Oleh Martin Lau
FLORES Timur
(Flotim) telah lama identik dengan jagung titi. Penganan dari jagung
ini telah menjadi bagian dari makanan sehari-hari. Di daerah-daerah
pedalaman, anak-anak sekolah saban pagi mengalas perutnya dengan jagung
titi. Anak-anak di kawasan pesisir pantai, memilih sarapan pagi jagung
titi dengan lauk ikan. Dan, banyak warga Flotim meraih gelar sarjana
berkat jagung titi.
Lama sebelum menjadi program pemerintah propinsi saat ini, warga Flotim
telah mengenal jagung. Mereka kenal jagung. Mereka tanam jagung. Mereka
hidup dari jagung. Masuk akal, karena alam dan cuaca Flotim cocok
dengan tanaman ini. Di saat warga di daerah lain, mulai beralih pola
makannya dengan meninggalkan pangan lokal, jagung titi tetap ada di hati
masyarakat Flotim.
Saking
dekatnya dengan jagung itu, boleh dibilang, masyarakat Flotim adalah
masyarakat jagung. Dan, mereka bangga dengan predikat itu.
Di
Flotim, hampir semua varietas jagung cocok. Topografi Flotim yang tidak
rata, dengan tingkat kemiringan yang tajam membuat para petani telaten
dan paham benar tentang jagung. Mereka juga pandai mengolahnya. Dibakar,
direbus, dititi semuanya jadi.
Tetapi
yang paling dikenal dan menjadi primadona adalah mengolahnya dengan
meniti menjadi jagung titi. Berbeda dengan penganan jenis lain dari
jagung, jagung titi tahan lama, tidak mudah rusak. Selain itu formula
jagung titi asal Flotim tetap menganut teknik pengolahan manual yang
tidak gampang ditiru.
Pertanyaannya
siapa yang mengajar petani Flotim membuat jagung titi yang berkualitas
itu? Dari mana petani Flotim mengadopsi pengetahuan membuat jagung titi
yang sampai saat ini terus diwariskan dari generasi ke generasi
berikutnya?
Kepala Bidang
(Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten
Flotim, Ir. Anton Sogen, dihubungi Pos Kupang di Larantuka belum lama
ini menjelaskan, tidak diketahui pasti siapa yang mengajarkan petani di
kabupaten kepulauan itu teknik membuat jagung titi. Juga tidak diketahui
dari mana leluhur Flotim mengadopsi cara membuat jagung titi itu.
"Menurut
sejarah yang dituturkan nenek dan orangtua saya, jagung titi ditemukan
dan dibuat oleh nenek moyang orang Flotim dan diwariskan secara
turun-temurun sampai saat ini. Sampai sekarang di kampung-kampung
seperti di Solor (Pulau Solor, Red) dan Adonara, remaja putri tanpa
dilatih pun pasti mahir dan terampil membuat jagung titi dengan cara
manual tradisional," kata Anton.
Untuk
melengkapi cita rasa, jagung titi biasanya ditambahkan dengan kacang
tanah yang telah digoreng. Nikmatnya cita rasa jagung titi membuat
Flotim terkenal di seantero nusantara, bahkan terkenal hingga ke manca
negara sebagai daerah asal jagung titi.
Di
dunia pariwisata, jagung titi juga sangat diminati wisatawan domestik
maupun manca negara sebagai salah satu jenis makanan ringan yang
menggoda selera. Para wisatawan merasa belum lengkap menikmati keindahan
panorama alam laut dan obyek wisata lainnya jika belum mengantongi
jagung titi sebagai makanan khas orang Flotim untuk dibawa pulang ke
kampung halaman/negerinya.
Demikian
pula pesiarah Jumat Agung/Semana Santa yang datang ke Kota
Reinha-Larantuka selalu melirik jagung titi sebagai ole-olenya.
Untuk
memenuhi kebutuhan jagung titi yang dibutuhkan tamu yang masuk ke
Flotim, ditempat pelayanan umum seperti Pasar Inpres Larantuka dan
Pelabuhan Larantuka, serta Pelabuhan Penyeberangan Kapal Feri di
Kelurahan Waibalun, para ibu dari kelompok home industry asal Solor
selalu siaga menyiapkan jagung titi dalam berbagai kemasan.
Menurut
Anton, nilai ekonomis jagung titi yang diproduksi secara
manual/tradisional cukup tinggi permintaannya oleh konsumen. Karena
itu, jagung titi Flotim juga menjadi komoditas makanan unggulan yang
menghidupkan home industry (industri rumah tangga) petani yang menunjang
kesejahteraan. Harga jagung titi berkisar Rp 2.500,00-Rp
15.000,00/wadah. Semua jenis/varietas jagung (komposit, metro, bisma,
hibryda dan pulut) dapat dibuat jagung titi.
Bupati
Flotim, Drs. Simon Hayon, dan Wakil Bupati, Yoseph Lagadoni Herin,
S.Sos, telah melirik peluang ini. Salah satu program pembangunan yang
gencar dilaksanakan dua pemimpin kabupaten kepulauan ini adalah Gerakan
Kembali ke Makanan Lokal. Dan, pangan lokal Flotim apa lagi kalau bukan
jagung?
Untuk
mendukung program peningkatan pangan lokal, 18 camat dan 206 kepala
desa bersama sekretaris desa, BPD dan 17 lurah di Flotim digenjot
Bupati Flotim untuk mendampingi warganya untuk menanam lahannya dengan
berbagai jenis tanaman pangan lokal, terutama berbagai varietas jagung
yang ada.
Kebijakan
ini mendapat tanggapan positif dari para petani sehingga hampir dalam
10 tahun terakhir warga Flotim tidak pernah tertimpa
kelaparan/kekurangan pangan yang berdampak pada busung lapar dan gizi
buruk pada balita.
Menurut
Anton, khusus untuk peningkatan home industry jagung titi, selain
produksi jagung titi manual yang umumnya dari Pulau Solor dan Pulau
Adonara, Pemkab Flotim juga memberikan bantuan mesin kepada dua kelompok
home industry untuk pembuatan emping jagung. Satu kelompok di Kelurahan
Lewolere, Kecamatan Larantuka, dan satu kelompok lagi di Desa
Narasausina, Kecamatan Adonara Timur.
Meskipun
telah ada mesin teknologi baru untuk pembuatan emping jagung yang mirip
jagung titi, namun jagung titi tradisional telah menyatu dengan budaya
masyarakat Flotim. Selain karena nilai ekonomisnya terus meningkat,
juga karena menjadi menu harian. *
Pos Kupang edisi Jumat, 5 Desember 2008 halaman 1