Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!
WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa
menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan
pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang
melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!"
Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat,
Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak
menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai
petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru
SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada
teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur
malah buntung!
Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama
baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi
unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang
itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2
meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf
Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya
polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi
dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!
Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka
sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang
bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium
bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan
selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun
Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.
"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata
Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra
Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya
sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya
didemo warga Gadel.
Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah
nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun
beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami
mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di
zaman ini memang mahal, kawan!
Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai
level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini
negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator
tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai
dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting
tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan
menyontek atau katrol nilai.
Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu
lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen.
Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati
yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala
sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati,
bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden,
presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala
cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa
banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang
posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap
halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah
disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak
mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.
Di sudut hatinya yang paling bening, warga
sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi
benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah
lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu
biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian
atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini,
suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur.
Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang
mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.
Hasil investigasi tim independen menemukan bukti
bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi
guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup
bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen
tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun
hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar.
Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga
hasil ujian tidak sama.
Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan
Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6
SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan
Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia
mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara
kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami
membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang
sakit!
Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum
bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam
melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan
orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka
menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat
keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami
menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.
Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar
sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan
lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada
terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih
baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.
Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa
berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar,
tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan
besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan
Siami. Terima kasih Siami. (dionbata@gmail.com)
Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1




