Jumat, 03 Oktober 2025

Hermien Kleden: Jurnalis Perempuan yang Langka dari Flores

Hermien Y. Kleden

Oleh: Petrus Dabu

Tak banyak perempuan Flores yang menjadi jurnalis, apalagi menggapai posisi penting sebagai petinggi di media selevel Tempo.

Hermien Yosephine Kleden, perempuan asal Flores Timur salah satu dari yang sedikit itu. Ia kemudian meninggalkan jejak berharga selama hampir empat dekade sebagai jurnalis.

Beragam bentuk warisannya membuat kabar kematian Hermien yang tersiar di berbagai platform media sosial pada 29 September sontak menjadi duka bagi banyak orang, terlebih mereka yang pernah mengenalnya secara dekat.

Kak Hermien – begitu ia disapa – menghembuskan nafas terakhir pada pukul 22.08 WIB di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dalam usia 62 tahun karena komplikasi penyakitnya.

Hermien Kleden dan Jurnalisme Tutu Koda


Hermien Y. Kleden

Oleh: Steph Tupeng Witin

HERMIEN Yosephine Kleden selalu tersenyum. Penulis menyapanya “Tata”. Itu sapaan yang akrab, penuh persaudaraan suku Lamaholot. Ada nuansa kedekatan yang hangat.

Wajah penuh senyum itu mengingatkan pertemuan pertama tahun 2009. Kala itu pimpinan menugaskan saya mengambil studi jurnalistik. Kami bertemu di kantor majalah Tempo lama di Jalan Proklamasi.

Kebetulan saat itu Goenawan Mohamad sedang berada di kantor. Maka terjadi pertemuan yang tidak terduga. Kami mengobrol cukup lama.

Goenawan Mohamad menyebut bahwa Pater Leo selalu datang ke kantor Tempo. GM memberi saya buku “Catatan Pinggir 2” (Cet. IV, 2006) lengkap dengan tanda tangannya. Penulis kata pengantar adalah Ignas Kleden, kakak kandung Hermien Y. Kleden. Judul kata pengantar: Eksperimen Seorang Penyair.

Pertemuan perdana itu sungguh membahagiakan. Redaktur senior Tempo begitu sederhana. Tata Hermien sangat hangat dan akrab. Dia memanggil saya “adik” hingga akhir hidupnya. Sapaan yang menarasikan kedekatan, kehangatan, bukan jarak.

Hermien Y. Kleden dalam Kenangan

Hermien Kleden (tengah) dan Romo Hans (kanan)

Oleh: Romo Hans Jeharut

Kak Hermien, demikian saya memanggilnya. Empat tahun ini kami bersama sebagai pengurus Komisi Kerasulan Awam KWI. Ketika saya mulai bertugas, dia dan beberapa pengurus lain sudah ada di kepengurusan. 

Saya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi, sejak Januari 2022. Dalam banyak kesempatan dia menyebut saya "Bos". You're my Bos!  

Dalam kaitan relasi pengurus dan bos ini, Kak Hermien menunjukkan sikap taat. Jika tidak bisa menghadiri rapat karena kesibukan atau alasan lain, Kak Hermien selalu mengirim pesan whatsapp, nyaris seperti refrein, " Ama, kaka mohon maaf tidak bisa hadir. Kalau ada tugas siap dilaksanakan". 

Dan benar. Jika ada tugas, dia melaksanakan dengan tuntas. Sempurna.

Kamis, 02 Oktober 2025

Hermien Kleden, Sang Guru dan Kakak Kami

Hermien Y. Kleden

Oleh: Yophiandi Kurniawan

Mantan Wartawan Tempo

POS-KUPANG.COM -  “Are you leaving?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan. Malam itu,  kak Hermien memanggil saya. Khusus. 

Di hadapannya, saya sempat melamun. Masih bertanya dalam hati. Apakah benar langkah saya meninggalkan TEMPO. 

Sebelumnya, Nugroho Dewanto sudah mencolek saya di tengah rapat perencanaan Majalah TEMPO siang hari. 

Pada 2011 kantor Majalah TEMPO pindah ke kawasan Velbak, Kebayoran Baru. Punggung-punggungan dengan kantor Koran TEMPO. 

Pertanyaan mas Dede—panggilan Nugroho Dewanto—mirip-mirip dengan Kak Hermien. “Lu jadi cabut?”

Mak Comblang

Saya dan Dokter Husein (kanan)

Ada yang bilang kami agak mirip dalam beberapa hal. Beta aminkan saja.  Pertama soal kumis. Beliau doyan kumis hitam tebal mengilap, saya senang yang tipis-tipis saja.

Bentuk hidung kami sebelas dua belas. Berkaca mata pula. Tidak seprofesi tapi sama bekerja berkompaskan kode etik. 

 Beliau dokter, saya wartawan. Kami kerap bertemu dan dipertemukan oleh tugas masing-masing. 

Dia tergolong narasumber yang menyenangkan jurnalis. Tak tak pelit berbagi informasi, dan siap melayani wartawan kapan saja. Pria cerdas, rendah hati, bijaksana dan humoris. 

Sebagai pemimpin dia tipe pemimpin yang melayani.  Dalam suatu masa yang panjang nian, namanya identik dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. 

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...