Rabu, 12 November 2014

Bunuh


KEHENINGAN malam di kawasan kilometer lima jalan lingkar Kota Kefamenanu terusik. Di malam menjelang larut itu warga dikejutkan oleh penemuan seonggok mayat di tengah jalan berdebu, Kamis (19/5/2011) sekitar pukul 22.00 Wita. Mayat seorang pria muda dengan leher digorok nyaris putus. Darah berceceran. Duh!
Polisi datang tak lama setelah menerima laporan masyarakat. Misteri mayat pun terkuak. Namanya Simon Subun, usia 20 tahun, warga Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Simon yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek diduga jasi korban pembunuhan dalam suatu aksi pencurian. Indikasi tersebut muncul setelah sepeda motor jenis Shogun biru nomor polisi DH 4846 CD yang dikendarai Simon, raib entah ke mana.


Horor penemuan mayat belum berakhir di situ. Sembilan jam kemudian warga temukan lagi mayat seorang pria berusia 33 tahun di ruas jalan Ponu-Atambua Atas, Jumat (20/5/2011) sekitar pukul 07.00 Wita. Namanya Markus Beli (33) asal Kampung Oekoro, Kelurahan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, TTU. Jenazah Markus ditemukan dalam kondisi telentang di jalan dengan luka tusuk pada leher dan kaki kiri, tempurung kepala bagian belakang terbuka serta luka gores di sekujur tubuh seperti bekas seretan. Markus mungkin dihabisi sang pembunuh baru mayatnya diletakkan di pinggir jalan. Sadis!

Begitulah warta pembunuhan yang disiarkan sejumlah media massa Nusa Tenggara Timur akhir pekan lalu. Mungkin sebagian orang menganggap biasa saja peristiwa semacam itu. Toh manusia bakubunuh sudah ada sejak zaman Kain dan Abel. Lagipula kematian bisa terjadi kapan saja dan akan menimpa semua orang yang bernyawa. Yang berbeda hanya soal cara mati, waktu dan tempat kematian.

Namun, bagi tuan dan puan yang jeli mengikuti perkembangan, tindak pidana pembunuhan di wilayah hukum Timor Tengah Utara telah menebarkan teror yang menakutkan karena negara seolah absen dalam setiap peristiwa sadis yang menimpa warganya. Data Pos Kupang menunjukkan indikasi tersebut. Dalam tempo sepuluh tahun terakhir, tercatat sedikitnya 20 kasus pembunuhan di wilayah hukum TTU yang belum sampai ke pengadilan. 

Data berikut memberi secuil gambaran. Di kepolisian sektor (Polsek) Ponu ada tujuh kasus pembunuhan sejak tahun 2003 yang berkasnya belum sampai ke pengadilan. Ditambah kasus terbaru yang menimpa Markus Beli, maka ada delapan kasus pembunuhan di Polsek ini yang belum terungkap. Di Polsek Nunpene terdapat lima kasus pembunuhan, termasuk kasus kematian Paulus Usnaat di kamar tahanan Polsek Nunpene yang sempat menggegerkan beranda Flobamora lantaran salah seorang tersangka merupakan figur terkenal. Di Polsek Kota Kefamenanu ada empat kasus dan Polsek Noemuti satu kasus pembunuhan.

Dengan demikian jelaslah betapa para pembunuh berkeliaran bebas di luar sana. Boleh jadi si pembunuh itu tetangga rumahmu, rekan kerjamu atau bahkan pimpinanmu di suatu instansi swasta maupun pemerintah. Dia bisa saja seorang yang ramah, rajin berdoa dan dermawan. Boleh jadi dia adalah tokoh masyarakat, orang yang terpandang secara sosial. Tapi mereka luput dari jeratan hukum. Mereka pun merasa tidak bersalah meski telah menghilangkan nyawa sesamanya dengan keji. Pembunuh yang luput dari hukum, baik perorangan maupun kelompok dapat saja mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Membunuh dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah yang paling mudah. 

Kasus pembunuhan misterius tidak hanya terjadi di wilayah Timor Tengah Utara. Kasus serupa juga banyak terjadi di berbagai wilayah Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu dan Lembata). Sumba merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi di NTT. Tidak sedikit kasus bakupotong kepala manusia di sana yang menguap begitu saja.


Tuan dan puan kiranya belum lupa sejumlah kasus dengan ekspetasi besar dari publik. Misalnya kasus kematian Romo Faustinus Sega, Pr di Ngada dan Nurdin Devyanto di Maumere, Kabupaten Sikka. Kasus Romo Faustin memang sampai ke meja pengadilan, namun vonis hakim di level pengadilan tinggi membebaskan para terdakwa. Artinya, jika Romo Faustin dibunuh maka pembunuhnya masih misteri sampai detik ini. Sang pembunuh tertawa ngakak mengolok ketidakmampuan penegak hukum menjeratnya.

Kisah kematian Nurdin Devyanto pun setali tiga uang. Kepolisian Daerah (Polda) NTT menunjukkan keseriusan dengan membentuk dua tim penyidik untuk mengusut kasus ini. Tim pertama berkesimpulan Nurdin mati akibat kecelakaan lalulintas. Tim kedua meyakini Nurdin dibunuh. Sejumlah tersangka ditangkap dan ditahan di Kupang. Sampai masa penahanan tersangka berakhir, berkas mereka sekadar bolak-balik dari polisi ke jaksa. Entah sampai kapan kasus tersebut baru sampai ke pengadilan. Mungkin sudah masuk kotak. 

Kasus paling heboh dari Timor Tengah Utara adalah misteri kematian Paulus Usnaat di kamar tahanan Polsek Nunpene tahun 2008. Polisi memang sempat menangkap dan menahan tersangka. Tapi nasibnya sama dengan kasus Nurdin. Sampai masa penahanan tersangka berakhir, berkas Usnaat mengandung banyak kekurangan alias tidak lengkap. 


Kematian Paulus Usnaat pun menebaran horor yang lebih mengerikan. Bayangkan, sel polisi begitu mudah diterobos pembunuh dan polisi gagal membekuknya untuk diproses hukum. Kalau di "rumah polisi" saja tidak aman, bagaimana dengan dunia di luar sana? Masuk akal kalau kasus pembunuhan misterius akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Rupanya kemampuan aparat penegak hukum kita baru sebatas itu, kendati ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang sangat maju. Secanggih apapun teknologi tetaplah manusia yang paling menentukan. Person behind the gun. Kalau etos kerja manusianya loyo, teknologi tak bisa menolong. Kalau manusia tidak punya nurani, hancur leburlah segalanya.

Begitu banyaknya kasus pembunuhan di beranda Flobamora yang tidak terungkap memberi pesan tegas kepada semua. Bahwa tuan dan puan sesungguhnya hidup di zaman barbar. Siapa yang kuat dialah yang menang. Yang berlaku adalah hukum rimba meskipun institusi hukum formal sebagai perangkat negara demokrasi memang ada. Penegak hukum ada di mana-mana dengan seragam rapi, pangkat, fasilitas dan kantor megah. 

Kemunduran sebagai bangsa itu sungguh nyata, kawan! Kegagalan negara melindungi warganya bukan isapan jempol semata bukan? Horor bisa menimbulkan kesurupan. Celaka tiga belas hidup di negara kesurupan. Histeris melulu. Ribut terus. Kisruh. (dionbata@yahoo.com) 

Pos Kupang, Senin 23 Mei 2011 halaman 1

Dor!


I Love You. Itulah kata terakhir Philip Chlanda kepada sang pacar sebelum ia menembak kepalanya dengan pistol dan tewas seketika. Cemburu buta menyebabkan kisah asmara polisi berusia 29 tahun tersebut berakhir tragis.
Philip, salah seorang polisi di Kota New York, Amerika Serikat itu, seperti disiarkan NYDailyNews, Kamis (19/5/2011), nekat menembak kepalanya di depan sang kekasih karena dia merasa akan ditinggalkan. Philip melihat profil Facebook pacarnya yang mengindikasikan kalau sang kekasih telah melirik pria lain.


Philip rupanya tidak kuat menghadapi kemungkinan putus cinta dengan kekasihnya. Kasus bunuh diri karena cinta dilakukan Philip setelah mereka bertengkar hebat. "Dia punya kesan bahwa sang pacar mungkin bakal meninggalkannya," kata Paul Browne, juru bicara kepolisian setempat. Akhirnya jalan pintas bunuh diri pun menjadi pilihan Pak Polisi.

Jalan pintas yang sama ditempuh rekannya sesama profesi namun beda negara dan bangsa, Brigadir Satu (Briptu) Edwin Leihu (23) di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, hari Sabtu 28 Mei 2011. Anggota Brigade Mobil (Brimob) itu bunuh diri setelah bertengkar dengan sang kekasih. Motif pertengkaran Edwin dengan kekasihnya belum terkuak, namun cara bunuh dirinya mirip aksi Philip di New York. Tiga butir peluru menembus kepala Edwin dari pistol yang ditembakkan Edwin sendiri dari bawah dagunya. Ngeri!

Anggota polisi mengakhiri hidup lewat bunuh diri. Bukankah kasus serupa makin banyak terjadi di negeri ini? Dalam tiga tahun terakhir -- menurut data yang dihimpun dari laporan media massa terjadi sedikitnya 16 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang melanda aparat kepolisian RI. Tahun ini tercatat tiga kasus hingga bulan Mei 2011. Hampir 99 persen aksi bunuh diri oleh polisi menggunakan senjata api. Dalam kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, selain polisi menembak diri sendiri karena suatu sebab ada juga polisi tembak sesama rekannya lalu bunuh diri, tembak istri atau kekasih kemudian dor kepala sendiri!

Di Indonesia, tuan dan puan masih sulit menemukan data spesifik yang akurat dan mudah diakses tentang kasus bunuh diri, apalagi kasus bunuh diri aparat kepolisian. Kuat kesan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) belum menempatkan perkara tersebut sebagai agenda penting dalam konteks pembinaan SDM Polri dan penguatan kelembagaan. Rekan polisi mati bunuh diri dipandang sebagai peristiwa kemanusiaan biasa, sama saja dengan kasus bunuh diri yang melanda warga masyarakat sipil lainnya. 

Sebuah penelitian oleh lembaga independen tahun 1994 mengungkap fakta miris di Departemen Kepolisian Kota New York, AS. Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1984-1994), sebanyak 137 petugas kepolisian meninggal saat menjalankan tugas. Tapi dalam periode yang sama terdapat 300 kematian di departemen kepolisian akibat kasus bunuh diri. Publik New York terguncang menatap angka ini. Publik bereaksi lantaran data tersebut tidak pernah dipublikasikan kepada masyarakat secara transparan. Artinya, polisi menutup-nutupi kasus bunuh diri anggotanya.

Kepolisian New York akhirnya melakukan reformasi mulai dari proses rekrutmen anggota, kurikulum pendidikan hingga beban tugas yang fair bagi setiap petugas kepolisian di salah satu kota terbesar Amerika Serikat itu. Keterlibatan psikolog kemudian menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap personel. Manakala seorang anggota polisi berperilaku aneh yang berindikasi stress atau putus asa, maka dia segera masuk kelas konseling. Dibebastugaskan sementara waktu. 

Sejak itu terjadi perubahan signifikan, yakni angka bunuh diri menurun drastis. Bahwa ada kasus bunuh diri seperti yang menimpa Philip Chlanda, itu merupakan pengecualian. Toh tidaklah mungkin kasus serupa nihil selamanya.

Pengalaman New York boleh jadi sudah lama menghampiri institusi Polri. Banyak kasus bunuh diri anggota yang ditutup-tutupi atau dikemas ke publik sebagai informasi yang tidak murni lagi. Kecenderungan terkini di mana makin banyak kasus bunuh diri di kepolisian mestinya menjadi momentum bagi Polri melakukan pembenahan lebih sungguh. Apalagi tantangan Polri ke depan tidak bertambah enteng. Modus kejahatan makin kompleks. Siapa pun warga bangsa ini kiranya tidak mau hidup berdampingan dengan polisi yang cepat stres, mudah putus asa dan riang menembak diri sendiri untuk mengakhiri hidup yang indah ini. Sebagai pelindung masyarakat idealnya polisi lebih tangguh secara fisik dan mental.

Banyak suara di tengah masyarakat yang mempersoalkan proses rekruitmen anggota kepolisian yang masih jauh dari prinsip jujur dan adil bagi seluruh anak bangsa. Kuat nian rumor berembus bahwa di masa kini makin langka anak tuan dan puan masuk kepolisian secara murni tanpa duit pelicin. Duit pelicin itu so pasti tanpa bukti kwitansi. Jumlahnya membuat tuan merinding karena sudah bermain di kisaran angka puluhan juta dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Demi menjadi anggota Polri -- salah satu lapangan kerja yanw terbuka bagi tamatan SMA -- orang kita berani berutang demi masa depan anaknya. Namanya saja rumor, bisa benar bisa juga tidak. Tapi bila benar, bisa dibayangkan kualitas SDM Polri. Tes psikologi, tes tertulis sejumlah mata pelajaran serta tes fisik mungkin sekadar formalitas karena uang yang lebih menentukan lulus atau tidak.

Dari sisi kuantitas, Indonesia masih butuh 365.000 polisi karena jumlah polisi saat ini sekitar 395.000 orang atau masih jauh dari angka ideal 760.000 orang. Mengacu pada jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta orang, maka rasio polisi dengan jumlah penduduk saat ini satu berbanding 580 orang. Idealnya seorang polisi melindungi 300 warga.

Dengan demikian Polri sesungguhnya masih memberi kesempatan yang sangat luas bagi putra-putri Indonesia untuk bergabung. Dan, kematian seorang anggota Polri akibat bunuh diri seperti dialami almarhum Edwin di Ruteng merupakan kehilangan tiada tara. Kita berduka cita untuk keluarga besar Polri sekaligus berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Kuncinya kembali ke institusi Polri sendiri. Apakah memandang drama bunuh diri anggotanya sekadar kematian biasa atau justru menggugat Polri melakukan perubahan mendasar.

Omong-omong soal bunuh diri, data Data Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) berikut bikin bulu tengkuk berdiri. Ternyata setiap tahun hampir satu juta manusia di dunia mati karena bunuh diri. Data WHO menunjukkan angka kematian bunuh diri rata-rata terjadi setiap 40 detik. Selama 50 tahun terakhir angka bunuh diri meningkat 60 persen hingga menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian ketiga terbesar yang terjadi pada kelompok usia 15-44 tahun. 

Angka di atas belum termasuk percobaan bunuh diri yang 20 kali lebih sering daripada bunuh diri. Itu berarti lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada konflik bersenjata di dunia. Di beberapa negara, seperti Jepang dan China angka bunuh diri bahkan lebih gemuk ketimbang kematian akibat kecelakaan lalulintas. 

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut WHO pada tahun 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindakan bunuh diri tiap tahun. Itu data 2005. Data terbaru bisa diasumsikan lebih tinggi lagi. Bukankah kita hidup di tengah tata dunia yang makin sinting? Nah, tuan dan puan mari kita berbuat sesuatu. Paling tidak berpikir dan berbuat baik hari ini agar kesintingan dunia sedikit terkikis. Dor! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 30 Mei 2011 halaman 1

Skor 5:5


SEUMPAMA arena pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah (pemilu kada) di kampung besar Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan kompetisi sepakbola, maka kompetisi itu sungguh mencerminkan jatuh bangunnya sebuah kesebelasan partai politik (parpol). Ada saat berjaya, ada waktu tunggang langgang. Ada tangis, ada tawa.
Sejak pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2005, begitu banyak air mata tumpah di persada Flobamora. Juga tawa berderai hingga mencabik langit. Dan, inilah hasil sementara pertarungan itu. Dua klub politik raksasa di beranda Nusa Tenggara Timur, Partai Golongan Karya (Golkar) versus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bermain imbang 5:5. Skor tersebut bisa berubah dalam hitungan hari mengingat kompetisi pemilu kada masih terus bergulir.




Acuan skor imbang yang beta pakai adalah kepala daerah dan wakil kepala daerah dari Partai Golkar dan PDIP yang kini masih serta akan memimpin kabupaten dan kota di NTT. Ya, meskipun Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Flores Timur belum mengetuk palu final, namun hampir dipastikan dalam duel terkini di Flores Timur, pasangan PDIP unggul atas Golkar. “Kemenangan” terakhir itulah yang menyamakan skor menjadi 5:5 antara PDIP dan Golkar.

Kiprah kedua parpol yang menguasai panggung politik Flobamora sejak pemilu pertama di era reformasi tahun 1999 menarik disimak. Khusus Partai Golkar yang berkuasa penuh selama rezim Soeharto –sempat gamang ketika kepala daerah di ini negeri dipilih langsung oleh rakyat mulai tahun 2005. Di beberapa kabupaten Golkar gagal mengusung calonnya karena kisruh internal serta ketidaksiapan mereka beradaptasi dengan sistem serta regulasi baru. Kiprah PDIP pun mirip. Partai banteng yang menikmati eforia hasil pemilu 1999 ternyata sulit menemukan kader dengan nilai jual tinggi. PDIP memaksakan kader yang belum ranum sehingga rontok berguguran. Dalam beberapa kasus, PDIP malah terjebak sindrom salah asuh dan salah pilih sehingga calon jagoannya tak berdaya menghadapi badai pemilu kada yang terkenal ganas dan butuh napas panjang.

Dalam pertarungan pemilu kada di sebelas daerah di Nusa Tenggara Timur, Golkar dan PDIP sungguh “dipermalukan” si cabe rawit. Partai kecil terbukti lebih lincah bergerak, lebih cerdas memilih figur berdaya jual tinggi serta lebih piawai membangun solidaritas. Di Kabupaten Sikka yang merupakan basis tradisional si Merah PDIP selama puluhan tahun, calon yang diusung dalam pemilu kada 2008 gagal naik singgasana bupati dan wakil bupati. PDIP masih bisa bersyukur lantaran di kabupaten nyiur melambai tersebut rivalnya Partai Golkar pun gigit jari.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), perolehan suara Golkar yang fantastis sejak Orde Baru dan berlanjut hingga tiga pemilu reformasi juga terjadi pergeseran dalam pemilu kada terakhir (2009). Pasangan calon Partai Golkar tidak berhasil melanjutkan rezim Golkar di bumi cendana yang bertahan puluhan tahun. Pemenang pemilu kada justru calon yang dijagokan koalisi yang dimotori Partai Demokrat. Di kabupaten ini PDIP pun sulit menjulang. PDIP agaknya tahu diri. Selain Sikka dan TTS, Partai Golkar dan PDIP juga gagal mengantar calon mereka meraih kejayaan di Kabupaten Ngada, Belu, Sumba Barat, Sumba Tengah, Alor, Manggarai Barat, Nagekeo, Kota Kupang dan Rote Ndao. Rote Ndao punya catatan istimewa. Inilah satu-satunya daerah di NTT yang dipimpin oleh calon dari jalur independen. Semua calon dari partai keok! Rote kok dilawan. He-he-he..

Golkar dan PDIP rupanya belajar dari kegagalan sehingga mereka mengubah taktik dalam putaran pemilu kada terkini. Saat bertarung di Kabupaten Manggarai, Sumba Timur dan Sabu Raijua pada tahun 2010, Golkar meminang figur yang sungguh kuat di akar rumput, tidak begitu penting lagi apakah dia kader Golkar atau bukan. Toh di era multipartai sekarang fenomena kader kutu loncat telah menjadi sesuatu yang lazim. Dan, terbukti partai beringin tidak keliru memilih. Si Kuning berjingkrak riang karena meraih kemenangan. Calon Golkar meraih suara meyakinkan, mengalahkan calon PDIP serta pasangan calon dari partai lainnya. Golkar dengan demikian berjaya di lima kabupaten yaitu Manggarai, Manggarai Timur, Sumba Timur, Sabu Raijua dan Lembata.

Lembata pantas disebut mengingat saat ini masih dipimpin Andreas Duli Manuk yang lima tahun lalu juga diusung Golkar. Dalam pemilu kada putaran pertama 19 Mei 2011, pasangan Golkar “unggul” sementara atas calon PDIP. Namun, karena keunggulannya beti alias beda tipis maka calon dari kedua partai tersebut harus berlaga lagi di putaran final 4 Juli 2011 mendatang. Pemilu kada Lembata menjadi medan pertarungan keras antara PDIP vs Golkar. Kalau pasangan PDIP menang, maka PDIP akan pimpin skor jadi 6-4. Demikian pula sebaliknya. Peluang kedua partai untuk juara di Lembata tahun 2011 berimbang. Tergantung bagaimana taktik dan srategi meraih suara pendukung empat calon lainnya yang kandas di putaran pertama.

PDI Perjuangan sejauh ini berjaya di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Kupang, Ende, Timor Tengah Utara (TTU) dan Flores Timur yang baru saja mencoblos 31 Mei 2011 setelah proses pemilu kada berlarut-larut hampir setahun. Di Timor Tengah Utara memang ada onak dan duri hukum yang menikam Komisi Pemilihan Umum selaku penyelenggara pemilu kada tahun 2010. Namun, legitimasi mayoritas suara rakyat yang memilih calon PDIP merupakan fakta tak terbantah. Masalah hukum terkait pemilu kada TTU tahun 2010 adalah soal lain yang juga menarik perhatian. Tapi lebih elok jika dikupas dalam sesi tersendiri.

Bagi tuan dan puan penggemar politik, skor imbang 5:5 pasti menarik bukan? Peta kekuatan itu niscaya dipakai sebagai modal kalkuasi peluang untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur tahun 2013 serta pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2014 secara nasional. Duel Golkar vs PDI Perjuangan akan semakin membara pada hari-hari mendatang.

Bagaimana dengan Kota Kupang yang tahun 2012 kembali memilih walikota dan wakil walikota? Setelah menjaring angin lima tahun silam karena memilih figur yang kurang menjual, kali ini PDIP dan Partai Golkar sepertinya tak mau melepas peluang tersebut untuk kedua kalinya. PDIP bahkan telah menabuh genderang perang terbuka dengan membuka pendaftaran bagi para calon. Puluhan nama calon sudah mendaftar lewat pintu PDIP, termasuk Ibu Lusia Adinda Dua Nurak-Lebu Raya. Tuan dan tuan tidak asing dengan tokoh ini. Beliau adalah istri ketua DPD PDI Perjuangan NTT yang juga Gubernur propinsi ini, Drs. Frans Lebu Raya.

Dengan membuka pendaftaran secara terbuka bahkan diiklankan secara menyolok lewat media massa, PDIP tentu saja mau menunjukkan keseriusannya merebut kepemimpinan di Kota KASIH. PDIP agaknya merespons gerakan rivalnya Partai Golkar yang sudah lebih dulu merapatkan barisan, antara lain dengan melakukan pergantian ketua partai yang kini dipegang Drs. Daniel Adoe yang juga Walikota Kupang. Tentang tokoh murah senyum dan ramah ini, beta ingat pernyataannya hampir dua tahun lalu, tepatnya tanggal 9 Juni 2009. “Saya hanya mau katakan bahwa saya tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilihan walikota mendatang. Saya cukup satu periode. Saya ingin menikmati hari tua saya bersama isteri dan keluarga. Saya ingin masa tua saya tenang," kata Daniel Adoe ketika itu. Pernyataannya yang mengejutkan hari itu disiarkan secara luas oleh media massa cetak dan elektronik.

Apakah beliau sungguh tidak maju lagi sebagai calon dalam pemilu kada Kota Kupang tahun 2012? Menurut politikus kawakan Nusa Tenggara Timur, Bung Kanis Pari, berpolitik praktis adalah hidup berkecimpung dengan seni yang paling tinggi dan indah yaitu seni dari segala kemungkinan; memungkinkan kemungkinan yang tidak mungkin, dimungkinkan kemungkinan yang bisa saja memungkinkan kemungkinan yang belum mungkin. Jadi? (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 6 Juni 2011 halaman 1

Soeharto


Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali
Bulu Kuduk Merinding...

MINGGU Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk angka 15.30. Azan Asar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.
Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi yang bertujuan agar penggalian berjalan lancar. Yang memimpin Begug Purnomosidi, Bupati Wonogiri.


Lalu linggis dihujamkan ke tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula tikaman yang kedua. Namun, bulu kuduk sontak merinding saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya. "Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami," kata Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun. Sukirno menceritakan kembali pengalamannya menggali makam Soeharto dalam buku Pak Harto The Untold Stories yang diluncurkan di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011. 

Menurut Sukirno, para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Coba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu. "Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun," katanya. Aneh. Tak ada yang porak-poranda, tak satupun benda yang bergeser karena ledakan itu. Mereka menduga itu suara gaib. Semua diam, terpaku. Lalu suara Begug memecah keheningan. "Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau," tutur Sukirno menirukan kalimat Bupati Wonogiri tersebut. 

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya dalam Pak Harto The Untold Stories -- buku yang diluncurkan tepat pada peringatan kelahiran Soeharto ke-90 tanggal 8 Juni 2011 lalu. Peluncuran buku tersebut berlangsung hanya tiga pekan setelah masyarakat Indonesia dikejutkan dengan hasil survei lembaga Indo Barometer yang menunjukkan 36,5 persen responden (dari total 1.200) memilih Jenderal Besar Soeharto sebagai presiden yang paling disukai. Selanjutnya 20,9 persen memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 9,8 persen memilih Presiden Soekarno, 9,2 persen memilih Megawati Soekarnoputri, 4,4 persen memilih BJ Habibie, 4,3 persen memilih almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mayoritas responden juga menilai Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi. Hanya pada bidang hukum, Orde Reformasi dianggap lebih baik. Sementara pada banyak sisi kehidupan lain, terutama ekonomi dan sosial politik, dominan responden menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. Masa kepemimpinan Soeharto lebih memuaskan. Wow! Karuan saja banyak yang sewot.

Reaksi keras datang dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pemerintahan SBY-Boediono menegaskan, masa pemerintahan Orde Baru tidak bisa dibandingkan dengan kondisi saat ini karena suasananya jauh berbeda. Juga dipertanyakan validitas data serta metodologi survai Indo Barometer. Juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha menilai data responden membingungkan karena tidak dicantumkan secara detail subyek pertanyaan dan parameter yang lengkap. 
SBY sendiri pernah membandingkan zaman dia dengan Soeharto. "(Di zaman Soeharto) pemerintahan top down. Presiden bisa berbuat banyak," kata SBY. Dia juga membandingkan bisnis zaman Soeharto dengan saat ini. "Bisnis dulu bisa diatur dan ditata, belum berlaku otonomi daerah seperti sekarang ini," kata SBY.

Orang bisa berbeda pandangan merespons hasil survei tersebut. Dan, itu wajar saja. Yang pasti dalam keseharian tuan dan puan mungkin pernah menangkap suara-suara masyarakat yang merindukan kondisi stabil dan aman seperti di masa Orde Baru (Orba). Rakyat di level akar rumput tidak peduli apakah Era Reformasi lebih demokratis dibanding Orba. Ukuran mereka simpel saja yaitu bagaimana kemudahan mendapatkan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dengan harga terjangkau. Untuk urusan 'kampung tengah' alias perut ini agaknya masa Soeharto lebih mudah. Zaman Soeharto, Indonesia swa sembada beras. Impor pangan hampir nihil. Sekarang bahkan garam dapur pun impor. Begitu kira-kira persepsi umum di tengah masyarakat. Jadi bisa dimengerti bila ada yang kangen dengan Orde Baru. Dan, Orde Baru identik dengan Soeharto! 

Survei Indo Barometer pun menyeruak di tengah beragam keganjilan di ini negeri. Sebut misalnya kasus Bank Century, berbiaknya gerakan Negara Islam Indonesia (NII), pembakaran rumah ibadah, penyerangan tiada henti terhadap kelompok agama minoritas serta ingkar janji pemerintah terhadap sejumlah program pro rakyat yang oleh tokoh agama dilukiskan sebagai kebohongan. 

Survei itu juga bergulir di tengah drama politik yang menyakiti hati rakyat seperti studi banding, gedung mewah DPR, kasus anggota Dewan kepergok nonton video porno dalam rapat paripurna hingga kasus Partai Demokrat lewat M Nazaruddin yang masih berada di Singapura dan membangkang terhadap panggilan KPK dalam kasus proyek SEA Games 2011. Drama itu menambah rasa tidak puas masyarakat.

Begitulah tuan dan puan. Memori kolektif rakyat Indonesia seolah "lupa sejenak" bahwa Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh kontradiksi. Mulai dari pengambialihan kekuasan tahun 1965, kasus G 30S PKI hingga jargon KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Meski banyak tuduhan, Soeharto tak pernah diadili sampai wafat 2008 atau sepuluh tahun setelah lengser keprabon. 

Buku Pak Harto The Untold Stories cuma mengisahkan sisi positif Soeharto. Lalu siapa yang akan menceritakan hal-hal kelam dari zaman itu? Bukankah sisi negatif mantan presiden bisa menjadi pembelajaran agar bangsa Indonesia jangan terperosok pada lubang yang sama? Bangsa besar ini agaknya belum dewasa. 

Benar peringatan Ikrar Nusa Bakti. Semua kenikmatan Orde Baru adalah hasil hutang luar negeri yang mesti ditanggung rakyat, penyerahan kekayaan sumber daya alam kepada asing serta mengebiri kebebasan hak asasi individu. "Kita jangan lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah pijakan sepatu lars, di ujung moncong senapan!" kata Ikrar. Seorang kawan menimpali. "Yang tidak kangen sama Orde Baru itu tidak punya hati. Tapi yang mau Orde Baru berkuasa lagi tak punya otak." He-he-he...(dionbata@gmail.com)
 
 Pos Kupang Senin, 13 Juni 2011 halaman 1

Siami


Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!
WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini. Usir orang yang tak punya hati nurani!"
Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur malah buntung!



Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!

Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya didemo warga Gadel.

Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di zaman ini memang mahal, kawan! 

Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan menyontek atau katrol nilai.

Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen. Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.

Di sudut hatinya yang paling bening, warga sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini, suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur. Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Hasil investigasi tim independen menemukan bukti bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga hasil ujian tidak sama.

Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6 SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang sakit!

Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.

Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.

Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar, tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan Siami. Terima kasih Siami. (dionbata@gmail.com)
 
 Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...