![]() |
| Thomas Bata dan Theresia Masi |
Thomas Bata menuju keheningan abadi sepuluh tahun lalu di rumah sakit umum Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dua hari sebelumnya ketika saya merayakan ekaristi kudus hari Minggu di Gereja Fransiskus Asisi BTN Kolhua Kupang, saya, isteri dan anak-anak telah mempersembahkan satu itensi khusus demi keselamatan jiwa Thomas Bata.
Di Kota Jambi yang sedang adem karena hujan semusim, saya pun merayakan 20 tahun menjalani profesi sebagai wartawan. Waktu sungguh bergulir begitu lepas. Lekas. Tak terasa sudah bertahan selama itu... Padahal rasanya baru kemarin saya menggeluti medan pengabdian melalui profesi ini. Masih terngiang suara protes sang ayah yang santun lewat seuntai tanya.
“Sudah kau pikirkan masak-masak untuk menjadi wartawan?” Pertanyaan itu disampaikan Thomas Bata kepadaku medio September 1995, beberapa saat setelah saya diwisuda sebagai sarjana ilmu pemerintahan dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Saya tidak menjawab dengan kata-kata. Saya menanggapi dengan senyum. Beliau mengerti senyum artinya saya merasa yakin dengan pilihanku. Bos Tommy, demikian sapaanku buat sang ayah yang bikin dia ngakak, melanjutkan kata-katanya. “Banyak orang menilai rendah pekerjaan tukang sapu. Padahal tanpa tukang sapu, apalah artinya kebersihan dan kesehatan? Dion, jadilah tukang sapu yang setia dan jujur.” Cuma itu kalimat dari mulut bos Tommy. Saya memetik pesan di baliknya.
Nama ayahku Thomas Bata. Nama yang singkat, padat dan jelas. Thomas mengambil nama St Thomas, salah seorang dari 12 murid Yesus Kristus yang tak mudah percaya. Lihat baru percaya. Ada bukti baru yakin. Thomas tak biasa menilai sesuatu berdasarkan asumsi atau malah prasangka. Bata nama marga/kampung. Bata dalam bahasa ibuku (bahasa Lio, Flores Tengah) artinya gelombang yang tiada henti bergelora.
Sebagai guru SD, Thomas Bata mendidik kami anak-anaknya sejak usia dini untuk rajin membaca dan menulis. Praktis sejak saya tahu baca di kelas I SD, tiap hari diwajibkan membaca, entah koran bekas, majalah bekas atau buku cerita. Setiap kali bapa ke Kota Ende, jaraknya sekitar 100 km dari rumah kami yang berdinding bambu di Kampung Wolonio, Desa Detupera (kini Desa Fatamari), Kecamatan Lio Timur, bapa selalu pulang membawa majalah anak-anak terbitan Ende, Kunang-Kunang. Majalah bekas itu bapa dapatkan dari kolega atau mantan murid-muridnya di Kota Ende.
Bapa juga mewajibkan kami membuat semacam catatan harian. Menulis segala sesuatu yang dilihat dan dirasakan setiap hari. Kebiasaan itulah yang membuat saya – salah seorang dari keenam anaknya menjadi wartawan. Sejak bocah saya sudah terbiasa untuk membaca dan menuliskannya kembali.
Kekurangan sekaligus kekuatannya adalah esktra hati-hati kalau mengambil keputusan yang berkaitan dengan uang. Oleh sebagian orang ayahku kemudian dicap kikir. Orang yang pelit. Dalam beberapa hal iya. Thomas berasal dari keluarga miskin. Uang yang diperoleh dengan susah payah harus diperhitungkan sedemikian rupa saat hendak dikeluarkan dari dalam dompet. Hehehe...
