Rabu, 29 Juli 2020

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (4-habis)

Wawancara Goenawam Mohamad, Sastrawan dan Pendiri Majalah Tempo

SEBAGAI  orang yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, wajar makanan favorit PK Ojong masakan padang. Sedangkan minuman kesukaannya adalah kopi. Karena memegang teguh disiplin, kerja keras, serta hemat, PK Ojong selalu marah kalau dibelikan kopi yang agak mahal atau makanan kecil berlebihan untuk kudapan di kantor.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Ojong yang memberi nama perusahaannya Gramedia sebagai kepanjangan Grafika dan Media ini, berpegang pada nilai-nilai kejujuran.

Bagi Ojong, mengejar keuntungan itu sesuai prinsip yang sehat: mencari nama baik, menumbuhkan kepercayaan agar omzet bertambah terus-menerus sehingga perusahaan bisa berkembang.

Kegigihannya berbisnis tak mengorbankan idealisme. Bahkan ketika Kompas dibreidel kekuasaan Soeharto pada 1978, terjadi perdebatan internal, terutama antara PK Ojong dan Jakob Oetama. 
Saat itu Soeharto sangat berkuasa marah karena Kompas memberitakan soal pencalonan Presiden.
Peristiwa itu membuat resah wartawan dan karyawan Kompas. Ojong dan Jakob menyikapi dengan tenang, namun keduanya berbeda sikap. Saat itu Soeharto mengizinkan Kompas kembali terbit tapi harus ikuti kemauannya. 

Sikap Ojong jelas, sekali mati tapi berarti. Ia menolak mengikuti kemauan rejim Soeharto. Sebaliknya Jakob Oetama setuju beradaptasi dengan kekuasaan agar Kompas kembali terbit. 

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (3)

Wawancara Harry Tjan Silalahi, Pengamat Politik dan Pendiri CSIS

WARISAN (legacy) Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong) menancap kuat bagi mayarakat luas. Selain Harian Kompas dan Kelompok Gramedia, Ojong juga ikut mendirikan Universitas Tarumanagara di Jakarta. Aura kecendikiawanan itu dilanjutkan oleh sahabatnya, Jakob Oetama, dimana Kompas Gramedia kemudian melahirkan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada 2006.

Kebiasaannya membantu penderitaan orang lain, juga diwujudkan dengan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. LBH merupakan lembaga yang gigih berpihak membela kepentingan rakyat kecil. Lembaga ini didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, termasuk Ojong ikut membidaninya.

Di Harian Kompas, Ojong meneruskan ketajamannya dalam menulis. Ia membuka rubrik Kompasiana, dan di rubrik itu ia tak segan membela masyarakat yang tertindas, memberi saran ke pemerintah, termasuk mengktitik kebijakan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI.

Ojong juga termasuk peduli terhadap lingkungan. Ia kerap memberi gagasan ke Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, mengenai penghijauan di Jakarta.

Satu kebiasaan dalam hidupnya, ia selalu membawa buku catatan ke mana pun pergi. Ia mencatat kegiatan sehari-hari. Tidak hanya rencana harian, tetapi juga tempat yang didatangi, cuaca hari itu, menu makanan, uang yang dikeluarkan. Catatan ini tidak hanya membantu pelaksanaan rencana tetapi juga membantu ingatan.

Meskipun mempunyai anak buah yang banyak, PK Ojong tidak hanya mendengar laporan, tetapi langsung melihat ke lapangan. Jiwa wartawannya yang selalu mengecek fakta tak pernah ditinggalkan meskipun sudah memimpin banyak lembaga bisnis. 

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (2)

Wawancara Jusuf Wanandi, Pendiri CSIS

TEPAT 25 Juli 2020, 100 tahun kelahiran Petrus Kanisiu Ojong, yang lebih dikenal dengan nama PK Ojong. Pria kelahiran Bukittingi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920 ini merupakan pendiri Kompas Gramedia, bersama sahabatnya, Jakob Oetama. Ojong meninggal 31 Mei 1980 di Jakarta, pada usia 59 tahun.

Orang mengenal PK Ojong sebagai sosok yang ulet, jujur, sederhana, dan pandai mengelola uang. Meskipun lahir dari keluarga pengusaha dan orangtuanya berkecukupan, Ojong menjauhi gaya hidup berpesta. Daripada menghamburkan uang untuk berpesta, Ojong lebih suka membantu sesama yang membutuhkan bantuan.

Ketekunan dan kegigihannya sudah ditunjukkan sejak muda. Karier jurnalistiknya diawali di majalah mingguan Star Weekly dan harian Keng Po, dari tahun1946-1951. 

Star Weekly merupakan mingguan komunitas Tionghoa. Tulisan-tulisan Ojong yang tajam membuatnya dikenal sebagai jurnalis yang kritis. Star Weekly kemudian dibubarkan pemerintah karena tulisan Ojong yang kritis.

Pada 1963, bersama Jakob Oetama, Ojong mendirikan majalah Intisari, yang kemudian menjadi cikal bakal kelahiran Harian Kompas. Dua tahun kemudian, 28 Juni 1965. dwi tunggal ini mendrikan Harian Kompas. 

Kompas sampai sekarang menjadi harian yang paling berwibawa dan berpengaruh. Dalam perjalanannya, berkat keuletan dan kegigihan Ojong dan Jakob Oetama, lahir Kompas Gramedia (KG), yang menaungi banyak perusahaan di bawah brand Kompas-Gramedia.

Seiring dengan menjulangnya nama Kompas-Gramedia, nama PK Ojong pun telah mewarnai jagat jurnalistik dan perusahaan media di tanah air. Banyak orang yang terpseona oleh gaya berpikir, menulis dan berbiacara PK Ojong. Jejak dan kepenulisannya bisa kita cecap dalam buku karyanya yang fenomenal, yatu Perang Eropa sebanyak tiga seri.

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (1)

Wawancara Indra Gunawan, Wakil Presdir Kompas Gramedia 1992-2004

PK Ojong
KUNJUNGAN PK Ojong ke luar negeri membawa hikmah yang sangat menentukan bagi perjalanan Kompas-Gramedia. Itu karena kegemarannya membaca buku. Setiap kembali dari luar negeri, PK Ojong selalu membeli buku hingga punya perpustakaan di  rumahnya. Hal itu kemudian yang melahirkan Toko Buku Gramedia·

Sebagai orang yang komitmen pada kemajuan masa depan, PK Ojong tidak melarang anak-anak membaca buku di Toko Gramedia. Itulah sebabnya sampai sekarang kita sering melihat anak-anak membaca buku di selasar rak-rak Toko Buku Gramedia.  Kepada rekan-rekan sejawatnya, PK Ojong juga sering mengirimi buku-buku, termasuk  untuk tahanan politik yang sealiran dengannya maupun tidak.

Untuk mengasah pemikirannya, PK Ojong punya klub diskusi bersama aktivis muda pada masanya, antara lain Soe Hok Djin yang kemudian menjadi Arief Budiman dan Soe Hok Gie, Soedjatmoko, Rosihan Anwar, Ong Hok Ham, dan lain-lain.
PK Ojong

PK Ojong bersama sastrawan pada masa itu, Mochtar Lubis, Zaini, Taufiq Ismail, dan Arief Budiman menerbitkan Majalah Horison yang khusus memuat dunia sastra. Sayang, majalah Sastra Horison kini sudah tiada.

Jumat, 17 Juli 2020

Wanita itu Menyapanya Padre


Maxi Ebu Tho
"Dion, kau lagi buat apa?" Begitu sapaan khas Om Damyan Godho dari balik telepon (interkom).

"Lagi edit berita nih Om."

"Kau ke ruang saya sekarang! Ada sesuatu yang mau saya sampaikan," kata Om Damyan Godho, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang.

Dialog itu terjadi medio 1997 di kantor lama Pos Kupang, Jl. Kenari No.1 Kelurahan Naikoten 1 Kupang.  Cuma sejengkal dari pasar tradisional terbesar di Kota Kupang, Pasar Inpres Naikoten.

Sampai di ruang kerja Om Damy di lantai 1, beliau langsung memberikan kepada saya sepucuk surat undangan.

"Kau tugas ke Dili ya. Kau bisa menulis banyak artikel menarik," kata Si Om.

Pria Berjin Biru Itu


Saya dan Herman Darmo (kanan) 2019
Oleh Dion DB Putra

Jin. Warnanya biru. Berpadu kemeja lengan pendek yang ujungnya dibiarkan berjuntai. Jarang amat dia memasukkannya ke dalam celana panjang.

Kakinya pasti berbalut sepatu, jenis sporty lazimnya. Bukan sepatu formal resmi. Satu lagi asesoris harian yang tak pernah ketinggalan yaitu tas model ransel.

Fashionable sekali sih tidak, tapi penampilannya selalu good looking. Fresh. Memberi spirit bahwa usia boleh tua tetapi semangat tidak mesti menua apalagi redup berderai.

Ini secuil kenangan tentang seorang pria berjin biru. Sejak dulu saya menyapanya Om.

Om Herman Darmo, Kuat dugaan biru adalah warna idolanya.

Klopp Memang Klop dan Top


Juergen Klopp (ist)
URUSAN klop dan top hari-hari ini hanya dipunyai satu nama.

Juergen Klopp. Seng (tidak) ada yang lain. Dia top. Tertinggi, teratas.

Berada di puncak prestasi dan kesohoran sepak bola.

Itu terjadi karena dia memang klop. Tidak kurang dan tidak lebih. Cocok.

Sesuai harapan Liverpool.

Setelah menanti 30 tahun akhirnya trofi Premier League (PL) alias Liga Inggris mendarat lagi di Anfield Juni 2020.

Melengkapi koleksi trofi Liga Champions Eropa yang The Reds raih tahun sebelumnya.

Klopp sungguh klop. Tapi jangan tuan lihat semata atas hasil hari ini.

Sepucuk Surat buat Shin Tae-yong


Shin Tae-yong
ORANG Indonesia doyan drama Korea alias drakor.

Bahkan sekarang ada stasiun televisi menempatkan drakor sebagai program hiburan utama.

Ada drakor sesi pagi, sesi siang dan drakor malam. Ratingnya memang tinggi sih.

Kisah romantisme ala Korea yang kadang mengurai air mata rupanya mendapat pasar spesial di Indonesia.

Di luar layar kaca itu, ada “drama” lain pula yang sedang menyedot perhatian publik negeri ini. Sama-sama berwarna Korea.

Drama di panggung sepak bola.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...