Tampilkan postingan dengan label John Dami Mukese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Dami Mukese. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Oktober 2017

Sang Penyair Telah Mengalir

John Dami Mukese
Oleh: Pius Rengka
Pengamat Sosial Budaya, tinggal di Kupang

TAK kuingat hari persis. Tahun pun kulupa. Tetapi, hari itu  telah petang. Majalah Horison tiba di  kostku di Wisma Antarnusa, Klebengan, Yogyakarta. Saya mahasiswa pelanggan setia majalah sastra itu. Saya membaca halaman demi halaman. Sebelum malam datang melarut,  puisi pun dibaca.

Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian. Saya mencermati. Yang dirasakan, semacam sebuah kepergian, keindahan, drama, tetapi ceria dalam derita. Derita para petani Flores, derita para orang tepi yang senantiasa dahaga pada surga perhatian.

In Memoriam Pater John Dami Mukese, SVD

John Dami Mukese (kanan)

"Kain kafan telah terbentang
Ciptakan tata warna tembus pandang 
Pada corak-corak abadi busana kematian 
Yang tak pernah berdusta 
Tentang liku-liku hidup kita"

(Kematian, karya John Dami Mukese)

POS KUPANG-- Kutipan di atas adalah penggalan puisi karya John Dami Mukese berjudul "Kematian". Tentu puisi ini bukan ditujukan pada dirinya sendiri, akan tetapi kematian adalah kepastian, dan kepastian itu kini bersamanya.

 Penyair metafor John Dami Mukese, SVD -biasa disapa Pater Dami. Pada puisi "Deburan Cinta Kedua "John Dami Mukese menulis "Deburan ombak Nanganesa -Deburan cintaku yang kedua -Buah-buah perawan kekasihku -sempurnakan citra keperawananku."

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...