Selasa, 28 Juli 2015

Kekalahan yang Heroik


Turki kalah, tapi kalah dengan terhormat. Tanpa beberapa pemain intinya, mereka tetap bermain dengan cemerlang dan terus-menerus membuat kalang kabut Jerman.

Seperti sudah diduga oleh Joachim Loew, malam itu Turki memainkan bola yang sama sekali tak bisa diduga. Permainan Turki digerakkan oleh emosi yang menjilat-jilat. Tapi, mereka tak terbakar oleh emosi itu. Malahan dengan dingin rasio mereka mengendalikan permainan.

Kendati demikian, permainan mereka tak pernah terikat pada struktur rasional yang sistematis dan kaku. Kata Loew, prinsip permainan mereka selalu berubah. Anak-anak Turki selalu pandai menciptakan ruang, kebebasan, dan kreativitas.

Che Guevara dari Rusia


Dalam Piala Eropa 2008, Guus Hiddink tak mempunyai target berlebihan. Ia hanya mempunyai satu-satunya tujuan: membuat Rusia bertahan selama mungkin. Hiddink sama sekali belum berpikir menghadapi Belanda.

"Oranye masih jauh di seberang jembatan,” katanya.

Memang, untuk menghadapi kesebelasan Oranye, Hiddink dan anak-anaknya harus membekuk dulu Swedia. Padahal, katanya, ”Swedia mempunyai kaliber yang sama sekali lain dari Yunani.”

Hiddink mengakui, Rusia adalah outsider. Memang tak ada nama besar dalam kesebelasan Rusia. Pers-pers Barat sepakat, jika Rusia mempunyai bintang, itu adalah seorang Belanda. Siapa dia kalau bukan Guus Hiddink?

Che Guus, demikian julukan Hiddink, setelah Rusia memukul Yunani dan berpeluang memukul Swedia. Beberapa fans muda Rusia menggambari kausnya dengan tokoh revolusioner Che Guevara, yang wajahnya beraut guratan muka Hiddink.

Nazar Ibrahim




Catatan sepakbola Dion DB Putra

SEPAKBOLA
dilahirkan agar dunia boleh tertawa dan menangis dalam kepolosan.  Tawa dan tangis sebagai ekspresi manusiawi yang  spontan, lugas, tanpa basa-basi. Tangis dan tawa dalam jagat bola bukan lakon sinetron, tidak  sekadar peran tokoh di panggung sandiwara. Tangis bola adalah tangis manusia seutuhnya. Tawa bola adalah tawa human being. Bola memang  senantiasa menyembulkan  ketelanjangan.  Hari ini hingga akhir hayat kisah sepakbola. Entah kapan?

Dengan bertelanjang dada  puluhan ribu putera-puteri Ukrania-Prancis mandi hujan di Stadion Donbass-Arena di Donetsk Ukraina, Jumat (15/6/2012) malam. Mandi bareng tanpa komando diiringi musik halintar dan kilatan blitz  petir karya agung penguasa langit dan bumi. 

Anekdot Beruang Merah


Dick Advocaat (AFP)
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

RUSIA 
dalam enam tahun terakhir sangat percaya dengan polesan tangan dingin pelatih asal Belanda.  Di Piala Eropa 2008 Rusia memilih Guus Hiddink, pelatih fenomenal yang menciptakan sejarah baru di Piala Dunia 2002 dengan mengantar tim Korea Selatan menembus babak semifinal. Itulah pertama kali dalam sejarah Piala Dunia sejak 1932  tim Asia masuk daftar empat besar.

Setelah sukses menjulangkan Korea Selatan, Hiddink dipinang Australia empat tahun kemudian.  Di tangannya juga Australia yang tak ternama dalam jagat persepakbolaan dunia menembus babak perempatfinal Piala Dunia 2006 di Jerman. Prestasinya  luar biasa itulah menjadi alasan bagi Federasi Sepakbola Rusia memilih Hiddink melatih tim Beruang Merah menuju Piala Eropa 2008.  Dalam melatih kesebelasan Rusia, Hiddink mempunyai asisten pelatih bernama Alexander Borodzjoek. Borodzjoek merupakan pemain profesional seangkatan dengan Oleg Blochin, bintang klub Dynamo Kiev  tahun 1970-an.   Kepada Hiddink, Borodzjoek pernah menceritakan anekdot Rusia berikut ini.

Pasukan Anti Galau


Catatan Sepakbola Dion DB Putra

TENTANG
sepakbola, Italia memiliki dua  karakter yang khas. Pertama, negeri itu memiliki sistem pertahanan grendel alias catenaccio yang dipandang sebagai cara bermain sepakbola negatif. Cara main bola yang tidak atraktif dan menghibur penonton.

Karakter kedua persis seperti dilukiskan pemain bintang Spanyol, Xabi Alonso.  "Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka  menjadi lebih baik dan akhirnya juara. Italia memiliki kekuatan luar biasa di tengah krisis," kata Alonso merujuk pada prestasi Italia di Piala Dunia 2006.

Ya, tahun 2005-2006 wajah sepakbola Italia sungguh berlumuran malu oleh skandal calciopoli (pengaturan skor) di ajang kompetisi elit Serie A. Skandal anti fair play yang dibuka polisi Mei 2006 melibatkan juara liga Juventus dan klub-klub terkemuka seperti AC Milan, Fiorentina dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu dan sejumlah pemain bintang dituding menjadikan pertandingan sepakbola sebagai ajang judi ilegal.

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...