri" kepada konstituen. Tanpa uang mana mungkin mampu berkeliling tanpa rasa lelah dari pulau ke pulau, kota ke desa, turun gunung dan lembah demi "unjuk muka" dan "cari muka" kepada rakyat." Itulah antara lain menurut Dion DB Putra, merekam peristiwa pemilu (pemilihan umum) dan pilkada (pemilihan kepala daerah) di Nusa Tenggara Timur.

Paha


"OM mau paha atau dada?" kata nona baju merah sambil melempar senyum. "Paha nona," kata si Om singkat. "Baik Om, mohon sabar sedikit." Tidak lebih dari 10 menit nona baju merah telah siap menyajikan paha yang langsung 'dilahap' si Om berkepala botak dengan semangat tinggi. Keringatnya bercucuran dan sesekali mata si Om terpejam. Nikmat!
Hussh! Pikiran tuan dan puan jangan ke mana-mana dulu. Paha atau dada itu beta tangkap dari sepenggal obrolan antara nona berbaju merah dengan seorang pria paruh baya saat makan siang di sebuah rumah makan sederhana di Kota Kupang pekan lalu.

Ania


KUPANG medio November. Ania menyeka dahinya di bawah guyuran matahari yang mendidih. Lalu lintas di terminal itu ramai sekali. Orang-orang bergegas datang dan pergi. Sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Semua tak peduli!
Perempuan itu merasa sunyi di tengah hiruk pikuk belukar lalu lintas Kupang dengan klakson dan suara musik memekakkan telinga. Sudah dua jam lebih Ania di terminal itu. Dia menunggu seseorang. Janji bertemu sejam lalu tapi orang yang ditunggu tak menampakkan batang hidungnya.
Debu halus beterbangan dihela angin Timor. Debu itu menyatu dengan keringat yang merambat di seluruh pori kulitnya yang langsat. Namun, kaki Ania tak hendak beranjak pulang. "Pulang sekarang atau tetap di sini dulu? Kalau pulang dengan hasil nihil, apa kata suamiku nanti," Ania membatin. "Dia pasti kembali mengomeliku yang telah salah mengambil keputusan."

Perang

"PERANG media semakin mematikan. Setelah revolusi televisi dan HP, kini datang pesaing baru yaitu facebook dan twitter! Lama-lama profesi jurnalis tidak dibutuhkan lagi. Kita bakal menganggur. Bahaya besar bung."
Demikian komentar seorang wartawan senior dalam suatu diskusi belum lama berselang. "Sekarang media massa cetak dan elektronik mau tidak mau harus mengembangkan citizen journalism atau jurnalisme warga. Warga biasa pun bisa melaporkan suatu peristiwa atau kejadian. Nah, kalau sudah seperti itu untuk apa lagi wartawan sungguhan?" lanjut editor koran terbitan Jakarta tersebut.
Jujur saja tuan dan puan. Di antara sekian banyak profesi, wartawan tergolong yang paling gundah menghadapi kemajuan teknologi informasi dewasa ini. Cemas karena perang media makin terbuka dengan akibat yang pasti hanya satu. Tidak cepat beradaptasi maka akan mati sendiri.

Mr. P


TIGA perempuan muda terlihat ragu-ragu memegang benda lunak dan licin di depan mereka. "Tak apa-apa kok Mbak, itu bukan racun. Ayo pegang, rasakan kelembutannya lalu pasang. Mr. P sudah siap tempur nih!"
Gelak tawa membahana di aula itu. Satu dari ketiga perempuan pun memberanikan diri jadi orang pertama yang mencoba. Diambilnya benda lunak dan licin dari atas meja. Meskipun belum 100 persen sesuai petunjuk mentor, namun gadis itu dapat menyarungkan benda lunak dan licin pada Mr. P yang "tegang tinggi". Sukses! Keberhasilannya disambut aplaus.

2080


TIBA-TIBA bumi berguncang. Bangunan roboh terkulai mencium bumi berdebu. Gelombang laut menyapu segala sesuatu yang menghadang. Semua luruh berderai. Jerit tangis membahana. Perasaan remuk redam. Dunia seolah hendak kiamat.
Flores 12 Desember 1992. Terjadi bencana gempa bumi dan tsunami terbesar dalam sejarah pulau seluas 14.231 km2 itu. Bencana itu bahkan yang terbesar dalam sejarah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gempa berkekuatan 7,5 Skala Richter terjadi pukul 13.29.25,0 Wita. Pusat gempa di Laut Flores pada posisi 8,48 LS-121,93 BT. Guncangan gempa sangat kuat hingga melahirkan kerusakan bangunan dan korban jiwa. Jumlah korban jiwa sebanyak 2.080 orang meninggal dunia dan lebih dari 500 orang luka berat dan ringan. Jumlah bangunan yang roboh atau rusak berat terdiri dari 28.118 rumah, 785 gedung sekolah, 307 rumah ibadah, 493 kantor dan bangunan pertokoan.

Selasa, 18 November 2014

Tuhan Lengah


DUA hari menjelang HUT ke-24 Propinsi Nusa Tenggara Timur, Bung Kanis menghangatkan sidang paripurna DPRD NTT di Kupang dengan kisah fantasi tentang untaian kepulauan di ini propinsi.
Berkisahlah Si Bung dengan gaya oratornya yang khas sebagai berikut. Pada hari terakhir di saat Tuhan hendak beristirahat dari pekerjaan mencipta ini dunia, Jawa telah subur luas mendatar. Sumatra dengan lebam rimba rayanya biru-biru hitam terkapar. Kalimantan berat terhampar tersegi-segi membola.

Sulawesi nakal-nakal lincah menari-nari mengempat jari, dan ke sebelahnya Dia serak lempar Kepulauan Maluku, kilat berkilau- kilau hidup kilau sawah habis terluku. Papua? Sengaja Tuhan ciptakan mengepala burung, kepala burung Kasuari.

Tuhan puas. Puas memandang butiran intan permata yang sengaja Ia kalung khatulistiwa. Terciptalah sudah lilitan permata, terciptalah sudah jamrud khatulistiwa, terciptalah sudah Republik Indonesia.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...