Jumat, 04 Maret 2016

Mengenang Kawan Gaspar Parang Ehok


Gaspa P Ehok
Oleh Daniel Dhakidae
Kepala LITBANG Kompas 1995-2005; Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma, Jakarta.

PERKENALAN dan perkawanan kami semasa menjadi mahasiswa SOSPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1970-an, berjalan begitu saja secara wajar dan alasannya juga wajar-wajar saja. Pertama, tentu saja sebagai sesama mahasiswa Flores.

Namun, terutama kedua, kesamaan ide dalam banyak hal baik terhadap situasi universitas seperti pendidikannya, kurikulumnya, dan yang paling mengikat kami semua adalah kesamaan pandangan mengenai Orde Baru Soeharto, dan militer.

Ketiga, karena dua alasan di atas kami juga sama dalam pandangan mengenai organisasi kemahasiswaan dengan identitas yang menjadi dasar, dalam hal ini apa yang harus dibuat oleh organisasi seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia).

Kamelus: Gaspar Wariskan Keteladanan


Gapar P Ehok
RUTENG, PK -   Ratusan orang pelayat, masyarakat Kota Ruteng, berbaur dengan sanak keluarga, kerabat dan seluruh aparatur Pemkab Manggarai mengantar Drs. Gaspar Parang Ehok, dimakamkan secara militer oleh Kodim 1612  Manggarai di Taman Makam Pahlawan Lalong Tana, Senin (29/2/2016) pagi.

Sebelum pemakaman, dilaksanakan misa requem dipimpin Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr, di Gereja Katedral. Semua bangku di dalam gereja terisi umat Katolik Kota Ruteng yang mengikuti perayaan misa, sebelum  diserahkan dari keluarga kepada Bupati dan Wabup Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H, dan Drs. Victor Madur di Kantor Bupati Manggarai.

Dandim 1612 Ruteng, Letkol (Kav) Imron Rosadi, SE, mengatakan, pemakaman militer  dilakukan TNI  untuk menghormati jasa-jasa  mantan bupati yang memimpin Manggarai tahun 1989-1999. 

Gaspar Ehok Pemimpin Spektakuler


Gaspar Ehok
KUPANG, PK -Ratusan warga Manggarai di Kupang serta simpatisan, Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 13.10 Wita, menjemput mantan Bupati Manggarai dua periode, almarhum Drs. Gaspar Parang Ehok, di Terminal Cargo, Bandara Internasional El Tari Kupang. Kehadiran almarhum diterima puluhan tokoh pemuda didampingi Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man.

Sosok almarhum Gaspar Ehok dinilai beberapa tokoh merupakan pemimpin yang spektakuler, ramah, rendah hati dan tidak membedakan suku, ras, agama, antargolongan (SARA). Kepergiannya memberikan rasa kesedihan mendalam bagi masyarakat Manggarai, khususnya dan NTT umumnya.

Pantauan Pos Kupang di Terminal Cargo Bandara Internasional El Tari Kupang, Jumat (26/2/2016), para penjemput yang hadir selain Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, ada juga tokoh rekan sejawat almarhum, seperti Drs. Frans Skera, Raimundus Lema, dr. Husen Pancratius, beberapa anggota DPRD NTT asal Daerah Pemilihan Manggarai, juga ratusan warga lainnya.

Selasa, 01 Maret 2016

Tata Ruang Kota Kupang


ilustrasi
Puteri Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2013,  Dyathra Silvana Baten mengungkapkan pengalamannya tentang akses menuju kawasan pantai di Kota Kupang. Menurut dia, pembangunan hotel dan restoran di pesisir pantai Pasir Panjang dan Kelapa Lima misalnya, sangat berpengaruh terhadap akses masuk ke pantai di wilayah itu.

"Sekarang kalau mau  ke pantai di wilayah Pasir Panjang dan Kelapa Lima, kita harus inap di  hotel atau makan di restoran dulu baru bisa main-main di pantai," ujar Dyathra kepada Pos Kupang, Senin (8/2/2016) lalu.  Gadis yang pernah menjalani peran sebagai Duta Wisata NTT 2012 dan Puteri Indonesia Kepulauan Bali Nusra 2014 ini  menyatakan, pemerintah memang sudah menyediakan akses jalan ke pantai di belakang hotel. Namun, untuk menikmati area itu lebih leluasa hanya pada pagi hari. Artinya, waktu bagi masyarakat umum terbatas.

Oma Mogot 10 Tahun Tinggal di Bawah Pohon

Oma Wilhelmina Mogot (kiri)
INI  bukan fiksi. Seorang perempuan berusia 82 tahun tinggal di bawah pohon hanya beratapkan terpal selama 10 tahun terakhir. Dia memilih cara itu demi menjaga anaknya berusia 40 tahun yang menderita gangguan jiwa. Wanita itu bernama Wilhemina Mogot.

Hanya beratapkan terpal berukuran sekitar tiga kali empat meter yang mulai bocor, perempuan tua ini melewati hari-hari bersama anaknya, Benna Rintjap yang menderita gangguan jiwa. Tidak ada dinding yang menghalau angin dingin saat malam hari dan  hujan.

Kondisi hidup seperti ini harus dijalani Oma Wilhemina karena rasa sayangnya pada sang anak dan himpitan ekonomi. Sejak Benna menderita gangguan jiwa, dia sering kumat dan dikhawatirkan melukai atau mengganggu orang lain. Keinginan untuk melakukan perawatan di rumah sakit jiwa harus dipendam dalam-dalam karena tidak ada uang untuk biaya perobatan. Dengan berat hati, Oma Wilhemina mengambil keputusan pahit untuk menjauhkan anaknya dari warga.

Natacya G Nahak Fokus Bekerja


Natacya G Nahak
MEMILIKI suara yang merdu, berkulit halus dan putih, dengan rambut  terurai panjang hingga pinggul, siapa yang menyangka dia adalah seorang wanita pria alias waria. Tak hanya punya tampilan fisik yang memukau, namun tingkah laku sopan dan cara berjalannya yang anggun itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi waria peranakan Belu-NTT-Indonesia dan Negara Timor Leste ini.

Dialah Natacya Gonsalves Nahak, anak pasangan Wilhelmus Nahak dan alm. Lena Gonzalves. Waria bertinggi badan 172 cm dan berat 60 kg ini terbilang sukses dalam usaha Natacya Salon  di Kelurahan Kolhua, Maulafa, Kota Kupang.

Keberhasilannya itu tidak diperoleh secara mudah. "Sengsara membawa nikmat, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian," kata pemilik nama asli Nata Lemus  Yoseph Pedro Gonzalves Nahak ini soal hidupnya dulu dan sekarang.
Memulai karier sebagai pekerja salon di Kupang, Natacya banyak menimba ilmu tentang make up dari seniornya di berbagai salon seperti Elda Salon, Ciniki Salon dan Pelapa Salon. Dari pengalaman yang menarik, menyedihkan, membahagiakan dan peristiwa suka duka dijalaninya dengan bersyukur dan berdoa.

LGBT Butuh Pengakuan


KUPANG, PK -Kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Kupang serta NTT umumnya, membutuhkan pengakuan identitas dan perlakuan yang sama  dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Meski berbeda orientasi seksual tapi LGBT merupakan ciptaan Tuhan dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya.

Demikian harapan sejumlah lesbian, gay, biseksual, waria, transgender yang ditemui Pos Kupang di tempat berbeda hari Jumat hingga Senin (12-15 Februari 2016). Mereka di antaranya, Karen, Natacya Golsalves Nahak, Zamantha Karen, Riby Cesia, Ridho Carly, Olga Sabrina Victoria de Kolag, Santi Dewi dan Verra Gaya Trie.

Karen, seorang waria di Kupang, menilai warga Kupang sudah lebih cerdas menilai keberadaan waria dibandingkan sepuluh tahun lalu. "Kalau dulu, masyarakat masih memadang waria sebagai orang aneh. Tapi sekarang, masyarakat sudah lebih cuek dengan kehadiran waria. Tapi diskriminasi terhadap waria masih tetap ada," kata Karen, Sabtu (13/2/2016).

Mengenal Suka Duka Kehidupan LGBT


ilustrasi
Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak duduk di bangku SMP.

SAMPAI kapanpun, Riby Cesia (26), wanita pria (waria) asal Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tak akan bisa melupakan kisah tragis yang yang dialaminya. Riby Nyaris mati ditebas  parang oleh kakaknya karena melihatnya mengenakan busana perempuan.

"Hari itu saya ketahuan mengenakan pakaian wanita sehingga kakak saya marah. Saya dikejar dengan parang lalu rambut saya digunting. Keluarga memaksa saya kembali jadi laki-aki, tapi saya tidak bisa," tutur Riby, bungsu dari dua bersaudara di Kupang, Minggu (14/2/2016) malam.

Oliva Sadi Latihan Pagi dan Sore


Oliva Sadi
TETESAN keringat membasahi tubuhnya yang langsing.  Baju kaos olahraga dan celana  yang dipakainya basah.  "Sekarang ini udara Kota Kupang sangat panas sehingga  menyedot energi saat latihan. Sudah jam empat sore, tapi udara masih cukup panas," kata Oliva Sadi kepada Pos Kupang ketiak istirahat latihan  berlari belasan kali mengitari lintasan sirkuit atletik Stadion Oepoi Kupang, Jumat (19/2/2016) sore.

Oliva Sadi yang didampingi tiga orang pelatih, Drs. Julius Lona Koni, Edmundus Parera  dan Adnan Abullah tetap tersenyum.

Sambil berjalan mengitari lintasan Sirkuit Atletik di Stadion Oepoi-Kupang untuk menurunkan suhu tubuh setelah berlari satu jam mengitari lintasan stadion tersebut, Oliva mengaku sedang latihan intensif mengikuti program pemusatan latihan daerah (pelatda) desentralisasi sejak Januari hingga Maret 2016. 

Program itu berupa persiapan umum untuk tiga bulan pertama menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Bandung,  Jawa Barat. Oliva tidak gentar menghadapi persaingan ketat di PON nanti.  "Semua atlet tentu berdoa kepada yang Di Atas. Namun sekarang tinggal siapa yang banyak berdoa dan direstui Tuhan menjadi yang terbaik. Ini harus latihan intensif. Harus Ora Et Labora," kata gadis berlesung pipit itu.

Rekor Edu Nabunome Belum Terpecahkan



Edu Nabunome (tengah)
PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT) identik dengan gudang atlet atletik nasional.  Sejak tahun 1960-an putra-putri Flobamora mengharumkan nama Indonesia melalui cabang olahraga tertua itu.

Ketika diwawancarai Pos Kupang, Jumat (19/2/2016), mantan pelatih atletik NTT, Drs. Fredik Tunliu menceritakan kembali kilas balik kiprah atlet atletik di daerah ini. Pria  yang akrab disapa Eddy Tunliu ini menyebut  Rony Mello sebagai orang NTT pertama yang mengikuti pendidikan formal atletik tingkat internasional di Jerman   melalui program pendidikan dan latihan (diklat).

Eddy menjelaskan, menghadapi PON VI, Komando Gerakan Olahraga (Kogor) NTT memanggil sejumlah atlet dari daratan Timor, Alor, Flores dan Sumba.  Para atlet yang terpilih saat itu mengikuti program TC di Kupang, yakni Piter Lobo (Timor) mengikuti nomor lari 100 meter dan lempar lembing. Jan Imang (Alor) ikut 10.000 meter dan lari marathon. Zet Lalametan (Timor) ikuti nomor lompat tinggi. Amos Kamesah (Timor)  mengikuti nomor 10.000 meter, lari marathon dan Marthen Gela (Sumba) mengikuti nomor lompat tinggi galah. Sedangkan atlet putri, Martha Pati (Timor) mengikuti nomor 100 meter dan  200 meter. Asnat Riwu Pasa (Sumba)  mengikuti nomor 100 meter, lompat jauh dan Johana Mety (Sumba)  lempar cakram.

Atlet Atletik Bidik Tiga Emas di PON 2016


KUPANG, PK - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan medali emas minimal sama seperti yang sudah diraih atlet cabang olahraga (cabor) NTT saat lolos PON XIX/2016 di Bandang, Jawa Barat.

"Target NTT tiga medali emas dari  atletik. Ini harus diperjuangkan, bukan cuma melalui latihan intensif yang keras namun juga melalui doa. Dan harapannya hasil yang diraih bisa ditingkatkan saat atlet atletik NTT tampil di PON XIX/2016. Oliva dan Afriana Paijo sudah teruji di level nasional. Apalagi ini olahraga terukur," kata Ketua Umum Pengprov PASI NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si,  saat ditemui Pos Kupang di kediamannya di Jalan Anggrek, Kelurahan Naikolan, Kupang, Jumat (19/2/2016).

Prestasi Atlet Atletik NTT di PON


Edu Nabunome (tengah)
PON V/1961/Bandung   
Wempy Foenay -  Medali Perak - Lempar Cakram
Wempy Foenay - Medali Perak  -  Tolak Peluru   

PON VIII/1973/Jakarta   
Mathilde Fanggidae Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihaineni  Medali Perak - Tolak Peluru
Mathilde Fanggidae Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON IX/1977/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihainenia Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON X/1981/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas- Tolak Peluru
Yumina Tunliu    Medali Perak - 1500m
Welmintje Sonbay Medali Perak - 3000m

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...