Senin, 27 Februari 2017

Satu Orang Imigran Dihargai Rp 80 Juta

KUPANG, PK - Imigran ilegal yang pindah ke negara lain seperti Australia menyetor uang dalam jumlah tidak sedikit kepada sindikat penyelundup manusia. Sindikat internasional mematok harga satu orang minimal Rp 80 juta.

"Kalau satu kapal berisi 100 orang, maka pendapatan para penyelundup manusia bisa mencapai Rp 8 miliar hingga Rp 10 miliar. Besarnya pendapatan yang diperoleh penyelundup menjadi salah satu faktor maraknya penyelundupan manusia secara ilegal ke Australia," kata Kepala Satuan Tugas People Smuggling Polda NTT, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Cecep Ibrahim, kepada Pos Kupang, Rabu (17/2/2016) lalu.

Cecep mengatakan, fakta itu terungkap ketika menangani beberapa kasus people smuggling (penyelundupan manusia) oleh Polda NTT dan jajaran polres.  Ia menggambarkan ada sindikat pengiriman imigran gelap yang dikoordinir dari luar negeri hingga NTT. Hanya saja masing-masing orang memiliki peran sendiri-sendiri.
"Perannya masing-masing ada yang mencari kapal, rekrut, jadi koordinator lintas negara. Semisal dari Pakistan sudah ada yang rekrut. Kemudian koordinasi dengan koordinator di Indonesia, lalu koordinator di Indonesia membagi tugas yang mengawal menyebarang siapa, pencari kapal, semua sudah diatur sindikat," kata Cecep.

Modusnya, ungkap Cecep, para imigran datang ke Indonesia menggunakan visa kunjungan menumpang pesawat resmi. Setelah tiba mereka menyeberang ke Malaysia pakai kapal dari Indonesia. Setelah menyeberang dari Kupang, Sulawesi dan Pelabuhan Ratu sudah hilang semua paspornya. "Seolah-olah mereka imigran," katanya.

Ia mencontohkan, dua tersangka pengirim imigran gelap dari Sulawesi yang tertangkap di Kabupaten Kupang, yakni Dahrani dan Muhammad Jabar. Kedua tersangka itu mengawal sekitar 50 orang imigran ilegal asal Pakistan, Myanmar dan Bangladesh. Mereka kawal mulai dari Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Sesampainya di Kabupaten Kupang ditangkap polisi lalu diproses hukum.

Cecep mengatakan, saat ini Australia tidak tinggal diam terkait makin banyaknya imigran yang nekat menyeberang ke negeri kanguru tersebut. Dahulu saat ditangkap aparat keamanan Australia, lanjut Cecep, kapal dibakar, imigran diproses dan diterima di sana.

"Saat ini kapal dibakar lalu diberikan kapal baru yang dilengkapi navigasi laut kemudian dikembalikan ke Indonesia. Dahulu Australia membakar kapal yang digunakan imigran saat tiba di Australia, tapi tetap diterima di Australia. Sekarang Australia ada cara lain. Setiap imigran yang terjaring di perbatasan langsung dibalikkan dengan kapal yang sudah disediakan bahan bakar, dan dilengkapi alat navigasi.  Bahan bakar yang disediakan terbatas dan tepat habis di perairan NTT," ungkap Cecep.

Direktur dan Kriminal Umum Polda NTT, AKBP Yudi Sinlaeloe mengatakan, NTT bukan menjadi tempat tujuan para imigran ilegal. Namun, saat hendak menyeberang ke Australia aparat setempat menolak.

Yudi mengatakan, kasus terorisme yang terjadi di Perancis yang ditengarai dilakukan para imigran membuat Australia waswas dengan kehadiran para imigran di negara itu.

Pasalnya, dahulu Perancis juga membuka diri bagi imigran yang hendak masuk ke negaranya. Keterbukaan itu rupanya  menyuburkan masuknya imigran ilegal ke Perancis.

Terhadap persoalan itu, Australia makin keras dan tegas terhadap imigran yang hendak mencari suaka di negaranya. Banyaknya imigran yang diusir dari Australia menjadikan NTT sebagai daerah terdekat mau tidak mau harus menampung para imigran tersebut.

"Bukan hanya Indonesia, Malaysia juga mengalami persoalan yang sama. Persoalannya negara penerima suaka yang ada kecil. Misalnya, 10.000 jumlah pencari suaka, tetapi hanya 1.000 orang yang diterima di negara- negara penerima suaka. Lalu mau dikasih ke mana sisanya? Kondisi ini juga menjadi pemicu munculnya imigran gelap," demikian Yudi. (aly)

Terbanyak dari Afganistan
Berikut data imigran yang ditampung di Rudenim Kupang

No Kewarganegaraan   2014   2015  2016  JUMLAH
1. Iran                               20       4      4        28
2. Myanmar                       9       2       2        13
3. Afganistan                   90      102   98      290
4.  Iraq                             16        6     6          28
5. Stateles                          1        -     -        1
6. Pakistan                           8     10   10        28
7. Palestina                       11       5     5         21
8.  Nepal                            1        1     1         3
9. Ethiopia                         -     39    39      78
10. Somalia                        3        -    -       3
Jumlah                              159   169  165   493

Penyelundupan
Kasus penyelundupan imigran yang ditangani Polda NTT
NO.  TAHUN  JUMLAH KASUS   PELAKU
1.        2011                       5           Dua Pembawa Kapal dan dua ABK
2.        2012                       9           Dua Pembawa Kapal dan dua ABK
3.        2013                       7           Dua Pembawa Kapal, tiga ABK, dua warga biasa
4.        2014                       4           Dua Pembawa Kapal dan tiga ABK
5.        2015                       3           Dua Pembawa Kapal, empat ABK dan 1 WNA
6.        2016                      -                                                  -




Tampung di Tiga Hotel

KAPASITAS Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kupang yang terbatas menjadikan imigran lain terpaksa ditampung di tiga hotel  di Kota Kupang.  Para imigran itu ditampung di hotel hingga mereka dipulangkan ke negara asal atau ke negara ketiga yang mau menerima mereka.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kupang, Abdi Widodo, yang ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (24/2/2016) mengatakan, tiga hotel yang digunakan untuk menampung para imigran, yakni Hotel Kupang In, Hotel Lavender dan Hotel Ina Boi.

Para imigran yang ditampung di hotel seluruh biaya menginap, makan, minum dan kesehatan ditanggung oleh International Organization for Migration (IOM=Organisasi Internasional untuk Migrasi).

Abdi menjelaskan, meski para imigran bisa tinggal di hotel paling lama 10 tahun, tapi bila sebelum 30 hari, jumlah imigran yang tinggal di Rudenim Kupang  tidak melebihi kapasitas, maka para imigran yang tinggal di hotel dipindahkan ke Rudenim Kupang.
Ia mengatakan, rata-rata imigran yang ditampung dibawah pengawasan Kantor Imigrasi Kupang berstatus pencari suaka. Mereka mencari suaka ke negara ketiga lantaran kekacauan atau perang yang sementara melanda negara para imigran. "Imigran dari Afganistan rata-rata status pencari suaka. Dan lainnya pengungsi," jelas Abdi.

Tak hanya itu, demikian Abdi, beberapa imigran yang ditampung hengkang dari negaranya karena krisis ekonomi yang melilit keluarga para imigran. Untuk memulai hidup baru, mereka menjual seluruh aset lalu secara ilegal pergi ke negara lain.
"Imigran gelap banyak berasal dari Banglades, Myanmar dan Srilangka. Para imigran itu ditangkap saat hendak mencoba menyeberang menuju Australia," ungkap Abdi.

Selain makan, minum dan tidur, lanjut Abdi, para imigran yang ditampung di ruang detensi dibawah pengawasan Kantor Imigrasi Kupang, juga diberikan waktu berolahraga di sekitar hotel. Untuk mengantisipasi para imigran lari dan ribut, ditempatkan beberapa petugas secara bergantian.

Abdi mengatakan, para imigran rata-rata menjadi korban sindikat yang menjanjikan kepada mereka bisa pindah ke negara lain secara ilegal. Satu imigran biasanya dimintai uang berkisar 4.500 hingga 5.000 dolar Amerika Serikat.  "Dan tentu, sindikatnya pasti ada. Kalau tidak ada, kenapa mereka (imigran gelap) bisa hadir," kata Abdi.

Ia menjelaskan, rata-rata imigran korban penyelundupan manusia (people smuggling) lantaran persoalan ekonomi sehingga ingin pindah ke luar negaranya mencari kehidupan yang lebih baik. Sementara imigran lainnya terpaksa pindah ke lain negara karena faktor keamanan di negaranya masing-masing. (aly)


Mencari Suaka

RUMAH Detensi Imigrasi (Rudenim) Kupang hanya menampung para imigran yang sementara proses suaka, masih berstatus pengungsi atau setelah diamankan aparat kepolisian. Seluruh biaya hidup para imigran yang ditampung dibiayai International Organization for Migration (IOM).

"Di Rudenim Kupang, kami hanya mengamankan orang asing yang sementara mencari suaka dan proses dipindahkan ke negara ketiga berdasarkan penilaian dari UNHCR. Kalau mereka ditolak, nanti dikembalikan ke negara asalnya," kata Kepala Rudenim Kupang, Drs. Effendi Saragih, MM yang dihubungi Pos Kupang, Jumat (26/2/2016) sore.

Ia menyatakan, Rudenim Kupang  tidak terlibat menangani bagaimana penyelesainnya hingga para imigran pindah ke negara tertentu.  Para imigran ditempatkan di Rudenim agar tidak berkeliaran.

"Kami di Rudenim hanya pengawasan dan fasilitas tempat. Proses regulasi manakala bergerak ke satu tempat dipindahkan ke negara lain atau dikembalikan ke negara asalnya. Kami mengharapkan mereka tidak lama di tempat penampungan lantaran bisa menimbulkan kejenuhan dan bisa  terjadi gesekan antar penghuni," katanya.

Menurut Effendi, bila ditolak negara ketiga biasanya para imigran dipulangkan ke negara asal. Persoalannya saat pulang ke negaranya apakah situasi dan keamanannya sudah kondusif. Selain itu, kedutaan asal imigran tidak gampang memulangkan pengungsi asal negaranya.



Ia mengatakan, para imigran memiliki alasan sendiri-sendiri tentang pindah ke negara lain. Rata-rata mencari suaka ke negara lain karena kondisi negaranya tidak aman. 
Selain itu, ada penganiayaan suku, ras dan ideologi. "Untuk data detailnya ada di IOM dan UNHCR," ujar Effendi.

Effendi menjelaskan, hampir semua Rudenim di seluruh Indonesia mengalami kelebihan
penghuni.  Setidaknya ada 13 Rudenim di seluruh Indonesia dan semuanya kelebihan menampung imigran.

"Kami sudah hampir dua kali lipat. Selama para imigran tidak bisa bergerak menuju negara yang dituju atau tidak bisa pulang ke negara asalnya,  maka tetap harus ditampung di Rudenim," katanya.

Kepala Tata Usaha Rudenim Kupang, Benyamin Tulasi, yang ditemui Rabu (24/2/2016) mengatakan, lama tidaknya imigran tidak menentu. Untuk menghilangkan kejenuhan para imigran dibuat program olahraga, bertani bagi yang berminat dan rekreasi ke luar.
Benyamin mengatakan, ada suka duka mengurus imigran. Tetapi pihaknya terus berusaha membuat situasi kondusif. "Kadang mereka tidak sakit, tetapi bilang sakit. Setelah diinfus lalu bilang sudah sembuh. Terkadang memancing emosi petugas, tapi kami berusaha tegas," ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu dua warga negara Iran dideportasi karena membuat keributan dengan imigran lainnya. Langkah itu ditempuh untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya. (aly)


IOM Tanggung Biaya Hidup


RUMAH Detensi Imigrasi (Rudenim) Kupang hanya menampung para imigran yang sementara proses suaka, masih berstatus pengungsi atau setelah diamankan aparat kepolisian. Seluruh biaya hidup para imigran yang ditampung dibiayai International Organization for Migration (IOM).

"Di Rudenim Kupang, kami hanya mengamankan orang asing yang sementara mencari suaka dan proses dipindahkan ke negara ketiga berdasarkan penilaian dari UNHCR. Kalau mereka ditolak, nanti dikembalikan ke negara asalnya," kata Kepala Rudenim Kupang, Drs. Effendi Saragih, MM yang dihubungi Pos Kupang, Jumat (26/2/2016) sore.

Ia menyatakan, Rudenim Kupang  tidak terlibat menangani bagaimana penyelesaiannya hingga para imigran pindah ke negara tertentu.  Para imigran ditempatkan di Rudenim agar tidak berkeliaran.

"Kami di Rudenim hanya pengawasan dan fasilitas tempat. Proses regulasi manakala bergerak ke satu tempat dipindahkan ke negara lain atau dikembalikan ke negara asalnya. Kami mengharapkan mereka tidak lama di tempat penampungan lantaran bisa menimbulkan kejenuhan dan bisa  terjadi gesekan antar penghuni," katanya.

Menurut Effendi, bila ditolak negara ketiga biasanya para imigran dipulangkan ke negara asal. Persoalannya saat pulang ke negaranya apakah situasi dan keamanannya sudah kondusif. Selain itu, kedutaan asal imigran tidak gampang memulangkan pengungsi asal negaranya.

Ia mengatakan, para imigran memiliki alasan sendiri-sendiri tentang pindah ke negara lain. Rata-rata mencari suaka ke negara lain karena kondisi negaranya tidak aman. 
Selain itu, ada penganiayaan suku, ras dan ideologi. "Untuk data detailnya ada di IOM dan UNHCR," ujar Effendi.

Effendi menjelaskan, hampir semua Rudenim di seluruh Indonesia mengalami kelebihan penghuni.  Setidaknya ada 13 Rudenim di seluruh Indonesia dan semuanya kelebihan menampung imigran.

"Kami sudah hampir dua kali lipat. Selama para imigran tidak bisa bergerak menuju negara yang dituju atau tidak bisa pulang ke negara asalnya,  maka tetap harus ditampung di Rudenim," katanya.

Kepala Tata Usaha Rudenim Kupang, Benyamin Tulasi, yang ditemui Rabu (24/2/2016) mengatakan, lama tidaknya imigran tidak menentu. Untuk menghilangkan kejenuhan para imigran dibuat program olahraga, bertani bagi yang berminat dan rekreasi ke luar.
Benyamin mengatakan, ada suka duka mengurus imigran. Tetapi pihaknya terus berusaha membuat situasi kondusif. "Kadang mereka tidak sakit, tetapi bilang sakit. Setelah diinfus lalu bilang sudah sembuh. Terkadang memancing emosi petugas, tapi kami berusaha tegas," ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu dua warga negara Iran dideportasi karena membuat keributan dengan imigran lainnya. Langkah itu ditempuh untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (aly)


MENGURANGI KEJENUHAN DI RUDENIM KUPANG
Memberikan Kursus Gratis Bahasa Inggris

Kami tidak memaksa para imigran  memberikan kursus bahasa Inggris. Mereka  sukarela memberikan kursus kepada anak-anak sekolah yang membutuhkannya


SUASANA di rumah Bapak Libing, warga RT 08/RW 03 Kelurahan Oesapa Selatan, Kota Kupang, Jumat (26/2/2016) sore berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Belasan anak SD duduk berjejer menghadap sosok orang asing yang sementara ceplas-ceplos berbahasa Inggris. Meski baru mengenal bahasa Inggris, anak-anak itu senang mengikuti kursus gratis bahasa Inggris yang diajarkan imigran yang tinggal di Rumah Detensi Imigrasi Kota Kupang.

Sore itu, dua imigran asal Ethiopia pengajar  bahasa Inggris, Shamil Yusuf Abdurashid dan Redwan Idris Ali sibuk memberikan pengenalan bahasa Inggris kepada anak-anak SD yang bermukim di wilayah Kelurahan Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.   Bahan ajarannya seputar lingkungan anak-anak dan kegiatan yang dilakukan anak-anak setiap hari.

Anak-anak SD yang mengikuti les privat itu antusias. Buku tulis dan pena yang digenggam anak-anak siap menyalin apa yang ditulis sang guru. "Awalnya bingung dengan apa yang diajarkan. Tetapi kami lama-lama mengerti," kata Veronika, murid SD yang mengikuti les bahasa Inggris tersebut.

Tidak beda dengan Veronika, Putri Libing, siswi lainnya mengaku bingung waktu pertama kali mendapatkan pelajaran bahasa Inggris dari dua warga negara Ethiopia itu. Namun, setelah dua mengikuti kursus, ia mulai mengerti karena diajarkan untuk bercerita tentang hal-hal yang dialami setiap hari.

Lurah Oesapa Selatan, Robert Octavianus Lomi, S.SoS, kepada Pos Kupang mengatakan, ia senang lantaran kegiatan memberikan tambahan pengetahuan kepada anak-anak SD, SMP dan SMA. Kegiatan itu juga mengurangi kejenuhan para imigran selama tinggal di Rudenim Kupang.

"Imigran banyak memiliki kelebihan. Salah satunya mengajarkan bahasa Inggris. Daripada  kelebihan itu dipendam saja, lebih baik kelebihan bakat dan ilmu dibagi kepada anak-anak sekolah," ujar Robert.

Kegiatan itu bermula ketika warga setempat mengusulkan agar imigran yang  ditampung di Rudenim Kupang sambil menunggu waktu bisa mengajarkan bahasa Inggris kepada masyarakat. Bak gayung bersambut, jelas Robert, usulan itu disambut baik Rudenim Kupang. Kegiatan ini mulai dijalankan sejak November 2015.

"Saya melihat para imigran juga senang karena  dapat bersosialisasi dengan masyarkat dan berbagi ilmu kepada warga secara gratis. Coba kalau anak-anak kursus bahasa Inggris di tempat kursus resmi, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.  Belum lagi biaya transportasi pulang perginya," kata Robert.

Untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak, lanjut Robert, para imigran menggunakan bahasa Indonesia, meski tidak lancar. Tetapi mereka lebih banyak memakai bahasa Inggris saat mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak.

Robert mengatakan, pihaknya sampai kewalahan dengan tempat belajar lantaran animo warga yang mengikuti kursus cukup banyak. "Kami sampai kewalahan siap tempat lantaran yang mengikuti kursus banyak. Akhirnya kami minta bantuan rumah doa milik Pak Libing untuk dijadikan tempat kursus karena lokasinya tidak jauh dari Rudenim Kupang," jelas Robert.

Kegiatan kursus bahasa Inggris, demikian Robert, diselenggarakan setiap Senin, Rabu dan Jumat. Kursus bahasa Inggris tidak bisa dilaksanakan setiap hari karena pemilik rumah juga melaksanakan kegiatan rohani di rumah doa.

Tak hanya kursus bahasa Inggris, Robert berharap pihak Rudenim Kupang mengizinkan para  imigran yang memiliki keterampilan khusus seperti menyulam dapat mengajarkan kepada ibu-ibu rumah tangga di wilayah kelurahan itu.

Kepala Rudenim Kupang, Drs. Effendi Saragih, MM yang dihubungi Pos Kupang terpisah menyatakan, pihaknya memberi izin beberapa imigran mengajar bahasa Inggris asalkan tidak dikomersilkan.

Harapannya, lanjut Effendi, kursus bahasa Inggris itu dapat memotivasi anak-anak belajar bahasa asing sebagai bekal mereka di kemudian hari. "Kami tidak memaksa imigran untuk memberikan kursus bahasa Inggris. Mereka  sukarela memberikan kursus kepada anak-anak sekolah yang membutuhkannya. Dan mereka dengan senang hati mengajarkan pengetahuan berbahasa kepada anak-anak," ujar Effendi. (muhlis al alawi)

Sumber: Lipsus Pos Kupang  29 Februari 2016

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...