MUNGKIN kejadian ini telah sirna bersama sang waktu, dilupakan
atau luput dari perhatian karena dipandang wajar dan biasa-biasa saja.
Di suatu kabupaten hasil pemekaran di Propinsi Nusa Tenggara Timur
(NTT), pemerintah daerah amat bersemangat dalam membangun. Mereka bangun
dua kantor bupati sekaligus. Waw!
Setelah mekar dari kabupaten induk dan mendapat wewenang mengurus dapur
sendiri, pemerintah daerah itu bangun kantor bupati. Sesuai ketentuan
yang berlaku bupati pertama tak lama memimpin. Saat dia pergi, kantor
bupati nan megah itu belum tegak berdiri. Bupati kedua berjubah diksi
definitif tampil lebih percaya diri karena rakyatlah yang memilih. Bukan
melanjutkan pembangunan kantor yang belum rampung, bupati baru justru
bangun kantor baru. Letaknya pun persis di samping kantor terdahulu.
Tercatatlah dalam sejarah Flobamora, dua bupati dua kantor. Hebat ko!
Ikhwal membangun gedung baru kita memang piawai.
Urusan merawat dan memelihara, nol besar. Begitulah tuan dan puan,
antara lain pernak-pernik zaman pemilu kada. Pemilihan umum kepala
daerah dan wakil kepala daerah oleh rakyat Indonesia secara langsung,
umum, bebas dan rahasia. Semenjak otonomi daerah bergulir diikuti
maraknya pemekaran wilayah serta pemilu kada kian banyak saja keganjilan
di sekitar kita. Sandiwara politik berjingkrak-jingkrak menguliti etika
dan moral. Dan, dendam kesumat membara hingga tujuh turunan.
Atas nama dendam kantor lama tak dirawat. Karena
dendam pula fasilitas negara dibiarkan merana. Gedung pemerintah
mubazir dianggap bukan tragedi di ini negeri yang membangun saban tahun
dengan utang tujuh turunan. Kelewat biasa hingga kita buta mata.
Jangan-jangan kebakaran kantor pemerintah di kampung besar Flobamora
terdorong spirit yang sama jua. Yang sudah ada dibumihanguskan biar ada
alasan bangun baru. Ada proyek baru. Atau bakar kantor demi
menghilangkan jejak buruk, dugaan korupsi kelas kakap misalnya?
Walahualam.
Alam pemilu kada sungguh menyesakkan dada. Pemilu
tiba kemesraan menebar, tawa berderai. Orang ramai berdua-duaan, makan
sepiring, tidur sebantal, susah dan senang sama-sama nikmat. Tahun
pertama asyik-masyuk berbulan madu. Tahun kedua tidur bertolak punggung,
tahun ketiga tak lagi seranjang, tahun keempat pisah rumah, tahun
kelima ini dadaku, mana dadamu. Lu jual beta beli. Siapa takut? Tentu
beta tidak memungkiri pasangan yang akur sampai akhir bahkan tetap
sehati sesuara hingga periode kedua. Tapi jumlah mereka langka nian di
beranda Flobamora. Bisa dihitung dengan jari.
Setiap musim pemilu kada tiba, saudara-saudariku
anggota Korpri sebagai salah satu dari lima kekuatan sosial politik di
negeri ini merasa terjebak dalam pusaran memabukkan. Cukup sering harus
makan buah simalakama. Tidak makan ayah mati, kalau makan ibu mati. Maka
mereka memilih jalan derita ini, daripada basah lebih baik mandi
sekalian. Mau hancur ya hancurlah. Anggota tim sukses kemudian menjadi
"tupoksi" baru pegawai negeri sipil (PNS) sejak pemilu kada langsung
bergulir tahun 2005. Nonsense prinsip PNS itu netral.
Setahun atau dua tahun menjelang musim pemilu
kada, PNS terutama mereka yang menduduki jabatan strategis untuk
mendulang suara mulai terkotak-kotak, mendukung si A yang sedang
berkuasa atau melirik figur lain yang dianggap lebih berpeluang menang.
Suasana lazimnya makin membara manakala bupati dan wakil bupati terlibat
rivalitas. Kasak-kusuk di lingkup birokrasi pun kurang lebih berdengung
demikian. Eh, dia itu orangnya pak bupati. Kalau yang ini jangan korek
bung. Maklum tim sukses pak wakil...
Menjelang pemilu kada hampir seluruh gerak
pejabat birokrasi selalu dihubung-hubungkan dengan pesta demokrasi lima
tahunan tersebut. Jika dianggap sudah tidak sejalan lagi dengan yang
sedang memimpin, bukan mustahil akan terkena mutasi. Dinonjobkan.
Sebaliknya bila tuan dan puan tetap setia pasti disanjung dan
dimanja-manja.
Begitu hebatnya sanjungan sampai-sampai si bos
tutup mata meski tuan yang memimpin SKPD tertentu gagal total melayani
masyarakat. Tim sukses kok dilawan. Tidak penting penilaian berbasis
kinerja yang kencang digaungkan di mana-mana. Lebih dari itu energi
birokrasi nyaris tersedot habis untuk pesta demokrasi. Begitu kuatnya
semangat menyedot sampai-sampai kas daerah kosong melompong dan
pemerintah tidak malu meminjam dana dari pihak ketiga. Mereka tetap
menyebut ini peristiwa bermartabat. He-he-he...
Aneka keganjilan tidak cuma terjadi menjelang
pemilu kada. Pasca pemilu kada pun setali tiga uang. Mutasi biasanya
menjadi pekerjaan pertama pasangan pemenang. Prinsip yang mereka anut
adalah: babat, gusur dan sikat. Babat semua lawan politik. Gusur semua
yang tidak mendukung. Sikat siapa pun yang bukan orang kita.
Pasca pemilu kada mereka yang menang tertawa
ngakak. Yang kalah perang gundah gulana. Yang masuk tim sukses paket
pemenang naik pangkat, raih kedudukan. Anggota tim sukses yang "tidak
sukses" masuk kotak. Lalu, bagaimana menurut tuan dan puan peristiwa
hangat yang kini menggegerkan Kefa, ibukota Kabupaten Timor Tengah
Utara? Maaf, beta no comment saja.
Hari-hari ini Flores Timur dan Lembata bersibuk
ria menyiapkan diri menuju hari puncak pemilu kada. Beta ingat kata-kata
seorang teman di Senayan. Politikus itu wataknya sama di mana-mana.
Mereka merasa boleh bohong dan boleh salah. Pilih pemimpin atau
politikus. Terserah tuan dan puan. Kalau mau ditipu pilihlah politikus.
Salam babat, gusur dan sikat. Hai Flobamora, kita hidup di zaman batu
atau iPad ya? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 9 Mei 2011 halaman 1
