Selasa, 23 Januari 2024

Ignas Kleden, Postcript Sebuah Kesungguhan Intelektual

 Oleh Hamid Basyaib

Ignas Kleden

SANGAT sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya. 

Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. 

Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.

Ignas Kleden: Mendidik agar Taat pada Akal Sehat


Ignas Kleden (kompas)

Gelombang reformasi 1998 mengubah peta politik dan demokrasi bangsa Indonesia. Namun, satu hal yang hingga kini belum berubah secara signifikan adalah pendidikan. 

”Pendidikan kita tidak mengajarkan orang untuk berpikir, tetapi untuk tunduk pada kekuasaan,” ucap sosiolog Ignas Kleden (68), 18 Juni 2016, di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Pendidikan yang sangat mengutamakan kontrol dan memasung kreativitas adalah warisan tradisi Orde Baru yang mengajarkan siapa pun untuk taat pada kekuasaan, bukan pada pikiran. Dalam ujian, misalnya, anak-anak disodori dengan pilihan ganda. Mereka dituntut memberikan jawaban kepada pemberi jawaban, bukan berpikir kreatif mengelaborasi sebuah pertanyaan.

Dari sisi kepraktisan, soal-soal yang menyediakan pilihan ganda lebih memudahkan guru atau dosen untuk memeriksa jawaban dan memberikan nilai. Namun, praktik seperti ini memasung kreativitas anak didik.

Ignas Kleden, Catatan Seorang Pembaca

Ignas Kleden (kanan)

Oleh Cecep Burdansyah

Penulis, tinggal di Bandung

POS-KUPANG.COM - “Menurut pengalaman, seorang belajar menulis hanya dengan mulai menulis, dan kemudian menjadi penulis karena membiasakan diri menulis secara teratur. Proses seseorang akhirnya menjadi penulis atau diterima sebagai penulis oleh khalayak pembacanya, adalah suatu proses yang – karena watak dari proses itu sendiri – relatif terjamin otentisitasnya, karena sifat dan fungsi kepenulisan hampir tidak dapat didukung oleh berbagai praktek KKN.”

Ignas Kleden, Pengalaman Menulis: Menuliskan Pengalaman, dalam bukunya “Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia”, Penerbit Buku Kompas, 2001.

Mengenang Abang Kami, Dr. Ignas Kleden, M.A

Ignas Kleden

Oleh Tony Kleden

Saya menulis kisah kenangan ini dengan perasaan mengharubiru.  Perasaan itu muncul terutama karena sudah hampir tiga bulan saya lebih banyak berada di Waibalun, Flores Timur.

Bagi saya, dan hampir pasti bagi semua  orang dari desa mana pun,  desa/kelurahan  tempat lahir itu seperti punya ‘kekuatan  supranatural’  yang selalu  menyertai di setiap jejak langkah.

Kekuatan itulah yang memompa spirit, menghembuskan  ausdauer dan lalu membangkitkan  ‘ike kewaat’  (semacam ‘korsa’)  hingga  menjadi ‘atadiken’ (orang dengan kekuatan) di mana pun berada.

Profil Ignas Kleden, Sosiolog Kenamaan Kelahiran Flores Timur

Ignas Kleden

 Indonesia memiliki seorang intelektual terkenal kelahiran Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT.

Dia adalah Dr. Ignas Kleden, MA.  Mengutip wikipedia, Ignas Kleden lahir pada tanggal 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Suami dari  Ninuk Probonegoro ini aktif sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra sejak awal tahun 1970-an.

Setelah tamat pendidikan dasar dan menengah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi  Ledalero, Maumere, Flores  (1972).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...