Kamis, 08 Januari 2015

Ketuma



Bangsat!

Dialah yang paling indah
terekam dalam memori...


BANGSAT! Perkenankan beta berbagi tentang kata yang hampir pasti tidak menyenangkan hati tuan dan puan. Bangsat! Beta tidak sedang mendamprat siapa-siapa. Ini kata bersejarah buat beta. Ada kenangan personal. Sarat makna. Terekam indah dalam memori sampai detik ini.

Pertama "kudapat bangsat" bukan dari orangtua. Bukan juga para guru. Terima kasih untuk ayah dan ibu untuk peringatan berulang bahwa kata itu tabu untuk seorang anak. Terima kasih buat guru-guruku sejak SD di kampung hingga perguruan tinggi di kota KASIH. Mereka tidak sekalipun mendampratku dengan kata-kata itu. Terima kasih para sahabat yang anti kata bangsat dalam bergaul.

Kecebong


Air di kolam itu semakin berkurang
Yang tidak pindah mati kekeringan...


ALKISAH hiduplah sekawanan kecebong di dalam sebuah kolam yang tak seberapa luas. Larva binatang amfibi yang hidup dalam air, bernapas dengan insang serta berekor itu tak terhitung jumlahnya. Di antara sekian banyak kecebong, ada seekor yang merasa gundah dengan kondisi lingkungan, populasi kecebong yang amat gemuk dan ancaman musim kemarau. 
Ia sering meloncat-loncat ke atas air untuk melihat apakah ada tempat yang lebih besar untuk mempertahankan hidup bila musim kemarau berkepanjangan tiba. Setelah beberapa kali memantau, ia melihat ada satu kolam yang lebih luas dengan air yang lebih banyak. Dia mulai menyusun rencana untuk migrasi ke sana.

Jenggot



KEMBALI ke Maumere di ujung Januari untuk sebuah acara kantor, ikut mengantar beta bertemu kawan lama. Kawan yang dagunya mulus tak berbulu. Mengejutkan! 

Rupanya dia sudah berubah wajah. Dulu dia rajin memelihara bulu. Bulu di dagu. Sekarang bersih. Dia rajin dan rutin mengikis.
"Ah, kau bikin saya sempat pangling. Kenapa tidak lagi berjenggot," tanyaku spontan. Dia terbahak-bahak. "Bukan gara- gara istri tidak suka. Saya yang tidak suka karena kelihatan lebih tua," katanya enteng. Kawanku itu doyan jenggot sejak SMA. Saat kuliah jenggotnya makin tebal dan hitam. Jenggot menjadi ciri khasnya selain kulit hitam legam, tubuh gempal dan kepala agak botak di bagian tengah. 

Orang Ketiga



LIMA detik saja, mana tahan? Jannes Eudes Wawa menulis judul menggelitik itu di blognya, http://eudeswawa.kompasiana.com. Beta sungguh tak tahan segera membaca isi blog wartawan Harian Kompas lulusan FIA Undana tahun 1993 tersebut. Apa lagi yang hendak Jannes ceritakan? Beta mengenal mantan mahasiswa sosilogi itu sebagai penulis TKI. Dia juga piawai menganalisis masalah perikanan, kelautan serta bisnis penerbangan.
Ternyata Jannes menulis sesuatu di luar kebiasaan yaitu tentang efektivitas alat peraga kampanye. Rupanya politik menggoda perhatiannya pula. Jannes mewartakan dua kabar sekaligus. Kabar baik dan buruk. Baik sebagai bahan evaluasi. Buruk karena bakal mengganggu tidur para calon anggota legislatif (caleg) yang hari-hari ini gesit dan giat memperkenalkan diri kepada pemilih.

Yakobus


Setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah, "Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan" - lalu ia mati.

IZINKAN beta menyapa saudaraku sesama warga kota "Kasih", Yakobus Anunut dan saudariku Maria Seran. Untukmu berdua kuucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergiaan ananda tercinta, Limsa Setiana Katarina Anunut. Beta sedih dan prihatin, sama seperti banyak orang yang telah berempati dengan cara mereka masing-masing.
Bung Kobus, perkenankan beta menyapamu seperti itu. Semoga bung tidak keberatan. Dukamu adalah dukaku juga. Duka sesama saudara kita yang teriris perih mendengarmu, melihatmu menggendong ananda Limsa dalam perjalanan pulang ke rumah di tengah rinai hujan. 

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...