Tampilkan postingan dengan label Buku Dion DB Putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Dion DB Putra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juli 2021

"Sakramen Penghibur" Bernama Bola


Bola itu Telanjang karya Dion DB Putra
Oleh Tony Kleden

TUTUP mata sejenak. Bayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak ada permainan yang dikelola dengan mengikuti regulasi yang menyata dalam berbagai cabang olahraga. Aksi-aksi kekerasan akan menjadi pemandangan rutin setiap hari, setiap saat. Perkelahian, tawuran, saling bunuh menjadi bagian dari riwayat sejarah manusia.

Aksi kekerasan itu muncul dipicu oleh naluri melawan atau rivalitas yang menyatu dengan daging manusia. Rivalitas itu, boleh dibilang, sudah menjadi hakikat yang asali pada setiap manusia, siapa pun dia.

Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan




Judul                  : Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan
Penulis               : Dion DB Putra
Penyunting        : Usman Yatim
Desain Cover    : Apat Supriyono
ISBN                 :  978-602-7936-16-4
Cetakan I          :  Tahun 2014
Penerbit             :  RMBOOKS Jakarta Bekerjasama dengan Panitia HPN 2014 dan Pengurus PWI Pusat
Peluncuran      : Bengkulu, 9 Februari 2014.

Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa


cover depan
PERS selama ini telah membuktikan dirinya sebagai pencatat perjalanan sejarah dan peradaban manusia. Pers Indonesia pun demikian dan pada setiap zaman masyarakat selalu menuntut pers sebagai penyulam dan penyambung kepentingannya.

Untuk keempat kalinya, komunitas pers Indonesia yang bergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menerbitkan buku. Buku tersebut diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Jambi yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 Februari 2012.

Buku setebal 216 halaman yang berisi catatan wartawan anggota PWI terhadap beragam isu aktual di daerah tersebut diberi judul: Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa. Buku tersebut termasuk dalam 22 judul buku karya wartawan dan tokoh pers nasional yang peluncurannya ditandai dengan penyerahan secara simbolis kepada Presiden SBY oleh Ketua Umum PWI Pusat, Margiono di Jambi 9 Februari 2012.

Pangan dan Hukum SPITZ


Oleh Tony Kleden

SALAH satu bencana kelaparan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1846 - 1850 di Irlandia. Ladang kentang yang merupakan makanan pokok warga gagal panen akibat hama. Kejadian itu jelas merupakan bencana alam. Tetapi kematian sekitar 2 juta orang akibat kelaparan itu jelas bukan sekadar bencana alam.

Selama bencana kelaparan itu, sebenarnya ada cukup makanan untuk memberi makan dua kali jumlah penduduk yang berjumlah 8 juta orang. Tetapi ekspor besar-besaran bahan makanan mulai dari gandum, oat, barley (jenis gandum yang dipakai untuk membuat bir), ternak, telur dan mentega berlangsung terus. Gandum dan barley dianggap sebagai hasil bumi perdagangan dan hanya ditanam untuk ekspor. Petani Irlandia tidak pernah memakannya karena mereka hanya bekerja untuk tuan tanah.


Sampai sekarang, di negara-negara berkembang pun para petani masih juga belum beruntung nasibnya. Sungguh sangat ironis, para petani yang adalah penghasil pangan manusia adalah kelompok pertama yang menderita kelaparan. Tentu banyak sebab dan alasan mengapa kaum petani dalam sejarahnya selalu berada pada posisi kurang beruntung, meski -- sekali lagi-- mereka adalah produsen pangan dunia. Kelaparan, gizi buruk, gizi kurang, nyatanya, lebih banyak menimpa para petani.

Ibu yang Malang

Dion dan Bukunya

Inggris adalah tanah air sepak bola, ibu yang melahirkan cabang olahraga terpopuler di Bumi. 

Seluruh dunia tahu tentang hal itu secara baik. Sejarah bola mencatatnya dengan tinta emas dan segala orang menerima tanpa prasangka. 

Tetapi Inggris adalah ibu yang malang, dan tidak bahagia. Ibu yang kesepian karena sang anak pergi sangat lama, bertualangan terlampau jauh hingga ke mana-mana. 

Begitu mesra mengasihi dan dikasihi oleh segala bangsa, sehingga ia lupa pulang ke pangkuan  ibu kandung yang melahirkannya.

Memang, pada suatu penggalan masa yang sudah lama sekali, anak bandel itu sempat pulang ke pangkuan ibunda. Tahun 1966, Britania yang menjadi tuan rumah World Cup menyanyikan tembang football coming home. 

Koor itu sungguh terbukti ketika Geoff Hurst dkk menumbangkan Jerman Barat 4-2 pada final tanggal 30 Juli 1966. Jules Rimet, trofi resmi Piala Dunia 1966 direbut Inggris. 

Jumat, 02 November 2018

Tulisan yang Merindu

Oleh Dion DB Putra

MENJAHIT fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan. Mencubit  tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai realitas tanpa hujat mempermalukan.

Itulah sosok Marsel Robot. Guru, pendidik dan terutama dia seorang penulis cerdas dan piawai. Pejuang kata sepanjang hidupnya yang menghibur, membesarkan hati dan menawarkan harapan bagi sesama ciptaan Tuhan.

Maka membaca tulisan Marsel Robot selalu menarik rindu. Rindu untuk baca dan baca lagi. Sang penulis jauh dari menggurui. Dia hanya bercerita dan sidang pembaca menikmati cerita itu lalu meresapi dan  memahami pesannya. Pesan renyah gurih yang merasuk jauh hingga ke sumsum, otak dan hati.

Menggerakkan batin  untuk introspeksi dan terus bertanya. Menggugat. Mempertanyakan lagi. Siapakah diriku. Siapakah sesamaku manusia?  Apa dan bagaimana seharusnya bersikap menghadapi fakta sosial budaya agar adab hidup lebih bermartabat, agar tata dunia baru sungguh adil bagi semua.

Coretan tangan Marsel Robot senantiasa telanjang menghentak kesadaran. Gemas menggaruk ingatan bahwa di kolam kehidupan ini janganlah dikau sekadar memancing atau menatap birunya langit, tetapi bergeraklah lebih  dalam untuk menggapai makna kehidupan yang lebih hakiki. Berilah kontribusi, tidak cuma kata manis di bibir.

Selasa, 17 Februari 2015

Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur

Oleh Tony Kleden
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

UNTUK apa  menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?

Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih  suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya,  banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.

Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand  (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas  yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.

Investasi di NTT Tumbuh Pesat Setelah HPN 2011

Oleh Laurensius Molan
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala LKBN ANTARA Biro Kupang

PESONA Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 agaknya masih melekat dalam ingatan setiap insan pers, masyarakat dan pemerintahan daerah setempat. Mengapa? Aura HPN 2011 saat itu, tidak hanya sekadar menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  untuk membuka acara tersebut, tetapi kepala negara malah mengikutsertakan pula hampir sebagian besar menterinya serta para pengusaha papan atas untuk melihat dari dekat sosok NTT lewat HPN tersebut.

Kepala negara tidak hanya sekadar berkantor di Kupang selama tiga hari untuk mengendalikan pemerintahan dari atas wadas tanah karang, tetapi melakukan pula napak tilas dengan melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua sejauh sekitar 400 kilometer, untuk mengenang masa mudanya sebagai prajurit TNI-AD ketika menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB), pasukan organik milik Kodam IX/Udayana.

Wajah Kupang Berubah Secara Signifikan

Buku yang diluncurkan saat HPN 2015 di Batam
(Catatan mengenang HPN 2011)

Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wartawan Harian Pos Kupang


SAYA menghabiskan waktu hampir enam jam saat pulang dari Manado ke Kupang hari itu,  Selasa 18 Desember 2012 atau dua hari sebelum Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-54. Kabut tipis  dan renai gerimis menyelimuti Bandara Sam Ratulangi tatkala pesawat Lion Air  take off sekitar pukul 06.10 Wita menuju Surabaya dengan transit selama 25  menit di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Penerbangan Surabaya-Kupang berlangsung lebih nyaman lantaran cuaca siang itu lumayan cerah.  Bumi Kupang baru saja bermandikan hujan ketika Lion Air mendarat tak seberapa  mulus di run way Bandara El Tari sekitar pukul 14.50 Wita. Saya pulang untuk kesekian kalinya ke kota ini. Pulang untuk libur bersama keluarga setelah hari-hari menjalani penugasan di Harian Tribun Manado, salah satu Koran daerah  Grup Kompas Gramedia, kolega Harian Umum Pos Kupang.

Sabtu, 14 Februari 2015

Paolus Nong Susar: Lahir dan Besar di Jalan

Dion menyerahkan buku kepada Paolus, Senin 9 Februari 2015
MAUMERE, PK- Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus  Nong Susar, meluncurkan buku biografi "PNS (Paolus Nong Susar) Lahir dan Besar di Jalan." Peluncuran buku ini dilakukan di Aula Hotel Benggoan III, Maumere, Senin (9/2/2014).

Buku ini berisi kisah perjuangan dan pergulatan hidup PNS  sejak lahir hingga puncak perjuangan mencapai posisinya kini sebagai wakil bupati Sikka. Tidak banyak orang yang tahu tantangan, perjuangan dan pergulatan hidup PNS. Melalui bukunya itu, dia membagikan pengalaman dan perjuangan, menjadi inspirasi kepada masyarakat kecil di Sikka dalam perjuangan hidup.

Jumat, 09 Januari 2015

Pangan dan Hukum SPITZ


Oleh Tony Kleden

SALAH satu bencana kelaparan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1846 - 1850 di Irlandia. Ladang kentang yang merupakan makanan pokok warga gagal panen akibat hama. Kejadian itu jelas merupakan bencana alam. Tetapi kematian sekitar 2 juta orang akibat kelaparan itu jelas bukan sekadar bencana alam.
Selama bencana kelaparan itu, sebenarnya ada cukup makanan untuk memberi makan dua kali jumlah penduduk yang berjumlah 8 juta orang. Tetapi ekspor besar-besaran bahan makanan mulai dari gandum, oat, barley (jenis gandum yang dipakai untuk membuat bir), ternak, telur dan mentega berlangsung terus. Gandum dan barley dianggap sebagai hasil bumi perdagangan dan hanya ditanam untuk ekspor. Petani Irlandia tidak pernah memakannya karena mereka hanya bekerja untuk tuan tanah.

"Sakramen Penghibur" Bernama Bola


Bola itu Telanjang karya Dion DB Putra
Oleh Tony Kleden

TUTUP mata sejenak. Bayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak ada permainan yang dikelola dengan mengikuti regulasi yang menyata dalam berbagai cabang olahraga. Aksi-aksi kekerasan akan menjadi pemandangan rutin setiap hari, setiap saat. Perkelahian, tawuran, saling bunuh menjadi bagian dari riwayat sejarah manusia.
Aksi kekerasan itu muncul dipicu oleh naluri melawan atau rivalitas yang menyatu dengan daging manusia. Rivalitas itu, boleh dibilang, sudah menjadi hakikat yang asali pada setiap manusia, siapa pun dia.
Perang antarkampung di Alor, di Sumba Barat, di Manggarai atau di Adonara, tawuran antarsekolah di Maumere, baku ro'i antara dua cewek di Kota Kupang memperebutkan seorang cowok, jika diamati sebetulnya merupakan ekspresi dari rivalitas itu.

Tiga Syarat Kembalikan Kejayaan Bahari

Cucu Ibu Sud dan Didik Heru Purnomo
JAKARTA, FS - Bangsa Indonesia harus segera mengubah mindset dan cara pandang atas lautnya jika ingin mengembalikan kejayaan bahari nusantara. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi bangsa Indonesia.

Demikian inti pesan buku “TAHUN 1511 – Limaratus Tahun Kemudian” yang ditulis Laksdya TNI Didik Heru Purnomo (Kalakhar Bakorkamla RI) bersama 30 wartawan seluruh Indonesia. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu diluncurkan di Jakarta, Rabu (21/12/2012).

Di Laut Kita Tak Berdaya


cover
INDONESIA adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jarak diagonal antara Sabang ke Merauke adalah sama dengan jarak London ke Istambul. Sebelum tahun 1511, Indonesia yang dulu dinamakan Nusantara sangat dikenal dengan kekuatan lautnya dan sangat disegani oleh negara tetangga bahkan China. Pada saat itu, perairan selat Malaka dan laut wilayah Timur Asia dikuasai oleh Nusantara. Kehebatan pelaut Indonesia sudah ada sejak abad kedua, ketika pelaut Indonesia mengarungi laut lepas hingga Madagaskar, Afrika.

Namun sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, praktis kekuasaan Nusantara atas lautnya hilang. Kejatuhan Malaka diawali dengan ditemukannya jalur rempah-rempah oleh Ludovico Di Varthema, petualang dari Bologna - Italia yang menjejakan kaki pertama kali di Ternate pada 1506 saat Sultan Bayanullah memerintah (1500 -1521). Kekuasaan Nusantara atas lautnya semakin tak mungkin direbut kembali setelah tewasnya Dipati Unus dari Demak tewas dalam penyerangan ke Malaka pada 1521.

NTT Bergelut dengan Pro Kontra Tambang

Oleh Dion DB Putra, Ketua PWI Cabang NTT

DALAM dua hari berturut-turut pada medio November 2011, Kota Ende di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) digoyang aksi demonstrasi massa dalam jumlah lumayan besar. Pada hari Kamis tanggal 17 November 2011, massa yang tergabung dalam Forum Peduli Kesejahteraan Masyarakat (FPKM) Kabupaten Ende menggelar aksi demonstrasi damai di kantor bupati dan gedung DPRD setempat.

Mereka menilai DPRD Kabupaten Ende dilangkahi karena Bupati Ende, Drs. Don Bosco M Wangge, M.Si telah menerbitkan SK izin penambangan pasir besi kepada pengusaha sementara Perda tentang pertambangan masih dibahas DPRD Kabupaten Ende. Dalam dialog dengan Ketua DPRD Ende, Ir. Marselinus YW Petu dan Wakil Ketua, Anwar Liga, FPKM Ende yang dipimpin Ketua, Max A.K.Djeen dan Sekretaris, Rm. Siprianus Sadipun, Pr mendesak Bupati Ende mencabut kembali SK izin penambangan karena dinilai ilegal. Forum ini beralasan izin tambang pasir besi di pesisir selatan Kabupaten Ende yang dikeluarkan bupati tanpa payung hukum mengingat Perda Pertambangan belum disetujui DPRD Kabupaten Ende.

Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa


cover depan
PERS selama ini telah membuktikan dirinya sebagai pencatat perjalanan sejarah dan peradaban manusia. Pers Indonesia pun demikian dan pada setiap zaman masyarakat selalu menuntut pers sebagai penyulam dan penyambung kepentingannya.

Untuk keempat kalinya, komunitas pers Indonesia yang bergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menerbitkan buku. Buku tersebut diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Jambi yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 Februari 2012.

Buku setebal 216 halaman yang berisi catatan wartawan anggota PWI terhadap beragam isu aktual di daerah tersebut diberi judul: Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa. Buku tersebut termasuk dalam 22 judul buku karya wartawan dan tokoh pers nasional yang peluncurannya ditandai dengan penyerahan secara simbolis kepada Presiden SBY oleh Ketua Umum PWI Pusat, Margiono di Jambi 9 Februari 2012.

Kegalauan Robertus Prasetiyo


Robertus Prasetiyo (kedua dari kiri)
Oleh Dion DB Putra
Ketua PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur

Robertus Rimawan Prasetiyo galau! Editor Online Harian Pagi Tribun Manado yang punya blog pribadi www.robertussenja.com tersebut dinyatakan tidak lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk kelompok muda  yang diselenggarakan PWI Pusat di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara bulan Juli 2012. Di tempat kerjanya, Robertus pun tercatat sebagai karyawan terbaik pada tahun 2011.

"Jelas tidak terima. Saya galau, mungkin galau tingkat akut mengalahkan anak alay nusantara," kata Robertus ketika saya bertanya kepadanya bagaimana perasaanmu tidak lulus UKW?  Sampai saat ini Robertus selalu mengingat nama Ibu Siti, pengujinya kala itu. "Bu Siti oh Bu Siti. Beliau akan selalu saya kenang," ujarnya sambil terkekeh.

Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan



Judul                  : Hiruk Pikuk Pilkada dan Kursi Dewan
Penulis               : Dion DB Putra
Penyunting        : Usman Yatim
Desain Cover    : Apat Supriyono
ISBN                 :  978-602-7936-16-4
Cetakan I          :  Tahun 2014
Penerbit             :  RMBOOKS Jakarta Bekerjasama dengan Panitia HPN 2014 dan Pengurus PWI Pusat
Peluncuran      : Bengkulu, 9 Februari 2014.

Buku Tentang Sejarah Pers di NTT


cover depan
SETIAP kali mendapat pertanyaan dari kolega atau masyarakat umum tentang buku referensi sejarah pers di Nusa Tenggara Timur, saya senantiasa menganjurkan untuk membaca buku “15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur” yang diterbitkan PT Timor Media Grafika, Desember 2007.

Tentu saja, buku tersebut bukan satu-satunya referensi tentang perjalanan pers di wilayah Nusa Tenggara Timur. Cukup banyak referensi yang bisa diperoleh. Cuma dalam buku yang diluncurkan pada peringatan 15 Tahun Harian Pos Kupang tersebut, kiprah pers NTT sejak awal abad ke-20 digelar cukup komplit dan utuh. Bagi mahasiswa komunikasi pun buku ini merupakan rujukan bagaimana menghasilkan sebuah karya jurnalistik.

Kamis, 08 Januari 2015

Menangkap Suara-suara di Dili


Bersama Ramos Horta di depan kantornya di Dili (2009)
  Saya tiba-tiba membayangkan wajah Timor Leste dalam kurun waktu lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang.Bukan mustahil mereka amat lekas maju dan jauh meninggalkan Indonesia yang pernah bersamanya selama 23 tahun.

DIRIKU  larut dan menikmati hiruk-pikuk serta kemeriahan pesta rakyat Timor Leste merayakan HUT ke-7 restorasi kemerdekaan. Hari Rabu tanggal 20 Mei 2009 rakyat Timor Leste khususnya warga Kota Dili tumpah ruah di sepanjang pantai ibu kota negeri itu,  sambung-menyambung mulai dari kawasan Pantai Kelapa di barat  Dili hingga Pantai Pasir Putih.

Pesta rakyat berlangsung hingga Rabu larut malam. Sebagian orang bahkan baru pulang ke rumah  Kamis dinihari 21 Mei 2009. Beragam permainan dan atraksi mereka gelar di pantai tersebut. Atraksi tradisional hingga kontemporer. Ada United Nations (UN) Police, ada PNTL (Polisi Nasional Timor Leste). Tetapi mereka tidak menebarkan wajah seram. Mereka cuma mengawal pesta rakyat. Bahkan berbaur.
Ah, saya sungguh merasa seperti di kampung sendiri, di Timor Barat, Indonesia.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...