Rabu, 18 Maret 2020

Lockdown Olahraga


ilustrasi
Sama halnya era milenial yang karib dengan viral, viralnya Corona kini cenderung liar menggila ke mana-mana.

Setelah Italia dan Denmark lockdown (menutup seluruh negara), 13 Maret 2020 giliran Filipina ambil langkah serupa.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat memandang remeh Virus Corona, akhirnya menghentikan semua penerbangan dari dan ke Eropa kecuali Inggris dengan syarat ketat.

Pukulan telak menerpa dunia olahraga yang karakternya selalu menyedot atensi publik dalam skala besar.

Setelah Perang Dunia II satu abad yang lalu, belum pernah jagat olahraga mengalami lockdown sekeji ini.

Terkurung di Kota Abadi

ilustrasi
Kabar nelangsa datang dari adik sepupuku, seorang biarawati Katolik yang lebih dari 10 tahun berkarya di Italia.

Kini dia bermukim di Caserta, sebuah kota mungil di Region Campania, Provinsi Caserta.

Seharusnya tersenyum menyambut musim semi.

Tapi sebulan sudah ruang gerak mereka terbatas.

 “Bahkan dua minggu terakhir kami benar-benar terkurung. Tidak bisa ke mana-mana,” katanya melalui pesan singkat WA kemarin.

Sejak pekan kedua Februari 2020, sekolah taman kanak-kanak tempat dia mengajar diliburkan.

Mengikuti imbauan pemerintah kota setempat sebagai cara terbaik menghadapi epidemi virus corona (covid-19).

“Praktis hari-hari kami hanya berada di dalam rumah,” ujarnya.

Serena dan Malam Romantis di Roma

Serena Williams (ist)
Musim dingin masih menggigil di Siberia ketika Maria Sharapova mengumumkan gantung raket tenis pada 26 Februari 2020.

Serentak dengan itu, pemuja lawn tennis sontak mengingat satu nama, Serena Jameka Williams (39).

Wanita atlet berdarah Afro-Amerika ini tetap berdiri kokoh di lapangan tenis dunia. Padahal usianya hampir kepala empat.

Dan, dia masih masuk 10 besar petenis putri terbaik sejagat.  Awal 2020 peringat 9 WTA.

Amazing! Sulit mencari alasan untuk tidak mengaguminya.

Lama nian jagat tenis lapangan tidak lagi menulis tentang teman seangkatan Serena atau yang lebih muda darinya.

Puasa Berciuman


ilustrasi
KAMIS pagi yang adem setelah rinai gerimis menyapa Denpasar, saya menerima pesan WA yang bikin ngakak.

Pesan dari teman karib semasa kuliah yang sedang pulang kampung menemui orangtua dan keluarga.

Kendati sejak penghujung 1990-an dia bekerja di Jakarta, kalau dengan saya gaya komunikasinya tetap berdialek melayu Kupang. Isinya demikian.

“Dion e…, beta nih lagi di Kupang. Pulang tengok mama yang sakit. Maklum umur su (sudah) 79 tahun. Lu (kamu) tahu, yang bikin beta kesal, gara-gara corona beta harus tahan diri ko sonde (tidak) berciuman hidung deng (dengan) mama dan sodara (saudara) yang lain.”

Ya, coronavirus alias Covid-19 yang masih bergentanyangan itu memang bikin dongkol dunia, termasuk sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang punya tradisi berciuman hidung saat bersua.

Selasa, 03 Maret 2020

Dunia yang Tunggang Langgang

ilustrasi
SETELAH dua purnama berlalu, virus yang menginvansi dunia era revolusi 4,0 tersebut terbukti mendarat jua di negeri +62 alias Indonesia Raya.

Di Istana Merdeka Jakarta hari Senin 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua Warga Negara Indonesia (WNI) positif terjangkit virus corona.

Gempar! Televisi berita bikin breaking news berjam-jam. Media online perbaharui informasi detik demi detik. Media cetak mengemas laporan dari beragam sudut pandang. Media sosial jangan bilang lagi. Riuhnya minta ampun.

Kekhawatiran coronavirus (Covid-19) positif masuk Indonesia sesungguhnya berembus sudah lama, sejak Januari 2020 ketika virus yang bermula dari Kota Wuhan, China itu mulai menyebar ke beberapa negara Asia.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...