![]() |
| Menenun |
Ketika melewati kampung tua As
Manulea di Kecamatan Sasita Mean, Kabupaten Belu, NTT, misalnya, tim
Kompas bertemu dengan para perajin yang membuat kain tenun dari benang
yang mereka pintal sendiri.
Pada era 1990-an, kegiatan
memintal masih terlihat di mana-mana, terutama saat para wanita
pergi-pulang dari pasar. Sambil berjalan kaki, dengan junjungan di
kepala, mereka memintal benang dari kapas. Kini, kegiatan memintal
benang seperti itu sudah langka ditemui di NTT karena tergusur benang
industri.
Menurut
Rosalina Lotu, seorang penenun, tais atau bĂȘte (selendang untuk pria)
dari benang lokal harganya mahal, paling murah Rp 5 juta per lembar.
”Saya menanam kapas di pekarangan. Hasilnya sangat terbatas. Kalau
menenun dengan benang dari kebun sendiri, harus menunggu bertahun-tahun
hingga cukup untuk selembar kain,” katanya.
Di
Ende, ada jenis kain tenun yang tidak bisa sembarangan dipakai. Kain
itu hanya dibuat oleh kalangan tertentu, seperti keluarga tetua adat
(mosalaki). Menurut Kepala Museum Tenun Ikat di Ende, Ali Abubakar Pae,
pembuatan kain tenun ini umumnya dilakukan secara rahasia dan disertai
ritual khusus.
”Umumnya masyarakat Ende di pesisir selatan memanjatkan doa khusus itu pada malam hari di dalam rumah,” kata Ali.
Ali mengibaratkan menenun seperti membuat keris di Jawa. Kekuatan supranatural dari roh-roh leluhur akan menjiwai kain tenun.
Ada
ungkapan dalam bahasa Sikka, Ami nulung lobe. Naha utang wawa buku
ubeng. Naha utang merah blanu, blekot (Kami tidak memakai sarung
murahan, harus sarung dari dasar tempat simpan, harus sarung yang merah,
mantap, dan bermutu).
Ungkapan
itu mengandung pengertian, sarung yang dikenakan seorang perempuan
menunjukkan kepribadian pemakainya. Sarung yang dipakai bukan sarung
biasa. Ini menunjukkan pemakainya bukan sembarangan, melainkan orang
berwibawa, bermutu, dan berkepribadian baik.
Selain
prosesnya panjang dan rumit, motif tenun NTT unik dan beragam. Hampir
semua daerah di NTT memiliki kerajinan tenun. Johanna Maria Pattinaja
(73), istri almarhum Frans Seda, telah mengumpulkan sekitar 1.000 kain
tenun ikat NTT, dari Pulau Timor, Sumba, sampai Flores.
Penelitian
Romo Bosco Terwinju Pr (72) dari Keuskupan Agung Ende memperkuat hal
itu. Untuk satu wilayah di Pulau Flores misalnya Sikka, ia mengoleksi
sekitar 50 jenis kain tenun ikat. ”Motif kain tenun di NTT sangat
banyak, berbeda-beda antarkabupaten,” katanya.
Hasil
penelitian Romo Bosco di Pulau Flores, ada dua kategori tenun, jenis
ikat tradisional dan sulam songket. Tenun ikat menyebar dari Flores
bagian tengah, dari Kabupaten Ende hingga Kabupaten Flores Timur sampai
Lembata. Adapun tenun sulam songket banyak dibuat dari Kabupaten Nagekeo
sampai Kabupaten Manggarai Barat.
Warna
kain tenun ikat dihasilkan dari pewarnaan kain, baik dengan bahan alam
(mengkudu atau nila) maupun bahan kimia. Warna kain tenun sulam
dihasilkan dari proses penyulaman benang beraneka warna.
Menurut
Romo Bosco, motif kain tenun di Flores berdasarkan catatan sejarah
merupakan turunan dari motif Patola, India, seperti gajah, bunga atau
burung, yang kemudian berkembang dengan beragam variasi.
Tenun Kali Uda
Salah
satu tenun NTT yang terkenal berasal dari Kali Uda di Pulau Sumba. Desa
ini terletak 120 kilometer selatan Waingapu, Sumba Timur. Kualitas
tenunan Kali Uda dianggap tertinggi karena lentur, tidak luntur, ringan,
dan dapat dibuat menjadi pakaian.
Warna
dasar tenun Kali Uda adalah merah, putih, dan hitam. Ragam motif
biasanya ayam, burung, kuda, kerbau, sapi, serta mamuli (perhiasan
berbentuk rahim perempuan).
Selain
menjadi mahar kawin yang bernilai tinggi di kalangan warga Sumba, tenun
ikat Kali Uda diminati turis asing. Bahkan di Denpasar, Bali, ada toko
khusus yang menjual tenun Kali Uda. ”Meski harganya mahal, turis Jepang
belanja sampai ratusan lembar,” kata Jery Nola (29), seorang pria
perajin.
Harga
selembar kain Kali Uda berukuran 1,7 meter x 2,3 meter Rp 800.000-Rp 25
juta per lembar, tergantung motif, tingkat kesulitan menenun, pewarna,
dan kualitas benang.
Sayangnya,
menurut Kepala Desa Kali Uda, Umbu Yiwa Hanggi, belum ada organisasi
yang memayungi tenun ikat Kali Uda. Padahal, 90 persen warga
Kali Uda adalah penenun.
Perkembangan
tenun NTT menghadapi tantangan yang tidak ringan. Desakan ekonomi yang
semakin berat memaksa penenun meninggalkannya.
Di
Kali Uda, misalnya, sampai hari ini belum ada pemasaran yang masif atas
hasil kerajinan masyarakat itu. Gagal panen dan kemarau panjang yang
sering melanda pantai selatan Sumba Timur memperberat kondisi mereka.
Kalau dulu, hasil panen bisa mengisi kekosongan pendapatan mereka; kini,
pertanian tidak bisa lagi diandalkan.
”Tahun
2007 masyarakat pernah menyampaikan aspirasi melalui musyawarah rencana
pembangunan desa agar dibangunkan sebuah pusat kerajinan tenun ikat di
sini. Kemudian, hasil kerajinan masyarakat ditampung Dinas Perindustrian
dan Perdagangan untuk dipasarkan ke luar Sumba. Tapi, belum ada
tanggapan,” kata Umbu Yiwa.
Sejauh
ini jajaran pegawai negeri sipil di NTT diwajibkan memakai baju tenun
dua kali dalam seminggu, setiap Rabu dan Jumat. Kalangan penenun
termasuk pemilik sentra kerajinan tenun daerah Ina Ndao, Dorce Lussi, di
Kupang mengharapkan kebijakan wajib berpakaian tenun jadi empat kali
seminggu. Dengan demikian, pasar tenun ikat NTT semakin terbuka.
(SEM/RUL/ANS/KOR)
Sumber: Kompas
