Senin, 20 April 2015

Tantangan dari Valens Doy

Valens Goa Doy

Oleh Achmad Subechi


PUASA sebentar lagi akan berakhir. Di bulan suci seperti ini saya teringat sebuah tantangan besar yang diberikan guru jurnalistik saya. Namanya Valens Doy. Dia mantan wartawan senior Harian Kompas. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002.

WAKTU itu mendekati Pemilu 2004, mantan KSAD sekaligus Menpen Jenderal R Hartono mendirikan sebuah partai bersama tokoh Golkar Ary Mardjono. Namanya Partai Karya Peduli Bangsa, berdiri 9 September 2002.

Om Valens -biasa saya memanggil dia-yang ketika itu ditunjuk menjadi konsultan Harian Surya meminta saya agar mengerahkan semua kekuatan (wartawan) di Biro Jakarta agar melakukan wawancara khusus dengan R Hartono. "Saya sediakan dua halaman dan wawancara dibuat tanya jawab. Besok sudah harus ada," pesan Om Valens.

Mengapa Xanana Nundur?

Oleh Valens Doy

 
BAGI 11 wartawan Indonesia yang mengunjungi Timor Lorosae awal Februari 2001, pengunduran diri Xanana "Kay Rala" Gusmao dari jabatan Ketua Dewan Nasional Timor Lorosae (DNTL)-semacam DPR Transisi sampai terbentuknya DPR hasil Pemilu 30 Agustus mendatang-sama sekali tidak mengejutkan. Apalagi pernyataannya untuk tidak akan mencalonkan diri menjadi presiden.

Tanggal 8 Februari 2001, di press room yang amat sederhana di kantornya di Dili, kepada 11 wartawan Indonesia yang disebutnya sebagai sahabat terdekat dan disambutnya dengan amat hangat itu, Xanana dengan sangat gamblang mengemukakan dua argumennya, mengapa ia harus segera mundur dari peran sebagai bintang utama di panggung politik Timor Lorosae.

Valens Doy dan Julius, Tokoh Visioner


Keluarga Valens Doy dan Julius Siyaranamual pose
bersama usai doa di Pos Kupang hari Sabtu 7 Juli 2005.


DUA orang tokoh pers nasional yang juga sesepuh Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Valens Goa Doy dan Julius Siyaranamual adalah tokoh visioner. Pemikiran kedua tokoh yang bersahabat karib tersebut selalu jauh ke depan, sehingga kadang sulit diterima mereka menyampaikan pandangang-pandangannya.

Demikian Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho dalam sambutannya pada acara syukuran 40 hari wafatnya kedua tokoh tersebut di halaman parkir Kantor SKH Pos Kupang di Jl. Kenari No. 1 Kupang, Sabtu (2/7/2005) malam.

Valens Tidak Dikubur Bersama Kata-katanya


Oleh Jacobus Embu Lato

VALENS Goa Doy tidak bisa dikubur bersama cinta, kata-kata dan karyanya. Sebagai substansi otonom, semua kompleksitas kekayaan cinta, kata-kata dan karyanya tetap hidup, tumbuh dalam hati keluarganya, rekan-rekannya dan mantan karyawannya.

Orang-orang sekitarnya dengan kapasitas, kualitas dan atensi serta konsistensi pribadinya akan membiarkannya hidup abadi. Xanana Gusmao, kini Presiden Timor Leste, yang pernah menjadikannya mediator ketika massa pendukungnya terlibat konflik dengan militer Indonesia bisa menjadikan cinta, kata dan karya Valens untuk membimbing dan mengembangkan masyarakat dan negaranya yang kini didikte hampir total oleh masyarakat internasional.

Rekan-rekan yang masih setia berkutat di media menjadikannya inspirasi untuk mengembangkan betapa kerasulan inklusif bisa meretas polarisasi eksklusif masyarakat Indonesia akibat menguatnya potensi tribalisme dalam kehidupan politik Indonesia kini.

Rudolf Nggai: Pekerja Keras yang Rendah Hati


Rudolf Nggai (berdiri ketiga dari kanan) bersama kru Pos Kupang 1993
SYLVIA itu sebuah nama.  Nama favorit-legendaris  sekaligus tempat paling kerap dikunjungi  oleh siapa pun yang menyandang status mahasiswa di  Kota Kupang  pada  tahun 1980-an  hingga awal 1990-an. Ya, Sylvia merupakan langganan saya dan teman-teman mahasiswa masa itu untuk fotokopi bahan kuliah, jilid makalah atau skripsi, bikin undangan dan lain-lain yang berhubungan dengan kertas.

Selama belasan tahun Sylvia boleh dilukiskan sebagai satu-satunya tempat percetakan dan  fotokopi paling representatif di Kota Kupang. Memasuki penghujung tahun 1990-an  baru muncul pemain baru di medan yang sama, meskipun kehadiran mereka tidak mengurangi pesona Sylvia sebagai perintis.
Dan, kami para mahasiswa kala itu akrab dengan tokoh di balik nama besar Sylvia. Mereka adalah pasangan suami istri,  Rudolf Nggai dan Emiliana Lan  atau akrab kami sapa Om Him dan Tanta Lan.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...