Dulu tahun 1990-an, Pasar Seribu di Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah adalah tempat favorit orang berbelanja sayur dan buah-buahan.
DI KIOS petak ukuran 6 x 4 meter, Ny. Siti Ba'adiyah, duduk bersila di lantai beralaskan karpet plastik. Di depannya sebuah radio transistor yang sudah tua diletakkan begitu saja di lantai. Ada lagu sendu mendayu-dayu dari radio itu.
Sesekali wanita berjilbab ini melempar pandang ke arah Jalan Timor Raya. Kadang ia menjawab ramah sapaan orang yang melintas di depan bilik kiosnya yang nyaris roboh.
"Silakan duduk Pak," kata Ny. Siti Ba'adiyah, ketika Pos Kupang, yang bertandang ke bilik kiosnya, Sabtu (29/8/2015) siang.
Dua kursi plastik warna hijau kusam disatukan Ny. Siti, agar tidak patah saat diduduki tamu. Sebab umurnya sudah tua dan keropos. "Untuk mengusir sepi, saya coba dengar lagu-lagu tempo dulu yang diputar di radio. Apalagi setelah suami meninggal bulan April lalu. Dan anak-anak sudah pergi merantau ke Jawa dan Batam. Saya sendiri bersama seorang anak perempuan. Setiap hari cuma begini," ujar Ny. Siti, saat Pos Kupang menanyakan kabarnya.
Ketika ditanya mengapa tidak berjualan sayuran dan buah lagi, Ny. Siti, sejenak terdiam. Matanya menerawang jauh ke seberang jalan. Kemudian ia pun bercerita. Dulu sekali, tahun 1990-an, kisah Ny. Siti, bilik kios yang ditempatinya di Pasar Seribu, Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang adalah tempat favorit orang berbelanja sayur dan buah-buahan. Umumnya orang-orang dari Kota Kupang yang baru pulang pelesir dari luar kota. Ada juga warga sekitar.
Aneka sayuran seperti kangkung, bayam, pitcay, bunga pepaya, kol bulat dan kol bunga, tomat, terung, ketimun, wortel, daun bawang, daun salam, daun sereh, aneka bumbu kering, aneka jenis pisang, pepaya, umbi-umbian dan sebagainya dijajarkan di meja jual di bilik kiosnya.
Ada 16 penjual sayur dan buah, termasuk Ny. Siti yang menempati 16 petak jual di Los A Pasar Seribu Tarus, di Kelurahan Tarus. Sisa 16 petak jual berada di Los B, di seberang Jembatan Tarus, di Desa Mata Air. Jaraknya cuma 200 meter arah timur.
"Pasar Seribu dibangun Gubernur NTT, Herman Musakabe, tahun 1993. Enam belas bilik kios ini diberikan kepada ibu-ibu untuk berjualan sayuran dan buah-buahan. Kami cuma membayar sewa lahan kepada tuan tanah," jelas Ny. Siti.
Selama hampir 10 tahun, para penjual sayur di Pasar Seribu selalu tersenyum. Wajah mereka sumringah saat menghitung lembaran rupiah yang masuk setiap hari. Sekarang masa jaya itu tinggal kenangan. Warga tidak lagi menjual sayur. Ny. Siti cuma menjual kue pisang dan roti goreng, di depan kios sayurnya setiap pagi. Sekadar untuk mencari uang jajan bagi cucunya.
"Sekarang ini, Pasar Seribu sudah sunyi dan sepi. Tidak ada pembeli yang mampir. Para penjual akhirnya bangkrut," tambah Demus Nalu, dan Ny. Hawa Famani.
Demus masih bertahan sebagai penjual sayur di Los A Pasar Seribu Tarus. Namun ia tidak berjualan di bilik kios. Tetapi membangun pondok darurat persis di depan pasar, di pinggir Jalan Timor Raya. "Sebab pembeli malas masuk ke los pasar. Mereka berhenti di pinggir jalan dan langsung membeli di pondok. Kalau tidak buat pondok di pinggir jalan, pasti tidak laku," tambah Demus.
Ia mengaku penjual generasi kedua setelah ayahnya Agus Nalu, berhenti berjualan karena bangkrut. Demus menjelaskan, bilik kios sayur kini disewakan pemiliknya untuk dijadikan kos-kosan. Ada mahasiswa, sopir, penjaga toko, tukang dan buruh yang indekos di los pasar itu. Tidak ada satu pun penghuni kos berada di biliknya, ketika hendak dikonfirmasi wartawan."Mereka sedang pergi kuliah dan berangkat kerja. Malam hari baru mereka ada," kata Demus dibenarkan Ny. Hawa Famani.
Mungkin 10 tahun yang akan datang cuma ada belasan kios --tempat jual sayur dan buah- buahan yang pernah favorit belasan tahun lalu--berjejer bisu ditelan waktu. Dan, mungkin juga akan menjadi elegi sunyi seorang nenek Siti Ba'adiyah, yang dinyanyikan dalam syair sejarah untuk anak dan cucunya. Dan kini, Pasar Seribu tidak seribu lagi. (julianus akoit)
Sumber: Pos Kupang 3 September 2015 hal 1
