Selasa, 14 April 2020

Doa-doa di Tengah Pandemi


ilustrasi
TIGA pekan menjalani ibadah di rumah saja melahirkan fakta menarik dan indah.

Sebagai misal saya kumpulkan pengalaman umat Kristiani yang baru saja merayakan Tri Hari Suci Paskah 2020.

Mengapa menarik?

Bayangkan, orang Palasari Bali ikut misa via live streaming dari Katedral Ende Flores.

Orang Manokwari dan Wetar ikut kebaktian via live streaming dari Medan.

Orang Singkawang dan Bontang ikut misa via live streaming dari Katedral Denpasar.

Kambali Meniti Jalan Sunyi


Kambali (kiri) serahkan buku kepada Sunarko
KAMI  biasa menyapanya  Cak Ali atau  Mas Ali.  Nama lengkapnya Kambali Zutas.  Anak  Nganjuk,  Jawa Timur.  Energik.

Ukuran tubuh mini mirip diriku.  Hobinya bikin makanan enak.
Sedap. Segar. Sehat.  Selalu dinanti pasukan redaksi di Ketewel Sukawati Gianyar.

Keistimewaanya, dia jurnalis  dan penulis  muda  yang tekun dan produktif.

Salut!

Baru saja  Cak Ali  meluncurkan buku.

Topiknya asyik: Euforia Sepak Bola Bali (Tonggak  Media,  Maret 2020).

Sebagai pemuja sepak bola, saya senang tak terkira  menyambut karya tulis editor Harian Pagi Tribun  Bali ini.

Inspirasi dari Seminari Mataloko


Seminari Mataloko 
Pergumulan sedang dihadapi kepala sekolah dan guru sekolah ternama di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, SMA Katolik Syuradikara Ende.

Mereka mesti segera mengambil keputusan penting mengenai nasib peserta didik setelah masa belajar di rumah berakhir pada 21 April 2020 nanti.

Ada dua skenario kemungkinan.

Pertama, jika tren kasus penyebaran Covid-19 mereda dan dinyatakan aman oleh pemerintah, maka masa belajar di rumah sungguh berakhir pada 21 April.

Itu berarti setelah tanggal tersebut, sekolah aktif kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Tentu ini merupakan kerinduan semua orang.

Bosan juga anak-anak kelamaan belajar di rumah.

Selembar Foto Tanpa Caption


ilustrasi
IDE itu menyeruak muncul dalam lamun mencari inspirasi di rumah saja.

Selembar foto saya unggah ke akun media sosial Facebook.

Hari itu Jumat 27 Maret 2020. Kira-kira jam 11.00 Wita. Denpasar Timur lumayan cerah. Angin sepoi mengalir mencubit kulit.

Semula sempat terpikir untuk membuat caption atau keterangan tertentu.

Ya semacam pengantar.

Tapi akhirnya saya memilih tidak membubuhkan sepatah katapun.

Biarkan foto bicara sendiri menyampaikan pesannya.

Responsnya agak mengejutkan.

Sontak banyak teman, kolega dan kenalan yang mampir di lapak akunku.

Memberikan jempol.

Kambing Pun Masuk Kota


Kambing Kashmir
MATAHARI pagi berselimut mendung tipis menudungi Denpasar kala kabar gembira membuka hari Senin pertama di bulan April 2020.

Seorang teman di sebuah kota di Jawa yang sempat masuk daftar PDP (Pasien Dalam Pengawasan) senang karena hasil uji swab lendir tenggorokannya negatif.

Dia kirim foto ceria via WA. Saya ucapkan selamat kepadanya. Corona tak selalu mengalirkan lara.

Seorang rekanku lagi memajang foto langit Kota Jakarta yang biru di akun medsosnya.

Udara Jakarta terlihat bersih dari polusi setelah kebijakan “tinggal di rumah saja” bergulir kira-kira dua pekan.

Begitulah sisi positif pandemi Coronavirus Disease 2019 alias Covid-19 yang pantas dan layak kita syukuri.

Citius, Altius dan Fortius

ilustrasi
API Olimpiade dari tempat suci Olimpia Yunani terbang melintasi samudera menuju Jepang. Di Miyagi, Fukushima dan kota lainnya, masyarakat menyambut hangat api yang memompakan energi olahraga klasik Citius, Altius, Fortius. Lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat tersebut.

Di tengah pandemi Covid-19, warga Jepang tetap antusias menyambut pertunjukkan api Olimpiade yang berlangsung di barat laut negeri Sakura itu sepanjang akhir pekan lalu.

Lebih dari 50.000 orang menyaksikan api Olimpiade yang ditampilkan di Stasiun Sendai, Miyagi, Sabtu 21 Maret 2020.

Panitia penyambutan memilih Stasiun Sendai demi memamerkan spirit kebangkitan kawasan tersebut setelah diremukredamkan gempa, tsunami dan krisis nuklir tahun 2011.

Pilih Mana, Kepala Batu atau Tikam Kepala?


ilustrasi
KEPALA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bagian tubuh yang di atas leher pada manusia dan beberapa jenis hewan merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indra.

Dalam keriuhan pandemi Virus Corona alias Covid-19 sekarang, sekurang-kurangnya mengemuka dua tipe manusia yaitu kepala batu dan tikam kepala.

Yang pertama semua paham maksudnya. Kalau belum ya sebaiknya buka kamus KBBI sekarang.

Nah, yang kedua perlu saya jelaskan agar tak salah paham atau salah sangka.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...