Kamis, 22 Juli 2021
"Sakramen Penghibur" Bernama Bola
Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa
![]() |
| cover depan |
Pangan dan Hukum SPITZ
Oleh Tony KledenIbu yang Malang
![]() |
| Dion dan Bukunya |
Inggris adalah tanah air sepak bola, ibu yang melahirkan cabang olahraga terpopuler di Bumi.
Seluruh dunia tahu tentang hal itu secara baik. Sejarah bola mencatatnya dengan tinta emas dan segala orang menerima tanpa prasangka.
Tetapi Inggris adalah ibu yang malang, dan tidak bahagia. Ibu yang kesepian karena sang anak pergi sangat lama, bertualangan terlampau jauh hingga ke mana-mana.
Begitu mesra mengasihi dan dikasihi oleh segala bangsa, sehingga ia lupa pulang ke pangkuan ibu kandung yang melahirkannya.
Memang, pada suatu penggalan masa yang sudah lama sekali, anak bandel itu sempat pulang ke pangkuan ibunda. Tahun 1966, Britania yang menjadi tuan rumah World Cup menyanyikan tembang football coming home.
Koor itu sungguh terbukti ketika Geoff Hurst dkk menumbangkan Jerman Barat 4-2 pada final tanggal 30 Juli 1966. Jules Rimet, trofi resmi Piala Dunia 1966 direbut Inggris.
Jumat, 02 November 2018
Tulisan yang Merindu
MENJAHIT fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan. Mencubit tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai realitas tanpa hujat mempermalukan.
Itulah sosok Marsel Robot. Guru, pendidik dan terutama dia seorang penulis cerdas dan piawai. Pejuang kata sepanjang hidupnya yang menghibur, membesarkan hati dan menawarkan harapan bagi sesama ciptaan Tuhan.
Maka membaca tulisan Marsel Robot selalu menarik rindu. Rindu untuk baca dan baca lagi. Sang penulis jauh dari menggurui. Dia hanya bercerita dan sidang pembaca menikmati cerita itu lalu meresapi dan memahami pesannya. Pesan renyah gurih yang merasuk jauh hingga ke sumsum, otak dan hati.
Menggerakkan batin untuk introspeksi dan terus bertanya. Menggugat. Mempertanyakan lagi. Siapakah diriku. Siapakah sesamaku manusia? Apa dan bagaimana seharusnya bersikap menghadapi fakta sosial budaya agar adab hidup lebih bermartabat, agar tata dunia baru sungguh adil bagi semua.
Coretan tangan Marsel Robot senantiasa telanjang menghentak kesadaran. Gemas menggaruk ingatan bahwa di kolam kehidupan ini janganlah dikau sekadar memancing atau menatap birunya langit, tetapi bergeraklah lebih dalam untuk menggapai makna kehidupan yang lebih hakiki. Berilah kontribusi, tidak cuma kata manis di bibir.
Selasa, 17 Februari 2015
Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT
UNTUK apa menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?
Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya, banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.
Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.
Investasi di NTT Tumbuh Pesat Setelah HPN 2011
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala LKBN ANTARA Biro Kupang
PESONA Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 agaknya masih melekat dalam ingatan setiap insan pers, masyarakat dan pemerintahan daerah setempat. Mengapa? Aura HPN 2011 saat itu, tidak hanya sekadar menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk membuka acara tersebut, tetapi kepala negara malah mengikutsertakan pula hampir sebagian besar menterinya serta para pengusaha papan atas untuk melihat dari dekat sosok NTT lewat HPN tersebut.
Kepala negara tidak hanya sekadar berkantor di Kupang selama tiga hari untuk mengendalikan pemerintahan dari atas wadas tanah karang, tetapi melakukan pula napak tilas dengan melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua sejauh sekitar 400 kilometer, untuk mengenang masa mudanya sebagai prajurit TNI-AD ketika menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB), pasukan organik milik Kodam IX/Udayana.
Wajah Kupang Berubah Secara Signifikan
![]() |
| Buku yang diluncurkan saat HPN 2015 di Batam |
Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wartawan Harian Pos Kupang
SAYA menghabiskan waktu hampir enam jam saat pulang dari Manado ke Kupang hari itu, Selasa 18 Desember 2012 atau dua hari sebelum Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-54. Kabut tipis dan renai gerimis menyelimuti Bandara Sam Ratulangi tatkala pesawat Lion Air take off sekitar pukul 06.10 Wita menuju Surabaya dengan transit selama 25 menit di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Penerbangan Surabaya-Kupang berlangsung lebih nyaman lantaran cuaca siang itu lumayan cerah. Bumi Kupang baru saja bermandikan hujan ketika Lion Air mendarat tak seberapa mulus di run way Bandara El Tari sekitar pukul 14.50 Wita. Saya pulang untuk kesekian kalinya ke kota ini. Pulang untuk libur bersama keluarga setelah hari-hari menjalani penugasan di Harian Tribun Manado, salah satu Koran daerah Grup Kompas Gramedia, kolega Harian Umum Pos Kupang.
Sabtu, 14 Februari 2015
Paolus Nong Susar: Lahir dan Besar di Jalan
![]() |
| Dion menyerahkan buku kepada Paolus, Senin 9 Februari 2015 |
Buku ini berisi kisah perjuangan dan pergulatan hidup PNS sejak lahir hingga puncak perjuangan mencapai posisinya kini sebagai wakil bupati Sikka. Tidak banyak orang yang tahu tantangan, perjuangan dan pergulatan hidup PNS. Melalui bukunya itu, dia membagikan pengalaman dan perjuangan, menjadi inspirasi kepada masyarakat kecil di Sikka dalam perjuangan hidup.
Jumat, 09 Januari 2015
Pangan dan Hukum SPITZ
Oleh Tony Kleden"Sakramen Penghibur" Bernama Bola
Tiga Syarat Kembalikan Kejayaan Bahari
![]() |
| Cucu Ibu Sud dan Didik Heru Purnomo |
Di Laut Kita Tak Berdaya
![]() |
| cover |
NTT Bergelut dengan Pro Kontra Tambang
Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa
![]() |
| cover depan |
Kegalauan Robertus Prasetiyo
| Robertus Prasetiyo (kedua dari kiri) |
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur
Robertus Rimawan Prasetiyo galau! Editor Online Harian Pagi Tribun Manado yang punya blog pribadi www.robertussenja.com tersebut dinyatakan tidak lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk kelompok muda yang diselenggarakan PWI Pusat di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara bulan Juli 2012. Di tempat kerjanya, Robertus pun tercatat sebagai karyawan terbaik pada tahun 2011.
"Jelas tidak terima. Saya galau, mungkin galau tingkat akut mengalahkan anak alay nusantara," kata Robertus ketika saya bertanya kepadanya bagaimana perasaanmu tidak lulus UKW? Sampai saat ini Robertus selalu mengingat nama Ibu Siti, pengujinya kala itu. "Bu Siti oh Bu Siti. Beliau akan selalu saya kenang," ujarnya sambil terkekeh.
Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan
Buku Tentang Sejarah Pers di NTT
![]() |
| cover depan |
Kamis, 08 Januari 2015
Menangkap Suara-suara di Dili
| Bersama Ramos Horta di depan kantornya di Dili (2009) |
DIRIKU larut dan menikmati hiruk-pikuk serta kemeriahan pesta rakyat Timor Leste merayakan HUT ke-7 restorasi kemerdekaan. Hari Rabu tanggal 20 Mei 2009 rakyat Timor Leste khususnya warga Kota Dili tumpah ruah di sepanjang pantai ibu kota negeri itu, sambung-menyambung mulai dari kawasan Pantai Kelapa di barat Dili hingga Pantai Pasir Putih.
Pesta rakyat berlangsung hingga Rabu larut malam. Sebagian orang bahkan baru pulang ke rumah Kamis dinihari 21 Mei 2009. Beragam permainan dan atraksi mereka gelar di pantai tersebut. Atraksi tradisional hingga kontemporer. Ada United Nations (UN) Police, ada PNTL (Polisi Nasional Timor Leste). Tetapi mereka tidak menebarkan wajah seram. Mereka cuma mengawal pesta rakyat. Bahkan berbaur.
Ah, saya sungguh merasa seperti di kampung sendiri, di Timor Barat, Indonesia.
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...













