Tampilkan postingan dengan label Ben Mboi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ben Mboi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2016

Piet A Tallo dan NTT yang Bermartabat


Oleh Viktus Murin

Wartawan Pos Kupang (1992-1995)

ng (1992-1995)

TAK ada yang dapat dilakukan untuk mengenang 'kepergian' orang baik, kecuali merenungkan dalam-dalam tentang kebaikannya dan berupaya meneladani kebaikannya itu. Mungkin inilah yang sedang terjadi pada kita warga Nusa Tenggara Timur hari-hari ini, saat mengenang sosok Piet Alexander Tallo, salah seorang tokoh besar NTT. Wafatnya Piet A Tallo mengguratkan dukacita mendalam bagi segenap warga NTT. 

Gubernur NTT dua periode ini (1998-2003 dan 2003-2008) telah berpulang kepada Sang Khalik Agung, Sabtu 25 April 2009 sekitar jam 20.30 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Seturut kacamata imaniah, kita percaya bahwa Tuhan telah menyembuhkan beliau secara tuntas dari sakit yang telah lama mendera tubuhnya. Dalam kesedihan yang masih menempel di relung hati, penulis pun membatin: "Masihkah akan lahir lagi pemimpin NTT yang berkarakter kuat seperti Piet A Tallo?"

Selasa, 30 Juni 2015

Sekelumit Kisah Perjuangan Ben Mboi


Ben Mboi
By Sirilus Belen

Setamat SD di Manggarai, Flores, Pak Ben Mboi merantau ke Kupang untuk melanjutkan ke SMP atas dorongan ayahnya seorang mantri kakus (WC). Maksudnya ingin menumpang di keluarga Manggarai, eh terdampar di rumah Om Bentanone, orang Timor asli.. Om dan Tanta Bentanone menerima bocah Ben tinggal di rumahnya dan bersekolah di SMP Negeri Airnona, satu-satunya SMP di Kota Kupang waktu itu.

Di situlah Ben bertemu dengan ayahku, Pak Anton Sinaama Belen sebagai guru Sejarah. Kata mamaku, kalau bapa dan mama bertandang ke rumah Om dan Tanta Bentanone, mereka lihat bocah Ben itu rajin tumbuk jagung untuk bikin jagung bose. Ben juga senang main bola kaki.

Ben Mboi, Pahlawan Kita Semua


Keluarga Ben Mboi (ist)
By Sirilus Belen

PAK Ferry Doringin, Pater Jaime Gomes, Pater Very Dau, Pak Ignas Iryanto, dan teman-teman.
Perkenankan menerima sekadar sharing kami dari acara pemakaman Pak Ben Mboi kemarin. Terima kasih.

Selamat jalan Pak Ben Mboi, Pahlawanku, Pahlawan Anda, Pahlawan Kita Semua.

Menurut saya, almarhum Pak Ben Mboi bukan semata manajer pemerintahan, tapi terutama pemimpin, leader masyarakat. Pak Ben Mboi bukan sekadar manusia religius beragama tapi terutama insan spiritual. Pemimpin masyarakat dengan bekal spiritualitas tanpa sekat ini mampu merangkul manusia dari agama apa pun, dari suku apa pun, dari bangsa apa pun.

Sang Mahaguru Kearifan Indonesia dari NTT

Ben Mboi
(Sebuah Noktah Putih yang Ia Torehkan di Hatiku)

Oleh Fary Dj Francis
Anggota DPR RI


TANGGAL 22 Juni yang lalu saya berada di Surabaya dalam rangka kunjungan kerja dan kembali ke Jakarta pada malam harinya. Baru saja tiba di rumah, sebuah pesan pendek dari Pak Esthon Foenay masuk ke handphone saya. "Telah dimuliakan Bapa di Sorga bapak Dr. Ben Mboi jam 00.30. Jenazah disemayamkan di Jalan Muhasyim VII Cilandak Jakarta Selatan. Jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata hariKamis. Mohon diteruskan ke seluruh wargaNTT+Tksh."

Saya menerima berita duka itu pukul 03:25 dini hari dan sejak detik itu tidak bisa tidur sama sekali hingga fajar pagi menjemput. Tiba-tiba saja wajah Pak Ben menjadi begitu nyata di hadapan saya. Senyum khasnya yang penuh wibawa berulang kali mampir dan pergi. Serak suaranya masih terdengar tegas dan mempesona di telinga.

Ben Mboi: Saya Telah Mencapai Point of No Return


Ben Mboi
"SAYA telah mencapai point of no return. Melihat ke belakang sekarang, saya memilih probabilitas hidup yang 40 persen itu," tulisnya dalam memoar Ben Mboi, Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja halaman 146.

Apa yang disampaikan Ben Mboi ini sebagai respon dari briefing terakhir dari Panglima Operasi Mandala Mayor Jenderal Soeharto di Pangkalan Udara Amahai, Pulau Seram, Maluku, tanggal 23 Juni 1962.

"Tugas kalian cukup berat. Saya perkirakan sekitar 60 persen dari kalian tidak akan kembali dan hanya 40 persen yang bisa selamat. Yang merasa ragu-ragu sekarang juga masih dapat mundur...." kata Mayjen Soeharto.

Kamis, 25 Juni 2015

Pemimpin Pejuang Itu Telah Tiada


Ben Mboi
Oleh Frans X Skera, Warga Kota Kupang

LANGIT mendung kelabu meliputi seluruh Nusa Tenggara Timur karena salah satu putera terbaiknya, mantan Gubernur periode 1978-1988 dr. Ben Mboi, telah dipanggil Tuhan, Selasa subuh, tanggal 23 Juni 2015 di Jakarta.

Ben Mboi tak pelak lagi adalah pemimpin pejuang Nusa Tenggara Timur karena dia adalah sosok pintar dan sukses yang diraihnya dengan cara susah dan miskin. Sejak sekolah rakyat, ia sudah bekerja keras merawat adik-adiknya. Selama 3,5 tahun belajar di Schakel School Ndao Ende diberi tugas membersihkan kakus dan got. Ketika belajar di Middlebare School (SMP) Airnona Kupang, tinggal di rumah keluarga Ben Tanone, dan karena kehabisan uang, Ben Tanone-lah yang membayar uang sekolah dan segala kebutuhan hidupnya sehingga selesai sekolah SMP bagian B.

Penderitaan dan perjuangannya terus berlanjut waktu belajar di SMA Santu Albertus Malang. Karena tidak mampu membayar uang sekolah, terpaksa harus bekerja sambil belajar, dan uang hasil kerja itulah yang dipakai untuk membayar biaya sekolah. Walaupun terus dirundung kesulitan, Ben Mboi tak pernah putus asa dan setelah tamat SMA malah nekat masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ben Mboi, Pemegang Bintang Sakti


Ben Mboi
KEPALA Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Marius Djelamu, mengatakan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, bersama para asisten akan berangkat ke Jakarta, Rabu (24/6/2015) mengikuti pemakaman Ben Mboi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta, Kamis (25/6/2015).
Djelamu mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT sudah bersurat kepada keluarga agar almarhum Brigjen TNI (Purn) Aloysius Benediktus Mboi dimakamkan di TMP Dharma Loka Kupang.

Namun, katanya, karena pertimbangan keluarga dan almarhum adalah salah satu pemegang bintang sakti dari Korps TNI sehingga harus dimakamkan di Jakarta. Karena tidak semua jenderal mendapatkan Bintang Sakti.

Ben Mboi Seorang Pekerja Keras


Ben Mboi saat pelantikan Nafsiah menjadi Menkes
* Fary Dj Francis (Ketua Komisi V DPR RI)

FARY mendampingi Ketua DPD Partai Gerindra, Prabowo Subianto melayat jenazah Ben Mboi di rumah duka. "Pak Prabowo tidak omong banyak waktu itu. Pak Prabowo hanya mengatakan, selamat jalan pahlawan. Terima kasih untuk pengabdian kepada bangsa dan negara," kata Fary, menirukan pernyataan Prabowo saat dihubungi dari Kupang melalui telepon. Fary mendampingi Prabowo sempat berbincang-bincang dengan istri Ben Mboi, Ny. Nafsiah Mboi. "Yang melayat sangat banyak. Pimpinan negara dan mantan pimpinan negara dari sipil dan militer banyak yang hadir. Ini merupakan penghormatan terakhir kita kepada pahlawan bukan hanya bagi NTT tapi pahlawan Indonesia," kata Fary.   (eko)


Ben Mboi: Tokoh yang Jujur dan Berani


Ben Mboi
SESEPUH masyarakat Sikka, Drs. Daniel Woda Pale mengaku orang paling beruntung masih sempat bersama dengan almarhum dr. Ben Mboi, di  hari-hari terakhir hidupnya sebelum dipanggil Tuhan, Selasa (23/6/2015).

"Saya jenguk dia minggu lalu (12 Juni 2015). Anak saya beritahu saya, Bapak, Bapak Ben Mboi masuk rumah sakit di Lantai II Kamar ICU Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Kami bertiga, istri dan anak saya jenguk. Saya kaget, ketika dia lihat saya, dia masih kenal saya," cerita Dan Pale, di kediamannya di Kota Maumere, Selasa (23/6/2015).

"Kami berbicara. Ada putra sulungnya, ada ibu Nafsiah Mboi. Saya kaget, aduh pak (Ben Mboi), Pak lebih gagah daripada waktu menjadi gubernur. Wajahnya halus, gemuk dan bercahaya. Saya pikir dia sangat sehat. Satu dua hari mungkin dia sudah pulang rumah. Tadi pagi saya mendapat berita dia meninggal, saya juga heran," tutur Dan Pale, mengenang pertemuan terakhir  dengan almarhum Ben Mboi, 12 Juni 2015  di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta.

Selamat Jalan Ben Mboi


Ben Mboi
WAINGAPU, PK--Mantan Bupati Sumba Timur, Drs. Lukas Kaborang, punya kenangan tersendiri terhadap figur dr. Aloysius Benediktus Mboi, MPH, yang lebih dikenal dengan nama Ben Mboi.  Lukas yang selama 10 tahun bersama Ben Mboi, ketika menjadi Gubernur NTT dua periode  tahun 1978-1988 mengatakan, Ben Mboi adalah seorang prajurit pekerja keras.

Pak Ben adalah seorang pamong praja handal. Tidak bisa diikuti siapa saja yang memimpin NTT.  Ben Mboi seorang pemimpin yang mau langsung lihat apa yang terjadi dan dialami masyarakat. Ada ucapannya yang terkenal: Apabila terjadi sesuatu di wilayah saudara, sehelai daun yang jatuh pun harus tahu. Maksudnya, hal sekecil apapun yang terjadi di wilayahnya harus diketahui seorang pemimpin.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...