 |
| Saya di Danau Mooat - Modoinding 2013 |
HUJAN gerimis menyambutku di kota ini 6 Maret 2012. Saat kaki
menyentuh Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 11.45 Wita hari
itu, semilir angin melambai-lambaikan deretan nyiur. Lama nian saya
merindukan datang ke Manado. Kerinduan itu malah hadir dalam wujud yang
di luar prediksi. Saya datang ke kota ini untuk mengabdi. Bekerja,
melanjutkan hidup.
Dengan mobil taksi yang biayanya Rp 50 ribu saya meluncur menuju kantor
Harian Pagi Tribun Manado. Saya pegang alamatnya, Jl AA Maramis,
Kelurahan Kairagi II Kecamatan Mapanget, Manado.
Di kantor Tribun, Charles Imanuel Komaling adalah orang pertama yang
menyambutku di front office setelah sekuriti. "Ini Om Dion kan?"
katanya. Jujur saya sempat pangling. Maklum pertemuan dengan Charles
sudah lama berlalu yakni tahun 2005 di Balikpapan.
Kala itu saya hampir sebulan lebih belajar di Harian Tribun Kalimantan
Timur (Kaltim). Waktu itu Charles masih di sana. Setelah Tribun Manado
terbit tahun 2009, dia ke Manado. Kembali ke tanah lelulurnya bersama
istri dan anak-anaknya. Pada kesempatan ini pula saya jalan-jalan ke
Samarinda dan sempat menonton pertandingan tinju duni antara Chris John
melawan Manuel Marquez di Tenggarong.