Tampilkan postingan dengan label Kuterkenang Kawanua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuterkenang Kawanua. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juni 2017

Manado Saya Datang (3)

Dion DB Putra (2011)
SAYA tidak berlama-lama untuk santai. Ya, memang kehadiran saya di Manado adalah untuk bekerja bukan pelesiran. Tanggal 7 Maret 2012 datanglah dari Jakarta pimpinan grup Tribun,  mas Febby Mahendra Putra bersama Om Herman Darmo dan Mas Sentrijanto ke Manado. Seperti biasa pertemuan maraton pun berlangsung di ibukota bumi Nyiur Melambai ini. Pertemuan di bisnis maupun  redaksi.

Lalu sampailah saatnya pengumuman dari Om Herman tentang perubahan komposisi di jajaran redaksi Tribun Manado. Sejak bertemu Om Herman di kantor Persda Jakarta bulan Februari 2012 saya sudah diberitahu kalau mas Ribut akan menggantikan posisi Richard Nainggolan sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Manado.  Richard akan dimutasi ke Bangka Belitung, menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Harian Bangka Post. Di Bangka tak lama. Richard kembali ke Harian Tribun Batam, koran yang dia awaki pula sejak awal terbit.

Kamis, 23 Februari 2017

Gerimis tipis di Sam Ratulangi


Saya di Danau Mooat - Modoinding 2013
HUJAN gerimis menyambutku di kota ini 6 Maret 2012. Saat kaki menyentuh Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 11.45 Wita hari itu,  semilir angin melambai-lambaikan deretan nyiur. Lama nian saya merindukan datang ke Manado. Kerinduan itu malah hadir dalam wujud yang di luar prediksi. Saya datang ke kota ini untuk mengabdi. Bekerja, melanjutkan hidup.

Dengan mobil taksi yang biayanya Rp 50 ribu saya meluncur menuju kantor Harian Pagi Tribun Manado. Saya pegang alamatnya, Jl AA Maramis, Kelurahan Kairagi II Kecamatan Mapanget, Manado.

Di kantor Tribun, Charles Imanuel Komaling adalah orang pertama yang menyambutku di front office setelah sekuriti. "Ini Om Dion kan?" katanya. Jujur saya sempat pangling. Maklum pertemuan dengan Charles sudah lama berlalu yakni tahun 2005 di Balikpapan.

Kala itu saya hampir sebulan lebih belajar di Harian Tribun Kalimantan Timur (Kaltim).  Waktu itu Charles masih di sana. Setelah Tribun Manado terbit tahun 2009, dia ke Manado. Kembali ke tanah lelulurnya bersama istri dan anak-anaknya. Pada kesempatan ini pula saya jalan-jalan ke Samarinda dan sempat menonton pertandingan tinju duni antara Chris John melawan Manuel Marquez di Tenggarong.

Selasa, 01 Maret 2016

Oma Mogot 10 Tahun Tinggal di Bawah Pohon

Oma Wilhelmina Mogot (kiri)
INI  bukan fiksi. Seorang perempuan berusia 82 tahun tinggal di bawah pohon hanya beratapkan terpal selama 10 tahun terakhir. Dia memilih cara itu demi menjaga anaknya berusia 40 tahun yang menderita gangguan jiwa. Wanita itu bernama Wilhemina Mogot.

Hanya beratapkan terpal berukuran sekitar tiga kali empat meter yang mulai bocor, perempuan tua ini melewati hari-hari bersama anaknya, Benna Rintjap yang menderita gangguan jiwa. Tidak ada dinding yang menghalau angin dingin saat malam hari dan  hujan.

Kondisi hidup seperti ini harus dijalani Oma Wilhemina karena rasa sayangnya pada sang anak dan himpitan ekonomi. Sejak Benna menderita gangguan jiwa, dia sering kumat dan dikhawatirkan melukai atau mengganggu orang lain. Keinginan untuk melakukan perawatan di rumah sakit jiwa harus dipendam dalam-dalam karena tidak ada uang untuk biaya perobatan. Dengan berat hati, Oma Wilhemina mengambil keputusan pahit untuk menjauhkan anaknya dari warga.

Selasa, 30 Juni 2015

Harga Rumah Kelapa Tembus Rp 1 Miliar


ilustrasi
Kelapa (cocos nucifera) merupakan tanaman tropis yang serbaguna mulai dari dari akar, batang, daun, buah, hingga pelepahnya.

DI bumi Nyiur Melambai ini sejak lama batang kelapa dimanfaatkan untuk perabotan rumah tangga. Misalnya meja, kursi, bingkai lukisan, dan lainnya. Selain itu, batang kelapa dipakai sebagai bahan dasar rumah.

Hal itu bisa kita  lihat di Balai Latihan Pendidikan Teknik SMK Kristen Tomohon. Batang kelapa yang awalnya tak berbentuk berhasil disulap menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomis  tinggi. Penanggungjawab Teknis Balai tersebut Julian Jhonly Mentang mengungkapkan harga rumah panggung dari bahan baku kelapa per unit bisa mencapai Rp 1 miliar.

Derita Petani Kelapa Sulut


Sulawesi Utara penghasil utama kelapa Indonesia
SUDAH jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib sebagian besar petani kelapa di Minahasa, Sulawesi Utara. Sudah lama petani kelapa di Bumi Nyiur Melambai ini kehilangan gairah menanam kelapa lantaran harga komodoti tersebut tidak kunjung membaik. Dari waktu ke waktu harga kelapa nyaris bertahan di level yang sama. Malah kecenderungannya terus menurun belakangan ini. Harga kelapa jauh di bawah komoditi lain bahkan dibandingkan dengan harga palawija sekalipun.

Selain gairah menanam melemah yang berakibat pada minimnya peremajaan, luas lahan perkebunan di kelapa di Sulawesi Utara (Sulut)  pun menyusut akibat alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan. Petani kelapa kian terdesak ke pinggir meskipun data statistik menunjukkan sampai detik ini kelapa dan produk turunannya masih nomor satu komoditas ekspor Sulut.

Pertanian Sulut Terabaikan


Kelapa andalan petani Sulawesi Utara
BANYAK sektor ekonomi potensial di Sulawesi Utara yang belum dikembangkan dengan baik. Misalnya sektor pertanian yang banyak memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi Sulut, masih terabaikan.

Demikian salah satu kesimpulan yang terangkum dalam focus group discussion bertajuk Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut, kerja sama Tribun Manado-Ilmu Sulut, disponsori Bank BNI dan didukung penuh Bank Indonesia Sulut, Rabu (8/8/2012), di Convention Center Hotel Novotel Manado.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Suhaedi mengatakan, selama ini sektor yang dominan adalah perdagangan, perhotelan dan restoran.

Ubah Dulu Mindset Orang Sulut


SULAWESI Utara (Sulut) adalah daerah dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi bahkan di atas rata-rata nasional memasuki triwulan kedua tahun ini. Dengan iklim investasi yang bagus membuat investor dari dalam dan luar berbondong-bondong melirik Sulut sebagai tempat berinvestasi.

Namun, yang menjadi pertanyaan, iklim yang bagus itu sudah dimanfaatkan dengan baik oleh putra daerah Sulut untuk melihatnya sebagai peluang usaha ataukah sebaliknya. Sejumlah poin menarik ini mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD)  yang digelar Harian Tribun Manado bekerjasama dengan Intelektual Muda Sulut (Ilmu)  di GKIC Novotel Manado, Rabu (8/8/2012).

 Diskusi yang disponsori Bank BNI dan didukung BI Sulut memilih tema Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut. Direktur International Busines Administration (IBA) Unsrat  Dr Peggy Mekel bertindak sebagai moderator dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut.

Eksistensi Etnis Tionghoa di Sulawesi Utara


Amelia Tungka (tengah) ikut diskusi pluralisme di Gran Puri 24-10-2012
Menjadi warga negara Indonesia membuktikan bahwa etnis Tionghoa sejajar dengan etnis lainnya termasuk dengan etnis di Sulawesi Utara.

SELAMA ini masyarakat cenderung beranggapan bahwa etnis Tionghoa mengeksklusifkan diri. Kenyataannya tidak demikian.

Begitulah yang terungkap dalam diskusi Pluralisme dan Multikulturalisme di Sulut yang digelar North Sulawesi Network (NSN), Tribun Manado dan Paguyuban Tionghoa Tumou Tou di  Hotel Gran Puri Manado, Rabu (24/10/2012). Diskusi seri pertama ini memilih judul:Sejarah dan Eksistensi Etnis Tionghoa di Sulut.

Orang Minahasa Mirip dengan Tionghoa


Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang
GUBERNUR Sulawesi Utara (Sulut)  Dr Sinyo Harry Sarundajang menegaskan,   kemajemukan masyarakat Indonesia terlebih di Sulawesi Utara harus diterima sebagai pemberian Tuhan. Justru dengan kemajemukan itu  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap kokoh hingga hari ini dan mendapat apresiasi dari dunia internasional sebagai negara ajaib.

"Sejarah bangsa ini telah membuktikan bahwa negara kita dibangun dari suku bangsa yang berbeda, etnis yang begitu banyak. Makanya Indonesia dikenal sebagai The Miracle Nation in The Modern World," ujar Sarundajang dalam Diskusi  Pluralisme dan Multikulturalisme di Sulut yang digelar North Sulawesi Network (NSN) dan Tribun Manado di Ruang Tarsius  Hotel Gran Puri Manado, Rabu (24/10/2012).

Semarak Pengucapan Syukur di Minahasa


Puncak  Acara Pengucapan Syukur di berbagai daerah di Sulut baru berlangsung Minggu (8/7/2012). Namun, kemeriahannya telah berdenyut sejak beberapa pekan lalu.

FAKTA
menarik terlihat di Kota Manado.  Sepekan menjelang perayaan pengucapan syukur di wilayah Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara, permintaan jasa service sepeda  motor meningkat drastis.Pantauan Tribun Manado di bengkel Ahass King Motor Malalayang, Jumat (6/7/2012),  pemilik sepeda motor ramai-ramai mendatangi bengkel resmi sepeda motor Honda ini.

 "Dalam sehari motor yang dibawa ke sini sampai 50 unit. Biasanya hanya 30 unit sehari," ujar Trisno Molle, kepala bengkel Ahass King Motor Malalayang. Menurut dia, hal itu sudah terjadi sejak sepekan terakhir.

Pesona Wanita Minahasa...


Gadis Minahasa  dalam tarian Tetengkoren (kompas)
SAMBIL menari, Wulan menyungging senyum manis dari bibirnya yang tipis. Ia dan dua orang temannya melompat lincah, bergairah di atas panggung dengan tangan menggengam bambu kecil. Wulan, sang penari, terus memukul bambu itu hingga tarian Tetengkoren berakhir selama 10 menit.

Tarian Tetengkoren sebagai tari kreasi baru muncul dekade 1990-an, dan merupakan imajinasi perempuan Minahasa zaman dulu. Tetengkoren dalam mitologi Minahasa adalah penanda sesuatu.

Memukul Tetengkoren dapat berarti mengajak bekerja bersama (mapalus), mengisyaratkan bencana, bahkan sebagai tanda berperang.

Thanksgiving Day ala Minahasa


Pedagang di Amurang jual bambu untuk masak nasi jahe
PULUHAN unit sepeda motor memenuhi pelataran bengkel Ahass King Motor Malalayang- Manado, Jumat 6 Juli 2012. Agak tak lazim memang. Biasanya cuma satu dua unit sepeda motor yang datang dan pergi setelah mendapat perawatan dari kru bengkel. Yang terlihat siang itu justru sebaliknya. Para pemilik sepeda motor harus antre sekian jam sampai mendapat giliran tunggangannya ditangani montir.

Bukan hanya Ahass yang padat. Bengkel sepeda motor lainnya pun sama dan sebangun. Demikian pula dengan bengkel mobil.  Warga Kota Manado serta daerah sekitarnya  sejak awal Juli ramai-ramai mendandani kendaraan mereka. Umumnya melakukan servis  ringan semisal ganti oli,  cuci karburator, saringan udara, setel rem dan mengganti lampu.

Tikus Pun Semakin Langka di Minahasa ...


Tikus bakar di Pasar Tomohon  (foto Danny Permana/Tribun)

BAGI sebagian besar orang Indonesia, tikus adalah binatang pengganggu. Bahkan hewan pengerat ini disebut sebagai biang penyebar penyakit. Kebanyakan orang pun enggan mengosumsi dagingnya.

Namun,  bagi warga Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,  anggapan tikus sebagai binatang yang kotor tidak berlaku karena binatang ini menjadi santapan yang nikmat apalagi saat perayaan pengucapan syukur yang berlangsung setahun sekali.

Pada momen pengucapan syukur (semacam perayaan Thanks Giving di Amerika Serikat)   mudah sekali  menemukan pedagang tikus di pasar-pasar tradisional di  daerah Minahasa.  Bukan hanya pedagang tikus, banyak juga pedagang yang menjajakan peret  (kelelawar ukuran besar). Pasar ekstrim paling terkenal ada di Tomohon.Di sana dijual segala jenis binatang yang tak lazim disantap seperti tikus, kelelawar, ular phyton, kera, kucing dan lainnya.

Rabu, 28 Januari 2015

Pesan dari Om Herman Darmo (3)

Jualan koran pada HUT Tribun Manado
SAYA tidak berlama-lama untuk santai. Ya, memang kehadiran saya di Manado adalah untuk bekerja bukan pelesiran. Tanggal 7 Maret 2012 datanglah mas Febby Mahendra Putra bersama Om Herman Darmo dan mas Sentrijanto ke Manado. Seperti biasa pertemuan maraton pun berlangsung di ibukota bumi Nyiur Melambai ini. Pertemuan di bisnis maupun di redaksi.

Lalu sampailah saatnya pengumuman dari Om Herman tentang perubahan komposisi di jajaran redaksi Tribun Manado. Sejak bertemu Om Herman di kantor Persda Jakarta bulan Februari 2012 saya sudah diberitahu kalau mas Ribut akan menggantikan posisi Richard Nainggolan sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Manado. 

Mess Kairagi (2)

Natal Bersama 2013
TAK lama berada di kantor, saya diantar ke mess yang letaknya persis di samping kantor, berdampingan dengan ruang percetakan. Rupanya kedatangan saya sudah menjadi rahasia umum  sehingga kamar di mess sudah dibersihkan office boy.

Mess itu terdiri dari empat kamar tidur. Saya mendapat kamar paling besar. Kamar ini sebelumnya pernah ditempati Pemimpin Perusahaan (PP)  Harian  Tribun Manado mulai  dari Triyoba Nataria, Agus Cama, Wakil PP Wakit dan PP yang sekarang Fahmi Setiadi.

Mas Ribut dari Harian  Banjarmasin Post yang sudah lebih dulu tiba di Manado pada bulan November 2011 menempati kamar ukuran lebih kecil, dekat dengan gudang dan kamar mandi. Berbeda dengan tiga kamar tidur lainnya, kamar yang saya tempati mempunyai kamar mandi di dalam. Ruangannya pun luas sekali.

Manado Saya Datang (1)

Saya bersama mas Ribut, Yusran, Taufik Miharga dan Mas Yadi (2013)
BUMI Kawanua baru saja bersimbah hujan  ketika ban pesawat Lion Air jenis Boeing 737  menyentuh landasan pacu Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado hari itu, 6 Maret 2012 sekitar pukul 11.50 Wita.  Pesawat Lion Air yang take off dari Bandara Internasional Juanda Surabaya mendarat mulus di Samrat  meskipun saat melakukan manuver dari arah Pulau Manado Tua dan Bunaken sedikit mengalami goncangan.

Saya bergegas turun menuju gedung terminal bandara melalui terowongan belalai panjang. Jalan bersama para penumpang lainnya termasuk sekelompok perempuan muda dengan gaya fashion menarik mata yang sama-sama naik dari Surabaya.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...