Rabu, 29 Juli 2020

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (1)

Wawancara Indra Gunawan, Wakil Presdir Kompas Gramedia 1992-2004

PK Ojong
KUNJUNGAN PK Ojong ke luar negeri membawa hikmah yang sangat menentukan bagi perjalanan Kompas-Gramedia. Itu karena kegemarannya membaca buku. Setiap kembali dari luar negeri, PK Ojong selalu membeli buku hingga punya perpustakaan di  rumahnya. Hal itu kemudian yang melahirkan Toko Buku Gramedia·

Sebagai orang yang komitmen pada kemajuan masa depan, PK Ojong tidak melarang anak-anak membaca buku di Toko Gramedia. Itulah sebabnya sampai sekarang kita sering melihat anak-anak membaca buku di selasar rak-rak Toko Buku Gramedia.  Kepada rekan-rekan sejawatnya, PK Ojong juga sering mengirimi buku-buku, termasuk  untuk tahanan politik yang sealiran dengannya maupun tidak.

Untuk mengasah pemikirannya, PK Ojong punya klub diskusi bersama aktivis muda pada masanya, antara lain Soe Hok Djin yang kemudian menjadi Arief Budiman dan Soe Hok Gie, Soedjatmoko, Rosihan Anwar, Ong Hok Ham, dan lain-lain.
PK Ojong

PK Ojong bersama sastrawan pada masa itu, Mochtar Lubis, Zaini, Taufiq Ismail, dan Arief Budiman menerbitkan Majalah Horison yang khusus memuat dunia sastra. Sayang, majalah Sastra Horison kini sudah tiada.

Jumat, 17 Juli 2020

Wanita itu Menyapanya Padre


Maxi Ebu Tho
"Dion, kau lagi buat apa?" Begitu sapaan khas Om Damyan Godho dari balik telepon (interkom).

"Lagi edit berita nih Om."

"Kau ke ruang saya sekarang! Ada sesuatu yang mau saya sampaikan," kata Om Damyan Godho, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang.

Dialog itu terjadi medio 1997 di kantor lama Pos Kupang, Jl. Kenari No.1 Kelurahan Naikoten 1 Kupang.  Cuma sejengkal dari pasar tradisional terbesar di Kota Kupang, Pasar Inpres Naikoten.

Sampai di ruang kerja Om Damy di lantai 1, beliau langsung memberikan kepada saya sepucuk surat undangan.

"Kau tugas ke Dili ya. Kau bisa menulis banyak artikel menarik," kata Si Om.

Pria Berjin Biru Itu


Saya dan Herman Darmo (kanan) 2019
Oleh Dion DB Putra

Jin. Warnanya biru. Berpadu kemeja lengan pendek yang ujungnya dibiarkan berjuntai. Jarang amat dia memasukkannya ke dalam celana panjang.

Kakinya pasti berbalut sepatu, jenis sporty lazimnya. Bukan sepatu formal resmi. Satu lagi asesoris harian yang tak pernah ketinggalan yaitu tas model ransel.

Fashionable sekali sih tidak, tapi penampilannya selalu good looking. Fresh. Memberi spirit bahwa usia boleh tua tetapi semangat tidak mesti menua apalagi redup berderai.

Ini secuil kenangan tentang seorang pria berjin biru. Sejak dulu saya menyapanya Om.

Om Herman Darmo, Kuat dugaan biru adalah warna idolanya.

Klopp Memang Klop dan Top


Juergen Klopp (ist)
URUSAN klop dan top hari-hari ini hanya dipunyai satu nama.

Juergen Klopp. Seng (tidak) ada yang lain. Dia top. Tertinggi, teratas.

Berada di puncak prestasi dan kesohoran sepak bola.

Itu terjadi karena dia memang klop. Tidak kurang dan tidak lebih. Cocok.

Sesuai harapan Liverpool.

Setelah menanti 30 tahun akhirnya trofi Premier League (PL) alias Liga Inggris mendarat lagi di Anfield Juni 2020.

Melengkapi koleksi trofi Liga Champions Eropa yang The Reds raih tahun sebelumnya.

Klopp sungguh klop. Tapi jangan tuan lihat semata atas hasil hari ini.

Sepucuk Surat buat Shin Tae-yong


Shin Tae-yong
ORANG Indonesia doyan drama Korea alias drakor.

Bahkan sekarang ada stasiun televisi menempatkan drakor sebagai program hiburan utama.

Ada drakor sesi pagi, sesi siang dan drakor malam. Ratingnya memang tinggi sih.

Kisah romantisme ala Korea yang kadang mengurai air mata rupanya mendapat pasar spesial di Indonesia.

Di luar layar kaca itu, ada “drama” lain pula yang sedang menyedot perhatian publik negeri ini. Sama-sama berwarna Korea.

Drama di panggung sepak bola.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...