Rabu, 12 November 2014

Siami


Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!
WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini. Usir orang yang tak punya hati nurani!"
Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur malah buntung!



Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!

Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya didemo warga Gadel.

Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di zaman ini memang mahal, kawan! 

Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan menyontek atau katrol nilai.

Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen. Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.

Di sudut hatinya yang paling bening, warga sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini, suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur. Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Hasil investigasi tim independen menemukan bukti bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga hasil ujian tidak sama.

Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6 SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang sakit!

Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.

Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.

Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar, tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan Siami. Terima kasih Siami. (dionbata@gmail.com)
 
 Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

Oepoi


IZINKAN beta bergumam tentang sekilas wajah bola. Sekilas wajah bola di kampung halaman tercinta, Flobamora dalam sepekan yang baru lewat. Beta mulai dari sudut Stadion Oepoi, Kupang, tak jauh dari GOR Flobamora yang hari-hari ini sedang bergelora lewat permainan bola hebat berlabel kejuaraan Gubernur Cup 2011. Pemain bercucuran keringat, penonton senang tak terkira.
Senang sekali melihat Kupang terus bergeliat dalam urusan sepakbola, baik sepakbola lapangan besar maupun lapangan kecil bernama futsal. Futsal patut dicatat khusus karena telah menorehkan perkembangan dashyat. Dari tiada menjadi ada. Futsal sudah menjadi idola baru di kota ini. Laga futsal ada di mana-mana, mulai dari lorong gang kampung hingga kampus-kampus. Dari laga antarkelurahan sampai level klub tingkat propinsi.

Terima kasih buat mereka yang selama ini bekerja dengan hati memajukan futsal Kota Kupang dan NTT. Kepercayaan badan futsal nasional terhadap NTT menjadi tuan rumah babak prakualifikasi PON 2012 wilayah Nusra bulan Juli mendatang merupakan bukti bahwa Flobamora pun bisa! Kita sudah meraih kepercayaan itu. Salut!


Di lapangan luas, Kupang pun mulai menuai hasilnya, antara lain merebut juara El Tari Memorial Cup tahun silam setelah sekian lama miskin gelar dan selalu berada di bawah dominasi tim-tim asal daratan Flores, bahkan Sumba. Kompetisi perserikatan lokal Kota Kupang pun sudah berjalan rutin. Stadion Oepoi tak henti-hentinya bergetar oleh teriakan histeris penonton, tawa dan juga tangis. Ya, sudah seharusnya begitu. Sebagai ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang mesti menjadi barometer sepakbola dan juga bidang hidup lainnya.

Sekarang Oepoi lagi-lagi berpesta. Ribuan penonton memadati stadion itu setiap petang menyaksikan laga sepakbola Gubernur NTT Cup 2011. Awal mendengar kemudian menikmati kejuaraan itu, hatiku riang tak terkira. Kompetisi rutin menunjukkan pengurus PSSI bekerja sungguh-sunguh. Konsisten. Cuma batin sontak terusik melihat wakil Kota Kupang bernama Kosgoro 57. Sungguh mati beta terkejut karena nama itu terasa asing. Boleh jadi beta yang kurang gaul. Kurang mengikuti perkembangan terkini klub bola di kota ini sehingga merasa asing sendiri? Maafkan beta jika salah.

Ke mana gerangan klub juara kompetisi PSKK? Mengapa bukan tim juara atau runner-up kompetisi perserikatan Kota Kupang yang menjadi wakil di kejuaraan Gubernur Cup 2011 atau kumpulan pemain terbaik hasil seleksi dari klub-klub asuhan PSKK?

Bukankah Kosgoro itu nama ormas? Kalau benar sebuah ormas bisa membentuk "klub dadakan" serta gonta-ganti nama dan dipercaya menjadi wakil Kota Kupang, terus bagaimana nasib klub perserikatan PSKK yang mengelola klub sejak lama dengan penuh pengorbanan?

Kalau benar ormas bisa diusung untuk nama klub, baiklah dalam kejuaraan Gubernur Cup berikutnya beta usul agar nama tim naik setingkat lebih tinggi. Pakai saja nama partai biar lebih ramai, lebih seru dan lebih dashyat bobot kompetisinya. Misalnya kesebelasan Golkar 100 Kota Kupang, PDIP 200 Timor Tengah Utara, Gerindra 300 Kabupaten Kupang, Demokrat 400 Manggarai Barat, Hanura 500 Sumba Timur, PKB 600 Flores Timur, PAN 700 Ngada dan seterusnya.

Bayangkan tuan dan puan kalau itu sungguh terjadi. Kompetisi niscaya lebih ramai dari biasanya dan para politisi bakal tumpah ruah ke stadion menonton tim kesayangan mereka masing-masing. Anggap saja kompetisi tersebut sebagai pemanasan menjelang pemilu kada di Kota Kupang, Pemilu Kada NTT tahun 2013 serta Pemilu Nasional 2014 mendatang.

Tapi ah.. sudahlah. Jangan dipikirkan terlalu serius, kawan! Beta percaya pengurus cabang PSSI Kota Kupang dan pengurus propinsi PSSI NTT tentu lebih paham soal aturan main dan punya pertimbangan sendiri yang masuk akal dan hati sehingga nama Kosgoro 57 masuk sebagai salah satu kontestan dalam kompetisi Gubernur Cup musim ini. Toh apalah arti sebuah nama? Yang penting bisa bermain bola. Yang utama agenda kompetisi berjalan. Anggap saja gumamanku sebagai angin lalu. Sekadar gumaman penggemar bola di bibir lapangan. Beta kutip komentar seorang penonton saat menonton laga Persena Nagekeo pekan lalu. "Aue.. ini pemain hampir semua dari Kota Kupang ko..." Apa iya? Walahualam.

Sebagai penggemar bola, impian beta simpel saja. Silakan saja Indonesia karut-marut mengurus bola. Biarkanlah PSSI di level nasional amburadul karena salah urus. Toh pasti ada orang lain yang akan mengurus benang kusut itu. Kita yang hidup di beranda kampung ini mestinya bisa memberi teladan yang baik. Biar di kampung, walau prestasi sepakbola kita sayup-sayup, tapi kita urus dia bae-bae. Punya nilai dan harga diri. Ikut aturan main. Menjunjung tinggi fair play.

Geliat persepakbolaan di Kota KASIH sedang bagus-bagusnya. Dia terus bertumbuh. Bertumbuh dan berbiak. Kasihan sekali kalau keburu remuk karena salah urus. Bila tidak segera diperbaiki dengan niat baik, maka bersiaplah menerima prahara ini. Nila setitik merusak susu sebelanga. Panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Bola mengajarkan sikap ksatria. Kalau saja salah langkah, mengapa tidak mengakuinya? (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 27 Juni 2011 halaman 1

Pisang


“KAU punya orang itu bodoh sekali, ngero! Mereka jual pisang lalu beli molen. Kenapa tidak bikin molen untuk makan sendiri atau jualan macam saya, kan keuntungannya berlipat ganda.” Itu kata-kata seorang kawan asal Jawa Tengah. Sebagai putra Jawa yang sudah belasan tahun menetap di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), gaya bicaranya Ende banget. Langsung tembak ke sasaran. Tidak berputar-putar lagi.
Beta tersentak. Sungguh merasa kena tembak yang bikin kuping memerah. Setiap hari kawanku itu jual gorengan tahu, pisang goreng, pisang molen dan lainnya di pinggir jalan dekat pertokoan yang ramai dipadati pengunjung.


“Saya jual mulai jam empat sore sampai delapan malam. Kadang sebelum jam delapan malam, sudah habis. Kau bayangkan, kerja tidak sampai empat jam tapi hasilnya pasti. Bisnis makanan itu untungnya seratus persen.” Melihat beta tidak segera merespons kata-katanya, dia melanjutkan penjelasan. “Ndoe, kalau kau tidak percaya, coba kau tanya di orang-orang yang kerja macam saya ini ka,” katanya sambil terbahak.

Tentu saja beta percaya dengan kata-katanya. Toh dia hidup dari usaha itu dan sangat menikmati pekerjaannya. Di Kota Ende, penjual gorengan macam dia ada di banyak tempat. Dan, umumnya raut wajah mereka merupakan ata mai (baca: pendatang) dari luar pulau. Kondisi serupa agaknya sama persis di daerah lain Nusa Tenggara Timur. Belum banyak anak kampung Flobamora yang serius menekuni pekerjaan sebagai penjual gorengan, tahu, tempe, kripik pisang, singkong dan lainnya. Kalau penjual pisang atau ubikayu gelondongan, banyak.... sekali dan pasti orang kita. He-he-he...


Bagi masyarakat Pulau Flores, Adonara, Solor dan Lembata, pisang telah menjadi komoditi primadona dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir selain hasil perkebunan dan pertanian lainnya semisal kopi, vanili, kemiri, jambu mete, kakao, kelapa dan sebagainya. Sekarang ini kalau tuan dan puan masuk ke wilayah itu akan mudah berpapasan dengan dump truk yang mengangkut ribuan ton pisang. Pisang dari Pulau Flores dan sekitarnya biasanya keluar lewat dua pintu utama, yakni Pelabuhan L Say, Maumere di Kabupaten Sikka dan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.


Tujuan akhir perjalanan pisang Flores adalah Bali dan Surabaya, Jawa Timur. Apakah di sana namanya dikenal dengan pisang Flores? Oh jangan salah, kawan. Pisang asal Flores, tetapi kesohor sebagai pisang Bali. Sedih betul nasib pisang Flores... belum menjadi brand dagang. Maklumlah. Kehebatan petani Flores baru sebatas menjual pisang gelondongan. Apalagi masuk ke Pulau Dewata Bali yang namanya lebih populer ketimbang Indonesia.


Meskipun pisang menjadi komoditi yang menghasilkan duit, namum pola tanamnya masih bersifat tradisional. Tanaman tersebut ditanam secara sporadis di kebun milik petani. Belum ada usaha pisang secara besar-besaran di lokasi tertentu. Maka wajar jika sebanyak-banyaknya pisang dari Flores dan sekitarnya, belum bisa masuk pasaran ekspor. Produksi pisang Flores masih terbatas untuk kebutuhan lokal dan regional.


Tahun 2007 yang lalu di Ende pernah digalakkan tanaman pisang beranga yang terkenal enak itu.
Pemerintah setempat lewat Dinas Pertanian membudidayakan pisang beranga Kelimutu pada kawasan percontohan di dua desa seluas 10 ha yaitu Desa Wolokota, Kecamatan Ndona dan Desa Ndito, Kecamatan Detusoko. Peroncontohan itu diperluas lagi di 29 desa pesisir yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Ende. Kesembilan kecamatan untuk perluasan lahan budi daya dimaksud adalah Ndona, Ndori, Lio Timur, Kotabaru, Wewaria, Maurole, Maukaro, Nangapanda, dan Kecamatan Ende. Sudah menjadi pengetahuan banyak orang kalau pisang Beranga Kelimutu asal Ende merupakan varietas unggulan nasional. Pisang jenis ini sangat diminati masyarakat setempat, karena buahnya memiliki keunggulan spesifik antara lain rasa manis yang khas tidak asam, dan aromanya wangi ketika dimakan. Pokoknya ingat Ende, ingat pisang beranga!


Bagaimana kelanjutan dan hasil dari program pengembangan pisang beranga itu sekarang, belum diumumkan lagi pemerintah Kabupaten Ende. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Jangan sampai bahkan pemerintah sudah lupa dengan program yang sangat bagus tersebut. Mestinya setelah lima tahun, pisang beranga Kelimutu asal Ende sudah masuk pasar ekspor. Begitu idealnya.


Omong-omong soal pisang, orang Flores pasti bangga bukan main mendengar pujian dari Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Eka Pangestu. “Saya beli pisangnya. Pisangnya enak dan manis,” begitu kata Ibu Menteri saat berdialog dengan penjual pisang di Pasar Wairloka, Maumere, Kabupaten Sikka hari Sabtu, 2 Juli 2011. Di hadapan para pedagang dan Bupati Sikka, Drs.Sosimus Mitang, Menteri Pedagangan mencicipi sebuah pisang masak. Para penjual pisang kagum menikmati spontantitas Ibu Mari. Pejabat tinggi negara makan pisang di tengah pasar merupakan momen yang manis dan langka bagi mereka.


Maklumlah. Jarang nian orang kita kalau sudah jadi pejabat mau masuk ke pasar-pasar. Takut baju dan celana mereka kotor berlepotan lumpur atau sepatu yang disemir licin bisa lecet lusuh. Mereka baru mau masuk ke pasar-pasar lagi dan sontak ramah dengan orang-orang kecil pada detik-detik menjelang pemilu demi mempertahankan kursi kekuasaan. Pasar adalah tempat menebar pesona jika mereka ada maunya. Bukan cuma pejabat kelas teri di daerah. Bahkan calon presiden di negeri ini pun memanfaatkan pasar untuk tebar pesona dan mengail dukungan suara.

Pasar adalah tempat di mana orang berkumpul. Orang dari segala lapisan. Pasar adalah isi perut. Pasar merupakan sumber napas kehidupan meski banyak orang yang punya kewenangan kerap menomorduakan pasar. (dionbata@yahoo.com)

Yang tak terpublikasikan Pos Kupang. Senin, 4 Juli 2011. Akhir perjalanan BETA?

Cantik Ngeri!


MAUMERE kota nyiur melambai, kota di mana terik mentari membakar dada hingga ubun-ubun. Kota di Flores yang tersohor hingga ke sudut bumi ketika gempa disusul tsunami menghardik pada Sabtu kelabu 12 Desember 1992. Lebih dari 2.000 nyawa hilang dalam sekejap.

Soeharto, penguasa rezim Orde Baru meninggalkan kenyamanan Istana Merdeka Jakarta. Dia terbang ke Maumere bersama Ibu Tien yang keibuan itu. Pasangan Soeharto-Tien mengunjungi barak dan tenda. Menguatkan mereka yang terluka. Meneguhkan yang kehilangan orang-orang terkasih.

Beta tiba di kota ini 7 Juli 2011. Tiba disambut terik Bandara Frans Seda untuk memulai tugas baru entah sampai kapan. Inilah pertama kali beta bertugas sebagai wartawan di kota tsunami. Puji Tuhan akhirnya Maumere kugauli juga. Kuakrabi dalam waktu yang lama, tidak sekadar nginap semalam, sehari dua bahkan cuma transit beberapa jam.

Sepekan menjadi penghuni MOF (nama udara untuk Kota Maumere) beta menangkap kesan yang mengesankan tentang Maumere, tentang anak-anak nian Sikka zaman ini. Di depan Gelora Samador da Cunha, tempat “suci” yang pernah ditapaki Beato Johanes Paulus II tahun 1989, celetukan dua remaja berseragam putih abu sekilas memberi gambaran tentang Maumere Manise.

“Itu cewek mayoret esema frater cantik ngeri! Saya dengar dia belum  ada pacar,” kata remaja A pemilik muka oval, kulit hitam manis, rambut sarimi (keriting) dan kepala agak lonjong seperti kebanyakan ana Lio, tanah darahku tumpah pertama dari rahim ibundaku dulu. “Ai, tidak mungkin ka dia belum ada pacar,” timpal rekannya. Profil fisik yang ini Sikka banget. Kuduga garis darahnya dari pantai selatan Flores yang ganas menghardik karang, seputar kawasan Bola atau Lela timur.

Cantik ngeri! Apa maksudnya? Kudapat jawaban seiring hari berganti dan waktu bergulir di MOF yang terik mendidih dan susah air bersih. Air harus “pake beli” kata orang di sana untuk melukiskan dana ekstra rumah tangga buat kebutuhan vital ini. Sebulan bisa habiskan “uang air” sebesar Rp 200 ribu lebih guna memenuhi satu rumah tangga dengan anggota lima orang.

Ngeri adalah diksi untuk menggambarkan betapa cantiknya cewek mayoret drumband SMAK Frateran Maumere yang digosipi kedua pemuda tanggung itu. Ngeri telah bergeser maknanya bagi orang Maumere. Ngeri tidak mesti berarti ngeri! Di Pasar Alok, pasar modern dan terbaik dari sisi penataannya di NTT beta menguping dialog penjual dan pembeli ayam begini. “Mo’at Hiro, berapa harga ayam ini?” “Lima puluh ribu nong,” jawab si penjual. “Mahal ngeri e...”

Jadi bukan hanya cantik ngeri. Harga ayam pun mahal ngeri. Kalau tuan dan puan ke kota ini, maklumilah bila amat kerap mendengar diksi ngeri. Ngeri terdengar di hotel, restoran, pinggir jalan, kantor polisi atau bank. Ngeri pun riuh di pasar, pertokoan, toko buku, kantor pemerintah bahkan gereja yang lebih banyak kaum hawa dibanding adam setiap kali misa. Entah misa harian pagi, misa hari raya atau Minggu biasa.

Maumere memang serba ngeri. Kecelakaan lalulintas ngeri. Perkosaan ngeri, selingkuh ngeri, KDRT ngeri, bunuh diri ngeri, mabuk moke ngeri, berdoa ngeri, belis ngeri, pesta ngeri, rabies ngeri, nyamuk malaria ngeri, politik ngeri, korupsi juga ngeriiiii sekali!

Sepeda motor masuk got, angkot seruduk pohon, ojek bakusenggol di lorong-lorong terlihat biasa saban hari. Naik motor tanpa helm adalah pemandangan jamak di jalan-jalan MOF. Bahkan mereka melintas tanpa beban di depan Kantor Polres Sikka yang halamannya diteduhi pepopohan rindang.

Dua bulan pertama di Maumere hampir tiap hari beta edit berita tentang KDRT. Laki pukul bini, bini hajar laki. Bapak aniaya anak, anak tikam ayah dengan belati. Juga perselingkuhan. Bukan lagi selingkih tipis-tipis sekadar memandang mengagumi, meremas jari atau tos pipi. Mereka selingkuh benaran sambil tega meninggalkan istri, menanggalkan suami untuk hidup bersama meski sama-sama sudah beranak seorang dua hingga setengah lusin. Maumere begitu jauh berubah dibanding memori masa bocahku dulu di Watuneso, kawasan tapal batas – sekitar 50 km barat Maumere.

Tatkala gong waning berdentang di jalan-jalan kota, digebuk sekelompok pria di atas mobil pick up, tahulah awak bahwa akan ada pesta. Lazimnya pesta kawin. Akan ada pengantin baru malam ini. Tapi pesta di Maumere bukan cuma sehari saja. Bisa dua hari sebelum dan dua hari sesudah hari H. Kesibukan keluarga luar biasa. Mulai dari buat panggung atau tenda sampai bubar panitia. Babi, ayam, kambing, anjing dan sapi tidur tak nyenyak. Sekian ekor disembelih. Sekian jerigen moke bakal dilahap sampai habis. Musik berbunyi hingga telingamu teler. Pung pang hingga malam larut. Saat hari H malah sampai fajar menyingsing. Demi pesta nikah atau sambut baru jalan umum ditutup. Kelakuan MOF mirip warga Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur.

Dugaan korupsi dana Bansos Rp 10 miliar di Sikka lebih telah menghiasi lembaran media massa cetak sejak berbulan-bulan, menghuni audio pendengar radio dan ditatap jutaan pasang mata di kotak kaca televisi. Juga informasi hilir-mudik di jalur online. Proses hukum berbelit ngeri. Berputar-putar ngeri. Entah berujung sampai di mana. Penasihat hukum ngeri bersilat lidah. Penegak hukum ngeri nian memainkan sandiwara. Tersangka pelaku berkelit ngeri (dengan segala cara), seolah tanpa dosa, ngeri betul mencari tumbal korban, mencari kambing hitam.

Maumere memang serba ngeri. Namun kengerian ini membuat beta mulai jatuh cinta pada kota ini. Jatuh hati pada ikan segarnya yang murah namun berkualitas wahid, sesuatu yang sulit ditemukan di Kupang dan kota lain NTT. Jatuh cinta pada dinamika sosial masyarakat yang makin sadar dan bertanggungjawab terhadap hak politik dan demokrasinya. Kuterpikat pada senyum manis kaum ibu yang masih memakai konde di rambutnya dan berbusana Sikka. Saat ke gereja, ke pesta nikah atau hajatan lainnya. Oh Maumere manise. Enak ngeri pernah menghunimu. Epangawang. Terima kasih.*

Beru, akhir September 2011 (untuk pembaca "berandaku yang telah mati." Beta belum berhenti menulis)

Kefa


MUNGKIN kejadian ini telah sirna bersama sang waktu, dilupakan atau luput dari perhatian karena dipandang wajar dan biasa-biasa saja. Di suatu kabupaten hasil pemekaran di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah daerah amat bersemangat dalam membangun. Mereka bangun dua kantor bupati sekaligus. Waw!
Setelah mekar dari kabupaten induk dan mendapat wewenang mengurus dapur sendiri, pemerintah daerah itu bangun kantor bupati. Sesuai ketentuan yang berlaku bupati pertama tak lama memimpin. Saat dia pergi, kantor bupati nan megah itu belum tegak berdiri. Bupati kedua berjubah diksi definitif tampil lebih percaya diri karena rakyatlah yang memilih. Bukan melanjutkan pembangunan kantor yang belum rampung, bupati baru justru bangun kantor baru. Letaknya pun persis di samping kantor terdahulu. Tercatatlah dalam sejarah Flobamora, dua bupati dua kantor. Hebat ko!

Kampung besar ini memang ganjil tuan dan puan. Keganjilan tidak berhenti di situ. Di kabupaten lain lagi seorang bupati membangun dua kantor. Yang satu dipakai, yang lain tegak berdiri bersama ilalang, dihuni cecak, tikus, kalajengking dan ular. 


Lebih top lagi rumah jabatan pemimpin di ibukota propinsi, megahnya bukan main. Jika kita menganut sistem kerajaan, rumah itu pantaslah disebut istana. Istana berdinding putih dengan halaman luas dan landai. Istana itu dibangun dengan dana miliaran rupiah dari APBD. Rancang bangunnya indah tiada tara. Nasibnya sungguh luar biasa, kawan. Sejak selesai dibangun dia berubah nama menjadi rumah hantu. Pemerintah kota propinsi dengan bangga mencacatnya sebagai aset daerah. Jadi, siapa bilang beranda Flobamora miskin papa? Buktinya kita sangat kelebihan uang sehingga uang lebih tersebut dialokasikan dengan riang untuk membangun rumah hantu nan megah. Ko Kupang na!

Ikhwal membangun gedung baru kita memang piawai. Urusan merawat dan memelihara, nol besar. Begitulah tuan dan puan, antara lain pernak-pernik zaman pemilu kada. Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh rakyat Indonesia secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Semenjak otonomi daerah bergulir diikuti maraknya pemekaran wilayah serta pemilu kada kian banyak saja keganjilan di sekitar kita. Sandiwara politik berjingkrak-jingkrak menguliti etika dan moral. Dan, dendam kesumat membara hingga tujuh turunan. 

Atas nama dendam kantor lama tak dirawat. Karena dendam pula fasilitas negara dibiarkan merana. Gedung pemerintah mubazir dianggap bukan tragedi di ini negeri yang membangun saban tahun dengan utang tujuh turunan. Kelewat biasa hingga kita buta mata. Jangan-jangan kebakaran kantor pemerintah di kampung besar Flobamora terdorong spirit yang sama jua. Yang sudah ada dibumihanguskan biar ada alasan bangun baru. Ada proyek baru. Atau bakar kantor demi menghilangkan jejak buruk, dugaan korupsi kelas kakap misalnya? Walahualam.

Alam pemilu kada sungguh menyesakkan dada. Pemilu tiba kemesraan menebar, tawa berderai. Orang ramai berdua-duaan, makan sepiring, tidur sebantal, susah dan senang sama-sama nikmat. Tahun pertama asyik-masyuk berbulan madu. Tahun kedua tidur bertolak punggung, tahun ketiga tak lagi seranjang, tahun keempat pisah rumah, tahun kelima ini dadaku, mana dadamu. Lu jual beta beli. Siapa takut? Tentu beta tidak memungkiri pasangan yang akur sampai akhir bahkan tetap sehati sesuara hingga periode kedua. Tapi jumlah mereka langka nian di beranda Flobamora. Bisa dihitung dengan jari.

Setiap musim pemilu kada tiba, saudara-saudariku anggota Korpri sebagai salah satu dari lima kekuatan sosial politik di negeri ini merasa terjebak dalam pusaran memabukkan. Cukup sering harus makan buah simalakama. Tidak makan ayah mati, kalau makan ibu mati. Maka mereka memilih jalan derita ini, daripada basah lebih baik mandi sekalian. Mau hancur ya hancurlah. Anggota tim sukses kemudian menjadi "tupoksi" baru pegawai negeri sipil (PNS) sejak pemilu kada langsung bergulir tahun 2005. Nonsense prinsip PNS itu netral. 

Setahun atau dua tahun menjelang musim pemilu kada, PNS terutama mereka yang menduduki jabatan strategis untuk mendulang suara mulai terkotak-kotak, mendukung si A yang sedang berkuasa atau melirik figur lain yang dianggap lebih berpeluang menang. Suasana lazimnya makin membara manakala bupati dan wakil bupati terlibat rivalitas. Kasak-kusuk di lingkup birokrasi pun kurang lebih berdengung demikian. Eh, dia itu orangnya pak bupati. Kalau yang ini jangan korek bung. Maklum tim sukses pak wakil...

Menjelang pemilu kada hampir seluruh gerak pejabat birokrasi selalu dihubung-hubungkan dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Jika dianggap sudah tidak sejalan lagi dengan yang sedang memimpin, bukan mustahil akan terkena mutasi. Dinonjobkan. Sebaliknya bila tuan dan puan tetap setia pasti disanjung dan dimanja-manja. 

Begitu hebatnya sanjungan sampai-sampai si bos tutup mata meski tuan yang memimpin SKPD tertentu gagal total melayani masyarakat. Tim sukses kok dilawan. Tidak penting penilaian berbasis kinerja yang kencang digaungkan di mana-mana. Lebih dari itu energi birokrasi nyaris tersedot habis untuk pesta demokrasi. Begitu kuatnya semangat menyedot sampai-sampai kas daerah kosong melompong dan pemerintah tidak malu meminjam dana dari pihak ketiga. Mereka tetap menyebut ini peristiwa bermartabat. He-he-he...

Aneka keganjilan tidak cuma terjadi menjelang pemilu kada. Pasca pemilu kada pun setali tiga uang. Mutasi biasanya menjadi pekerjaan pertama pasangan pemenang. Prinsip yang mereka anut adalah: babat, gusur dan sikat. Babat semua lawan politik. Gusur semua yang tidak mendukung. Sikat siapa pun yang bukan orang kita. 

Pasca pemilu kada mereka yang menang tertawa ngakak. Yang kalah perang gundah gulana. Yang masuk tim sukses paket pemenang naik pangkat, raih kedudukan. Anggota tim sukses yang "tidak sukses" masuk kotak. Lalu, bagaimana menurut tuan dan puan peristiwa hangat yang kini menggegerkan Kefa, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara? Maaf, beta no comment saja.

Hari-hari ini Flores Timur dan Lembata bersibuk ria menyiapkan diri menuju hari puncak pemilu kada. Beta ingat kata-kata seorang teman di Senayan. Politikus itu wataknya sama di mana-mana. Mereka merasa boleh bohong dan boleh salah. Pilih pemimpin atau politikus. Terserah tuan dan puan. Kalau mau ditipu pilihlah politikus. Salam babat, gusur dan sikat. Hai Flobamora, kita hidup di zaman batu atau iPad ya? (dionbata@yahoo.com) 

Pos Kupang, Senin 9 Mei 2011 halaman 1

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...