Selasa, 03 Maret 2020

Namaku Maria


Maria Sharapova (ist)
SETELAH Gabriela Sabatini memutuskan pensiun medio 1990-an, dalam usia terbilang muda, wartawan dan penulis tenis dunia sempat lama kehilangan gairah memakai diksi jelita dalam reportase mereka.

Sampai suatu hari di pertengan tahun 2004, si pirang mungil dari Siberia ini sontak menarik atensi lewat gemulai ayunan raketnya, rambut ekor kuda, sungging senyum dan terutama kiprahnya yang mencengangkan!

Ya, tahun 2004, dalam usia akil balig, baru dua bulan mereguk indahnya momen sweet seventeen, si pirang menjuarai turnamen tenis tertua dan paling bergengsi di dunia.

Dia jawara tunggal putri turnamen Grand Slam Wimbledon edisi ke-118.

Jagat tenis terkesima. Penasaran sungguh lalu mencari tahu siapa gerangan gadis remaja dari negeri berselimut salju abadi itu?

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

Datang ke All England Lawn Tennis and Croquet Club di Wimbledon sebagai bukan siapa-siapa, di puncak pesta pada 3 Juli 2004, justru Maria Sharapova bintangnya.

Kearifan dari Susur Sungai


ilustrasi
SAYA selalu bersyukur sampai kapan pun karena menghabiskan masa kecil yang indah di bibir dua sungai, Lowo Ria dan Lowo Tulu.

Tentu nama itu senyap bagi sebagian orang termasuk mereka yang mendiami wilayah Kabupaten Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua sungai cilik itu mengapit Kampung Mulawatu, desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.

Watuneso adalah ibu kota kecamatan Lio Timur sehingga teman sekampungku kerap bangga menyebut diri sebagai anak Wanes--akronim Watuneso.

Lowo Ria merupakan induk sungai yang mempertemukan tirta dari sejumlah anak sungai termasuk Lowo Tulu.

Jumat, 21 Februari 2020

Menunggangi Ombak


ilustrasi
MANTAN pimpinanku yang sudah belasan tahun pensiun, wartawan senior dari media terkemuka mengungkapkan kegundahannya ihwal kerja jurnalis masa kini.

Dia biasanya jarang berceloteh di akun medsos.

Namun, ketika perbarui statusnya beberapa hari lalu, sentilannya memancing perhatian mata.

“Saya dididik selalu berpikir positif. Namun sehari-hari melihat dan mendengar para pembawa acara TV selalu bekerja dengan pendekatan negatif. Padahal pikiran kita itu seperti tanah, jika ditanami jagung tumbuh jagung, tanam kedele tumbuh kedele. Jika pikiran kita "ditanami" hal-hal negatif, bukankah yang akan muncul perbuatan negatif, hal-hal yang tidak baik? Jurnalis kita lebih pentingkan judul daripada inti masalah bahkan sering tidak mau mendengarkan jawaban narasumber demi menggiring opininya sendiri. Apa itu yang juga diberikan kepada mahasiswa jurnalistik sekarang? Wah ambyar tenan!”

Lain lagi gerutuan pengamat media. Masih kerabatku juga.

Jerit Perih Peternak Babi di Bali



ilustrasi
BABI itu hewan kaya lemak berhidung besar yang rakus makan dan jarang diam.

Apalagi kalau perutnya belum terisi, maka seisi kampung pun bisa mendengar ‘gerutuannya’ yang khas. Riuh rendah.

Sejak penghujung 2019 hingga jelang purnama kedua 2020, riuhnya kisah babi tak kunjung usai di Bali.

Malah makin lantang mencabik langit Pulau Dewata lantaran kematian babi secara mendadak kian kencang saja.

Januari 2020 berakhir dengan catatan miris. Peternak di Sarbagita: Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan tunggang-langgang menelan pil pahit. Mereka tak mendengar lagi riuhnya suara babi yang mengisi keseharian.

Senin, 10 Februari 2020

Damyan Godho, Firmus Wangge dan Uskup Petrus Turang


Damyan Godho
TANGGAL 27 Juli itu istimewa. Setidaknya bagi ketiga tokoh ini, Firmus Wora Wangge, Damyan Godho dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.

Nama pertama dan kedua telah berpulang ke haribaanNya. Berselang setahun saja.  Damyan Godho meninggal dunia 29 Januari 2019.  Dua belas purnama kemudian Firmus Wangge menyusul, 6 Februrari 2020.

Buat Om berdua yang terkasih, semoga bahagia di sisiNya. Amin.
Saya mengenang 27 Juli karena gara-gara tanggal itulah saya berintekrasi cukup intens  dengan mereka.

Itu dua dekade lalu, 23  tahun silam, tepatnya 27 Juli 1997. Setahun menjelang Soeharto lengser keprabon.

Saya masih wartawan muda.  Belum genap lima tahun berkiprah bersama Harian Pos Kupang  yang mulai terbit 1 Desember 1992.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...