Sabtu, 19 September 2020

Yang Berbahagia di Kota Cahaya

Lionel Messi

JANGANLAH puan sebut soal bahagia hari ini karena rasa itu mungkin bukan

milik Lionel Messi.

Si anak ajaib dari Argentina sedang galau bersama manajemen klub Barcelona yang nirgelar pada musim kompetisi yang baru lewat.

Terlebih Barcelona kalah 2-8 melawan Bayern Muenchen di perempat final Liga Champions yang bikin reputasi El Barca selama bertahun-tahun seolah remuk dalam sekejap.

Hujan semalam menghapus panas setahun.

Sebaliknya, bahagia yang meluap-luap sedang mengisi relung hati karib Messi, Neymar dan Angel Di Maria dkk meski mereka gagal meraih trofi Liga Champions perdana bersama klub dari Kota Cahaya, Paris Saint Germain (PSG).

Neymar dan Di Maria mau berbagi kebahagiaan.

Rabu, 26 Agustus 2020

10 Bulan yang Mengesankan

Hansi Flick

Petualangan Les Parisiens di Liga Champions musim 2019-2020 berakhir sudah.

Trio MNM, Maria, Neymar, Mbappe belum membantu Paris Saint-Germain (PSG) menggenggam trofi Liga Champions Eropa pertama.

Mereka baru sampai di babak final perdana.

Neymar menangis dalam pelukan David Alaba. Mata Mbbape dan Di Maria sembap.

Pelatih Thomas Tuchel yang kakinya bertopang tongkat berusaha tabah dan menghibur tim asuhannya.

Singgasana terhormat milik Bayern Muenchen.

Die Rotten menang tipis 1-0 berkat gol tandukan anak Prancis yang dibiarkan pergi oleh PSG ke Juventus 2014 lalu berlabuh di Allianz Arena Munich 2017, Kingsley Coman.

Rabu, 29 Juli 2020

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (4-habis)

Wawancara Goenawam Mohamad, Sastrawan dan Pendiri Majalah Tempo

SEBAGAI  orang yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920, wajar makanan favorit PK Ojong masakan padang. Sedangkan minuman kesukaannya adalah kopi. Karena memegang teguh disiplin, kerja keras, serta hemat, PK Ojong selalu marah kalau dibelikan kopi yang agak mahal atau makanan kecil berlebihan untuk kudapan di kantor.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Ojong yang memberi nama perusahaannya Gramedia sebagai kepanjangan Grafika dan Media ini, berpegang pada nilai-nilai kejujuran.

Bagi Ojong, mengejar keuntungan itu sesuai prinsip yang sehat: mencari nama baik, menumbuhkan kepercayaan agar omzet bertambah terus-menerus sehingga perusahaan bisa berkembang.

Kegigihannya berbisnis tak mengorbankan idealisme. Bahkan ketika Kompas dibreidel kekuasaan Soeharto pada 1978, terjadi perdebatan internal, terutama antara PK Ojong dan Jakob Oetama. 
Saat itu Soeharto sangat berkuasa marah karena Kompas memberitakan soal pencalonan Presiden.
Peristiwa itu membuat resah wartawan dan karyawan Kompas. Ojong dan Jakob menyikapi dengan tenang, namun keduanya berbeda sikap. Saat itu Soeharto mengizinkan Kompas kembali terbit tapi harus ikuti kemauannya. 

Sikap Ojong jelas, sekali mati tapi berarti. Ia menolak mengikuti kemauan rejim Soeharto. Sebaliknya Jakob Oetama setuju beradaptasi dengan kekuasaan agar Kompas kembali terbit. 

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (3)

Wawancara Harry Tjan Silalahi, Pengamat Politik dan Pendiri CSIS

WARISAN (legacy) Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong) menancap kuat bagi mayarakat luas. Selain Harian Kompas dan Kelompok Gramedia, Ojong juga ikut mendirikan Universitas Tarumanagara di Jakarta. Aura kecendikiawanan itu dilanjutkan oleh sahabatnya, Jakob Oetama, dimana Kompas Gramedia kemudian melahirkan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada 2006.

Kebiasaannya membantu penderitaan orang lain, juga diwujudkan dengan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. LBH merupakan lembaga yang gigih berpihak membela kepentingan rakyat kecil. Lembaga ini didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, termasuk Ojong ikut membidaninya.

Di Harian Kompas, Ojong meneruskan ketajamannya dalam menulis. Ia membuka rubrik Kompasiana, dan di rubrik itu ia tak segan membela masyarakat yang tertindas, memberi saran ke pemerintah, termasuk mengktitik kebijakan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI.

Ojong juga termasuk peduli terhadap lingkungan. Ia kerap memberi gagasan ke Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, mengenai penghijauan di Jakarta.

Satu kebiasaan dalam hidupnya, ia selalu membawa buku catatan ke mana pun pergi. Ia mencatat kegiatan sehari-hari. Tidak hanya rencana harian, tetapi juga tempat yang didatangi, cuaca hari itu, menu makanan, uang yang dikeluarkan. Catatan ini tidak hanya membantu pelaksanaan rencana tetapi juga membantu ingatan.

Meskipun mempunyai anak buah yang banyak, PK Ojong tidak hanya mendengar laporan, tetapi langsung melihat ke lapangan. Jiwa wartawannya yang selalu mengecek fakta tak pernah ditinggalkan meskipun sudah memimpin banyak lembaga bisnis. 

Seratus Tahun PK Ojong Pendiri Kompas Gramedia (2)

Wawancara Jusuf Wanandi, Pendiri CSIS

TEPAT 25 Juli 2020, 100 tahun kelahiran Petrus Kanisiu Ojong, yang lebih dikenal dengan nama PK Ojong. Pria kelahiran Bukittingi, Sumatera Barat, 25 Juli 1920 ini merupakan pendiri Kompas Gramedia, bersama sahabatnya, Jakob Oetama. Ojong meninggal 31 Mei 1980 di Jakarta, pada usia 59 tahun.

Orang mengenal PK Ojong sebagai sosok yang ulet, jujur, sederhana, dan pandai mengelola uang. Meskipun lahir dari keluarga pengusaha dan orangtuanya berkecukupan, Ojong menjauhi gaya hidup berpesta. Daripada menghamburkan uang untuk berpesta, Ojong lebih suka membantu sesama yang membutuhkan bantuan.

Ketekunan dan kegigihannya sudah ditunjukkan sejak muda. Karier jurnalistiknya diawali di majalah mingguan Star Weekly dan harian Keng Po, dari tahun1946-1951. 

Star Weekly merupakan mingguan komunitas Tionghoa. Tulisan-tulisan Ojong yang tajam membuatnya dikenal sebagai jurnalis yang kritis. Star Weekly kemudian dibubarkan pemerintah karena tulisan Ojong yang kritis.

Pada 1963, bersama Jakob Oetama, Ojong mendirikan majalah Intisari, yang kemudian menjadi cikal bakal kelahiran Harian Kompas. Dua tahun kemudian, 28 Juni 1965. dwi tunggal ini mendrikan Harian Kompas. 

Kompas sampai sekarang menjadi harian yang paling berwibawa dan berpengaruh. Dalam perjalanannya, berkat keuletan dan kegigihan Ojong dan Jakob Oetama, lahir Kompas Gramedia (KG), yang menaungi banyak perusahaan di bawah brand Kompas-Gramedia.

Seiring dengan menjulangnya nama Kompas-Gramedia, nama PK Ojong pun telah mewarnai jagat jurnalistik dan perusahaan media di tanah air. Banyak orang yang terpseona oleh gaya berpikir, menulis dan berbiacara PK Ojong. Jejak dan kepenulisannya bisa kita cecap dalam buku karyanya yang fenomenal, yatu Perang Eropa sebanyak tiga seri.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...