Sabtu, 16 Mei 2015

Jakob Oetama Terima Ancaman Soeharto di Hari Pers


Bintang Mahaputra Utama disematkan Presiden  Soeharto  tahun 1973 | Kompas.com
JAKOB Oetama, pendiri Kompas Gramedia (KG), merayakan ulang tahun ke-80 pada 27 September 2011. Selain syukuran di Bentara Budaya Jakarta, peringatan ulang tahun Chairman KG tersebut juga ditandai peluncuran buku berjudul Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama, disusun ST Sularto, wartawan senior Kompas. Berikut petikan buku setebal 659 halaman itu.

MALAM menjelang 5 Februari 1978, Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong tengah berdiskusi membahas tawaran pemerintah Soeharto. Tawaran itu terkait pelarangan terbit Harian Kompas, bersama 12 koran dan majalah lainnya, sejak 12 Januari 1978.

Kompas boleh terbit kembali asal menandatangani pernyataan tertulis, berisi permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan memuat tulisan yang menyinggung penguasa. "Jakob, jangan minta maaf. Mati dibunuh hari ini, nanti tahun depan, sama saja," ujar PK Ojong seperti ditirukan Jakob Oetama.

Mengembangkan Indonesia Kecil

Oleh Jakob Oetama
 

Pendiri Kompas Gramedia

KETIKA Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok usaha Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai "lembaga yang organik sekaligus yang organis."

Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia (KG) dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata-Gramedia: grafika media-terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.

Khasiat Jitu Batu Penis Raksasa


Batu Penis di Liangbua Manggarai, Flores
Batu penis raksasa di Liang Bua, Manggarai sudah banyak menolong  pasangan suami istri yang sulit mendapatkan momongan.

KEBERADAAN batu kemaluan (penis stone) di Liang Bua, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai belum setenar Liang Bua, gua tempat ditemukan sembilan tulang-belulang Manusia Flores atau Homo Floresiensis. Homo Floresiensis yang dijuluki hobbit  adalah nama yang diberikan pakar antropologi dan tim gabungan Australia-Indonesia terhadap spesies dari genus homo yang punya tubuh dan volume otak kecil.

Menurut serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu), individu sisa tulang itu diberi kode LB1-LB9. Postur tubuh paling tinggi sepinggang manusia moderen sekitar 100 cm. Pos Kupang  sudah empat kali mengunjungi gua yang terkenal ke sentero jagat pasca penemuan Homo Floresiensis tanggal 6 September 2003.

Yoseph Yakin Miliki Gen Homo Floresiensis

Viktor Darung
RUTENG, PK -- Beberapa tahun silam, dokter dari Amerika Serikat melakukan pemeriksaan darah dan DNA terhadap segelintir warga yang diduga keturunan  manusia Flores (homo floresiensis).

Warga  yang menempati Kampung Rampasasa di Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii dan Kampung Akel  di Desa Bere, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai masih menunggu pengumuman hasil pemeriksaan DNA tersebut.

Yoseph Anca (47), warga  Akel, dan Viktor Darung (70), asal Rampasasa mengakui  bentuk fisiknya  berbeda dari warga umumnya. Mereka  yakin neneknya  berasal dari  Homo Floresiensis yang hidup dan tinggal di Liangbua ribuan tahun silam.

Tulang  Homo Floresiensis ditemukan dalam penggalian di Liang Bua pada 6 September 2003 oleh tim arkeologi Indonesia dan Australia. Sebuah tulang masih utuh berjenis kelamin perempuan setinggi 115 cm, sedangkan tulang lain
terpisah-pisah diduga dimakan binatang buas.  "Saya yakin 80 persen, gen Manusia  Flores ada dalam diri saya dan bapak saya. Tinggi badan saya 132 cm,  tak beda jauh  dengan tinggi badan almahrum ayah (Yohanes Dak) 125 cm," beber Yoseph kepada Pos Kupang, Sabtu (9/52015) di  halaman rumahnya  di Akel.

Selasa, 05 Mei 2015

Susilowati Koopman Selamatkan Bumi dari Sampah

Susilowati Koopman
POS KUPANG.COM - Mengolah sampah menciptakan bumi baru bagi generasi mendatang. Demikian ide besar Ibu Susilowati Koopman di balik pendirian Bank Sampah Flores di Kota Maumere Kabupaten Sikka, 14 Februari 2014 lalu, bertepatan dengan Hari Valentine.

"Pada zaman modern sekarang ini, banyak orang mengapresiasikan cintanya lewat kado. Pada saat bersamaan, dunia ini penuh dengan sampah. Lalu siapa yang kelola? Saya pun mau menjadi pemulung dan mengabdikan cintaku pada sampah," kata Ibu Susilowati di kantor pusat Bank Sampah Flores di Pantai Paris, Maumere, Rabu (29/4/2015).

In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino  Oleh: Dion DB Putra "Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang ...