Rabu, 05 November 2025

Ada Jojo Ada Janice

Janice Tjen (kanan) dan Aldila Sutjiadi

Ada Jojo, ada Janice. Dan, November ceria melahirkan senyum bagi masyarakat olahraga nasional. 

Setelah muram berbulan-bulan serta pupusnya impian menuju Piala Dunia 2026, bulu tangkis dan tenis kembali hadir sebagai kebanggaan bangsa. Raket membuat Merah Putih berkibar di panggung dunia!

Warta ceria pertama dipersembahkan pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie. 

Jojo - sapaan akrab Jonatan yang keluar dari Pelatnas dan  sempat berniat gantung raket karena prestasinya anjlok, justru berjaya menjelang akhir tahun 2025.

Jojo  meraih tiga gelar juara turnamen bergengsi yaitu Korea Open 2025 (Super 500), Denmark Open 2025 (Super 750), dan Hylo Open 2025 (Super 500).

Jumat, 03 Oktober 2025

Mengenang Hermien Y. Kleden

Hermien Y. Kleden

Oleh: Gunoto Saparie

Senin malam, 29 September 2025, pukul 22.08. Di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, sebuah hayat berhenti. Hermien Y. Kleden, seorang jurnalis senior di Tempo, meninggal dunia.

Ada yang datang dengan berita lirih itu: kepergian seorang yang namanya terikat pada kata-kata, pada kritik, pada keberanian untuk mengatakan yang lain. 

Bukan sekadar kabar duka, melainkan tanda bahwa satu suara yang kritis, yang jernih, telah padam dari tubuh manusia---meski mungkin tidak dari kesadaran kita.

Hermien dikenal sebagai seorang pemikir kritis. Ia berani menyoal, menggugat, dan mengurai dengan cara yang tak pernah dangkal. 

Hermien Kleden: Jurnalis Perempuan yang Langka dari Flores

Hermien Y. Kleden

Oleh: Petrus Dabu

Tak banyak perempuan Flores yang menjadi jurnalis, apalagi menggapai posisi penting sebagai petinggi di media selevel Tempo.

Hermien Yosephine Kleden, perempuan asal Flores Timur salah satu dari yang sedikit itu. Ia kemudian meninggalkan jejak berharga selama hampir empat dekade sebagai jurnalis.

Beragam bentuk warisannya membuat kabar kematian Hermien yang tersiar di berbagai platform media sosial pada 29 September sontak menjadi duka bagi banyak orang, terlebih mereka yang pernah mengenalnya secara dekat.

Kak Hermien – begitu ia disapa – menghembuskan nafas terakhir pada pukul 22.08 WIB di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dalam usia 62 tahun karena komplikasi penyakitnya.

Hermien Kleden dan Jurnalisme Tutu Koda


Hermien Y. Kleden

Oleh: Steph Tupeng Witin

HERMIEN Yosephine Kleden selalu tersenyum. Penulis menyapanya “Tata”. Itu sapaan yang akrab, penuh persaudaraan suku Lamaholot. Ada nuansa kedekatan yang hangat.

Wajah penuh senyum itu mengingatkan pertemuan pertama tahun 2009. Kala itu pimpinan menugaskan saya mengambil studi jurnalistik. Kami bertemu di kantor majalah Tempo lama di Jalan Proklamasi.

Kebetulan saat itu Goenawan Mohamad sedang berada di kantor. Maka terjadi pertemuan yang tidak terduga. Kami mengobrol cukup lama.

Goenawan Mohamad menyebut bahwa Pater Leo selalu datang ke kantor Tempo. GM memberi saya buku “Catatan Pinggir 2” (Cet. IV, 2006) lengkap dengan tanda tangannya. Penulis kata pengantar adalah Ignas Kleden, kakak kandung Hermien Y. Kleden. Judul kata pengantar: Eksperimen Seorang Penyair.

Pertemuan perdana itu sungguh membahagiakan. Redaktur senior Tempo begitu sederhana. Tata Hermien sangat hangat dan akrab. Dia memanggil saya “adik” hingga akhir hidupnya. Sapaan yang menarasikan kedekatan, kehangatan, bukan jarak.

Hermien Y. Kleden dalam Kenangan

Hermien Kleden (tengah) dan Romo Hans (kanan)

Oleh: Romo Hans Jeharut

Kak Hermien, demikian saya memanggilnya. Empat tahun ini kami bersama sebagai pengurus Komisi Kerasulan Awam KWI. Ketika saya mulai bertugas, dia dan beberapa pengurus lain sudah ada di kepengurusan. 

Saya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi, sejak Januari 2022. Dalam banyak kesempatan dia menyebut saya "Bos". You're my Bos!  

Dalam kaitan relasi pengurus dan bos ini, Kak Hermien menunjukkan sikap taat. Jika tidak bisa menghadiri rapat karena kesibukan atau alasan lain, Kak Hermien selalu mengirim pesan whatsapp, nyaris seperti refrein, " Ama, kaka mohon maaf tidak bisa hadir. Kalau ada tugas siap dilaksanakan". 

Dan benar. Jika ada tugas, dia melaksanakan dengan tuntas. Sempurna.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...