Selasa, 19 Mei 2015

Manusia dan Belenggu Bahasa

* Mengenang Kakakku Julius Sijaranamual


Oleh Jacobus E. Lato

Manusia belum mengetahui apakah dia itu, namun melalui alienasi dari diri sendiri, ia dapat mengetahui apa yang pasti bukan merupakan dirinya dan karenanya ia tidak mau atau sekurang-kurangnya seharusnya ia tidak mau tetap tingggal dalam kepalsuan.

Kata-kata Ernest Block, filsuf Marxis kenamaan ini mengingatkan saya pada Julius Sijaranamual. Pada perspektif tertentu, karena kedekatan personal kami yang bersumberkan kekayaan normatif kebudayaan Sumba dan Flores, saya menempatkannya sebagai kakak, namun perspektif lain memposisikan kami sebagai dua lawan yang tak bisa dipertemukan. Tulisan ini dengan demikian mendeskripsikan keberjarakan dan ketidakmampuan manusiawi untuk saling memahami manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Sastrawan yang Asing di Kampung Sendiri

* Mengenang Julius R Siyaranmual
Oleh Even Edomeko*

ADAKAH sastrawan dari NTT? Maka seorang guru sastra SMP Seminari Yohanes XXIII Lela (1983) menjawab kepada penulis : Gerson Poyk dan Julius R Siyaranamual. Hanya begitu. Begitu saja! Lalu ia cepat-cepat membicarakan nama lain yang tertulis dalam buku pelajaran sastra terbitan Tiga Serangkai Solo.
 
Siapakah Julius? Jawaban atas pertanyaan ini baru penulis peroleh ketika "merusak kerapian" perpustakaan SMA Seminari Yohanes Berchmans Mataloko (1985/1986), langsung dari "mulut" Om Julius sendiri melalui kisah kepengarangannya yang ia juduli Menolak Kebetulan, sebagaimana termuat dalam buku Pamusuk Eneste (editor) : Proses Kreatif (Gramedia, Jakarta, 1983). 
 
Dalam buku ini, "Sastrawan leu-leu" itu bersaksi dan men-sharing-kan pengalamannya tentang mengapa dan bagaimana saya mengarang, bersama dengan sepuluh sastrawan senior seperti "ST Alisjahbana, Trisno Yuwono, Budi Darma, Nh. Dini, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dll. Berkali-kali penulis membacanya, dan setiap kali membaca, selalu saja berkibar perasaan sangat bangga bahwa ternyata dari daerah bencana ini, dari propinsi busung lapar ini, ada sastrawan ternama!

Sabtu, 16 Mei 2015

Selamat jalan Ba'i Jembatang!

(Mengenang 40 hari Bung Julius Siyaranamual)


Oleh : Aris Tanone*

"Bermula dari mula itu ada mulanya".
SEJAK menerima berita duka itu, lalu ada permintaan dari Bung Damyan Godho untuk menulis catatan singkat mengenang 40 harinya Bung Julius, kalimat di atas terus berputar di otak. Soalnya, kalimat itu membangkitkan kenangan akan Bung Lius. Bayangan tentang tawa dan wajah Bung Lius saat berusaha menjelaskan tentang pentingnya kalimat pembuka sebuah cerpen, seakan tertayang kembali dalam film layar hitam putih. Dari pembicaraan tentang tulisan Bung Julius yang mendapat penghargaan Zainal Zakse di Bandung, akhirnya membawa Bung Julius ke urusan kalimat pembuka sebuah cerpen.

Kalimat pendek seperti yang banyak dipakai dalam Alkitab, kata Bung Lius. Sayang, saya tidak bisa ingat persis lagi kalimat itu selain sepotong kalimat di atas; sedangkan waktu dan jarak tidak memungkinkan untuk mengecek lebih jauh apakah betul begitu bunyi kalimatnya.

SKH Pos Kupang dan GMIT

Oleh Paul Bolla


SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong untuk menyuarakan 'suara kenabian.' 
Adalah almarhum Julius Syaranamual yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.
Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr. Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama, bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.

Satrio Piningit


ilustrasi
SUATU hari di bulan Juli atau Agustus 1999, di Kediri berkumpul tokoh-tokoh paranormal Indonesia yagn secara khusus membahas pemimpin masa depan Indonesia - Satrio Piningit atau satria yang Dipingit-yang sudah ditunggu-tunggu semenjak lama, sesuai dengan ramalan Joyoboyo, yang kalau tak salah dari awal milenium kedua. Tokoh messianik ini sebenarnya sudah bermunculan terbuka sejak akhir tahun 1990 oleh Permadi, yang meramalkan munculnya Sang Satrio Piningit sesudah nada gonjang-ganjing masa penuh kekacauan dan malapetaka

    Memang sepanjang dasawarsa 1990-an, Indonesia mengalami masa paling berantakan. Bukan saja bencana alam, kita juga mengalami kehancuran ekonomi paling parah dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar menyusul meningkatnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang konon mencapai 80 persen. Kita juga mengalami disintegrasi paling menakutkan dengan puluhan rumah ibadah dibakar, penjarahan toko-toko dan pemerkosaan, pembunuhan ratusan orang yang dituduh dukun, perang antarsuku dan agama, dari Sumba sampai ke Ambon, dari Kalimatan sampai ke Sulawesi.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...