![]() |
| ilustrasi |
Tiga kecamatan itu adalah Lio Timur (dulu dikenal Lise Nggonderia), Kotabaru (Lise Kuru Lande), dan Wolowaru (sebagian, dulu Lise Lowo Bora). Wilayah Lise Tana Telu terakhir berpenduduk sekitar 45.000 jiwa. Adapun Ria Bewa (artinya besar panjang) yang dikukuhkan di penghujung tahun ini adalah Michael Tani Wangge (53).
Pemangku adat di Lise Tana Telu, yakni mulai dari Ria Bewa, Mosalaki,
sampai Bogehage. Ria Bewa secara adat pada masa perebutan wilayah dulu
merupakan pemimpin perang tertinggi.
Di Lise Tana Telu, selain Ria Bewa Wololele A, juga ada Riwa Bewa Mulawatu yang tinggal di Desa Detupera, Kecamatan Lio Timur, Yosef Ngati. Selain itu, ada Mosalaki Pu'u, Daniel Bheto, yang tinggal di Kampung Rate Nggoji, di Kecamatan Kotabaru.
Di Lise Tana Telu, selain Ria Bewa Wololele A, juga ada Riwa Bewa Mulawatu yang tinggal di Desa Detupera, Kecamatan Lio Timur, Yosef Ngati. Selain itu, ada Mosalaki Pu'u, Daniel Bheto, yang tinggal di Kampung Rate Nggoji, di Kecamatan Kotabaru.
Untuk Struktur mosalaki, tercatat 87 mosalaki, baik bogehage, bogeria,
maupun bogelo'o(tingkatan mosalaki sesuai dengan besar kecilnya
perjuangan ketika merebut wilayah). Semua mosalaki ini hadir dalam pesta
pengukuhan Ria Bewa. Pengukuhan Ria Bewa tahun ini berselang 29 tahun
dari yang sebelumnya. Terakhir pengukuhan Riwa Bewa Lise Tana Telu
Wololele A berlangsung pada tahun 1977, yaitu terhadap Yacob Ndori
Wangge.
Beruntung Kompas dan wartawan Pos Kupang dapat menyaksikan pesta besar
ini sebab pengukuhan berikutnya baru dilangsungkan jika penjabat Ria
Bewa telah tiada atau ada kejadian luar biasa. Menurut adat, Ria Bewa
yang dikukuhkan saat ini akan digantikan oleh anak sulung
laki-lakinya.
laki-lakinya.
Guru Besar Bidang Antropologi Sejarah dari Universitas Kyoto Jepang Prof
Dr Takashi Sugishima mengutarakan, Kampung Wololele A merupakan pusat
sejarah dan sangat kaya akan adat istiadat. Takashi Sugishima banyak
melakukan penelitian di Indonesia, khususnya untuk Lise Tana Telu.
Ritual pengukuhan Ria Bewa ini pun diarsiteki Takashi. Ritual adat ini
dipersiapkan dua tahun. "Banyak hal yang menarik di Lise Tana Telu, dan
memang Flores Tengah merupakan pusat sistem sosial dan kebudayaan yang
pertama di NTT," ujar Takashi.
Gelar baru
Gelar baru
Terhitung sejak 8 Oktober 2006, Michael Tani Wangge menyandang gelar
baru sebagai pemangku adat tertinggi, yakni Ria Bewa Lise Tana Telu
Wololele A. Namun, Michael saat ini juga masih aktif sebagai wartawan
senior Suara Pembaruan. Bapak dua anak ini memiliki penerus, yaitu anak
keduanya, Oktavianus Mario Wangge (13). Anaknya yang sulung seorang
perempuan, Theresa D Avila (18).
Menurut Salomon Woda Wangge (adik kandung Michael), Michael merupakan
generasi XI untuk Ria Bewa Lise Tana Telu Wololele A. Michael merupakan
anak kedua dari pasangan Yacob Ndori Wangge dan Theresia Koli. Anak yang
pertama, Yoseph Wangge, telah meninggal.
Sejak Yacob Ndori Wangge, Ria Bewa X, meninggal dunia dua tahun lalu
karena sakit, Salomon-lah menggantikan tugas sehari-hari Ria Bewa X
untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, termasuk tanah adat, karena
Michael sibuk dengan pekerjaannya. Dengan demikian, Salomon lebih banyak
menguasai tata cara, maupun ritual adat.
Keturunan Ria Bewa Lise Tana Telu juga memiliki garis dari Raja Lio.
Belanda masuk ke Flores sekitar tahun 1909, dan pada tahun 1924 Pius
Rasi Wangge dikukuhkan menjadi Raja Lio, yang di Ende wilayahnya
sekarang ini diperkirakan meliputi 14 kecamatan, minus Kecamatan Ende
Selatan, Pulau Ende, dan Nangapanda.
Pius Rasi Wangge pada tahun 1914 juga mendapat mandat dari ayahnya,
Wangge Mbete, untuk menjalankan tugas sebagai Ria Bewa. Namun, pada 14
November 1947, Pius Rasi Wangge ditembak mati oleh Belanda di Kupang,
karena berkolaborasi dengan tentara Jepang.
Kepemimpinan Ria Bewa kemudian dilanjutkan Yosep Woda Wangge karena
ketiga anak laki-laki Pius Rasi Wangge telah tiada. Woda Wangge
merupakan anak kedua laki-laki dari istri pertama Wangge Mbete,
sedangkan Pius Rasi Wangge anak pertama dari istri kedua Wangge Mbete.
Woda kemudian digantikan anaknya yang sulung, Yacob Ndori Wangge pada
tahun 1977, dan kini diteruskan oleh Michael Tani Wangge.
Acara puncak pengukuhan
Pada Minggu dini hari, 8 Oktober 2006, itu suasana Desa Wololele A benar-benar ingar-bingar. Hawa dingin yang menusuk tulang tak terasa lagi. Di bawah pancaran bulan purnama, dengan diiringi musik tradisional warga desa-tua-muda dan pria-wanita-bersukaria, melakukan gawi, menari bersama di hanga, hamparan tanah tempat khusus penyelenggaraan upacara atau ritual adat.
Pada Minggu dini hari, 8 Oktober 2006, itu suasana Desa Wololele A benar-benar ingar-bingar. Hawa dingin yang menusuk tulang tak terasa lagi. Di bawah pancaran bulan purnama, dengan diiringi musik tradisional warga desa-tua-muda dan pria-wanita-bersukaria, melakukan gawi, menari bersama di hanga, hamparan tanah tempat khusus penyelenggaraan upacara atau ritual adat.
Mereka memeriahkan suasana menyongsong peristiwa akbar, yaitu pengukuhan
Ria Bewa, yang dilangsungkan bersamaan dengan matahari terbit pagi itu.
Pada pukul 04.30 calon Ria Bewa, Michael Tani Wangge, bersama pemangku
adat lainnya, termasuk Ria Bewa Mulawatu, Mosalaki
Pu'u dan juga keluarga besar adat dari garis ibu memasuki Sao Ria.
Pu'u dan juga keluarga besar adat dari garis ibu memasuki Sao Ria.
Di dalam Sao Ria, Michael mempersiapkan diri. Pada pukul 05.00 ia pun
mengenakan pakaian kebesaran, didahului pemakaian dua seke, gelang
gading. Satu gelang dikenakan pada tangan kanan dan lainnya di tangan
kiri.
Dalam kesempatan itu, Michael juga dilengkapi sejumlah pusaka, seperti
wea, anting-anting emas, londa dan rajo, kalung emas berbentuk semacam
perahu. Semua itu dikeluarkan dari peti yang telah disimpan puluhan
tahun dalam rumah adat. Peti pusaka tersebut hanya dibuka ketika
pengukuhan Ria Bewa.
Ritual membuka dan mengangkat pusaka itu pun dilangsungkan melalui
pemotongan babi sebagai korban. Pemotongan korban dilakukan sekitar
pukul 02.00, sebelumnya. "Setelah ritual ini, pusaka dimasukkan lagi ke
dalam peti dan tidak akan dibuka-buka sampai ada pengukuhan Ria Bewa
berikutnya," ujar Salomon Woda Wangge.
Setelah memakai seke, Michael lalu mengenakan destar, ikat kepala dari
kain batik, dan sarung berwarna hitam untuk menutup anggota tubuh bagian
bawah. Selanjutnya, dia mengenakan semba, semacam lembaran kain besar
dan panjang dari kain tenun dengan warna dasar coklat, yang dipasang
menyilang dari pundak kanan ke pinggang kiri. Terakhir, pada pundak
Michael dipasangkan selempang, juga dari kain tenun.
Sebelum keluar dari Sao Ria, terlebih dahulu salah seorang mosalaki
memberikan sesaji dan memanjatkan doa kepada leluhur. Tepat pukul 06.00,
saat matahari terbit, Michael dengan pakaian kebesaran berdiri di
hadapan warga, dan menyatakan diri sebagai Ria Bewa. Karena Ria Bewa
merupakan jabatan tertinggi, maka Ria Bewa sendiri yang mengukuhkan
dirinya.
Ria Bewa beserta jajaran pemangku adat kemudian beranjak ke tempat
ritual berikutnya di hanga. Mereka menuju hanga diiringi tarian Poto
Wolo (mengangkat gunung). Tarian ini untuk menyambut pembesar yang baru.
Di hanga telah menunggu para staf Ria Bewa dan mosalaki bogehage.
Setelah Ria Bewa beserta istri memberikan penghormatan kepada leluhur di
tubu musu, tugu adat, selanjutnya dilakukan Gawi Ha'i Nggaja, tarian
yang menyatakan atau merayakan kebesaran kekuasaan setelah meraih
kemenangan berperang merebut suatu wilayah.
Tarian ini dilakukan dengan mengitari hanga tujuh kali. Seusai Gawi Ha'i
Nggaja, acara kemudian dilanjutkan dengan Gawi, sebagai tanda kesatuan
dan persatuan, baik dengan sesama warga komunitas Lise Tana Telu maupun
leluhur.
Ritual berikutnya adalah perjamuan. Para mosalaki dan tamu diberi
hidangan filu, semacam kue cucur yang terbuat dari tepung beras dan gula
merah serta hibi, semacam nasi atau emping yang terbuat dari bulir padi
yang digoreng, ditumbuk, lalu hasil tumbukan dibersihkan dari
kulit padi.
kulit padi.
Seusai misa syukur yang dipimpin seorang pastor, pimpinan gereja
Katolik, ritual yang terakhir dilakukan adalah bagi boge, yakni
memberikan bagian kepada masing-masing pemangku adat sesuai dengan
tingkatannya. Bagian yang diberikan berupa daging hewan korban. Besarnya
bagian disesuaikan dengan besar kecilnya perjuangan ketika merebut
wilayah.
Pelaksana harian
Pelaksana harian
Michael Tani Wangge setelah resmi menjadi Ria Bewa Ria Bewa Lise Tana
Telu Wololele A, tepatnya seusai Gawi Ha'i Nggaja di hanga, lalu
menyampaikan pesan resmi yang pertama kalinya kepada warga. Pesan yang
disampaikan secara tertulis di hadapan warga itu pada intinya menyatakan
bahwa segala urusan di wilayah Lise Tana Telu, antara lain persoalan
tanah, konflik di masyarakat, juga pertanian merupakan kewenangannya.
Selain itu, segala hal yang menyangkut kesejahteraan masyarakat menjadi
tanggung jawabnya.
"Namun, sehubungan dengan kesibukan pekerjaan saya di Jakarta yang tidak
dapat saya tinggalkan, maka segala urusan di Lise Tana Telu akan
dijalankan oleh Pelaksana Harian, Salomon Woda Wangge. Apabila terjadi
hal yang luar biasa dan tidak bisa diselesaikan oleh Salomon, baru akan
memanggil Ria Bewa untuk diselesaikan dengan semangat kebersamaan," ujar
Michael Tani Wangge.
Itulah pesta besar yang berlangsung sekitar tiga pekan tersebut. Pesta
adat yang sudah lama tak dilangsungkan di Wololele-berasal dari kata
wolo yang berarti bukit dan lele yang berarti pohon besar atau
rindang-semacam pohon beringin. Desa Wololele A itu terletak sekitar 79
kilometer arah timur Kota Ende. Posisinya di kawasan perbukitan dengan
ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
Desa kecil dan tua yang terdiri dari lima dusun dan dihuni 200 keluarga
atau 800 jiwa itu, di bagian selatan berbatasan dengan Bukit Tolorose,
sedangkan di utara berbatasan dengan Bukit Tolorawa.
Untuk menjangkau desa ini dengan menggunakan mobil perlu waktu sekitar
2,5 jam. Bisa dikatakan desa ini masih perawan, terutama jika dilihat
dari jalan yang dilalui masih berupa tanah padas (belum ada pengerasan
atau pun aspal). Medan ke desa ini juga berliku-liku. Di desa ini pun
terdapat sejumlah bangunan megalitik, seperti Sao Ria Tendabewa (pusat
rumah adat).
* KOMPAS, Samuel Oktora, 4 Desember 2006 .
