Minggu, 06 Mei 2012

Bidan tak Mahir Pakai USG

* Alat Kesehatan Puskesmas Mubazir
* Pasien Gigi Disarankan ke Dokter Praktek

MANADO, TRIBUN - Alat kesehatan (alkes) di beberapa Puskemas di Kota Manado mubazir karena tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat belum mahir menggunakannya. Salah satu alkes yang belum digunakan sejak tahun 2010 adalah USG yang dibeli dengan harga puluhan juta rupiah.

"Ya,  alat itu (USG) belum dioperasikan karena tidak ada orang yang dapat mengoperasikan alat itu," kata Kepala Puskesmas  Tuminting Manado Dr Meiny Manumpil, Selasa (10/4). Hal senada  diungkapkan Srihayati Mansauda, koordinator bidan di Puskesmas Tuminting. Menurut Sirhayati, USG itu  ada sejak tahun 2010. Kehadiran alat persalinan ini dibarengi dengan pelatihan dari Dinas Kesehatan Manado. "Hanya waktu itu  saya dan teman-teman diajar oleh teknisi. Jadi kami belum paham betul," ujarnya.
Dikatakannya, penggunaan USG sangat mendesak karena banyak pasien yang membutuhkan. "Jumlahnya diperkirakan 10 orang per bulan," tuturnya. Tidak terpakainya USG membuat pasien harus dirujuk ke rumah sakit atau dokter praktek. Srihayati berharap mereka kembali mendapat  pelatihan menggunakan USG. Seorang dokter di puskemas itu yang tidak mau disebut namanya mengatakan,  alkes yang dapat difungsikan adalah dopler atau perekam jantung bayi.

Belum mahir menggunakan USG juga diakui perawat dan bidan di Puskesmas Paniki Bawah. "Penggunaan USG tidak sembarangan, diperlukan pengetahuan dan keahlian khusus. Sampai saat ini semua bidan belum bisa menggunakannya. Yang menggunakan alat ini hanya dokter kandungan, itupun tidak maksimal, sehingga kami berharap ada pelatihan khusus," ujar bidan Jesty Hamel, Selasa (10/4).

Kepala Puskesmas Paniki Bawah, Djiro Lanes,  mengatakan, USG sudah ada sejak 2010 tetapi belum digunakan. "Jarang digunakan karena perawat dan bidan belum paham caranya. Saya sering gunakan alat itu, tetapi tidak semuanya saya tahu, jadi fungsinya tidak dimaksimalkan, " ujar dokter ahli kandungan ini. Menurut Djiro, tidak semua pasien yang datang itu harus diperiksa dengan USG. Bila hanya pemeriksaan biasa, bisa dilakukan secara manual.

Menurut Djiro, USG adalah pemeriksaan ultrasonografi yang memiliki banyak fungsi. "Fungsi USG yaitu menentukan letak kehamilan, usia kehamilan dan taksiran persalinan, menentukan jumlah janin, letak plasenta dan kondisi cairan ketuban, mencari kelainan bawaan janin, memeriksa tumbuh kembang janin, mencari adanya kelainan lain pada rahim, " jelas Djiro sambil menyebut harga USG berkisar antara Rp 24 juta sampai Rp 38 juta.

Pantauan Tribun di Puskesmas Ranomu, di ruang bersalin terdapat berbagai alkes yang diletakkan di lemari. Ada juga tempat tidur, kulkas, gunting, doopler, USG, dan alkes gigi. Menurut seorang bidan yang enggan ditulis namanya, semua alat dapat digunakan, kecuali USG. "USG belum pernah digunakan, karena dokter atau bidan tidak tahu caranya. Kami perlu pelatihan," katanya.

Ke Dokter Praktek
Kondisi berbeda di Puskesmas Bunaken. Menurut Kepala Puskesmas Bunaken Dr Husni Ardie, pihaknya tidak memiliki alat USG karena bukan Puskesmas persalinan. "Untuk persalinan ada empat Puskemas yaitu Tuminting, Bahu, Paniki dan Ranomuut," kata pria murah senyum ini.  Untuk pelayanan lainnya, ia mengaku fasilitas di Puskesmasnya cukup lengkap. Ia mencontohkan fasilitas perawatan gigi. Menurut Drg Sari Agustina Sinulingga, fasilitas perawatan gigi cukup lengkap mulai dari dental set, tang set, scaler hingga alat pembor gigi.  "Di sini bisa cabut gigi, plomber (tambal gigi) hingga pembersihan karang gigi," katanya.

Pantauan Tribun di Puskesmas Sario, alkes yang ada tergolong minim khususnya poli gigi. Akibat ketiadan dokter, poli ini hanya dilayani perawat. Minimnya peralatan membuat poli di sini tidak dapat melayani pasien tambal gigi. "Yang dapat dilayani hanyalah cabut gigi. Yang lain kita rekomendasikan ke rumah sakit," kata Kepala Puskesmas Sario Dr Eva Wowor.

Kenyataan yang sama terjadi di di Puskesmas Paniki Bawah dan Puskesmas Ranomut. Untuk penambalan gigi, pasien selalu direkomendasikan ke rumah sakit atau ke dokter praktek.  Di ruang perawatan gigi Puskesmas Paniki Bawah, ada dental unit yang  sudah rusak.

Kustina, dokter gigi di Puskesmas Paniki Bawah, mengaku, pernah mengalami kesulitan karena dental unitnya rusak, alat penambalan gigi juga tidak ada, sehingga pasienpun sering direkomendasi ke rumah sakit atau langsung ke dokter praktek.
Kustina mengatakui, Dinas Kesehatan Manado sudah memberikan dental unit yang baru, tapi fungsinya masih untuk pemeriksaan biasa, sedangkan untuk penambalan gigi masih dirujuk ke rumah sakit atau ke dokter praktek.

 "Dental unit yang baru  merek Gnatus sudah disediakan Dinas Kesehatan Februari 2012 lalu," jelasnya.  Di Puskesmas Ranomut,  alkes perawatan gigi masih kurang. "Kalau pasien minta tambal gigi, kami rujuk ke rumah sakit, " tutur perawat gigi, Vendy Rumempunu.

Puskesmas Wenang memiliki alkes gigi dan peralatan laboratorium tetapi belum memiliki ruangan laboratorium. Meski demikian pelayanan dibuka 24 jam. "Pelayanan di sini 1x24 jam,"kata Elvina Kindangen, Kepala Tata Usaha Puskesmas Wenang. Pelayanan 24 pun berlaku di Puskesmas Bahu. Puskesmas yang melayani persalinan ini memiliki laboratorium yang mendekteksi banyak penyakit. Mereka juga memiliki dokter spesialis anak dan dokter gigi. Dokter gigi melayani Senin, Kamis dan Sabtu. "Kami usahakan  pasien kurang mengeluh atas pelayanan kami,"kata Jantje A. Masengi, kepala Puskesmas Bahu. (art/jhp/dma)

Dokter Selalu Siaga

KEPALA  Dinas Kesehatan (Dinkes) Manado Robby Motto mengatakan di Manado saat ini ada tujuh Puskesmas Pelayanan Obstentri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) atau yang dapat melayani warga untuk persalinan.  "Jadi masyarakat tak perlu harus ke rumah sakit untuk persalinan," ujarnya, Selasa (10/4).

Motto menyebutkan, ketujuh Puskesmas persalinan itu yakni Puskemas Bahu, Ranotana Weru, Ranomuut, Tuminting, Wonasa, Paniki Bawah dan Kombos. Sedangkan delapan Puskemas  lainnya di Manado masih berstatus puskesmas biasa. Jam operasi puskemas di Manado, kata dia, berlangsung 24 jam, baik yang berstatus PONED maupun belum. Namun untuk tenaga dokter, mereka hanya bersiap saja jika dibutuhkan. Setiap puskemas selalu ada dua perawat yang bertugas.

"Hal ini dilakukan karena tidak setiap hari ada pasien yang datang pada malam hari untuk berobat. Jika sakitnya ringan perawat bisa menanganinya. Namun jika membutuhkan dokter, bisa ditelepon untuk datang. Jadi meskipun di rumah, dokter harus selalu siaga," kata Robby Motto.

Menurutnya, masih banyak warga Manado yang belum tahu ada fasilitas persalinan di Puskemas. Selain itu ada kebiasaan masyarakat yang langsung bawa ibu hamil ke rumah sakit bukan memanfaatkan puskesmas. Robby Motto mengakui, tenaga medis di puskesmas sudah menjalani pelatihan menggunakan alat USG. Namun jika dibutuhkan Dinas Kesehatan siap memfasilitasi. Dia berharap perawat dan bidan cakap mengoperasikan semuas alkes di Puskemas termasuk USG.  Mengenai alkes Puskemas yang rusak, ia mengaku belum tahu tetapi segare ditelusuri.

Secara terpisah, Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut)  Dr Djouhari Kansil meminta kepada semua dokter puskesmas di Sulut tidak mengutamakan praktek sebagai dokter umum. "Namanya dokter puskesmas harus siap 24 jam di puskesmas untuk melayani masyarakat," kata Kansil di kantor gubernur, Selasa (10/4). Dikatakannya, dokter puskesmas tinggal di rumah dinas, jadi begitu ada keluhan masyarakat langsung ditangani. Jika dokter puskesmas sibuk dengan praktek pribadi kemungkinan mengajak masyarakat berobat ke  tempat prakteknya. "Di tempat praktek bayarannya lebih mahal, tapi di puskesmas kan bisa gratis," tuturnya.

Ditambahkannya, saat rapat kerja kesehatan pekan lalu, Gubernur Sulut sudah meminta kepada seluruh kepala dinas agar dokter  puskesmas benar-benar melayani masyarakat. Bahkan, kata Kansil, saat itu gubernur langsung meminta kepada seorang dokter tidak meninggalkan puskesmas dan fokus melayani masyarakat. "Saat itu dengan Kepala Puskesmas Kema. Pak Gubernur mengatakan bahwa tunjukkan prestasi dengan melayani masyarakat," ujar Kansil.

Pada saat rapat kerja kesehatan tersebut, lanjut wagub,  pemerintah provinsi melalui gubernur sudah meminta kepada Menteri Kesehatan RI melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, dr Ratna Rosita Hendardji MPHM untuk keluarkan peraturan yang melarang dokter puskesmas membuka praktek. "Tapi kita belum tahu apakah akan disetujui atau tidak," ucapnya. (erv/aro)

Tribun Manado 11 April 2012 hal 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...