Selasa, 01 Maret 2016

LGBT Butuh Pengakuan


KUPANG, PK -Kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Kupang serta NTT umumnya, membutuhkan pengakuan identitas dan perlakuan yang sama  dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Meski berbeda orientasi seksual tapi LGBT merupakan ciptaan Tuhan dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya.

Demikian harapan sejumlah lesbian, gay, biseksual, waria, transgender yang ditemui Pos Kupang di tempat berbeda hari Jumat hingga Senin (12-15 Februari 2016). Mereka di antaranya, Karen, Natacya Golsalves Nahak, Zamantha Karen, Riby Cesia, Ridho Carly, Olga Sabrina Victoria de Kolag, Santi Dewi dan Verra Gaya Trie.

Karen, seorang waria di Kupang, menilai warga Kupang sudah lebih cerdas menilai keberadaan waria dibandingkan sepuluh tahun lalu. "Kalau dulu, masyarakat masih memadang waria sebagai orang aneh. Tapi sekarang, masyarakat sudah lebih cuek dengan kehadiran waria. Tapi diskriminasi terhadap waria masih tetap ada," kata Karen, Sabtu (13/2/2016).

Mengenal Suka Duka Kehidupan LGBT


ilustrasi
Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak duduk di bangku SMP.

SAMPAI kapanpun, Riby Cesia (26), wanita pria (waria) asal Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tak akan bisa melupakan kisah tragis yang yang dialaminya. Riby Nyaris mati ditebas  parang oleh kakaknya karena melihatnya mengenakan busana perempuan.

"Hari itu saya ketahuan mengenakan pakaian wanita sehingga kakak saya marah. Saya dikejar dengan parang lalu rambut saya digunting. Keluarga memaksa saya kembali jadi laki-aki, tapi saya tidak bisa," tutur Riby, bungsu dari dua bersaudara di Kupang, Minggu (14/2/2016) malam.

Oliva Sadi Latihan Pagi dan Sore


Oliva Sadi
TETESAN keringat membasahi tubuhnya yang langsing.  Baju kaos olahraga dan celana  yang dipakainya basah.  "Sekarang ini udara Kota Kupang sangat panas sehingga  menyedot energi saat latihan. Sudah jam empat sore, tapi udara masih cukup panas," kata Oliva Sadi kepada Pos Kupang ketiak istirahat latihan  berlari belasan kali mengitari lintasan sirkuit atletik Stadion Oepoi Kupang, Jumat (19/2/2016) sore.

Oliva Sadi yang didampingi tiga orang pelatih, Drs. Julius Lona Koni, Edmundus Parera  dan Adnan Abullah tetap tersenyum.

Sambil berjalan mengitari lintasan Sirkuit Atletik di Stadion Oepoi-Kupang untuk menurunkan suhu tubuh setelah berlari satu jam mengitari lintasan stadion tersebut, Oliva mengaku sedang latihan intensif mengikuti program pemusatan latihan daerah (pelatda) desentralisasi sejak Januari hingga Maret 2016. 

Program itu berupa persiapan umum untuk tiga bulan pertama menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Bandung,  Jawa Barat. Oliva tidak gentar menghadapi persaingan ketat di PON nanti.  "Semua atlet tentu berdoa kepada yang Di Atas. Namun sekarang tinggal siapa yang banyak berdoa dan direstui Tuhan menjadi yang terbaik. Ini harus latihan intensif. Harus Ora Et Labora," kata gadis berlesung pipit itu.

Rekor Edu Nabunome Belum Terpecahkan



Edu Nabunome (tengah)
PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT) identik dengan gudang atlet atletik nasional.  Sejak tahun 1960-an putra-putri Flobamora mengharumkan nama Indonesia melalui cabang olahraga tertua itu.

Ketika diwawancarai Pos Kupang, Jumat (19/2/2016), mantan pelatih atletik NTT, Drs. Fredik Tunliu menceritakan kembali kilas balik kiprah atlet atletik di daerah ini. Pria  yang akrab disapa Eddy Tunliu ini menyebut  Rony Mello sebagai orang NTT pertama yang mengikuti pendidikan formal atletik tingkat internasional di Jerman   melalui program pendidikan dan latihan (diklat).

Eddy menjelaskan, menghadapi PON VI, Komando Gerakan Olahraga (Kogor) NTT memanggil sejumlah atlet dari daratan Timor, Alor, Flores dan Sumba.  Para atlet yang terpilih saat itu mengikuti program TC di Kupang, yakni Piter Lobo (Timor) mengikuti nomor lari 100 meter dan lempar lembing. Jan Imang (Alor) ikut 10.000 meter dan lari marathon. Zet Lalametan (Timor) ikuti nomor lompat tinggi. Amos Kamesah (Timor)  mengikuti nomor 10.000 meter, lari marathon dan Marthen Gela (Sumba) mengikuti nomor lompat tinggi galah. Sedangkan atlet putri, Martha Pati (Timor) mengikuti nomor 100 meter dan  200 meter. Asnat Riwu Pasa (Sumba)  mengikuti nomor 100 meter, lompat jauh dan Johana Mety (Sumba)  lempar cakram.

Atlet Atletik Bidik Tiga Emas di PON 2016


KUPANG, PK - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan medali emas minimal sama seperti yang sudah diraih atlet cabang olahraga (cabor) NTT saat lolos PON XIX/2016 di Bandang, Jawa Barat.

"Target NTT tiga medali emas dari  atletik. Ini harus diperjuangkan, bukan cuma melalui latihan intensif yang keras namun juga melalui doa. Dan harapannya hasil yang diraih bisa ditingkatkan saat atlet atletik NTT tampil di PON XIX/2016. Oliva dan Afriana Paijo sudah teruji di level nasional. Apalagi ini olahraga terukur," kata Ketua Umum Pengprov PASI NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si,  saat ditemui Pos Kupang di kediamannya di Jalan Anggrek, Kelurahan Naikolan, Kupang, Jumat (19/2/2016).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...