* Sekali Panen Tomat Rp 30 Juta
KOTAMOBAGU, TRIBUN - Tanaman holtikultara seperti tomat dan cabai menjadi primadona baru bagi para petani di daerah Purworejo dan Liberia, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Keuntungan yang lebih besar dari tanaman tersebut membuat mereka beralih dari kopi.
Hujan yang mengguyur daerah Modayag, Selasa (10/4) membuat Zukidi urung ke kebun. Warga Desa Modayag Timur ini terpaksa berteduh di Toko Sendy yang menjual obat-obatan dan pupuk bagi tanaman. Sambil mengisap rokok, dia bercengkerama dengan Ridho Widodo yang sedang menunggu kendaraaannya diperbaiki di bengkel depan toko.
Minggu, 06 Mei 2012
Melangkah Bersama Tribun dan Kopi Kapal Api
Sekprov - Pejabat Eselon Bergabung
Gelaran Jalan Sehat Massal bertajuk Semangat Melangkah Bersama Tribun Manado dan Kopi Kapal Api yang akan digelar Sabtu 14 April pagi dipastikan spektakuler.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Sulut di bawah pimpinan Golden Triangle, Gubernur Dr SH Sarundajang, Wakil Gubernur Dr Djouhari Kansil dan Sekprov Ir Siswa Rahmat Mokodongan mendukung penuh kegiatan ini.
Sekprov Mokodongan memastikan, pejabat eselon II dan jajaran di dinas badan se- Pemprov Siap ikut serta dalam kegiatan yang akan memecahkan rekor MURI, telapak tangan peserta jalan sehat terbanyak.
Gelaran Jalan Sehat Massal bertajuk Semangat Melangkah Bersama Tribun Manado dan Kopi Kapal Api yang akan digelar Sabtu 14 April pagi dipastikan spektakuler.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Sulut di bawah pimpinan Golden Triangle, Gubernur Dr SH Sarundajang, Wakil Gubernur Dr Djouhari Kansil dan Sekprov Ir Siswa Rahmat Mokodongan mendukung penuh kegiatan ini.
Sekprov Mokodongan memastikan, pejabat eselon II dan jajaran di dinas badan se- Pemprov Siap ikut serta dalam kegiatan yang akan memecahkan rekor MURI, telapak tangan peserta jalan sehat terbanyak.
Bidan tak Mahir Pakai USG
* Alat Kesehatan Puskesmas Mubazir
* Pasien Gigi Disarankan ke Dokter Praktek
MANADO, TRIBUN - Alat kesehatan (alkes) di beberapa Puskemas di Kota Manado mubazir karena tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat belum mahir menggunakannya. Salah satu alkes yang belum digunakan sejak tahun 2010 adalah USG yang dibeli dengan harga puluhan juta rupiah.
"Ya, alat itu (USG) belum dioperasikan karena tidak ada orang yang dapat mengoperasikan alat itu," kata Kepala Puskesmas Tuminting Manado Dr Meiny Manumpil, Selasa (10/4). Hal senada diungkapkan Srihayati Mansauda, koordinator bidan di Puskesmas Tuminting. Menurut Sirhayati, USG itu ada sejak tahun 2010. Kehadiran alat persalinan ini dibarengi dengan pelatihan dari Dinas Kesehatan Manado. "Hanya waktu itu saya dan teman-teman diajar oleh teknisi. Jadi kami belum paham betul," ujarnya.
* Pasien Gigi Disarankan ke Dokter Praktek
MANADO, TRIBUN - Alat kesehatan (alkes) di beberapa Puskemas di Kota Manado mubazir karena tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat belum mahir menggunakannya. Salah satu alkes yang belum digunakan sejak tahun 2010 adalah USG yang dibeli dengan harga puluhan juta rupiah.
"Ya, alat itu (USG) belum dioperasikan karena tidak ada orang yang dapat mengoperasikan alat itu," kata Kepala Puskesmas Tuminting Manado Dr Meiny Manumpil, Selasa (10/4). Hal senada diungkapkan Srihayati Mansauda, koordinator bidan di Puskesmas Tuminting. Menurut Sirhayati, USG itu ada sejak tahun 2010. Kehadiran alat persalinan ini dibarengi dengan pelatihan dari Dinas Kesehatan Manado. "Hanya waktu itu saya dan teman-teman diajar oleh teknisi. Jadi kami belum paham betul," ujarnya.
Kami Sempat Terpukul
* Kopi Tomohon Tinggal Kenangan
KOTAMOBAGU, TRIBUN - Kopi instan memborbardir pasar dengan promosi yang masif sempat membuat kopi lokal Sulawesi Utara (Sulut) terpukul. Pasar kopi lokal tergusur oleh merk kopi berskala nasional atau internasional.
Handri Sulangi, pengusaha kopi asal Kotamobagu, mengakui, kopi instan memang praktis pembuatanya sehingga lebih disukai konsumen. Dengan kekuatan modalnya, kopi instan pun mampu penetrasi sampai ke warung atau kios-kios.
"Terus terang kami memang sempat terpukul. Namun, kopi lokal masih bisa bertahan karena memang mempunyai pasar tersendiri," ujar Handri yang sudah memasarkan merk kopi sendiri saat ditemui Tribun Manado di tokonya, Senin (19/4). Dia pun mulai promosi lewat media massa. Untuk menarik minat konsumen dia memberikan hadiah bagi mereka yang menukarkan plastik bekas pembungkus kopi buatannya. "Kami juga melakukan pengemasan lebih baik lagi untuk menarik minat pembeli," tambah pria ini.
KOTAMOBAGU, TRIBUN - Kopi instan memborbardir pasar dengan promosi yang masif sempat membuat kopi lokal Sulawesi Utara (Sulut) terpukul. Pasar kopi lokal tergusur oleh merk kopi berskala nasional atau internasional.
Handri Sulangi, pengusaha kopi asal Kotamobagu, mengakui, kopi instan memang praktis pembuatanya sehingga lebih disukai konsumen. Dengan kekuatan modalnya, kopi instan pun mampu penetrasi sampai ke warung atau kios-kios.
"Terus terang kami memang sempat terpukul. Namun, kopi lokal masih bisa bertahan karena memang mempunyai pasar tersendiri," ujar Handri yang sudah memasarkan merk kopi sendiri saat ditemui Tribun Manado di tokonya, Senin (19/4). Dia pun mulai promosi lewat media massa. Untuk menarik minat konsumen dia memberikan hadiah bagi mereka yang menukarkan plastik bekas pembungkus kopi buatannya. "Kami juga melakukan pengemasan lebih baik lagi untuk menarik minat pembeli," tambah pria ini.
Sehari 3.600 Cangkir Kopi
* Geliat Bisnis Rumah Kopi di Manado
* Kopi Jarod tak Ada Duanya di Indonesia
MANADO, TRIBUN - Tahukah Anda berapa gelas kopi yang dihabiskan warga Manado dalam sehari di berbagai rumah kopi yang menjamur di kota ini? Penelusuran Tribun pada 32 rumah kopi di Manado mendapatkan data menarik. Dalam sehari sedikitnya 3.600 cangkir kopi yang habis diseruput ribuan orang yang berkunjung ke rumah-rumah kopi tersebut.
Itu berarti warga Manado memang penggemar berat minuman klasik tersebut dan rumah kopi menjadi kekhasan Manado yang tidak dipunyai kota lain di Indonesia. Di antara puluhan rumah kopi di Manado, rumah kopi di Jalan Roda terbilang paling ramai. Di Jalan Roda atau populer dengan sapaan Jarod terdapat 20 rumah atau kedai kopi yang berjejer sepanjang jalan di pusat kota tersebut. Rumah kopi Jarod mulai dibuka sejak pukul 06.00 Wita hingga 19.00 Wita.
* Kopi Jarod tak Ada Duanya di Indonesia
MANADO, TRIBUN - Tahukah Anda berapa gelas kopi yang dihabiskan warga Manado dalam sehari di berbagai rumah kopi yang menjamur di kota ini? Penelusuran Tribun pada 32 rumah kopi di Manado mendapatkan data menarik. Dalam sehari sedikitnya 3.600 cangkir kopi yang habis diseruput ribuan orang yang berkunjung ke rumah-rumah kopi tersebut.
Itu berarti warga Manado memang penggemar berat minuman klasik tersebut dan rumah kopi menjadi kekhasan Manado yang tidak dipunyai kota lain di Indonesia. Di antara puluhan rumah kopi di Manado, rumah kopi di Jalan Roda terbilang paling ramai. Di Jalan Roda atau populer dengan sapaan Jarod terdapat 20 rumah atau kedai kopi yang berjejer sepanjang jalan di pusat kota tersebut. Rumah kopi Jarod mulai dibuka sejak pukul 06.00 Wita hingga 19.00 Wita.
Langganan:
Postingan (Atom)
In Memoriam Valentino Luis
Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...